Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Tamparan Untuk Dewi


__ADS_3

Di sebuah hotel____


"Noval, apa istrimu melihat kita tadi?" Ucap Lila memandang cemas.


"Meskipun dia melihatnya, apa yang bisa dia lakukan ha?" Noval memeluk Lila dari belakang.


"Ish.... Aku serius Val! Jika Riyu melihat kau bersamaku bagaimana jika dia melaporkannya pada Sam! atau Om Mahesa?" Lila menghindar dari pelukan Noval.


"Lila, dia sendiri menghianatiku dengan berselingkuh dengan Sam! Bagaimana bisa dia akan mencampuri urusan kita. Biar dia berkaca sebelum dia menjadi orang yang sok benar"


Lila terdiam cemas, kalau sampai Sam tau dia menghianatinya maka Lila sudah pasti tidak akan memiliki kesempatan untuk mendapatkannya lagi.


Tapi sekarang dia juga dijebak oleh Noval, jika Lila berani membantahnya, maka Noval pasti akan menghancurkan reputasi keluarganya.


"Minumlah, supaya kau lebih rileks" Noval menyodorkan segelas wine pada Lila.


"Kau tenangkan dirimu, aku mau mandi" ucap Noval diiringi seringai saat melihat Lila menengguk wine sedikit demi sedikit.


Beberapa belas menit berlalu, tubuh Lila tiba-tiba merasa gerah dan berkeringat. Ia merasa aneh saat merasakan keringatnya menetes dan meluncur melalui kulit halusnya.


"Ini... Kenapa aku jadi tidak bisa mengendalikan diriku!"


Lila mencoba mencari remote AC untuk mendinginkan suhu tubuhnya, tapi ternyata Noval sudah terlebih dulu menyembunyikannya.


"Noval kau memang pria picik! Berani-beraninya dia mempermainkan aku. Aku tidak tahan, gerah sekali"


Lila semakin tidak bisa mengendalikan dirinya, semakin banyak keringat yang keluar dan menetes dari tubuhnya Lila semakin terasa panas.


"Mungkin obat perangsang itu sudah mulai bekerja sekarang" gumam Noval, ia memakai handuknya lalu keluar dari kamar mandi.


"Tenang sayang. Biar aku memuaskanmu!"


Lila seakan tidak sadar, yang ada dalam benaknya saat itu ia ingin bebas melepaskan panas yang mempengaruhi dirinya.


*****


Sore itu Darma dan Riyu memutuskan untuk kembali ke kota Y, dengan pesawat pribadinya. Riyu sudah memutuskan untuk pulang dulu ke rumah Siti, ia telah mendapatkan ijin dari Mahesa untuk menginap semalam di sana.


 


Senyum Riyu yang lebar hilang ketika sampai di halaman rumah Siti, ia melihat rumah itu hancur di bagian pintu dan jendelanya. Ia melangkah perlahan melihat hampa puing dan kaca yang hancur berserakan.


"Bude. Bude... " Riyu masuk ke rumah Siti dengan perasaan khawatir.


"Kau! Untuk apa kau datang kesini? Apa belum puas membuat kami hancur ha!" Hardik Agi tiba-tiba, saat Riyu sampai di dalam rumah.


"Mas Agi, katakan apa yang terjadi? dimana bude?!"


"Buat apa kau mencari ibu! Lebih baik sekarang kau pergi dari sini!" Agi menarik tangan Riyu dan membawanya keluar rumah.


"Agi! Cukup lepaskan adikmu!" ucap Siti yang keluar dari balik pintu kamarnya.


Matanya terlihat sembab, Riyu melihat luka di bibir budenya. Melihat Siti Riyu melepas tangan Agi dan langsung berlari memeluk Siti.


"Bude kau kenapa? apa yang terjadi?" Riyu gemetar. Tapi Siti masih terdiam, ia ragu untuk bercerita pada Riyu.


