Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Bab 15


__ADS_3

 Pagi harinya Riyu masih tidak bergeming, ia di tempat yang sama sejak tadi malam. Riyu duduk di bawah gorden jendelanya sambil memeluk lututnya.


Hingga sinar matahari mulai beranjak naik, Riyu tidak tidur semalaman. Bibirnya yang pecah, pipinya yang lebam, Riyu tidak merasakan sakit pada luka di wajahnya tapi ia lebih merasakan sakit di hatinya.


Tluuttt.... Ponsel Riyu berdering, tanpa menengok ke layar ponselnya Riyu menerima panggilan itu sambil tetap menatap kosong ke depan.


"Riyu! bude butuh uang. Adakan?!" ucap Siti tanpa basa basi.


"Iya bude" jawab Riyu lirih.


"Ya udah! kamu ke sini sekarang bude tunggu. Tapi jangan lama-lama ya!" Ucap Siti dengan nada judes.


Panggilan itu berakhir sebelum Riyu menjawab lagi, pak Mahesa memang memberikan Riyu sebuah card yang berisi uang untuk kebutuhan dirinya. Riyu beranjak membersihkan diri lalu bersiap pergi ke rumah budenya.


"Selamat pagi non, sarapan sudah siap" sapa Bi Mirah lalu mengamati wajah Riyu.


"Non Riyu, wajahmu..."


"Aku ga apa-apa bi, ini cuma kecerobohan ku. Semalam aku jatuh dikamar mandi karena kurang hati-hati" Riyu mencoba tersenyum dengan wajah sayu.


Mirah terdiam, hatinya bergetar karena dia tau Riyu sedang berbohong.


"Ini pasti ulah tuan Noval tadi malam, kasian non Riyu dia pasti sangat sedih" Mirah menatap Riyu prihatin.


"Bi aku sudah selesai"


"Loh non Riyu ga makan?" ucap Mirah yang melihat ke arah makanan yang utuh.


"Aku masih kenyang. Oh iya, hari ini Riyu pulang agak telat. Aku mau berkunjung ke rumah bude, dari tempat bude mungkin aku akan pergi ke makam. Aku pergi dulu ya bi" Riyu meraih tas selempang lalu beranjak pergi.


Sebelum ke desa Riyu berhenti ke sebuah ATM, Riyu menarik uang sebesar 10 juta untuk budenya. Meskipun ia tau bahwa dirinya hanya di anggap sebuah benda yang di jual di keluarga kaya untuk mendapatkan uang, tapi mau bagaimanapun juga Riyu sangat berhutang budi pada Siti.


"Duuuh mana sih Riyu kok belum Dateng!" ucap Siti sambil melongok ke pintu rumahnya.


"Iya tuh Bu, Agi juga udah kangen banget sama Riyu itu" sahut Agi.


"Apa kamu bilang!"


"Ah ibu ga bisa di ajak bercanda" ucap Agi kesal.


"Aku lagi kesel ga bisa bercanda! Coba lihat, udah dua bulan sejak menikah dengan tuan muda keluarga Mahesa, Riyu sedikitpun tidak pernah mengunjungiku. Kalau ga di telfon dia juga ga bakal telfon, bahkan anak ga tau diri itu ga pernah ngasih kita uang kalau aku ga minta!"


"Bener Bu, kalau sampai sini nanti kasih pelajaran aja" ucap Agi menambah panas emosional Siti.

__ADS_1


"Pastilah! Dia hidup enak di rumah mewah, makanan enak, mobil, perhiasan. Semua dia nikmati sendiri tanpa ingat aku yang mengasuhnya sejak kecil, awas saja nanti" umpat Siti marah-marah.


"Ya dah lah Bu, Agi mau berangkat kerja dulu" ucap Agi lalu mencium tangan Siti.


10 menit kemudian, mobil BMW berwarna hitam terparkir di depan halaman rumah Siti. Siti mengamati dari dalam, terlihat Riyu yang turun membawa sebuah amplop coklat yang tebal.


"Nah akhirnya dia datang juga!" ucap Siti melangkah cepat menghampiri Riyu.


"Kamu ini lelet banget jadi orang! baru beberapa bulan hidup enak langsung lupa padaku!" sentak Siti pada Riyu.


Riyu tersenyum pada Siti dengan ramah menyembunyikan semua kesedihannya, Riyu mendekat lalu mencium tangan Siti.


"Maaf bude, Riyu harus mencari waktu yang tepat untuk keluar rumah" Riyu tersenyum ramah.


Tapi Siti hanya tertegun mengamati wajah Riyu yang babak belur, Siti terdiam memandang Riyu dari atas hingga bawah "Kenapa dia jadi kurus sekali, kenapa dia babak belur seperti ini. Bagaimana sikap keluarga Mahesa pada Riyu sebenarnya..." gumam Siti dalam hati.


Siti bergegas mengalihkan pikirannya. "Ya udah masuklah" ucap Siti dengan nada judes.


Riyu duduk di kursi sofa sederhana, Riyu memandang sekeliling mengingat kembali masa-masa pertama kali ia di bawa ke rumah Siti. Riyu tersenyum saat membayangkan wajah pakde Parso yang sedang membungkuk dan Riyu kecil naik di atas punggungnya.


