Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Pemakaman (bagian 2)


__ADS_3

Pemakaman Nita


Aku tidak menyangka kalau kau bisa berbuat sejauh ini, mama Nita. Secara tidak langsung kau telah membunuh kakekku, bahkan mungkin kau juga ikut serta berkonspirasi dengan Mangsur atas meninggalnya orang tuaku. Sungguh aku membencimu, tapi untuk menghormati papa Mahesa, aku terpaksa memberikan penghormatan pemakamanmu. _Riyu_


Pemakaman Nita memang tidak seramai pemakaman Darma, yang hadir disana hanya para keluarga, beberapa pelayan yang membawa rangkaian bunga dan foto Nita. Noval turut hadir meskipun harus menaiki kursi roda karena keadaan yang belum pulih, matanya lurus memandang peti Nita yang sedang diturunkan kedalam liang lahat. Dhea melihat proses pemakaman neneknya dari gendongan Riyu, tangan mungilnya melingkar erat dileher Riyu. Sedangkan Sam, dia hanya berdiri mengawasi dengan tatapan dinginnya, siapa tau Nita akan bangkit lalu tiba-tiba menyerang. Oh come on Sam, ini bukan cerita Zombie. Horor.


Mahesa melangkah mendekati liang, tangannya merauk segenggam tanah, ia terdiam sesaat menatap tajam pada tanah yang tergenggam erat di tangannya. Kemudian menjatuhkan tanahnya diatas peti Nita. Setelah itu, petugas pemakaman langsung mulai menggali untuk menguburnya. "Semoga kau bisa damai disana. Semoga Tuhan mengampuni segala dosa yang telah kau perbuat" ucap Mahesa dalam hati. Ia beranjak kembali berdiri disamping Riyu dan Noval.


Kini batu nisan bertuliskan nama Nita telah berdiri di makam yang basah, Noval menyebar permukaan tanah dengan bunga yang telah disiapkan sebelumnya. "Aku sangat mencintaimu Ma, tapi kenapa diakhir hidupmu, kau menanamkan benci diperasaanku. Semoga kau bisa tenang disana." Selama mengikuti proses pemakaman, Noval lebih banyak diam tanpa ekspresi, hanya ada kehampaan yang terlukis dimatanya.


Mahesa beralih menggendong Dhea sekarang Riyu membantu mendorong kursi roda yang Noval naiki, setelah pemakaman usai mereka kembali ke mobilnya. Riyu tau perasaan Noval, matanya menatap Noval dari balik punggungnya, seorang anak yang dihianati pasti sangat kecewa. Wajah Noval terlihat begitu pucat, keringat dingin bergumpal di punggungnya. Sesekali Riyu mengamati Noval dengan wajah cemas. Sesampainya dimobil Sam membantu Noval untuk naik ke jok bagian belakang, namun saat tangannya menjauh dari punggung Noval, seketika itu juga tangan Sam berlumuran darah.


"Sam, Noval?" Riyu cemas melongokkan kepalanya. Sam terpaku memandangi tangannya yang berlumuran darah. "Sam ayo cepat kita harus membawa Noval kerumah sakit!" ucap Riyu. Sam mengangguk, tapi saat Riyu hendak naik ke jok belakang.


"Woow Nona, apa yang ingin kau lakukan?" ucap Sam menghadang Riyu.


"Aku akan duduk bersama Noval di belakang" ucap Riyu heran.


"Terus? Kau akan duduk disampingnya dan membiarkan kepalanya bersandar di pundakmu? Tidak! Biar aku duduk di belakang, kau duduk didepan"


"Tapi Sam... " belum Riyu berucap Sam sudah masuk ke dalam mobil. "Dasar! Keadaan genting seperti ini saja, masih juga cemburu. "


"Riyu, apa yang terjadi pada Noval?" tanya Mahesa yang mendengar keributan.


"Ada pendarahan diluka Noval pa, tapi papa jangan khawatir kami akan segera mengantarnya ke rumah sakit. Papa, lebih baik kau pulang dulu bersama Dhea"


"Baiklah, kalian hati-hati" ucap Mahesa pasrah.


"Dhea, mama dan Om pergi dulu ya. Kau menurutlah pada Kakek" Riyu mengecup Dhea lalu bergegas masuk kedalam mobil, Aji mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.