"Bude katakan padaku, siapa yang melakukan ini semua?!" Riyu menatap tajam.


"Siapa lagi kalau bukan suami kayamu! Aku dan ibu harus menanggung ini semua akibat ulah murahanmu!" Sahut Agi.


"Apa maksudmu?!" Riyu tidak mengerti.


"Cukup Agi! Hentikan!"


"Biar Bu! biarkan wanita ini tau kenyataannya! Noval mengirim anak buahnya untuk menghancurkan rumah ini, dia bahkan memukuli aku dan ibu. Kau tau apa sebabnya?! Itu semua karena kau datang bersama Sam kesini!"


Riyu merasa lemas, kakinya melangkah mundur sampai dia tersandar di tembok.


"Ini... Ini semua salahku, maafkan aku bude" Riyu terisak menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Ia tidak menyangka bahwa Noval akan tega melakukan ini pada bude dan Agi.


"Sudahlah Riyu, kita masih bisa memperbaiki rumah ini bukan? Jangan menangis" ucap Siti mengelus lengan Riyu.


Dia juga merasa bersalah, semua sudah menjadi resiko karena Sitilah yang mengantarkan Riyu pada Noval.


"Bude, untuk sementara ini aku akan menyewakanmu apartemen untuk tinggal sampai rumah ini selesai diperbaiki" ucap Riyu menghentikan isaknya. "Aku akan bicara pada Noval. Sekarang ayo kita pergi dari sini, aku akan mencari orang untuk membantu memperbaiki rumah"


Siti dan Agi setuju dengan keputusan Riyu, taksi yang ditumpangi Riyu tadi masih menunggu di halaman rumah. Mereka langsung pergi menuju apartemen yang dipesan Riyu melalui internet.


Semalaman Riyu tidak tidur karena merasa bersalah, dia tau kalau Noval sengaja melakukan itu untuk memperingatkannya. Hatinya semakin tidak tenang, Noval mulai mengancam dengan menyakiti keluarganya. Ingin rasanya malam cepat berlalu hingga dia bisa menemui Noval untuk bicara.


Hari yang ditunggu Riyu telah tiba, dia meninggalkan secarik surat dan sejumlah uang untuk budenya selama mereka tinggal di apartemen itu, tanpa menunggu mereka bangun Riyu bergegas pergi meninggalkan apartemen.


**Kediaman Mahesa **


"Bi apakah ada orang di rumah?" tanya Riyu pada Mirah yang membantu membawakan barangnya turun dari mobil.


"Nyonya dan tuan sudah berangkat ke kantor non, dan tuan Noval masih di kamarnya"


Mendengar jawaban Mirah Riyu mempercepat langkah kakinya menemui Noval di kamarnya.


"Apa yang kau lakukan pada bude dan kakakku! Noval apa kau tidak cukup menghajarku sehingga kau juga menyakiti mereka!" hardik Riyu pada Noval yang sedang di depan cermin sambil merapikan dasinya.


"Riyu, bukankah aku masih berbaik hati? Sudah untung aku mengampuni nyawanya" ucap Noval dengan nada santai.

__ADS_1


"Kau gila! Kau kejam Noval!"


Noval melangkah mendekati Riyu lalu mencekik lehernya.


"Jangan kau kira aku takut meskipun kau dibawah lindungan si tua bangka Darma itu Riyu! Aku bahkan bisa melakukan lebih daripada ini!"


Wajah Riyu mulai merah dan kesulitan bernapas, Noval langsung menamparnya sampai Riyu tersungkur di atas tempat tidurnya.


"Kau ingat ini baik-baik! Ini baru permulaan Riyu, jika kau berani mendekati Sam lagi aku akan melakukan hal yang lebih kejam lagi, aku akan membawa kepala mereka ke hadapanmu bila perlu!"


Noval keluar dari kamar lalu membanting pintu dengan kencang, "Noval aku tidak akan melupakan perbuatanmu!" Riyu mengepalkan tangannya.


