
Kemericik suara air sungai perlahan menyadarkan Riyu dari pingsannya, dia merasakan sakit, nyeri, di seluruh badan. Riyu bergerak pelan menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang gemetar.
Ketika dia bangun, Riyu berada di sebuah goa kecil yang lembab. "Aku... Masih hidup ya?" gumamnya. Riyu menoleh ke arah pintu goa itu, ia melihat Sam yang sedang duduk menunduk seperti menanggung penyesalan yang mendalam.
"Kamu, tidak apa-apakah?" tanya Riyu sambil meringis kesakitan. Ia melihat sekitar lalu bertanya lagi "Dimana pak supir?"
"Tewas" jawab Sam dengan pandangan yang penuh amarah.
"Tewas??" Riyu menahan air matanya, bagaimanapun juga pak supir orang yang baik meskipun dia agak kasar bicara namun takdir telah merenggutnya.
"Apa pria ini yang menyelamatkan aku dan membawaku ke goa?" gumam batin Riyu sambil melihat baju Sam yang mengeluarkan darah segar.
"Kamu terluka! Ini... Darahmu keluar" Riyu panik, tapi Sam sama sekali tidak memperdulikan dirinya. Riyu langsung merobek roknya "Ini tidak membantu banyak tapi setidaknya bisa menghambat darahmu" ucap Riyu sambil memerban perut Sam yang mengeluarkan darah.
Sam memandangi Riyu selama memerban perutnya, tiba-tiba Sam memeluk Riyu dengan erat lalu berkata "Lagi-lagi aku kehilangan orang yang selalu di sampingku, kedepannya aku gak mau kehilangan kamu" ucap Sam dengan nada lirih.
Riyu terdiam, ia merasakan ada perasaan sedih dan kesepian yang teramat dalam.
"Laki-laki ini merasa sangat sedih, kenapa... Bukankah hidupnya telah sempurna dan kaya. Seharusnya dia bisa melakukan kesenangan apapun tapi aku merasakan hal yang berbeda, Pria ini seperti menanggung beban yang berat" gumam Riyu dalam hati.
"Aku... Aku tidak meninggalkan kamu, kita akan selalu menjadi teman. Emm... Meskipun aku menikah esok kita masih bisa tetap berteman, iya kan?" Hibur Riyu.
"Hemh, aku tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi!" ucap Sam meringis menahan sakit. Mendengar ucapan Riyu tentang pernikahannya Sam merasa kesal.
"Apa maksudmu? Jangan bilang kamu mau menghancurkan pernikahanku!" Riyu melepaskan pelukannya.
"Kalau iya kenapa? Apa kamu sangat mencintai suamimu itu!"
"Aku... Ya, aku sangat mencintainya!" ucap Riyu ragu sambil memalingkan wajah.
"Gadis bodoh! Apa kamu lupa kalau kamu kurang lihai berbohong?" Sam menarik Riyu hingga wajah mereka sangat dekat.
"Aku... Aku akan ambil air di sungai itu, aku haus" Riyu mengalihkan pembicaraan.
Sam terdiam memandang Riyu yang berjalan mengambil air...
__________________
__ADS_1
Disisi lain Siti dan Agi mencari Riyu di seluruh penjuru desa, tapi setiap orang yang di tanya tentang keberadaan Riyu mereka bilang tidak tau.
"Haih, sebenarnya kemana perginya anak kurang ajar itu! Dua hari lagi adalah hari pernikahannya berani-beraninya dia kabur!" Keluh Siti sambil menyeka keringat yang ada di keningnya.
"Jangan-jangan Riyu kabur dengan laki-laki itu!" gumam Agi dalam hati.
"Heh! Kenapa kamu malah bengong? Jangan-jangan kamu sudah melakukan sesuatu padanya!" Bentak Siti pada Agi.
"Tidak... Aku tidak akan memberi tau ibu, kalau dia tau yang aku lakukan malam itu. Habislah..." Gumamnya lagi dalam hati.
"Agi kamu apa kau tidak dengar?! Ayo jawab, kamu pasti sudah lakuin sesuatu kan!" Siti menjewer telinga Agi kuat-kuat.
"Aduh sakit... Bu, Agi ga lakuin apa-apa padanya! Dia pasti kabur karena ga mau nikah Bu" ucap Agi berbohong.
Tliiiittt.... Tliiiittt... Ponsel Siti berdering. Tertera di ponsel Siti "Nyonya Mahesa memanggil"
Siti: "Ha... Halo nyah, hehe"
Nyonya Mahesa: "Gimana kamu sudah menemukan Riyu?"
Nyonya Mahesa: "Jika kau berani mempermainkan aku, maka tau sendiri akibatnya! Pernikahan ini sangat penting untuk Noval. Undangan sudah di sebar jangan sampai kalian mempermalukan kami!"
Tut... Tut... Tut... Panggilan berakhir.
