
Langkah menderu mendekati Riyu yang perlahan ambruk, pendengaran, pandangannya masih berfungsi dengan baik tapi... Tubuhnya lumpuh seperti tak bertulang. Terlihat kakek Darma dan Mahesa yang berlari menopangnya, diiringi panggilan sahut-sahutan dari bibir masing-masing.
Darma memanggil Lukman untuk memeriksa Riyu, kini Riyu terbaring di ruang rawat hampa, terbaring koma dengan mata terbuka.
"Apa kau akan melakukan operasi sekarang?" Tanya Darma dengan nada lirih dan bergetar. Hatinya hancur melihat Cucunya terbaring memprihatinkan.
"Tidak sekarang Tuan Darma, kita akan menunggu tubuh Riyu stabil. Kini kondisi Riyu sangat lemah, jika dipaksakan maka akan berakibat fatal" Jawab Lukman menatap Riyu sayu.
Mahesa masih berdiri menyaksikan kesedihan Darma, "Tuan Darma. Aku minta maaf" ucap Mahesa yang tiba-tiba tersimpuh di samping ranjang Riyu. Tangannya membelai rambut Riyu dengan lembut.
Mahesa gemetar, rasa bersalah tak mampu ia bendung. "Aku berdosa padanya karena telah mencoba memisahkan Sam dan Riyu, tapi saat aku telah merestuinya kenapa kalian menjadi terbaring seperti ini." Mahesa tertunduk, Darma mendengarkan mahesa sesekali airmata keluar dari mata tuanya.
"Jika Tuhan mendengarku, biarkan aku yang terbaring di sini. Kau dan Sam bisa pergi dan hidup bahagia Nak... Maafkan aku..."
"Aku harap dia bisa hidup bahagia Mahesa, temui aku. Ada yang ingin aku bicarakan padamu" Darma beranjak pergi.
Sebelum Mahesa menyusul langkah Darma ia mengecup kening Riyu sesaat, setelah itu Darma berdiri di atas gedung rumah sakit sambil memandang pemandangan kota di sana.
"Ada apa Tuan Darma?" Tanya Mahesa penasaran.
Darma menghisap cerutunya lalu membuang nafas panjang. "Ada yang ingin aku tanyakan padamu, apa dia sudah menceritakan semua padamu?"
"Ya, dia datang dan menjelaskannya padaku"
"Namun yang aku tidak mengerti, kenapa Riyu tiba-tiba membatalkan perceraian dengan Noval?" Darma menatap tajam.
__ADS_1
"Apa?" Mahesa terkejut, ia benar-benar tidak tau tentang hal ini.
"Riyu bersikeras untuk tidak bercerai dengan Noval, padahal aku tau dia sangat membenci putramu itu. Katakan padaku Mahesa apa yang terjadi sebenarnya!"
Mahesa terdiam menatap bingung, "Tuan Darma. Saya tau Riyu pernah mengantar surat gugatan cerai untuk Noval, tapi saya benar-benar tidak tau jika Riyu membatalkan gugatan itu" ucap Mahesa bersungguh-sungguh.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Dia adalah cucuku tapi kenapa masih menyembunyikan masalahnya dariku!" Darma mendekat menatap Mahesa dengan tajam.
"Mahesa. Meskipun kau mencabut tututanmu, bukan berarti aku akan luluh. Aku akan tetap menyelidiki Noval, jika dia terbukti bersalah maka. Maafkan aku".
Darma beranjak meninggalkan Mahesa yang masih tertegun.
Sementara itu, Noval sibuk dalam pertemuan akhir-akhir ini. Menggantikan Sam dalam memimpin perusahaan, kabar bahwa Riyu koma di rumah sakit telah sampai di telinganya, oleh karena itu setelah dari kantor, Noval langsung pergi menuju rumah sakit dimana Riyu dirawat.
Di tengah perjalanan menuju koridor kamar tempat Riyu dirawat, Nita menghadang Noval. "Noval ikut mama sebentar, ada yang ingin mama tanyakan padamu!" bisik Nita sambil menarik lengan Noval menuju ketempat aman untuk berbincang.
"Apa benar Riyu membatalkan gugatan cerai?!" Nita menatap Noval dengan penuh penasaran.
"Hem. Tentu benar, Riyu tidak akan pernah berani menceraikan aku"
"Bagus sekali! Kau memang orang yang pandai" ucap Nita berbinar-binar.
