Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Berkunjung Ke Kakek Mahesa


__ADS_3

Casandra melempar tas selempang dengan kesal, hingga mengenai barang-barang di atas meja rias dan jatuh berserakan.


"Kalau aku bisa memilih, aku ingin dilahirkan di dalam keluarga yang biasa saja!" marah.


Tak lama setelah itu Sam masuk menemui Casandra di dalam kamarnya. "Casandra, apa-apaan ini?" ucap Sam melihat barang-barang berserakan.


"Casandra, Ayah bertanya padamu" ucap Sam lagi.


"Memangnya kenapa kalau Ayah bertanya? Ayah egois, minta selalu di dengar tapi satu kalipun tidak pernah mendengarku" jawab Casandra berlinang.


Sam terdiam menatap putrinya tajam. "Sudah pandai melawan orang tua ya? Apa Ayah dan ibumu mengajarimu untuk melawan orang tua?"


"Tidak. Kalian memang tidak pernah mengajariku begitu. Tapi karena kekangan kalianlah yang bikin Casandra muak! Kemana-mana harus ada bodyguard, tepat waktu, tidak boleh pergi main sama teman-teman, apa nafasku juga akan Ayah atur dan dibatasi?!" Casandra mulai terisak. "Ayah bahkan lebih membela bawahan dari pada Casandra"


"Kalau memang keberatan dengan aturan yang Ayah berikan, pergilah. Kau bisa tinggal bersama kakekmu. Terserah, lakukan apapun yang kau ingin lakukan sesukamu" ucap Sam dengan nada dingin lalu beranjak pergi.


Casandra terdiam mengepalkan tangannya, ia terduduk di tempat tidur dan terisak menutupi wajahnya.


*****


Sejak kejadian malam itu Casandra berubah menjadi pendiam, jarang makan di rumah, bahkan jarang ikut ngobrol bersama dengan ayah dan ibunya. Mungkin ini adalah bentuk dari protesnya Casandra dengan peraturan ayahnya yang mengharuskan keketatan penjagaan untuk dirinya. Padahal kalau dipikir, selama ini dia baik-baik saja. Tidak ada sesuatu yang membahayakan.


Memang masa muda sering sekali terjadi pertikaian atau perbedaan dengan orang tua, orang yang paling sedih sekarang adalah Riyu. Ia sangat berharap Casandra tau posisinya, tapi Riyu tetap menasehatinya secara halus. Ia paham putrinya sedang dalam pelajaran menuju kedewasaan, masa yang sulit untuk orang tua mendidik anaknya.


"Apa semua sudah siap?" tanya Riyu pada para pelayan.


"Sudah, Nyonya" ucap pelayan satu.


"Perlengkapan Nona muda juga sudah kami siapkan, Nyonya. Semua sudah ada dalam bagasi mobil" jawab pelayan lainnya.


"Terimakasih. saya akan pergi mengantar Nona muda ke rumah kakeknya. Kalian baik-baik ya di rumah, jika ada apa-apa telpon saja, jangan sungkan" ucap Riyu.


"Baik, Nyonya." ucap para pelayan serentak.

__ADS_1


Untuk suasana renggang seperti ini mungkin kediaman Mahesa lah yang bisa mencairkan hati cucu dan anaknya. Sam memang belum kembali dari rapatnya di luar kota, tapi ia berjanji akan langsung kesana jika sudah selesai.


Casandra dududk termenung melihat keluar jendela, Selain egois juga ternyata ayah mengusirku!. Bisik hati Casandra. Perlahan Riyu menggenggam tangnnya. "Nak" ucap Riyu lembut. Anan menyimak kecanggungan itu di belakang kemudinya.


"Kau masih marah? Ayahmu... "


"Sudah Bu, jangan bahas tentang ayah" jawab Casandra. Riyu terdiam, bibirnya kembali ingin bicara tapi tertahan.


"Tapi jangan sampai kau terus menerus marah pada ayahmu, Casandra. Dia hanya ingin kau... "


"Aman? Terlindungi? Hanya itu yang menjadi alasan kalian. Ibu, aku juga pengen kaya Nanda, Sara, mereka bisa main bepergian dengan bebas. Tanpa dihukum, tanpa penjagaan. Aku punya semuanya, harta kalian, tapi aku ga bisa menikmati hakku!"


"Casandra!" bentak Riyu spontan. Keduanya saling pandang dengan bendungan air mata masing-masing.


"Ayah egois. Dan sekarang... Ibu juga membentakku." ucap Casandra bergetar.


Mobil telah terparkir di kediaman Mahesa, Casandra bergegas turun menemui kakeknya yang telah menyambutnya di pintu utama.