*****


Selain Keluarga Mahesa, yang merasakan duka saat itu adalah Lila. Setelah kejadian kincir raksasa yang roboh pada malam tahun baru, Lila langsung pergi keluar negeri untuk menghindari kemarahan Noval. Ia takut saat itu kalau Noval benar-benar akan menghabisinya. Hingga sampai beberapa hari yang lalu mendengar ibunya menangis menelponnya memberi tau kalau Mangsur telah tiada. Berita kematian Mangsur membuatnya terpaksa kembali dan menghadiri pemakamannya, saat itu juga dia baru kalau ternyata Mangsur bukan ayah kandungnya. Namun meskipun kenyataan begitu pahit, Lila tetap merasa kehilangan karena selama ini Mangsur begitu menyayanginya.


"Noval, Sam, Riyu. Kalian adalah nama yang aku taruh di bagian atas daftar hitamku. Selain untuk papa, kebencianku terhadap kalian juga karena aku tidak bisa mendapatkan salah satu dari Noval ataupun kau Sam. Selama aku masih bernafas, aku tidak akan membiarkan kalian hidup dengan damai. Tunggu pembalasanku.


Lila berjalan hampa menuju mobilnya, perusahaan Mangsur telah diambil alih, tidak ada satupun yang tersisa untuknya, sebagai hukuman atas tuntutan kerugian yang telah Mangsur ciptakan. kehidupannya sekarang terpuruk dan harus menjalaninya lagi dari nol. Lila harus mulai dari sisa kekayaan ibunya saja, karena perusahaan warisan dari almarhum kakeknya sudah digabung dengan perusahaan Mangsur sejak dulu.


Suara tangis isak malam harinya terdengar dari mulut seorang wanita yang duduk menatap kosong kursi diruangan Mahesa, matanya sudah terlalu sembab namun airmata juga belum bisa berhenti membasahi pipinya.


Meskipun tau kenyataan kalau Mangsur masih memperjuangkan hatinya pada Nita, namun hidup bersama selama 25 tahun bukanlah waktu yang singkat. Apalagi selama ini Mangsur sangat perhatian padanya. Lila terdiam menatap Dini yang sedang menangis memandangi vigura keluarga yang terpampang diatas meja kerja Mangsur.


"Mama. Sudah malam, kau harus istirahat" ucap Lila, tangannya membelai lembut punggung Dini yang masih bergetar terisak.

__ADS_1


"Sebentar lagi" jawabnya lirih dengan nada serak.


"Mama aku akan membalas semua perbuatan keluarga Mahesa dan juga Galuh!" Lila menatap tajam. Dini terperanjak, mata sembabnya langsung menatap tajam pada putrinya.


"Apa kau bilang" ucap Dini bergetar.


"Aku akan membalas dendam demi papa" Lila menahan kelu dilehernya. Bukan hanya demi papanya tapi juga demi sakit hatinya karena tidak mendapatkan Sam.


"Apa kau ingin bernasib sama seperti papamu?!" Dini mencengkram kedua bahu Lila. "Jawab! Apa kau tidak belajar dari kesalahan papamu Lila?! Demi keserakahan, demi membalas dendam dia mati dengan cara yang mengenaskan. Apa kau juga ingin seperti itu?!" berbicara dengan nada tinggi dan bergetar. Tatapan Lila kini tertunduk, perlahan isak juga keluar dari bibirnya.


"Mama sudah lelah, mama ingin hidup damai, Lila. Lupakan balas dendam, setelah ini kita akan pergi ke Amerika dan hidup disana" Dini beranjak pergi.


"Tapi Ma... "


"Ingat ucapan Mama barusan, aku tidak mau kehilanganmu Lila"


Lila berdiri hampa diruangan Mangsur yang senyap. Ia membanting tubuhnya ke atas sofa, mengingat kembali wajah Sam yang selalu mengabaikannya. Maafkan aku ma, maaf jika suatu hari aku melanggar ucapanmu. Lila termenung lama di ruangan itu.


*****


Malam harinya di rumah sakit.


