
"Sanya, katakan pada ibu. Apa yang terjadi?!" tangan Suti mencengkram kedua bahu Sanya dan menatapnya dalam.
Sanya tertunduk semakin dalam, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Ibu... " terisak tidak berani menatap.
"Katakan padaku Sanya, apa Pandi melakukan sesuatu padamu?!" Suti bergetar menatap lekat. Anan berdiri terdiam melihat kakak panti asuhannya begitu tertekan. Selama ini Sanya memang anak yang pendiam dan jarang mau berkomunikasi.
"Bukan hanya Sanya bu, tapi juga pada adik-adik!" jawabnya terisak.
Lemas seketika, Suti terduduk di lantai. Sangat tidak menyangka kalau ada kejadian besar di pantinya tapi dia benar-benar tidak tau sama sekali. Malah Sam yang orang luar tau terlebih dahulu.
*****
Braaakkk....
Satu kali tendangan membuat pintu roboh terlepas dari engselnya, seketika itu juga seraup wajah panik menoleh ke arah pintu dengan wajah piasnya.
"Siapa yang berani mendobrak pintuku!" bentak Pandi. Samar-samar ia melihat bayangan pria tinggi memasuki lubang pintunya. Semakin jelas wajah itu menatap Pandi dengan sorot pandangan yang tidak bisa di jelasan lagi. Pandi melangkah mundur saat sadar siapa yang di bentaknya tadi.
"Kau, Tuan Sam." ucapnya mulai gemetar.
__ADS_1
Ya, siapa yang tida mengenal Sam sekarang. Sejak menjadi pengganti Darma dan banyak mendonasi ke kalangan rakyat kecil semakin banyak orang yang mengenalnya.
Pandi melangkah mundur seiring Dengan langkah Sam yang semakin dekat di depannya. "Ada yang bisa saya bantu tuan? Ada keperluan apa hingga tuan sudi mengunjungi gubuk saya ini?" meskipun gemetar Pandi mencoba seramah mungkin. Dalam benaknya, mana mungkinkan Sam tau dengan apa yang ia laukan selama ini? begitulah hati Pandi berbicara.
Tanpa kata, tanpa menatap ke arah lain, dalam sekejap ruangan itu hanya terdengar suara teriakan juga barang yang jatuh pada tempatnya. hingga dalam hitungan menit, pria itu telah terkapar babak belur tanpa perlawanan. Hanya ucapan ampun berkali-kali yang terlontar dari mulutnya. Tangan dan kakinya sudah tak mampu ia gerakkan, bahkan untuk menopang tubuhnya saja Pandi sudah tak mampu.
Ada Aji, Ada Doni. Kenapa Sam menghajarnya sendiri? Karena ia akan lebih puas jika menghukum penjahat dengan tangannya sediri. Ruangan yang telah berantakan dan darah dimana-mana kini senyap sejenak. Hanya terdengar suara rintihan dan deru nafas yang membara.
Sam terperanjak saat mendengar lenguhan suara kecil dari sisi ruangan lain, ia mencoba mencari sumber suara itu. Sampai di ruangan kamar yang berada di ujung rumah itu, Sam melihat seorang bocah kecil yang terkapar sekarat tanpa mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya.
Sam termenung sesaat, gemetar juga tak mampu menyampaikan perasaannya. Orang yang memiliki gangguan jiwa pedofil memang sangat mengerikan, seketika Bayangan senyuman Dhea menghampiri angannya, bagaimana anak kecil tanpa orang tua menderita seperti ini. Tidak ada tempat untuknya bernaung atau mengadu saat dirinya dalam bahaya hanya mampu diam tertekan, takut karena ancaman.
Doni langsung merengkuh gadis kecil itu dan membawanya ke ambulance yang telah di siapkan sebelumnya. Semoga, anak gadis itu masih bisa di selamatkan. Sam melangkah keluar kembali ke hadapan Pandi yang sudah tidak bisa di kenali lagi wajahnya. Pandi kembali gemetar saat Sam telah kembali berdiri di hadapannya.
"Ini untuk ketidak warasanmu" Sam berucap dengan nada bergetar. Setelah itu Daaarrrrr! tembakan pertama mendarat tepat di bagian intim tubuh Pandi.