Sebelum berangkat ke kantor Riyu menutupi bekas tamparan Noval dengan riasan, dia tidak ingin kakek Darma tau kalau Noval memukulnya lagi.


Di kantor Riyu banyak sekali diam, bahkan tidak ada senyum ramah yang ia lontarkan sejak pagi ini, Darma mengamati Riyu seksama.


"Ada masalah apa Riyu? Kau tidak ceria seperti biasanya" tanya Darma.


"Tidak ada apa-apa kek, aku hanya merasa sedikit tidak enak badan" jawab Riyu lalu menghadap kembali laptopnya.


"Kalau begitu aku akan memberimu cuti besok"


Riyu lega mendengar itu, dengan cuti dia bisa menemani bude dan mengecek rumahnya yang sedang di renovasi.


Tak lama setelah itu, sekertaris mengetuk pintu.


"Tuan, tamu sudah datang" ucap sekertaris memberitahu.


"Baiklah, Riyu."


"Iya kek" Riyu berjalan menuju meja kerja Darma.


"Serahkan berkas ini pada tamu itu, katakan padanya aku sudah memberi ijin pada perusahaannya"


Riyu mengambil map yang disodorkan Darma lalu menuju ruang tunggu VIP untuk menemui tamunya.


"Selamat Siang" sapa Riyu pada wanita yang sedang sibuk membolak-balik majalah. Wanita itu berbalik memandang Riyu.


"Oohh... Bukankah kau adalah gadis kampung itu"


"Ternyata wanita ini tamunya, menjijikkan!" umpat Riyu di hati.


"Aku kemari ingin bertemu dengan asisten tuan Darma yang terhormat, kenapa malah wanita Kumal yang datang!" ucap Dewi memandang sinis. Sambil berjalan memutari Riyu.


"Aku asisten tuan Darma" jawab Riyu tegas dan tenang.


"Oh waw... Benarkah? Coba katakan padaku, bagaimana caramu menggoda laki-laki tua itu" ucap Dewi mendekat ke arah Riyu.


"Tuan Darma memintaku untuk mengantarkan berkas ini, Kau bisa menerimanya dan enyahlah" ucap Riyu berbalik hendak keluar ruangan.


Mendengar ucapan itu Riyu berbalik dan berjalan ke arah Dewi...


Plaakkkk....


Tamparan Riyu mendarat keras di pipi kanan Dewi, dia terhempas di atas sofa. Dewi menatap Riyu sambil memegangi pipinya yang terasa sangat perih.


"Kau berani menamparku!" ucap Dewi menggeletakkan gigi.


"Kenapa tidak? Bukankah kau juga melakukan hal yang sama padaku malam itu?" ucap Riyu menyedakapkan kedua tangan di depan dadanya.


"Perlu kau ingat, sebelum mengatai orang lebih baik kau berkaca terlebih dulu. Aku rasa yang pantas disebut ****** adalah wanita yang berani tidur di atas pria yang telah beristri. Seharusnya kau tau malu!"


Dewi tidak bisa berkata apa-apa, Riyu beranjak pergi dari ruang itu meninggalkan Dewi yang menatapnya kesal.


"Nona apa seseorang menyakitimu?" tanya Bayu yang mengawasi Riyu dari jauh.


"Tidak, justru aku yang menyakiti orang" jawab Riyu membuang nafas panjang.


"Tapi aku rasa itu patut di lakukan"


Riyu menatap Bayu sambil tersenyum heran. Hari ini Riyu sedang ingin melampiaskan kemarahannya, kebetulan dia juga memiliki dendam dengan Dewi. Meskipun Riyu tidak pernah bersikap kasar sebelumnya, tapi mungkin mulai sekarang dia akan terbiasa.


"Lihat, harimau betina telah kembali" ucap Darma pada saat Riyu kembali ke ruangannya.