"Dasar orang kaya bisanya nyuruh! pake ngancem segala lagi. Egh... Ini gara-gara anak sialan itu, kalau ketemu nanti aku remet remeeettt dia! huh" Siti menggerutu diapun melanjutkan mencari Riyu.
_____________________***___________________
Sedangkan pak Mahesa termenung di ruang kerjanya, hatinya risau karena sampai detik ini juga orang suruhannya belum menemukan siapa pelaku di balik kecelakaan itu. Beberapa lama kemudian seseorang masuk ke ruangannya...
"Bagaimana? Apa yang kamu dapatkan dalam penyelidikan ini?" tanya pak Mahesa menatap tajam.
"Ini bukan kasus kecelakaan biasa pak, kami menemukan ada bekas ban mobil di perkirakan bukan hanya satu mobil yang terlibat"
"Jadi ada orang yang sengaja ingin membunuh putraku!"
__ADS_1
"Benar. Menurut penyelidikan ini, ketika mobil Sam terperosok ke dalam jurang tidak langsung terbakar, tapi memang sengaja di bakar. Kami menemukan ada lelehan di perkirakan dari kain kulit, Tapi..." Penyelidik itu diam sesaat. Lalu melanjutkan kata-katanya.
"Jenasah yang ada di dalam mobil bukalah Sam, tetapi Seno asisten Sam"
Mendengar penjelasan itu pak Mahesa menghela nafas lega. "Jadi Sam masih hidup!" ucapnya optimis.
"Iya pak. Tapi kami masih belum menemukan keberadaannya"
"Kerahkan semua orang untuk mencari Sam! Aku yakin dia bukan orang yang mudah mati. Cari di seluruh penjuru, dan beri aku laporan setiap satu jam! Dan satu lagi, makamkan jenazah Seno dengan layak, mau bagaimanapun juga Seno adalah orang yang setia kepada keluarga Mahesa"
"Baik pak" Pria itu memberi hormat lalu beranjak dari ruangan pak Mahesa.
"Sam... Papa berjanji akan usut tuntas masalah ini. Papa tidak ingin melakukan kesalahan yang sama terhadapmu! Siapapun pelakunya, aku bersumpah akan memberikan hukuman yang lebih buruk dari kematian!" bisik pak Mahesa dalam batinnya.
Tidak lama setelah penyelidik keluar dari ruangan pak Mahesa, Bu Mahesa masuk menemuinya...
"Sayang... Aku sudah mempersiapkan pernikahan Noval, nanti akan ada fitting baju pengantin untuk Noval aku harap... Kamu bisa ikut" ucap Bu Mahesa membelai pundak pak Mahesa dengan lembut.
"Sam sedang mengalami musibah, keadaannya belum di ketahui sampai saat ini dan kamu malah sibuk mempersiapkan pernikahan! Ibu macam apa kamu!" Bentak pak Mahesa dengan tatapan marah.
"Sayang... Aku minta maaf, kejadian yang menimpa Sam juga membuatku sangat sedih tapi... Undangan pernikahan sudah tersebar dan acara akan di mulai dua hari lagi. Aku hanya tidak ingin keluarga Mahesa tercoreng tapi... Jika kamu ingin, aku akan membatalkan acara pernikahannya" ucap Bu Mahesa dengan nada yang sedih, wajahnya yang penuh drama mampu membuat luluh hati pak Mahesa.
"Baiklah... Apa yang di alami Sam memang berat, tapi di sisi lain aku juga tidak ingin keluarga Mahesa menanggung malu karena pernikahan yang batal. Kamu urus saja semuanya"
_______________
Hari beranjak sore, Sam dan Riyu berjalan menuju tempat yang lebih terbuka dan jarang pepohonan, Dengan tlaten Riyu memapah tubuh Sam yang lemah karena banyak mengeluarkan darah. Sam mencari sinyal pada ponselnya untuk memberikan sinyal darurat kepada anak buahnya.
"Kita berhenti di sini, ponselku bisa menangkap sinyal di sini" ucap Sam. Sam memandangi Riyu yang kelelahan sambil terus mencoba mengirimkan sinyal, meskipun berkali-kali gagal akhirnya sinyal itu berhasil di terima oleh anak buahnya.
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Riyu pada Sam yang tiba-tiba Tersenyum ke arahnya.
"Kita akan selamat" Jawab Sam. Sam langsung ambruk di atas pundak Riyu.
"Hei... Hei apa kamu baik-baik saja? Tolong jangan mati!" ucap Riyu terisak.
"Aku tidak mati bodoh, aku sangat lelah. Biarkan aku istirahat dan jangan banyak bergerak sebentar lagi orangku akan datang menjemput"
__ADS_1
Riyu merasa lega, ia tidak menolak saat Sam bersandar di pundaknya. Mereka menunggu bantuan datang, Sam terluka sangat parah, wajahnya juga terlihat lemah dan sangat pucat. Riyu tidak tega jika harus memaksanya mencari jalan lagi.