"Tentu saja Ma, bukankah aku sudah bilang kalau ini adalah kesempatan terakhir? Aku tidak akan menyia-nyiakan, ditambah lagi. Kini Riyu dalam keadaan memprihatinkan, otomatis akulah suaminya yang akan menjadi penggantinya di perusahaan Galuh" Ucap Noval dengan penuh percaya diri.
"Tidak semudah itu Noval. Ingat! Masih ada Tuan Darma di belakang Riyu, selama dia masih hidup maka sampai kapanpun kau tidak akan pernah memimpin apalagi menggantikan Riyu" Tandas Nita menyurutkan kepercayaan Noval.
__ADS_1
"Benar juga, untuk menyingkirkan orang tua itupun pasti tidak mudah"
"Sudah, kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi ingat Noval, kau harus cerdik dan berhati-hati. Jika sampai tuan Darma tau apa yang kau perbuat, maka dia tidak akan mengampunimu!"
Noval tertegun, ia juga sudah tau resikonya. "Oke, sekarang aku ingin menjenguk Riyu terlebih dahulu ma" Noval beranjak meninggalkan Nita.
Noval mendapatkan ijin untuk menjenguk Riyu, ia menatap ke arah hospital bed dan ada Riyu yang terbaring di sana. Noval duduk di sisinya lalu membelai lembut pipi Riyu.
"Lihatlah. Kau sekarang ini terlihat sangat memprihatinkan Riyu, tidak bisa bergerak, bahkan berbicara melawanku! Haha. Aku menang tepat waktu, tapi tenang saja sayang, kau tetaplah terbaring seperti ini dan biar aku yang mengurus semuanya" Wajah Noval mendekat lalu mengecup kening Riyu sesaat.
Sebelum menjauh dari wajah Riyu, Noval menatap mata Riyu yang hampa, lensanya, bulu matanya, alisnya, membuat Noval merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Apakah itu rasa kasihan atau hanya rasa prihatin saja. Hati Noval kembali kekeh dengan rencana jahatnya.
Cepat-cepat Noval mengalihkan pandangan lalu pergi dengan langkah yang cepat. Noval langsung beralih menuju kamar Sam yang letaknya agak jauh dari sana.
Noval membuka pintu kamar rumah sakit dan langsung mendekati tubuh sam yang masih terbaring tak sadarkan diri.
"Lihat Sam! Lihat kalian berdua sekarang! Ini adalah bukti bahwa Tuhan itu memang tidak adil. Pada cintamu atau juga padaku!" ucap Noval yang tak mampu mengendalikan emosinya.
"Sekarang Kau tau sakitnya Sam, sekarang kau tau rasanya. Merasakan apa yang kau miliki direnggut, merasakan betapa sakitnya saat seorang ayah memukulmu, itu semua membuatku merasa sangat senang" Noval tertawa terbahak lalu kembali berbalik mendekati Sam dan berbisik di telinganya.
"Maafkan aku adikku, kau tidak bersalah dalam hal ini. Kau hanya menjadi pelampiasan dendamku, hem... Kau tidak jahat. Aku yang jahat, tapi, Kau yang harus menanggung derita. Kenapa? Karna aku iri padamu! Kau hidup dalam keluarga yang sempurna sedangkan aku? Harus mengorbankan setetes darah hanya untuk satu kali makan! oleh sebab itu aku benci padamu!"
Tangan Noval bergerak cepat mencengkram leher Sam, "Termasuk Riyu, aku tidak akan pernah melepaskan dan membiarkannya bersamamu sebelum aku menguasai semuanya, aku akan menjadi orang nomor satu di kota ini!" Cengkeraman Noval semakin kuat, tubuh Sam diam perlahan gemetar karena cekikikan Noval.
Namun Noval masih belum sadar dari emosionalnya, wajah Sam mulai terlihat pucat, tubuhnya sudah hampir mengejang. Noval langsung melepaskan cekikan nya, ia melangkah mundur memperhatikan Sam yang bernafas tak beraturan.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak ingin kau mati untuk sementara ini, aku akan membiarkanmu hidup untuk lebih merasakan penderitaan Sam"
Beberapa menit kemudian Sam mulai stabil, Noval berpaling lalu beranjak pergi meninggalkan rumah sakit.