"Apa maksudmu kek?"


"Aku melihat ekspresi wanita itu tadi. Kau benar-benar membuatnya mematung seperti batu"


Riyu tidak menyangka kalau Darma tau tentang apa yang dia lakukan pada tamunya.


"Kau... Melihatnya?" ucap Riyu gugup. Dia tau karena telah berbuat tidak sopan pada tamunya.


"Tentu aku melihatnya. Ada kamera CCTV di ruangan itu Riyu, aku bisa melihatnya dengan jelas" ucap Darma berjalan ke arah Riyu.


"Maafkan aku karena sudah bersikap tidak sopan pada tamumu kek, tapi aku akan bertanggung jawab untuk menebus kelakuanku hari ini" Riyu pasrah.


"Menebus? Dengan cara apa kau akan menebusnya?"


"Aku siap menerima hukuman yang akan kau berikan padaku"


"Hukuman? Hahahaha"


Riyu menatap Darma heran, tidak ada hal lucu yang terjadi tapi dia tertawa dengan begitu ringan.

__ADS_1


"Apa kau berfikir aku akan menghukummu? Tidak Riyu" ucap Darma. Riyu menatap Darma seksama.


"Riyu, dalam hidup ini mempertahankan harga diri adalah hal yang penting. Mulai hari ini kamu harus belajar untuk bisa mempertahankan harga dirimu sendiri, jangan biarkan siapapun menginjakmu. Kamu mengerti?"


Riyu mengangguk patuh. Meskipun dia khawatir Noval pasti akan menghajarnya jika dia tau kalau Riyu telah menyakiti wanitanya. Tapi sejak Noval berani menghancurkan rumah dan menyakiti budenya, Riyu tidak peduli lagi meskipun Noval menyakitinya dia akan terus melawannya.


***Sore itu di sebuah Bar***


"Noval!" Dewi menemui Noval yang sedang menikmati birnya.


"Ada apa?" ucap Noval enggan.


"Noval kenapa kau berubah? Kau menjadi dingin padaku! Sudah lama kita tidak bersama apa kau merindukanku? ucap Dewi dengan nada manja memeluk Noval.


"Apa yang kau inginkan, kenapa kau mencariku?"


"Noval, gadis kampung itu berani menamparku! Kau harus membalasnya untukku"


"Apa? Maksudmu Riyu yang menamparmu?" tanya Noval mengerutkan kedua alis.


"Iya! Dia bersikap begitu sombong dan angkuh. Lihat bahkan bekas tamparan itu masih ada sampai sekarang" Dewi memperlihatkan pipinya yang agak bengkak pada Noval.


"Kau pantas mendapatkannya!" ucap Noval acuh.


"Apa?" Dewi terpaku mendengar ucapan Noval. "Noval kau harus membalasnya demi aku!"


"Demi kamu? Memangnya siapa kamu beraninya memerintahku!"


"Noval kau..."


"Jika sudah tidak ada urusan enyahlah dari hadapanku!"


"Kenapa kau berubah seperti ini, kau mengabaikan aku dan lebih membela wanita kampung itu?"


"Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi, aku sudah bosan denganmu. Sekarang enyahlah atau mau aku tambahkan luka di tubuh kotormu itu?" Ucap Noval menatapnya tajam.


Dewi tidak menyangka Noval akan mencampakkannya, padahal selama ini Dewi sangat membanggakan dirinya karena bisa mendapatkan Noval. Tapi semua itu kini berbanding terbalik, Dewi keluar dari bar dengan perasaan sedih dan kesal.


"Dasar! Merepotkan saja!" umpat Noval menengguk segelas bir.


"Bos, kapan kita akan menjalankan rencana kita?" tanya salah satu anak buahnya.


"Aku sedang mencari celah karena wanita itu kini berada di bawah naungan Darma. Lumayan sulit untuk memberinya pelajaran"


"Hemh. Apa kau takut?"


