Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Merasa Tersindir


__ADS_3

Sanya dan Anan selesai menutup kiosnya hari ini. Mereka bersiap makan malam sambil berbincang.


"Anan, kenapa dengan bibirmu? Jangan katakan kau berkelahi lagi dengan Nona Sandra!" ucap Sanya.


"Tidak kak, kami tidak berkelahi" ucap Anan dengan nada cuek.


Sanya terdiam mencoba membaca gelagat adiknya itu. "Kau tidak bohong kan? Buktinya tadi Nona Sandra pulang dengan wajah merah dan kesal! Jawab Anan, kau apakan lagi dia?" Sanya menatap Anan serius.


"Pfft... Hahahaha" gelegar suara tawa yang keluar dari mulut Anan membuat Sanya merasa bingung.


"Apa... Apa yang terjadi?" Sanya semakin bingung, tidak ada hal lucu tapi Anan bisa tertawa lepas seperti tidak ada beban.


Sanya terdiam, mengamati adiknya yang masih belum bisa berhenti tertawa, giginya yang rapi terlihat ceria, wajahnya memerah, bahkan sampai nafasnya tersengal. Sanya sadar, entah kapan terakhir ia melihat adiknya tertawa selepas ini. Sejak Ibu panti asuhan meninggal, Anan memang jarang sekali tertawa.


"Sudah tertawanya?" ucap Sanya ketika melihat Anan mencoba mengatur nafas dan menyeka air matanya. Meskipun sesekali Anan masih berupaya menahan tawanya.


"Sorry kak, aku hanya teringat ekspresi konyol gadis tengil itu"


"Nona Sandra. Anan." Protes Sanya.


"Okey. Terserah apapun namanya" ucap Anan lalu kembali terdiam melahap makanannya. Sedangkan Sanya sudah tidak sabar ingin mengetahui, apa yang terjadi saat dia sedang sibuk tadi.


Karena tekanan kakaknya yang terlalu kepo, terpaksa Anan menceritakan semua kejadian tadi. Tapi reaksinya tidak seperti Anan yang tertawa terbahak. Dia malah menepuk lengan Anan dengan cukup kencang.


"Kau ini! Kenapa kau sangat nakal dan tega menjahilinya Anan! Besok kau harus minta maaf padanya"


"Apa kak? Dia yang salah kenapa aku yang harus minta maaf?"


"Ya karena kau sudah membuatnya kesal! Mau bagaimanapun juga, Nona Sandra sudah menolong kita. Dan kau, harus bisa bersikap baik padanya. Dasar anak nakal."


Anan menatap heran pada kakaknya, haaahhh entah kenapa kak Sanya sangat menyukai gadis ceroboh itu. Gumam Anan dalam hati.


Sebelum membetulkan panel pintu yang rusak, Anan tidak bisa menutup pintu kamarnya dengan rapat. Terpaksa ia ganjal menggunakan ranselnya, untuk menahan pintu supaya tidak tertutup terlalu rapat. Saat Anan membungkuk, ia melihat ada bungkusan kecil yang tergeletak di lantai tidak jauh dari pintu.


Bag berwarna coklat, terdapat suatu merek yang terkenal. Anan mengambilnya, seingatnya ia tdak punya bag itu sebelumnya. "Apap ini milik gadis itu?" gumam Anan. Sambil duduk di atas tempat tidur, Anan membuka Bag coklat itu, benda yang ia lihat pertama adalah secarik kartu bertuliskan:


"Untuk pria menyebalkan.


Aku tau, aku telah bersalah karena telah membuang topi kesayanganmu. Tapi sebagai permintaan maaf, aku akan menggantinya. Terserah kau suka atau tidak yang penting kita impas ya sekarang! Dasar kau menyebalkan! (emoticon marah)"


"Sebenarnya ini surat kecaman atau permintaan maaf. Dasar"


Anan kembali membuka bagnya, ada sebuah topi berwarna hitam di dalamnya. Topi mahal dengan huruf A di depannya. Anan tersenyum, meskipun Casandra tidak pernah memanggil namanya, tapi ternyata dia tau huruf awal namanya.

__ADS_1


*****


Langkah kaki kesal, bahkan sampai terdengar ke ruang keluarga. Hari kebebasan yang sangat menyenangkan, tapi juga memalukan untuk Casandra. Sepanjang perjalanan pulang, apapun yang ia coba jelaskan pada kedua sahabatnya sepertinya tidak berpengaruh. Sara dan Nanda masih saja berfikiran Kalau Casandra dan Anan sudah melakukan sesuatu di kamar itu.


 


"Ibu... " Ucapnya manja ketika melihat Riyu yang sedang duduk menikmati tehnya di ruang keluarga.


