
Dalam masa pensiunnya Mahesa lebih memilih menghabiskan waktunya untuk merawat taman yang sengaja ia rawat sendiri di halaman belakang rumahnya, selain untuk kegiatan supaya tubuhnya bergerak, ia juga merasa lebih tenang ketika merawat bunga-bunga di sana.
Wajahnya yang mulai tua menatap jauh ke bangku dimana dulunya ia duduk bersama Ranu, ibu kandung Sam. Masa terbahagia untuk hidupnya. Mahesa tersenyum mengingat masa itu.
Mahesa kembali menoleh ke arah dimana tempat biasa ia sarapan pagi di alam terbuka. Ada bayangan Nita dan Noval di sana. Meskipun memiliki pengalaman buruk bersama Nita, tapi tetap dia pernah menghiasi hidupnya.
"Kakek" sapa Casandra.
"Kau sudah pulang?" ucap Mahesa tersadar dari masa lampaunya.
Casandra menjawab dengan senyuman dan anggukan. "Apa yang sedang kakek lakukan disini?"
Mahesa terkekeh, ia berjalan ke arah bangku taman lalu duduk di sana memandangi rumahnya. Tidak ada yang berbeda, masih sama seperti dulu. Satupun tidak ada yang Mahesa ubah, karena ia tidak ingin kehilangan kenangannya.
"Seperti yang kau lihat Nak, Kakek sedang merawat tanaman-tanaman ini"
"Kenapa Kakek harus repot? Kan ada tukang kebun"
"Memang ada tukang kebun, tapi khusus di taman ini Kakek merawatnya sendiri" ucap Mahesa tersenyum lebar. "Daripada Kakek harus melamun, lebih baik Kakek bercocok tanam kan?"
"Ya sudah, yang penting Kakek bahagia" ucap Casandra.
Mereka duduk di bangku panjang, termenung menikmati suasana senja yang damai, menatap langit yang memancarkan cahaya keemasan, juga semilir angin yang berhembus pelan.
"Bagaimana, kau betah tinggal bersama kakek disini?" ucap Mahesa menatap sayu.
"Yup. Casandra senang bisa tinggal bersama dengan kakek. Lebih damai" jawabnya.
Mahesa terkekeh. "Rumah ini adalah rumah dimana ayahmu besar dulu. Rumah, sekaligus tempat paling mengerikan untuknya. Tapi kakek bersyukur karena ayahmu masih sudi melangkahkan kakinya di rumah ini" ucap Mahesa tersenyum getir.
__ADS_1
"Apa maksud Kakek? Kenapa bisa menjadi tempat paling mengerikan untuk ayah?" tanya Casandra menatap Mahesa lekat.
Selama ini Casandra cukup dekat dengan ayah dan ibunya, tiada batas kecanggungan saat mereka berkumpul bersama, banyak bercerita tentang kebahagiaan mereka, kekonyolan pertemuan pertama, kisah miris dari ibu yang sempat putus asa karena Casandra tidak kunjung lahir. Tapi selama ini memang ibu atau ayah tidak pernah menceritakan padanya tentang masa muda atau masa kecilnya dulu.
Terdengar suara helaan nafas panjang dari Mahesa, "Ayahmu memiliki masa kecil yang sangat mengerikan" ucap Mahesa menatap Casandra dengan senyum penyesalan. "Dan salah satu orang yang pernah ia benci adalah, aku" Mahesa tertunduk.
Casandra menatap seksama. "Bagaimana bisa ayah membenci Kakek? Kakek adalah orang baik di dunia"
"Karena Kakek memang salah, Nak. Orang yang membuat Kakek menjadi baik dan sadar, adalah ayahmu. Dulu Kakek terlalu buta karena cinta pada ibu tiri ayahmu. Pikiran, harta, sikap semua dikendalikan olehnya. Bahkan Kakek sampai lupa tugas Kakek sebagai orang tua"
Casandra terdiam ketika melihat Mahesa dengan penuh penyesalan, ia mendengar seksama kisah masa lalu yang diceritakan oleh Mahesa. Sesekali Casandra tidak mampu membendung air matanya, ketika mendengar bagaimana perjuangan Sam untuk mempertahankan keluarganya, juga cintanya pada Riyu. Ternyata banyak kisah yang belum Casandra tau.
