Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Bab 8


__ADS_3

"Hari ini... Entah apa aku harus bahagia atau sedih, di dalam balutan gaun pengantin ini aku benar-benar merasa takut. Tuhan... Aku tidak mengerti kenapa kau memberikan takdir yang seperti ini. Tidakkah engkau puas setelah mengambil ayah dan ibuku, engkau juga mengambil kebahagiaanku, dan membiarkan aku terjebak dalam pernikahan yang tidak aku inginkan"


 Riyu memandang hampa pada bayangannya di cermin, hari ini Riyu akan menjadi seorang putri... Tetapi setelahnya, ia hanyalah seekor burung merpati yang berada di sangkar emas.


 


Braaaakkkk... Seseorang menendang pintu kamar rias dengan kencang.


"Tu... Tuan Sam" ucap perias pengantin dengan gugup.


"Kalian keluar! Ada yang ingin aku bicarakan dengan kakak iparku" ucap Sam menggertakkan giginya menatap Riyu tajam.


Riyu berdiri gemetar, tapi dia coba menenangkan diri supaya tau apa maunya Sam. Para perias dan pelayan bergegas pergi dengan wajah yang ketakutan, setelah pintu tertutup Sam mendekati Riyu.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Riyu melangkah mundur menghindari Sam.


"Jadi pria yang akan kau nikahi adalah Noval? Kau sengaja mempermainkan aku!" Sam menghadang Riyu dengan tangannya saat Riyu terpojok.


"A... Apa... Maksudmu! Dengan siapapun aku menikah itu bukan urusanmu! Dan aku sama sekali tidak pernah mempermainkan kamu Sam!" ucap Riyu bergetar. Sam terdiam sesaat karena baru pertama kali ia mendengar Riyu menyebutkan namanya.


Sam mendongakkan dagu Riyu lalu menciumnya, saat Riyu berontak tangan Sam menahan tubuh Riyu dan menariknya kedalam pelukannya.


"Tolong hentikan! Lepaskan aku!" ucap Riyu lalu mendorong Sam.


"Ch... Apa tujuanmu menikah dengannya? Menjual diri untuk Uang? fasilitas? kekayaan? Seharusnya kau sebutkan saja apa yang kau mau, Aku bisa memberikan itu semua kepadamu"


Plaakkkk... Tamparan Riyu mendarat keras di pipi kanan Sam. Kata-katanya membuat Riyu terbakar tidak bisa mengontrol emosinya.


Mereka terdiam sesaat, Riyu memandangi telapak tangannya lalu menatap Sam dengan perasaan yang bersalah.


Tidak lama kemudian seseorang masuk ke dalam kamar rias itu...


"Sam... Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Nyonya Mahesa dengan tatapan curiga.


"Hmh... Memangnya kenapa nyonya Mahesa? aku ke sini hanya ingin bertemu dengan kakak iparku yang cantik" ucap Sam dengan nada yang remeh.

__ADS_1


"Riyu... Selamat datang di keluarga Mahesa, hati-hati... Dengan rubah-rubah picik di rumah ini. Semoga kamu tidak sama dengan mereka" ucap Sam membungkuk lalu mengecup tangan Riyu.


Sam melangkah pergi, sedangkan nyonya Mahesa sibuk beberapa saat menahan emosionalnya...


"Apa yang Sam bicarakan sama kamu Riyu?"


"Ti... Tidak ada ma, dia hanya menjengukku"


"Ingat statusmu Riyu, dan ingat asal usulmu. Dengan begitu kamu akan menjadi orang yang tau diri! sebentar lagi upacara pernikahan akan di mulai. Camkan baik-baik kata-kataku"


Nyonya Mahesa beranjak pergi. Riyu terduduk di depan cermin, ia tidak dapat lagi membendung lagi air matanya.


Waktu yang bersamaan di kamar lain...


"Pak Noval, sebentar lagi upacara pernikahanmu akan segera di mulai.." ucap Dewi.


"Persetan dengan pernikahan itu, aku lebih suka bermain denganmu Dewi"


"Apa kamu tidak bisa tahan sebentar untuk malam pertama nanti?" Tangan Dewi mencengkram kuat lengan Noval.