Mendengar ucapan itu Noval mencengkram kerah leher anak buahnya.


"Apa kau bilang? Takut? Dengar baik-baik aku tidak takut, aku hanya berhati-hati. Aku yakin ada hubungan khusus antara Riyu dan Darma. Aku lihat Darma juga melindungi Riyu dengan ketat"


Noval melepaskan cengkeramannya lalu menepuk pundak anak buahnya.


Hari telah beranjak sore, Riyu masuk ke dalam rumah dengan lesu. Pekerjaan yang dia selesaikan hari ini cukup banyak, tapi setidaknya besok Riyu bisa libur seharian.


Riyu berjalan menuju ruang tamu, langkahnya terhenti saat dia melihat Sam yang duduk bersama Lila sambil memeluk lengan Sam.


Riyu dan Sam saling pandang, "Riyu kau sudah pulang?" tanya Nita. Melihat cara Riyu menatap Sam dan Lila, Nita tau kalau Riyu sedang cemburu.


"Iya mah, aku sudah pulang" jawab Riyu dengan wajah lelah.


"Riyu coba lihat ini, Lila dan Sam sedang memilih gaun untuk resepsi pernikahannya nanti"


"Pernikahan?" Riyu merenyitkan kedua alisnya.


"Hey kenapa kau sangat terkejut? bukankah itu satu hal yang wajar pada pasangan yang sudah bertunangan?" ucap Nita sengaja membakar Riyu.


"I... Iya ma" jawab Riyu.


"Ayolah Riyu, duduk bersama kami. Bantu aku memilih gaun yang cocok" Lila menarik lengan Riyu.


"Lila. Maafkan aku, bukannya aku tidak mau membantu tapi, Aku benar-benar lelah sekarang" ucap Riyu.


Sam hanya duduk terdiam, tidak ada satu katapun yang terucap dari bibirnya.


"Riyu benar Lila, dia kan baru pulang kerja pasti sangat lelah kan? Sini biar Tante yang membantumu memilih. Riyu kau boleh pergi dan istirahatlah" ucap Nita.


Sebelum Riyu beranjak ia memandang Sam dalam, namun tidak ada yang bisa mereka bicarakan sekarang ini. Riyu berjalan menuju kamarnya, ia melempar tas tangannya ke sisi ranjang lalu Riyu duduk di kursi riasnya.


"Sam... Apa benar kau akan segera menikah? Itu berarti... Tapi kita memang harus menyudahi untuk saling menyimpan perasaan kan?" ucap Riyu tertunduk menahan gejolak di hatinya.


Di sisi lain Nita dan Lila sibuk melihat-lihat koleksi foto gaun,


"Sam coba lihat ini, bagus kan? Aku akan memesan ini untuk pesta pernikahan kita!" ucap Lila sambil memperlihatkan gambar gaun pada Sam.


"Tidak akan ada pernikahan!" jawab Sam menatap tajam.


"Sam, apa maksudmu!" Nita keberatan.


"Aku menyetujui untuk membawa Lila ke rumah ini karena dia bilang kangen dan ingin mengunjungimu, bukan untuk memilih gaun pengantin! Hentikan semua tingkah konyol kalian karena aku tidak ingin menikah dengannya!" Sam berdiri lalumelangkah pergi.


"Sam! Kenapa kamu masih keras kepala? Apa kamu masih akan meneruskan perasaanmu pada kakak iparmu itu! Sam. Mau bagaimanapun juga kau harus melupakan perasaanmu!"


Mendengar ucapan Nita Sam berhenti lalu berbalik menatapnya "Kau? Ingat statusmu, lebih baik kau nasehati putra keparatmu daripada mencampuri urusanku! Sampai kapanpun kau tidak berhak dan layak untuk menasehatiku!"

__ADS_1


Nita terdiam mendengar jawaban Sam, ia mengepalkan tangannya menahan amarah karena ucapan Sam


__ADS_2