
Langkah cepat mengiringi kekesalan Agi yang keluar dari kamar Riyu, ia menuruni tangga menuju dapur untuk minum air putih sebelum kembali ke kamarnya. Ceroboh pastinya, ini baru anak buah Sam yang memergokinya lancang masuk kedalam kamar Riyu. Bagaimana jika Sam sendiri yang memergokinya, bahkan hanya membayangkan saja Agi bergidik merinding.
Keadaannya kini jauh sangat berbeda. Riyu yang sekarang bukanlah Riyu yang dulu, jika dulu Agi akan dengan mudah menindasnya atau bahkan bisa dengan mudah mencongkel kamarnya. Tapi jika sekarang Agi berani malakukannya, mungkin Sam akan langsung mengulitinya hidup-hidup.
"Sial! bahkan sekarang Riyu punya pelindung pribadi!" umpat Agi setelah sampai di kamarnya. Jaket yang ia kenakan dilempar entah kemana.
"Ternyata anda masih belum paham dengan apa yang saya ucapkan tadi ya tuan" tiba-tiba terdengar suara di kamarnya. Agi terperanjak kaget langsung berbalik kearah seseorang yang berbicara barusan.
"Kau... " kenapa dia ada disini, bukannya dia ada di kamar Riyu barusan?!. Heran, panik, Agi menatap Doni yang sudah duduk tenang diatas sofa yang ada di kamarnya.
Senyum tenang diwajah Doni, tapi tidak degan tatapan matanya yang seperti ujung tombak siap untuk menghujam Agi. Doni bangun dari posisinya, mendekati Agi lalu menepuk pundaknya "Tuan Agi. Perlu anda ketahui bahwa saya masih menghormati anda karena anda adalah kakak nona Riyu. Kakak angkat bukan?." Doni menatap lekat pada Agi yang mulai merasa tidak nyaman.
"Namun meskipun anda saudara nona Riyu, saya tidak akan sungkan mematahkan kaki anda jika masih berani mengganggu nona. Anggap hari ini anda memiliki kesempatan untuk merubah sikap anda, tuan. Jika anda masih berani bersikap lancang, saya akan melakukan apapun yang saya mau meskipun tanpa harus meminta ijin pada Tuan Sam terlebih dahulu" sebelum beranjak pergi, Doni kembali menyentuh bahu Agi seakan mengusap bekas sentuhannya tadi.
Keringat dingin terlihat membasahi kening Agi. Selain diam tidak adalagi yang bisa ia lakukan, membantah sekali saja, bogem mentah pasti akan mendarat di wajahnya. Agi tau Doni pasti tidak main-main. Bisa berdiri di dekat Sam dan Riyu sudah bisa ditebak kalau Doni bukan orang sembarangan. Ia pasti memiliki wewenang besar seperti Aji, kaki tangan Sam yang sangat diperaya.
*****
Entah kenapa sore itu terasa begitu lama, Riyu sudah tidak sabar menunggu Sam pulang kerumah. Ia sudah membayangkan akan memeluk Sam sepenuh hatinya sebagai tanda terimakasih karena telah mengundang Siti untuk datang. Menunggu dan menunggu, matanya sempai diserang kantuk. Riyu tertidur dengan posisi tengkurap di sofanya.
Tak lama setelah itu, mobil Sam sudah memasuki gerbang utama. Doni telah menyambutnya di depan pintu. "Bagaimana kondisi hari ini?" tanya Sam melangkah masuk diiringi Doni dan Aji dibalik punggungnya.
"Masih terkendali tuan" jawab Doni lugas.
"Om Sam" teriak Dhea menyambut Sam, Ia berlari menuju ke arah Sam dengan riang.
Hey, kenapa dia begitu menggemaskan. Sam menyambut Dhea dengan merentangkan tangannya lalu merengkuh tubuh mungil itu kedalam gendongannya. Ada rasa hangat menerpa perasaan Sam. Rasa bahagia juga terharu, membayangkan suatu hari dirinya pulang dari kantor akan ada buah hatinya dengan Riyu menyambutnya seperti Dhea. Sam tersenyum. Membayangkannya saja sudah sebahagia itu rasanya.
"Hey, kenapa kau berkeliaran sendiri? Dimana mama muda kesayanganmu itu?"
__ADS_1
"Dhea tadi kekamar mama tapi mama lagi tidur" ucap Dhea dengan nada kecewa. "Om Sam, oma Siti sudah datang bersama om itu. Tapi Dhea tidak suka pada om Agi itu" Dhea merangkul leher Sam yang menggendongnya menaiki tangga untuk pergi ke kamar Riyu.
"Kenapa tidak suka? Jelek ya!"