Ruangan senyap dengan cahaya remang menemani Noval yang masih sibuk dengan angannya, bayangan wajah Dhea yang imut membuat perasaan rindu ingin memeluk dan mendengarkan ocehan polosnya. Bagaimana tidak. Baru beberapa jam bertemu setelah terpisah bertahun-tahun kini ia harus memulihkan kondisi tubuh dulu baru bisa bermain dengannya lagi. Meskipun kemarin mengalami pendarahan pada lukanya, sekarang sudah baik-baik saja. Noval mencabut jarum infus yang masih terpasang pada tangan kirinya, berjalan pelan-pelan memegangi dadanya menuju kamar rawat yang ditempati Maya.


"Tuan, kenapa anda keluar kamar! Kondisi anda masih kurang... " ucap suster yang kebetulan lewat di koridor tempat Noval berjalan.


"Baiklah Tuan, saya akan membantu Anda. Tapi bisakah Anda tunggu sebentar? Saya akan mengambil kursi roda supaya Tuan lebih mudah ke kamar Nona Maya" suster memapah Noval ke bangku panjang yang terletak tidak jauh dari sana, kemudian ia bergegas mencari kursi roda untuk digunakan Noval.


Sejak Dhea datang mengunjungi Maya, kondisinya mulai membaik sekarang. Kalau diibaratkan seperti mesin yang mati kemudian mendapatkan energi tambahan yang mampu menghidupkannya lagi. Suster menghentikan dorongannya setelah kursi roda sudah di samping ranjang Maya, kemudian ia berdiri dipojok menunggu Noval selesai menjenguk. Meskipun hatinya was-was jika ketahuan suster lainnya dan akan terkena masalah karena telah melanggar aturan istirahat pasien, tapi kali ini dia menghadapi pasien yang keras kepala. Setelah membiarkan Noval menjenguk, ia akan mengantarnya kembali ke kamarnya.


Noval menatap wanita yang ada di hadapannya. Wanita yang dulu sangat ia cintai, juga wanita yang dulu pernah sangat ia benci, mata tegas yang biasanya Maya lontarkan, kini terbaring lemah dihadapan Noval dengan luka yang diakibatkan keserakahan orang tuanya. Meskipun Noval sudah tidak benci lagi pada Maya tapi sekarang saat cinta itu tumbuh kembali: "Kenapa bukan kau Maya, yang mampu menghidupkan perasaanku lagi. Kenapa harus Riyu. Cukup sulit bagiku untuk memulainya lagi. Maafkan aku." Noval tertunduk diatas tangan Maya yang terdiam.


Kini cintanya tertuju pada Riyu, meskipun ia telah menceraikannya dan menyetujuinya untuk bersatu dengan Sam, bukan berarti Noval bisa langsung mengalihkan perasaannya pada Maya. Meskipun kini telah hadir satu lagi wanita kecil yang mampu menghidupkan kembali perasaannya beribu kali lipat, Dhea. Hadir sebagai anak kandungnya dan juga Maya sebagai ibunya, tapi, apakah Noval mau menikah dengan Maya? Sedangkan disisi lain, Noval masih belum bisa menerimanya kembali ke sisinya. Meskipun semua kesalahannya bukanlah kesalahan Maya, Noval masih belum bisa membuka hatinya. Ia takut, jika menikahinya hanya karena merasa bersalah tanpa adanya cinta yang tumbuh kembali nantinya, justru malah akan membuat dirinya terjebak beban baru dalam hidupnya. Mungkin esok Maya bisa memaklumi, Noval dan Maya akan tetap merawat Dhea bersama meskipun bergilir waktu, tanpa harus terikat dalam pernikahan.


*****


Setelah kematian Mangsur, Perusahaan Mangsur kini telah jatuh ketangan Sam sepenuhnya. Seluruh properti, gedung dan juga proyek, beralih menjadi "Ranu Darma manunggal" perusahaan yang didirikan oleh Sam dan Riyu untuk menghormati almarhumah ibu dan kakek Darma. Ranu Darma manunggal berdiri tegak di kota S menggantikan nama Mangsur, Sam dan Riyu sudah sepakat, kalau sebagian pendapatan Ranu Darma manunggal akan disumbangkan ke yayasan untuk keperluan pendidikan, yatim piatu, dan sebagainya. Rencana yang mulia, tapi masih harus menunggu beberapa proses pengalihan berkas atas nama keduanya.


