
Sam membawa Anan kedalam ruangannya, Anan tidak mengerti, selama ini dia sangat mengagumi Sam. Tapi kenapa orang yang ia kagumi malah berbuat sangat kasar padanya. Doni melepaskan borgol yang menjerat tangan Anan, ia didudukan tepat di hadapan Sam.
"Sudah lama kita tidak bertemu nak." ucap Sam menatap Anan seksama.
"Sebenarnya ada maksud apa Tuan membawaku kemari?" tanya Anan menatap tajam.
Melihat Anan begitu serius, Sam tau kalau dia tidak harus basa basi lagi. "Aku mau kau menebus kesalahanmu. Katakan padaku Anan, hukuman apa yang kau inginkan dariku?"
Anan terdiam, kejadian topi itu tidaklah di sengaja, ia benar-benar tidak tau kalau topi yang ia sita adalah topi putri Sam. Sekarang apa yang harus ia lakukan, melawan? Dengan cara apa Anan harus melawan? Jika adu jotos mungkin dia masih mampu, tapi yang ia hadapi adalah orang yang berkuasa di kota ini. Harta menjadi kekuatannya, suatu hal yang Anan tidak mampu menandinginya dalam hal ini.
"Tidak ada jawaban? Baiklah biar aku yang menentukan" seringai tipis terlukis di wajah Sam yang tenang. Sedangkan Anan masih terdiam menununggu keputusan Sam dengan hati yang was-was.
"Bagaimana jika kau menebus kesalahanmu dengan cara bekerja sama denganku?" ucap Sam sambil mengeluarkan kertas kontrak dari laci meja kerjanya.
"Kerja sama? Kerja sama yang bagaimana Tuan?" Anan tidak mengerti kemauan orang di depannya itu.
"Kau akan bekerja untukku" jawab Sam cepat.
Bekerja untuknya? Jadi apa? bahkan untuk menjadi cleaning servisnya saja harus sarjana! gumam Anan dalam hati. Ia sadar diri, meskipun memiliki otak cerdas tapi pendidikannya harus terhenti karena tidak sanggup melanjutkan kuliah karena biaya yang terbatas. "Bekerja bagaimana Tuan?" tanya Anan ragu.
"Kau akan aku jadikan bodyguard putriku"
"Apa?!"
"Apa ucapanku kurang jelas? Kau tau kan aku bukan tipe orang yang suka mengulangi kata-kata!"
Anan terlihat cemas. Menjadi bodygard sama saja dia mengantarkan nyawanya pada kematian. Apalagi yang harus ia jaga adalah putri satu-satunya dari pemilik perusahaan Randar Manunggal. "Maaf tuan, tapi saya tidak bisa" jawab Anan dengan tatapn sayu. Ia tau kalau Sam pasti tidak terima dengan penolakannya.
"Tidak mau? Baiklah. Kalau begitu aku akan memenjarakanmu dengan tuduhan pencurian dengan hukuman yang tidak terbatas.Oh iya, satu lagi. Aku akan menutup kedai kakakmu itu." ucap Sam mengembalikan lagi kertas kontraknya kedalam lacinya.
Apa! Ini sungguh tidak adil. Gumam Anan dalam hati. Orang di hadapannya itu memang arogan dan semaunya sendiri, seakan ingin menguasai dan ingin mendapatkan apa yang ia inginkan dengan cara apapun.
__ADS_1
"Kau boleh menghukumku, tapi apa salah kakakku sampai kau juga mau menghancurkannya!" ucap Anan tidak terima.
"Bukannya kau adiknya? Maka dia juga harus menanggung kesalahanmu karena tidak bisa mendidikmu dengan baik!"
"Kau... "
Doni langsung menyergap Anan yang mendekat kearah Sam. "Lepaskan dia Doni, aku ingin tau apa yang akan dia lakukan, kesempatan untukku menambah hukumannya" Ucap Sam menatap tajam.
Tangan Doni langsung melepas Anan, Sam tepat bertatapan didepan wajahnya sekarang. "Pikirkan baik-baik tawaranku." ucap Sam langsung berbalik meninmggalkan Anan di ruangannya.
*****
Sore itu Casandra duduk di bangku kursi sambil melempar makanan untuk para angsa yang sedang berenang di depannya. Namun, meskipun tangannya bergerak memberi makanan, pandangan dan fikirannya jauh melayang. Casandra mendapatkan kesempatan untuk lebih dekat dengan Riko, seharusnya dia merasa bahagia karena apa yang ia impikan selama ini telah terwujud. Tapi seperti ada perasaan lain yang mengganjal di hatinya.