"Setidaknya Om Sam masih sedikit lebih tampan darinya"
Cih. Sedikit lebih tampan kau bilang.
"Om, kenapa tidak oma Siti saja yang tinggal disini? Om Agi biar tinggal diluar"
"Hey, segitu bencinya sehingga kau ingin mengusirnya keluar?!"
"Habisnya dia sudah tidak sopan sama mama muda"
Mendengar kejelasan Dhea, Sam langsung menghentikan langkah kakinyadan menatap lekat wajah Dhea. Sam masih sangat ingat ketika dirinya dan Reno memergoki Agi yang ingin memperkosa Riyu malam itu. "Apa yang sudah dia lakukan?" tanya Sam dengan nada yang mulai dingin perasaannya pun tidak karuan.
Seketika itu juga dada Sam terasa sangat panas. "Apa dia sempat melakukan sesuatu?" Sam mencoba mengorek kesaksian Dhea.
"Tidak om. Waktu om Agi mau ngedeketin mama langsung ditangkap sama paman Doni. Hihi"
Sam tersenyum menyembunyikan amarahnya, mereka sudah masuk kedalam kamar Riyu. Benar saja, gadis itu sedang tidur pulas diatas sofa. "Mamamu masih tidur. Kau bisa menemuinya lagi setelah dia bangun nanti"
"Baik om, Dhea mau minum susu dulu ya" kecupan singkat mendarat di pipi kiri Sam. Setelah turun dari gendongan Dhea langsung berlari keluar kamar.
Sam mendekati Riyu dan mengusap wajahnya pelan. "kita sudah memulai perjalanan baru, aku tidak akan membiarkan orang-orang menyakitimu. Meskipun dia adalah saudaramu" Sam memindahkan Riyu ke tempat tidur. Tidurnya begitu lelap sampai-sampai ia hanya menggeliat pelan saat Sam meletakkannya diatas tempat tidurnya.
"Jangan salahkan aku kalau aku gemas melihatmu seperti ini!"
Kecupan di kening, kecupan di wajah, dan hujaman kecupan di tempat lainnya. Riyu mulai melenguh mengumpulkan kesadarannya. "Tidak, jangan... " ucap Riyu lirih masih setengah sadar dan terpejam. Sam masih terus melakukan aktifitasnya, semakin dalam ia mencium Riyu, melampiaskan segala kerinduannya. Semakin lama, Riyu bergerak tidak karuan.
__ADS_1
"Mas Agi aku mohon jangan sentuh aku!" Riyu berteriak mendorong Sam hingga menjauh darinya.
Riyu melekatkan pandangannya pada lelaki yang sedang menatap tajam di hadapannya. "Sam... " pekiknya. "Sam, maafkan aku. Aku tidak tau kalau itu kau" Merasa bersalah,panik karena telah berteriak dan mendorongnya.
"Apa dia melakukannya lagi padamu?" ucap Sam dengan nada dingin.
Riyu langsung tersentak, ia langsung sadar kalau tadi bibirnya mengucapkan nama Agi. Tadi Riyu masih dalam keadaan yang belum sepenuhnya sadar. Rasa takutnya pada kejadian masa lalu dimana perbuatan Agi padanya terbawa sampai kealam tidurnya. Riyu mengira tadi adalah Agi yang mencoba menyentuhnya. "Maafkan aku Sam, aku tidak tau kalau kau sudah pulang"
"Kau tidak menjawab pertanyaanku. Apa yang dia lakukan padamu tadi?" Sam masih dengan nada dingin.
"Tidak ada. Dia tidak melakukan apa-apa"
Hanya itu yang mampu Riyu ucapkan, jika Sam tau kalau Agi lancang, Riyu takut Sam tidak akan bisa mengendalikan dirinya dan akan menghajarnya.
"Kau berbohong padaku. Tapi Dhea tidak!"
Deg... Dhea? Apa Dhea menceritakannya pada Sam?. Gumam dalam hati. "Aku hanya... Aku hanya tidak ingin ada masalah menjelang pernikahan kita. Sam, aku harap kau mau memaafkannya. Lagian aku baik-baik saja. Ada Doni yang menyelamatkan aku tadi" Riyu menggenggam hangat tangan Sam, meyakinkan dan menatapnya penuh harap.
"Untuk kali ini aku masih bisa menahannya, tapi, jangan melarangku kalau dia masih mengulanginya lagi"
"Baiklah, aku tidak akan melarangmu sayang" Riyu langsung masuk kedalam pelukan Sam. Selain untuk menghindari tatapan Sam yang menakutkan, ia juga mengobati rasa rindunya yang seharian ini tidak bertemu Sam.
__ADS_1