
Tangannya terus mencengkram erat jok mobil, sesekali Casandra menghentikan nafasnya ketika mobil melaju semakin kencang. "Aku mohon hentikan mobilnya" berucap dengan sisa tenaga.
Namun karena perasaan yang masih kesal, diiringi juga rasa ingin mengerjai Casandra. "Aku pikir kau orang yang cukup pemberani Nona Muda" ucap Anan dingin sesekali sengaja melaju dengan zig-zag.
Tidak ada kata yang mampu diucapkan Casandra. Tangannya mengepal erat, matanya tertutup rapat, pusing mulai melanda. Jika Anan masih melanjutkan keisengannya ini, bisa-bisa Casandra pingsan.
"Sudah tau kan rasanya dikerjain?" ucap Anan menoleh ke arah Casandra. Ekspresi puasnya berubah pias ketika melihat Casandra diam gemetar dengan wajah yang mulai pucat.
Ciiittttt...
Mobil terhenti seketika. "Maaf" ucap Anan mulai cemas. Aku benar-benar sudah keterlaluan. Bisik Anan dalam hati.
Bergegas Anan membeli air mineral yang tidak jauh dari tempatnya berhenti, berharap Casandra akan baik-baik saja. Jangan sampai hari pertama kerja sudah membuat masalah, apalagi jika sampai ada yang tau kalau dirinya sudah membuat Nona muda pucat pasih.
"Ini minumlah" ucap Anan membantu Casandra yang masih gemetar.
"Aku minta maaf, Nona muda" .
Casandra masih diam mengatur nafasnya. Sedangkan Anan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kita sudah sampai Nona" ucap Anan.
Terlihat Casandra sudah mulai pulih, ia menarik nafas dalam. "Kau ... Kau sangat menyebalkan! Aku benci padamu, beraninya kau mengerjai aku! Aku akan laporkan pada ayah biar kau di pecat!" omel Casandra terus menabok lengan Anan.
"Ternyata kau lebih baik syok daripada sadar seperti ini dasar Omma bawel!" lawan Anan.
"Apa kau bilang!" teriak.
"Oma bawel. Apa selain cerewet kau juga mengalami gangguan telinga ha?"
"Diam kau, aku bersumpah akan mencekikmu!" timpal Casandra kesal.
"Silahkan saja cekik jika kau mampu"
"Kau menyebalkan!"
"Kau dua kali lipat menyebalkan!" balas Anan.
Tanpa disadari tepat di hadapan mereka sudah ada Sara dan Nanda yang dari tadi menyaksikan pertengkaran itu.
"Casandra" ucap Sara. Meskipun sudah berkali-kali dipanggil tetap saja terlihat Anan dan Casandra masih ribut di dalam mobil.
"Lihat saja, dalam waktu 1 bulan aku akan membuatmu dipecat!" kesal.
"Silahkan. Aku bersyukur dipecat dari pada harus menjadi pengawal Nona muda sepertimu" balas Anan.
"Hey kurang ajar!"
"Apa?! Tapi sebelum tuan Sam memecatku, dalam waktu satu bulan ini aku akan menyiksamu" ucap Anan menyeringai, lalu pergi keluar mobil.
__ADS_1
"Apa?? Disini aku bosnya tapi kenapa malah kau yang mengancam menyiksaku!!" teriak Casandra. Tapi percuma, Anan sudah terlebih dulu keluar dan menutup mobil, jadi tidak terdengar omelan Casandra.
"Selamat pagi Nona-nona" sapa Anan pada Nanda dan Sara sopan. Kemudian iapun membukakan pintu mobil untuk Casandra.
"Sudah ayo cepat turun. Atau kau mau aku menggelindingkanmu supaya keluar dari mobil?" ucap Anan tersenyum tipis.
"Apa kau bilang?"
"Silahkan Nona, teman-temanmu sudah menunggu"
Dengan kesal Casandra keluar dari mobil. "Awas kau!" ucapnya ketika lewat didepan Anan.
Tiga sekawan itu berjalan menuju kampus, selama di jalan juga Sara dan Nanda mendengar dengusan kesal dari mulut Casandra.
"San, kamu kenapa si? Dan... Kenapa Anan bisa bareng sama kamu?" tanya Sara penasaran.
"Dia. Bodyguardku sekarang" jawab Casandra enggan.
"Apaaa??" Nanda dan Sara serentak.
"Ayahku yang memilihnya" ucap Casandra jengkel sambil menghentakkan kakinya pelan ke lantai kampus. "Nanda, Sara. Tolong aku" rengeknya.
Sedangkan Sara dan Nanda saling berpandangan, mereka bingung mau menolong yang bagaimana sedangkan semua itu memang sudah jadi keputusan Sam.