 


"Kau sudah pulang sayang? Kenapa kesal begitu?"


 


"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit lelah bu" jawab Casandra. Ngga mungkin kan dia menceritakan kejadian tadi pada Riyu? Habis lah.


 


"Kau pasti banyak bermain hari ini kan makanya kau lelah. Ceritakan padaku, apa saja yang kau lalui hari ini?" tanya Riyu dengan penuh perhatian.


 


Berbincang dengan ibunya membuat Casandra merasa jauh lebih baik. Apalagi saat merasakan belaian lembut di kepalanya, meredakan kekesalannya hari ini.


Casandra berbicara sendiri sambil menatap langit-langit ruangan kamarnya. Puas ngomel sendiri, ia menghentakkan kedua tangannya memukuli tempat tidurnya.


"Nona, apa kau baik-baik saja?" ucap Tira yang aneh melihat tingkah Casandra.


"Tidak! Aku sedang frustasi." ucap Casandra, Tira tergelak mendengar jawaban Nona mudanya itu.


"Apa kau tau Nona. Tadi ada pemuda tampan yang datang ke dalam ruangan Tuan Besar.


"Siapa?" Casandra merenyitkan alisnya.


"Sepertinya karyawan baru Tuan Besar. Lama mereka mengobrol" jelas Tira sambil merapikan kembali tempat tidur yang sudah berantakan akibat polah Casandra tadi.


"Cieee, kamu naksir ya? Haha"


"Ah Nona, mana mungkin. Saya sudah memiliki tunangan Nona, sebisa mungkin saya setia, jangan sampai menyukai pria lain" Tira tersenyum lembut.


Casandra terdiam menatap Tira seksama. Entah perasaan tersentuh atau apa, tapi memang apa yang di ucapkan pelayannya itu bisa jadi pelajaran baru untuknya. "Kesetiaan" gumam Casandra.


"Iya nona" jawab Tira. Merekapun tersenyum.

__ADS_1


"Tira, apa kau mencintai tunanganmu? Dan... Apa tunanganmu juga mencintaimu?" Tanya Casandra ingin tau.


"Tentu Nona, kami saling mencintai dan setia satu sama lain. Dia bahkan mau menungguku sampai aku mendapatkan cuti dari tuan besar dan menikah"


"Tapi bagaimana jika tunanganmu dekat dengan wanita lain saat kau sedang berada disini?" Casandra jadi khawatir sendiri.


"Nona, selain kesetiaan. Kepercayaan juga sangat diperlukan dalam sebuah hubungan"


"Kepercayaan?"


"Ya Nona. Silahkan istirahat Nona, selamat malam." ucap Tira hendak keluar dari kamar.


"Tunggu. Tira, bisa kau ceritakan bagaimana awalnya kalian bisa jatuh cinta?" tanya Casandra sangat bersemangat. Siapa tau kan dia mendapatkan inspirasi untuk mendekati Riko lebih jauh.


Tira tersipu malu, Apa iya dia harus menceritakan pada nona mudanya. "Nona aku... "


"Ayo lah Tira, ceritakan sedikit saja" ucap Casandra memelas.


"Ba, baiklah"


Tirapun kembali mendekat ke sisi tempat tidur. "Nona, dulu awalnya kami saling membenci satu sama lain. Ya karena dia laki-laki yang sangat menyebalkan. Kami bahkan hampir tidak pernah akur, dia juga suka sekali menggodaku bahkan sampai aku menangis. Tapi sekarang kami malah saling mencintai. Haha." Tira malu-malu.


Casandra memicingkan matanya, entah kenapa dia merasa tersinggung. Bayangan Anan langsung terpampang di hadapannya, menyebalkan, Casandra yang tadinya bersemangat mendegarkan cerita Tira, ia malah jadi kesal dan marah.


"Kau menyindirku ya?!"


"Ma... Maksud Nona?" Tira tidak mengerti.


"Kau sengaja kan menyindirku? Kau berusaha menyindirku dengan cowok kue menyebalkan itu. Iya kan?!" Casandra kesal.


Sedangkan Tira tertegun tudak mengerti apa maksud Casandra. "Nona saya tidak... "


"Sudah, pergi sana. Kau juga sama menyebalkannya!" Casandra tenggelam dalam selimutnya.


Tira berjalan menuju pintu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencerna perkataan Casandra dan mengoreksi bagian mana ucapannya yang menyindir Nona muda?. Tapi, sekeras apapun Tira berfikir, ia masih tidak menemukan jawabannya.


 


Suka dengan cerita ini? Vote dan like nya dong. Biar author semangat lagi nulisnya.... 


 


 

__ADS_1


__ADS_2