Lengkingan jeritan keras keluar dari mulutnya, membuat siapapun mampu merasakan kesakitannya meskipun tidak melihatnya secara langsung. "Ini untuk anak-anak yang pernah menjadi korban kebejatanmu" lagi-lagi tembakan meluncur ke tubuh Pandi. Teriaan tidak sekencang yang pertama karena mungkin ia telah kehabisan suaranya.
"Dan ini, untuk keponakanku, Dhea" ucapan Sam terakhir diiringi dengan buliran bening menetes dari mata tajamnya. Daaarrrr.... peluru terahir membuat lubang di kepala Pandi. Setelah beberapa kali mengejang, Pandi tidak bergerak lagi. Awalnya Sam tidak berniat membunuhnya, tapi hatinya merasa teriris sakit saat menemuan satu anak kecil yang entah sudah berapa lama di sekap oleh Pandi.
__ADS_1
*****
Setelah di selidiki, gadis kecil itu ternyata bukan berasal dari panti asuhan. Tapi gadis itu berasal dari jalanan, Pandi menjanjikan gadis itu supaya tinggal di panti supaya hidupnya lebih nyaman, tapi nyatanya, ia malah menyekap gadis itu sampai akhirnya Sam menemukannya.
"Bos" Aji berdiri tegap di hadapan Sam siap memberi laporan. "Anak itu sudah tiada" mendengar kejelasan itu Sam menggenggam tangannya erat.
Selama ini ia tinggal di kalangan atas, masih banyak yang belum Sam tau kalau di kalangan bawah juga cukup mengerikan, mungkin di kalangan bawah masih banyak sekali kasus mengerikan yang tak pernah ada bantuan untuk maenyelesaikannya. Sam terdiam sesaat, bayangan wajah gadis kcil saat pertama kali Sam menemukannya menyeruak kembali. Meskipun dirinya belum pernah merasakan rasanya menjadi seorang ayah, tapi Sam sudah mampu bagaimana sakitnya.
"Makamkan dia dengan layak" ucap Sam lirih beranjak pergi. Ia tidak ingin melihatnya lagi. Rasanya lebih baik melihat musuh mati dengan sadis daripada melihat gadis tak berdosa meninggal dengan nasib yang mengenaskan.
*****
Riyu lemas terduduk mendengar semua cerita Sam. Jika saja Riyu ada di tempat itu, ia pasti sudah tidak tau akan berbuat apa. "Riyu, jika kita memiliki anak laki-laki dan perempuan, aku berjanji akan menjaga mereka dengan segenap jiwaku. Tidak hanya mereka, tapi juga kau" Sam meletakkan kepalanya di pangkuan Riyu, ia tau betapa lelahnya Sam hari ini.
Tangan lembut membelai kepala Sam, mencurahkan seluruh kasih sayangnya. "Terimakasih Sam, kau sudah peduli pada mereka. Tapi bagaimana dengan Dhea? Apa dia... "
"Dia hampir, Tapi berhasil kabur. Bocah bernama Sanya menyelamatkannya, tapi dia sendiri yang menjadi korban" mata Sam menerawang jauh kedepan. Riyu menyentuh dadanya karena sesak yang menderu.
"Sam. Aku ingin bertemu dengan anak yang bernama Anan dan juga Sanya. Kapan kau akan membawa kami berkunjung ke sana?"
__ADS_1
"Jika panti sudah selesai di bangun, aku akan membawa kalian ke sana. Bu Suti juga sangat merindukan Dhea. Setelah pembangunan selesai kalian akan lebih nyaman saat berkunjung." Sam merengkuh tengkuk Riyu, susana menjadi lenyap saat keduanya menghabiskan waktu dengan ciuman lama yang penuh perasaan yang tersalur satu sama lain.
Malam yang cukup dingin, namun terasa sangat indah saat melihat ke atas langit yang gelap bertabur bintang. Sam dan Riyu masih menikmati suasana itu, mereka tiduran di atas kursi panjang menatap bintang. Membicarakan rencana pertunangan juga pernikahan yang akan di laksanakan dalam waktu dekat ini. Setelah menikah mungkin mereka akan menjadi pasangan fenomenal di kota, Nyonya Galuh bersanding dengan Tuan Sam, pemegang Randar Manunggal yang kini berkembang dengan begitu pesat.