Siti keluar dari dapur membawakan secangkir teh hangat, tapi langkahnya terhenti sejenak memandang Riyu. "Tidak... Aku tidak boleh terpengaruh. Aku tidak kasihan padanya, gara-gara anak ini aku harus jadi janda dan mencari makan sendiri! Aku tidak akan terpengaruh sama wajah melasnya" bisik Siti dalam hati. Siti meletakkan teh di depan Riyu.


"Bude... Jangan marah lagi sama Riyu ya, ini untuk bude" ucap Riyu menyodorkan amplop coklat. Siti menerima amplop itu lalu melihat segepok uang di dalamnya.


Siti gemetar mendengar ucapan Riyu, "Aku mau nyimpen uang ini dulu!" ucap Siti dengan nada tinggi namun bergetar.


Siti masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintunya, dia bersandar di pintu menyentuh dadanya yang berdebar.


"Aku memang membencinya, aku memang suka memarahi dan memukulnya. Tapi... Seharusnya dia mendapatkan hal baik setelah menikah di keluarga kaya, Tuhan... Kenapa kau membiarkan anak brengsek itu menderita di sana! seharusnya Riyu itu dapat hidup enak dan pergi dari rumah ini untuk menjauh dari kebencianku tapi kenapa... Kenapa..." Siti tersimpuh memandangi amplop yang terjatuh dari tangannya.


Lama Siti menenangkan diri di kamarnya, Siti tidak ingin Riyu tau kalau dia khawatir padanya. Beberapa lama kemudian, Siti keluar dengan mata yang merah.


"Bude, kenapa mata bude merah sekali. Apa bude sakit?" ucap Riyu cemas.


"Gak, mataku merah karena habis ngitung uang yang kamu berikan tadi!" ucap Siti tidak berani menatap Riyu.


"Riyu boleh nginep di sini bude? satu malam saja" ucap Riyu penuh harap. Tapi Siti tidak berani menjawab, dia takut di salahkan nyonya Mahesa jika membiarkan Riyu menginap di rumahnya.


"Tidak" jawab Siti singkat dia berdiri sambil menahan kelu di lehernya.


Riyu tertunduk sedih, sesaat suasana menjadi canggung.


"Kalau begitu... Riyu pulang dulu ya bude" Riyu beranjak dari tempat duduknya mencium kembali tangan Siti, ingin sekali Siti mengelus kepala Riyu tapi dia tidak sampai.

__ADS_1


Setelah Riyu mencium tangan Siti, tiba-tiba saja Riyu memeluk Siti dengan sangat kencang. Siti gemetar, baru kali ini dia merasakan sedih dan kesepian dari kelakuan Riyu.


"Bude, Riyu pulang dulu. Nanti kalau ada waktu lagi Riyu akan berkunjung" ucap Riyu memeluk Siti.


"Oke. Sekarang pergilah" ucap Siti langsung memalingkan badannya. Dia tidak ingin Riyu tau kalau Siti menitikkan air mata.


Riyu memandang punggung budenya sesaat, lalu pergi dari sana.


"Apa bude sangat membenciku... Bahkan dia menolakku dan memalingkan wajahnya, apa aku begitu menjijikkan. Bude saja tidak suka padaku jadi wajar jika Noval sangat muak padaku" Bisik Riyu dalam hati, sesekali air bening menetes dari salah satu matanya.


"Maafkan aku Riyu... Aku, tidak bermaksud..." Ucap Siti menatap mobil Riyu yang menjauh dari balik jendela.


Saat itu juga Agi mendobrak masuk, mengagetkan Siti yang langsung menghapus air matanya.


"Bu mana Riyu?" ucap Agi kegirangan.


"Udah pergi" jawab Siti singkat lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya.


"Apa??? Aku bersusah payah ijin pulang tapi ternyata gadis itu sudah pergi! Padahal aku Kangen banget sama dia, aku pengen meluk dia" ucap Agi sambil membayangkan hal mesum.


Seketika itu juga Siti keluar dari kamarnya... Baaakkkk, Siti melempar bantal yang langsung mengenai muka Agi.


"Aduh, apa-apaan sih Bu!" protes Agi pada Siti.


"Sekali lagi kamu bicara akan aku remat mulutmu!"


"Apaan sih Bu, aku kan cuma..."


Buukkk.... Siti kembali melempar Agi, secepat kilat Agi menghindar.


"Pergi kau anak mesum dan berhenti berisik" bentak Siti.


"Bu kau kenapa!" ucap Agi.


"Masih berisik kamu, pergi gak!" ucap Siti menghampiri Agi sambil membawa sapu.


"Oke... Okeee... aku pergi Bu" jawab Agi terbirit-birit keluar rumah.


Braakkk.... Siti membanting pintu.


"Ada apa sebenarnya? Ibu tiba-tiba berubah menjadi singa yang mengerikan" ucap Agi.


"Aku dengar Agi!" teriak Siti dari dalam rumah.

__ADS_1


Seketika itu juga Agi langsung kabur berlari kencang menjauh.


__ADS_2