Tidak hanya itu, kediaman Darma yang hancur, akan kembali didirikan oleh Sam dan juga Riyu. Mereka sudah menemukan seorang arsitek yang tepat dan profesional untuk mendesain istana yang akan mereka tempati setelah resmi menikah nanti. Riyu melongok kearah kamar Sam yang tidak tertutup dengan rapat.


"Sam, kau belum tidur?"


"Belum sayang, aku harus menyelesaikan desain untuk halaman belakang rumah kita"

__ADS_1


"Bukankah itu urusan arsitek nanti? Kenapa kau ikut sibuk mengurusnya?"


Sam berpaling dari layar laptopnya, beralih menatap Riyu yang kini ikut menatap serius ke layar laptop. "Ada beberapa yang ingin aku tambahkan, kemarilah" ucap Sam memberikan ruang supaya Riyu duduk di pangkuannya. Riyu menurut, matanya langsung menatap gambar halaman belakang Kediaman Almarhum Darma yang telah diedit, disana terlihat lebih luas dan sejuk, bahkan Sam menambahkan sebuah danau buatan yang benar-benar mengagumkan.


"Sam, aku tidak menyangka kalau idemu benar-benar luar biasa" ucap Riyu girang masih melihat-lihat layar laptop.


"Kau menyukainya?"


"Tentu" jawab Riyu penuh semangat.


"Tapi pembagunan ini memerlukan waktu cukup lama, kita bisa menempatinya setelah menikah nanti" ucap Sam sambil menggeser mouse supaya semua gambar desainnya terlihat jelas. Riyu melingkarkan tangannya dileher Sam, wajah mereka saling berhimpitan dengan mata yang sama-sama melihat layar laptop.


"Kita bisa ajak papa untuk tinggal bersama kita, kasihan jika papa sendirian disini"


"Sayang, papa tidak akan sendirian. Ada Noval, Maya dan juga bocah cerewet itu."


"Dhea Sam" protres Riyu menatap Sam.


"Okelah siapapun namanya" Sam mengangkat kedua bahunya. Riyu terdiam sesaat mengamati Sam, pandangannya menyiratkan kalau ada sesuatu yang sedang Riyu pikirkan. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" ucap Sam menatap Riyu heran.


"Sam kenapa kau membenci Dhea, diakan keponakanmu juga" berbicara sambil menatap lekat.


"Aku tidak membencinya Riyu"


"Terus?" Sam cuek, ia kembali sibuk mengotak atik mousenya.


"Apanya yang terus?" tanya Sam merenyitkan alisnya. Membuat Riyu kesal padanya.


"Apa, kau tidak menyukai anak kecil? Atau karena Dhea anak Noval?"


"Riyu, aku semakin ingin melumatmu jika kau banyak bicara" ucap Sam mendongakkan kepalanya menatap Riyu yang masih ada diatas pangkuannya.


"Hehe, baiklah Sam. Kau... Lanjutkan saja mendesainnya, aku mau... "


"Mau kabur?" Tangannya kini memeluk pinggang Riyu dengan kencang.


"Sam, dengar. Dhea memanggilku hehe" Riyu berusaha melepaskan cengkeraman Sam.


"Jangan beralasan sayang, sekarang kau mulai pandai mencari alasan untuk kabur dariku, hem?". Kondisikan tanganmu Sam! Tapi sayangnya sudah terlanjur masuk kedalam gaun tidur sutra yang dikenakan oleh Riyu.


"Sam hentikan!" protres Riyu saat wajah Sam mulai terbenam di dadanya. Beberapa saat waktu berdetak senyap, kedua hati dideru nafas panjang yang berat. Menikmati segala suasana pada aktivitas keduanya di depan laptop yang masih menyala, tak lama kemudian,


"Mama, Dhea mau pipis"

__ADS_1


Riyu dan Sam langsung terperanjak kaget serentak menoleh kearah dua mata bulat yang sedang menatap mereka, Riyu langsung turun dari pangkuan. "Kau anak kecil... Aahhh dasar!" ucap Sam kesal.


"Ahaha Dhea, ayo sayang biar Mama antar" ucap Riyu langsung menggendong Dhea dengan wajah memerah menuju kamar mandi, ya, malam itu ia lolos dari cengkeraman Sam karena Dhea. Hati Riyu berucap syukur, sedangkan Sam mengumpat kesal.


__ADS_2