"Sudahlah jangan cerewet!"


 


"Ma! Dimana anakmu itu!" Bisik pak Mahesa kesal.


"Tadi masih di kamarnya pa, katanya jika sudah siap dia akan turun"


"Susul dia sekarang kalau tidak aku yang akan menyeretnya!"


Nyonya Mahesa bergegas naik keatas, tapi saat ia hendak menaiki tangga...


"Ehem... Maaf pa saya telat" ucap Noval menebar senyum.


"Kamu ini, lama sekali sebenarnya apa yang kamu lakukan!” gertak Tuan Mahesa.

__ADS_1


"Maaf pa, tadi ada urusan sedikit"


Riyu merasa lega karena calon suaminya telah datang, tadinya dia sudah berfikir bahwa Noval kabur dan tidak mau menikahinya. Riyu memandang wajah Noval beberapa saat melihat dengan teliti, dia memang seorang pria yang tampan, tapi ada perasaan tidak nyaman di hatinya, berbeda ketika ia berpandangan dengan Sam.


Pendeta telah mengucapkan ikrar suci kepada pengantin, pada saat titik terakhir.


"Kalian telah sah menjadi suami istri, silahkan Tuan Noval mencium istrinya" ucap pendeta Tersenyum bahagia.


Riyu merasa kikuk dan canggung ketika Noval mendekat dan hendak menciumnya, karena di hari pernikahan inilah pertama kalinya Riyu bertemu Noval. Riyu memejamkan matanya, dan merasakan sentuhan bibir Noval mengecupnya sebentar.


Tepuk tangan dari para tamu yang datang ke upacara pernikahan itu menggelegar, Sam menatap Riyu dan Noval dengan tatapan yang jijik. Sebelum acara itu selesai, Sam pergi meninggalkan resepsi.


"Mau kemana kita bos" ucap Aji sambil menyetir mobilnya.


"Ke kota S"


"Baik bos" ucap Aji lugas. Ia memandang Sam dari sepion. Aji tau ada sesuatu yang tidak beres pada Sam, tapi ia juga tau Sam tidak ingin siapapun ikut campur dengan urusannya.


 Malam semakin larut, upacara dan resepsi telah berjalan dengan lancar. Para tamu undangan telah pulang, kini Riyu akan masuk kedalam kamar pengantinnya.


 


Jantungnya berdegup kencang, dia memikirkan apa yang harus dia lakukan di malam pertama ini. Mata Riyu melihat ke arah ranjang yang di hiasi dengan bunga yang harum, Dekorasi kamar itu sungguh indah, lilin, bunga, menjadikan suasana kamar yang romantis.


"Apa kamu berfikir aku akan menidurimu? Hemh... Jangan bermimpi" ucap Noval secara tiba-tiba.


"Tidak aku hanya..."


"Kau suka dengan ranjang itu? Tidurlah di sana"


"Kamu?"


"Aku? Apa kau pikir aku akan tidur seranjang denganmu? Bahkan pelayanku saja adalah orang yang berpendidikan dan bermartabat! Mana mungkin aku bergairah dengan wanita kampung sepertimu" ucap Noval pergi sambil membanting pintu.


Riyu terdiam menggenggam jari jemarinya. "Kenapa mereka suka sekali menghinaku, apa salahku sebenarnya. Jika mereka tidak menyukaiku seharusnya jangan buat pernikahan ini terjadi" bisik Riyu dalam hati sambil menangis terisak.

__ADS_1


Riyu tidur sembari memegang foto kedua ayah dan ibunya, selain itu tidak ada lagi yang bisa membuatnya tenang. Riyu kembali mengingat masa kecilnya dimana pada saat ia menangis, ibu akan memeluknya dengan kecupan hangat di keningnya.


Namun kini berbeda, tidak ada lagi pelukan, tidak ada lagi kecupan hangat. Hanya ada kesendirian, dan juga... kesepian... Riyu pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya di keluarga Mahesa, apakah dia akan tetap hidup. Meskipun tetap hidup tapi tidak dengan perasaannya.


__ADS_2