"Casandra. Aku ga tau harus bagaimana aku nolong kamu, tapi bukannya kamu beruntung bisa mendapatkan pengawal setampan dia?" ucap Sara tersipu, membayangkan seandainya Anan yang jadi pengawalnya.
"Ish. Kau ini juga sama menyebalkan. Ambil dia jika kau mau" ucap Casandra kesal lalu berjalan cepat menuju kelas.
Kali ini Casandra sepertinya harus menikmati perjalanannya. Ketambahan orang menyebalkan lagi dihidupnya, juga orang yang akan berdebat dengannya. Tapi dalam benak Casandra, masih terus memikirkan rencana bagaimana caranya supaya Anan diberhentikan.
*****
Beberapa jam berlalu, jam kuliah sudah usai. Namun sepertinya Casandra masih enggan beranjak dari bangkunya. Ia melongok ke arah parkiran, Anan masih menunggunya dengan tenang.
"Cih. Berdirilah di sana sampai kau kering!" gumam Casandra.
"San, kita sudah hampir dua jam disini. Apa kau tidak mau pulang?" ucap Sara yang mulai bosan.
"Kalian pulang saja dulu, aku masih mau disini" jawab Casandra.
"Casandra" ucap seseorang di pintu kelas. Sontak ketiganya langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Riko" ucap Casandra tersenyum lembut.
"Baiklah kalau begitu, kita duluan ya San" ucap Nanda dan Sara, merekapun bergegas pergi meninggalkan Riko dan Casandra.
Riko menyeret bangku lalu duduk tepat didepan Casandra. "Kenapa kamu masih disini?"
"Aku... Masih pengen di sini"
__ADS_1
"Jangan begitu, nanti om Sam bisa cemas kalau kau pulang terlambat." ucap Riko penuh perhatian. "Oh iya, nanti malam kita jadi kan? Aku akan menjemputmu"
"Hah? Apanya yang jadi?" ucap Casandra agak tersentak.
"Apa kau lupa? Kita akan berkencan malam ini"
"Astaga" Casandra baru ingat. "Maaf Riko aku lupa"
"Dasar kau ini" Riko tersenyum menyentuh hidung Casandra.
Entah malam ini mereka bisa pergi berkencan atau tidak, tapi yang pasti Riko yang akan meminta ijin langsung kepada Sam. Semoga saja tidak berakhir dengan pengusiran. Baru beberapa saat mengobrol, ponsel berdering tanda pesan masuk.
"Jika kau masih tidak mau turun. Aku akan naik ke atas dan langsung menggendongmu dengan paksa untuk pulang" isi pesan dari Anan.
"Ch, dasar menyebalkan!" gumam Casandra.
"Ada apa sayang?"
"Ehm... Riko, aku harus pulang sekarang. Orang suruhan papaku sudah jemput" jelas Casandra.
"Oke, Casandra" Riko menahan tangannya. "Aku... " Riko terdiam berdiri mendekat ke arah Casandra.
Tling... Pesan masuk dari Anan. "Satu..." hanya itu pesannya, Casandra bingung, Riko sedang ingin berbicara sesuatu tapi di sisi lain Anan juga pasti akan melakukan ancamannya.
"Casandra, aku ingin mengungkapkan kalau aku... "
Tling.... lagi-lagi ponsel berdering memotong ucapan Riko.
"Dua... Satu hitungan lagi aku akan naik ke atas" pesan masuk dari Anan lagi membuat Casandra terpekik.
"Iyaaaa aku sedang jalan turun dasar kau!" balas Casandra.
"Riko... Aku harus harus pergi sekarang. Daah" ucap Casandra langsung bergegas pergi.
"Tapi Casandra... " ucap Riko.
"Nanti malam saja kalau kita berhasil pergi bersama" jawab Casandra sambil berlari keluar kelas.
"Awas kau. Beraninya mengancam dan membuatku lari seperti ini. Ugh" omel Casandra.
Tak lama kemudian iapun sampai di parkiran, terlihat Anan sedang berdiri santai sambil memegang ponselnya. Casandra sampai tepat waktu meskipun hampir kehabisan nafas.
"Aku bersumpah akan mencekikmu! Haahh" ucap Casandra terengah.
"Ayolah Nona, kita harus pulang sekarang" ucap Anan menyeringai. Puas sekali rasanya melihat Casandra kesal.
"Hey kau. Buka dulu pintunya!" teriak.
"Kau punya tangan kan? Buka sendiri." jawab Anan lalu masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Eerrgghh"
Casandrapun menyusul masuk lalu membanting pintu dengan kesal.