"Nona, hari sudah hampir petang. Ayo masuk, bersiaplah untuk makan malam" ucap pelayan Tira.
"Apa ayah sudah pulang?" tanya Casandra dengan lesu.
Casandra memberikan sisa makanan angsa pada Tira, merekapun berjalan masuk menuju ruangan utama.
"Ayah... " Sapa Casandra langsung berlari memeluk manja.
"Dari mana saja kau nak, Bahkan Ayah pulangpun kau tidak menyambutku" ucap Sam mengecup kepala putrinya.
"Maafkan aku ayah, aku lagi main di danau tadi."
Sam, Riyu dan Casandra duduk di ruangan keluarga dan berbincang hangat. Mereka ngobrol banyak sambil sesekali tertawa karena cerita lucu yang terlontar dari Casandra. Sampai akhirnya mata Casandra menatap pada lemari kaca tidak jauh dari ruangan itu.
Casandra terkejut, ia perlahan mendekati dan mengamati kalau matanya tidak salah lihat. Bukannya topi itu ada di pria menyebalkan? Ke... Kenapa sekarang ada disini?. Gumam Casandra heran.
"Aku sudah mengambilnya dri pria itu. Nak, kenapa kau tidak memberitahuku kalau topimu dicuri?" ucap Sam menatap seksama. Ia ingin tau gelagat putrinya, ketika mengetahui apa yang coba Casandra tutupi.
__ADS_1
Casandra terdiam, hatinya cemas. Bagaimana dengan nasib pria itu? Ayah pasti menghajarnya atau bahkan membunuhnya! Casandra bergidik ngeri membayangkan semua itu.
"Ayah, apa kau menyakiti pria itu?" tanya Casandra.
"Dia menerima hukuman yang pantas sayang"
Casandra semakin resah mendengar jawaban ayahnya. "Ayah, dia tidak sengaja mengambil topiku. Ini... Cuma salah paham. Ayah tidak menakitinya kan?"
Sam melihat Casandra yang khawatir. "Maafkan aku sayang, tapi hukuman tetap berlaku. Supaya dia juga tidak harus bersikap kasar pada putriku. Doni sudah menceritakan semuanya padaku, bahkan kaupun berkelahi padanya. Sekarang ayo, kita makan malam. Aku sudah lapar" Sam menggandeng Riyu menuju meja makan, sedangkan Casandra masih diam mematung memandangi topinya.
"Sam, kenapa kau tidak cerita saja pada Casandra? Lihat wajahnya yang cemas, dia pasti berfikir kalau kau telah membunuh pemuda itu" ucap Riyu,
"Ssstt. Nanti juga dia akan tau sayang. Aku yakin Anan pasti menerima tawaranku. Dan... Kalau aku bilang pada Casandra sekarang, dia pasti akan menolak jika tau aku menyiapkan bodyguard lagi untuknya."
"Dasar kau ini." ucap Riyu. Sedangkan Sam tersenyum karena cubitan lembut istrinya.
Usai makan malam Casandra langsung masuk kedalam kamarnya. Mondar-mandir ia di depan tempat tidur sambil menggigit jarinya. "Aduuhh. Aku ga punya nomor ponsel kak Sanya lagi. Bagaimana ini? Pria menyebalkan itu masih hidup atau sudah.... Aaahhh tidak... Tidak... Kak Sanya pasti akan sedih, dia kan sayang sekali sama adiknya itu." Casandra bergelut dengan angannya sendiri.
"Ini semua salah om Doni! Kenapa si dia harus ngadu ke ayah! Kenapa orang-orang yang diperintah untuk dekat denganku tapi mereka malah menghianatiku" kesal Casandra menghentakkan kakinya, iapun membanting tubuhnya ke atas ranjang, menatap hampa langit-langit ruangannya.
Tiba-tiba saja tatapan mata Anan dengan lensa cerahnya terpampang di hadapannya, ingatan bagaimana awal pertemuannya mencuat kembali menghampiri Casandra yang masih hanyut dalam angan kosongnya. "Tunggu, kenapa sekeras ini aku khawatir padanya. Haahhh, nyebelin. Tapi besok aku harus nemuin kak Sanya, bagaimanapun caranya! Aku pengen tau bagaimana Nasib pria kue itu."
Casandra mematikan beberapa lampu lalu bersiap tidur, brharap dia bisa tidur supaya esok bisa bangun lebih pagi.
__ADS_1