Anan melirik Riyu dari kaca spion. Ia melihat Riyu menyeka air matanya. Ada perasaan prihatin, karena yang Anan tau selama ini Riyu adalah wanita tegar dan penuh kelembutan. Nona mudanya tega membuatnya menangis, cuma mau gimana lagi, ini bukanlah urusannya.


"Kakek, aku sangat merindukanmu" ucap Casandra. "Kek, Casandra ijin istirahat dulu ya"


"Iya sayang, istirahatlah. Sudah ada kamar untukmu" Mahesa menepuk pundak Casandra.


Tak lama setelah Casandra berpaling, Riyu datang memeluk Mahesa. "Papa, bagaimana kabarmu?"


"Seperti yang kau lihat Nak, Papa sehat. Ayo masuk, kau pasti lelah" Mahesa mengajak Riyu masuk ke ruang tamu. "Bagaimana dengan Sam?"


"Sam akan langsung kesini setelah menyelesaikan pekerjaannya di luar kota, Pa" ucap Riyu tersenyum.


Mahesa terdiam menatap Riyu seksama, "Ada apa Riyu?" tanya Mahesa yang merasakan kegelisahan disenyum menantunya, Riyu tersenyum, menunduk meremat jari jemarinya.


"Apa Sam dan Casandra bermusuhan lagi?" ucap Mahesa lirih menatap kosong. "Tapi sepertinya kali ini ada konflik berat sampai Sam memutuskan untuk Casandra tinggal bersamaku"

__ADS_1


Riyu terdiam, ia ingat apa yang terjadi pada malam itu dan di mobil tadi. Karena baru pertama kali ini Riyu membentak Casandra, menyesal, tapi juga bingung.


"Ya sudah, biarkan keduanya tenang. Casandra biar bersamaku disini, kebetulan Papa sangat kesepian" ucap Mahesa tersenyum hangat.


"Terimakasih Pa" jawab Riyu. "Tapi Pa, Anan juga akan tinggal disini. Mau bagaimanapun juga, dia harus tetap menjaga Casandra"


"Tentu Riyu, Papa sudah menyiapkan kamar untuknya." jawab Mahesa tersenyum menatap pemuda yang sedang berdiri tenang di belakang tempat duduk Riyu.


*****


Malam gemerlap bintang menghiasi sisi utara kota Y. Anan termenung beraring di atas bangku panjang yang tersedia diteras balkon kamarnya. Tuan Mahesa orang yang terbuka, baik, bahkan bawahan seperti dirinya saja diberikan kamar tamu yang bagus untuk Anan selama tinggal di sana.


Anan menatap kosong, memikirkan kakaknya yang mengurus kedai sendirian, sedih, rindu, selama ini mereka tidak pernah terpisah dalam kurun waktu yang lama. Namun karena tuntutan kerja, apa boleh buat?.


Sudah semakin larut, rasa kantuknya juga semakin terasa, tapi entah kenapa Anan begitu enggan beranjak dari bangku itu. "Kehidupan orang kaya, bahkan bangkupun bisa senyaman ini" gumam Anan.


Ketika mata sayunya mulai ingin terpejam, ia melihat pergerakan seseorang di teras bolkon tepat di samping balkon kamarnya. Casandra. Terlihat keluar dari kamar lalu berdiri bersandar pembatas balkon.


Suasana sunyi, orang-orang mulai bergerumul dalam mimpi indah, tapi gadis itu malah keluar menghampiri udara dingin di luar. Sesekali nafas panjang terdengar dari bibirnya. Anan duduk memandangi Nona muda yang terlihat resah.


"Seharusnya Nona keluar menggunakan switer, bukan baju tidur tipis seperti itu. Jika kau demam aku juga yang repot" ucap Anan.


Casandra kaget saat melihat Anan ada di balkon sebelah. Kali ini ia tidak menanggapi Anan, untuk berucap satu kata saja bibirnya terasa kelu.


"Nona... "


"Apa?! Apa kau juga akan melarangku untuk tidak di luar kamar??" potong Casandra. Baru kali ini Anan melihat wajah Casandra yang benar-benar tidak bisa diledek.


"Tidak. Aku hanya ingin memberikan ini" ucap Anan melemparkan jaketnya.


Casandra menangkap jaket itu, ia terdiam menatap Anan. "Jangan khawatir, jaket ini bersih, belum aku pakai." ucapnya lagi.


"Oh. Aku kira kau juga akan melarangku" ucap Casandra aacuh sambil memakai jaket itu.

__ADS_1


"Tentu, aku tetap akan melarangmu jika kau melakukan hal yang tidak baik" ucap Anan tersenyum lembut.


Usai memakai jaket Anan, Casandra kembali terdiam, ia merenung menatap hampa pada langit yang luas.


__ADS_2