"Kau tau Nak, hal paling menyedihkan di dunia untuk para orang tua adalah menerima kebencian anaknya. Tapi Kakek sadar, Kakek pantas mendapatkan itu karena Kakek memang salah. Tapi sekarang Kakek sangat bersyukur karena disisa usiaku, ayahmu mau memaafkan dan menyayangi Kakek dengan tulus"
Nafas Casandra semakin sesak mendengarnya. Ia jadi merasa bersalah pada ayahnya. Langkah kakinya gemetar menaikki anak tangga sambil terus terngiang cerita Mahesa.
"Sam adalah orang yang sangat penyayang, ia melindungi orang-orang yang dia sayang. Termasuk kau, Nak."
"Kau tau kenapa ayahmu sangat protect dan prosesif padamu? Mungkin dia tidak pernah menceritakannya padamu, karena terlalu menyakitkan Nak. Ketika usiamu 3 tahun, kau pernah menjadi korban penculikan. Kau mengalami gegar otak dan koma selama dua bulan, kau pasti bisa membayangkan bagaimana kecemasan dan ketakutannya Sam saat itu. Maka dari itu Sam tidak ingin melakukan kesalahan lagi, dia tidak ingin lengah menjagamu"
Langkah kaki Casandra terhenti, terduduk di depan tempat tidurnya.
"Kau lihat bekas luka yang ada di kepala sebelah kananmu? Itu adalah bekas luka senjata tajam, kau mendapatkannya dari para penjahat itu" ucapan Mahesa masih terngiang.
Casandra langsung berdiri dan menghampiri cermin meja riasnya. Ia menyibakkan rambutnya, meraba bekas jahitan yang tidak bisa hilang. Bekas luka yang selama ini tertutup topinya, bekas luka yang membuat Casandra tidak pernah membiarkan rambutnya terurai bebas.
"Kenapa ayah... Kenapa kau tidak memberi tahuku? Kau bilang luka ini adalah luka aku terjatuh dari sepeda, sedangkan aku sama sekali belum pernah naik sepeda. Kau bohong" ucap Casandra sesenggukan di depan cermin.
"Ayah... Maaf" ucapnya terbata.
__ADS_1
*****
Keesokkan harinya, Casandra berangkat kuliah menggunakan kacamata. Sengaja, untuk menutupi matanya yang sembab. Sarapan pagi telah siap, tidak ada obrolan banyak dengan penghuni rumah kali ini.
"Kau tau Nona, selain sikap cerewetmu aku juga tidak suka dengan sikap diammu" ucap Anan yang memperhatikan.
"Diamlah. Aku sedang tidak ingin bicara." jawab Casandra.
"Lalu kenapa kau memakai eyeliner tebal sekali? Kacamata? Mengerikan. Jika bukan karena menjagamu mungkin aku sudah lari dari tadi" ucap Anan bergidik.
"Bisakah kau diam! Dasar kau menyebalkan." teriak Casandra sampai terengah.
Anan tertawa. Akhirnya dia bisa membuat Casandra menjerit pagi ini.
"Sudah lega kan?" tanya Anan.
"Apanya yang lega!" kesal. Casandra terdiam, ia merasakan beban di dadanya terlempar jauh. "Hey kau benar. Nafasku lega. Haha" Casandra tertawa.
Anan tersenyum. "Baiklah lain kali jika aku kesal aku akan berteriak padamu, setelah itu aku baru akan merasa lega. Terimakasih pria kue" ucap Casandra menepuk lengan Anan.
Mendengar ucapan itu, senyum di wajah Anan kembali datar. Cih, enak saja! protes Anan dalam hati.
"Tapi aku berkata jujur tentang eyeliner yang kau kenakan Nona? Aku jadi seperti bertatapan dengan monster pohon"
"Apa kau bilang!"
"Aku bicara apa adanya, jujur" ucap Anan dengan ekspresi sok polos.
"Sekali lagi kau meledekku, aku akan menendang bokongmu"
__ADS_1
"Silahkan saja Nona. Jika kau mampu. Kita lihat, bokongmu, atau bokongku yang akan tertendang" ucap Anan menyeringai.
Casandra terpekik pelan, mengingat kemarin Anan memiliki guru beladiri yang hebat, jadi minder. Tapi terbesit dibayangan Casandra, bagaimana jika Anan benar berhasil menendang bokongnya. Sungguh hal yang mengerikan.