
Cit... Cit... Cit...
Nyanyian burung dipagi hari perlahan membangunkan Casandra dari alam bawah sadarnya, hari ini adalah hari Sabtu, sesuai perjanjian malam ini Casandra dan Riko akan pergi berkencan untuk pertama kalinya.
Mata yang tadinya masih rapat terpejam, kini terbelalak penuh semangat ketika mentari pagi menyapanya.
"Selamat pagi duniaaa" teriak Casandra sambil membuka pintu jendelanya.
Ekspresinya yang ceria, meskipun keadaannya masih apa adanya. Casandra ingin mengatakan pada dunia kalau dirinya sedang bahagia hari ini. Namun ekspresinya berubah terkejut ketika matanya melihat kearah taman yang terletak dibawah depan kamarnya.
Sontak sepasang mata indah dari sosok itu saling pandang dengan Casandra yang masih tertegun. Kemudian menahan tawanya melihat tingkah Casandra yang konyol. Bagaimana tidak, rambut berantakan, piyama sutra pendek, masih dengan muka bantal, dengan tidak tahu malunya berteriak sekencang itu.
Sadar dengan kelakuannya yang memalukan, Casandra langsung bersembunyi dibalik gorden jendelanya. "Kenapa dia ada disini" pekik Casandra. Iapun berlari ke kamar mandi.
*****
Setelan jas rapi, badan tegap, wajah tegas melangkah yakin menuju ruang utama. Kini Anan telah berdiri tegap tepat di hadapan Sam.
"Selamat pagi Tuan Sam, Nyonya Riyu" ucap Anan sopan.
Sam terdiam mengamati Anan dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Sial kenapa dia tampan, meskipun belum bisa menandingi ketampananku! gumam Sam dalam hati.
Riyu yang duduk bersanding dengan Sam menatap dengan wajah yang berbinar, ia tidak menyangka kalau ternyata Anan lebih tampan dari apa yang ia bayangkan selama ini.
"Anan. Kau sangat cocok dengan setelan jas itu" ucap Riyu ramah.
"Terimakasih Nyonya" jawab Anan menunduk hormat.
Tanpa disadari Sam sedang menatap dingin mereka berdua. "Kenapa?" tanya Riyu yang sedari tadi enggan mengalihkan matanya pada anak muda di depannya itu.
"Ada yang lebih tampan di sampingmu kenapa kau malah menatap ke anak menyebalkan itu" ucap Sam tidak terima.
"Sam, haha" Riyu tertawa melihat kecemburuan dan mulai bersikap konyol.
"Kau. Selamat bekerja, dan setelah itu lebih baik kau ganti bajumu. Baju itu tidak cocok!" protes Sam.
Anan yang masih berdiri tegak bingung, bagian mana yang tidak cocok. Apa aku kurang rapi pakai bajunya. Gumam Anan dalam hati. "Baik Tuan" jawab Anan.
__ADS_1
"Sam. Setelan jas itu cocok sekali dengan tubuh Anan, dia juga terlihat tampan. Kenapa kau menyuruhnya ganti baju?" protes Riyu menahan tawa.
"Jika sekali lagi kau memuji ketampanannya, aku bersumpah akan mengoleskan selai kacang di wajahnya" ucap Sam menatap Anan tajam.
Riyu tertawa sambil memijat keningnya, Sam mulai cemburu. Sesaat ruangan utama jadi hening, Sam sibuk mengawasi mata Riyu supaya tidak melihat Anan. Sedangkan Anan berusaha menutupi gugupnya untuk bertemu dengan Nona muda.
Anan berdiri di ujung tangga sesuai perintah Sam untuk menunggu Nona muda turun dari kamarnya.
Kemarin aku sudah bertemu dengan Nona muda. Tapi kenapa aku masih merasa khawatir dan firasat yang tidak enak ya?!.
*****
Di sisi lain, Casandra selesai bersiap untuk pergi kuliah. Tapi dia penasaran, kenapa seperti melihat Anan di bawah tadi. Apakah itu fatamorgana sebangun tidur?? begitulah pikirnya. Tapi kalau tadi itu Anan... Aduh... Memalukan! Tapi apa yang dia lakukan disini?
Bergegas turun untuk memastikan kalau matanya tadi salah lihat, Casandra berlari kecil menuruni anak tangga. Ia sangat terkejut saat berpapasan seseorang yang sedang berdiri di ujung tangga.
"Selamat pagi No... " sapaan Anan terputus ketika melihat Casandra di depannya.
"Kau ... " ucap keduanya serentak.
"Sedang apa kau ada di sini?" Casandra merenyitkan alisnya.
Casandra mengalihkan pandangannya, Kenapa dia pakai seragam Manunggal. Kenapa dia mencari nona muda?! bisik Casandra dalam hati.
"Kau kenapa? Ditanya malah melamun!" protes Anan.
"Untuk apa kau mencari nona muda?"
"Bukan urusanmu, sekarang lebih baik kau bawa nona muda keluar dari kamarnya. Sudah waktunya berangkat kuliah" ucap Anan.
"Hey! Kau berani menyuruhku? Aku nona muda disini ngga ada orang yang berani menyuruhku meskipun ayah!" protes Casandra tidak terima.
Mendengar ucapan Casandra Anan terdiam, ia menatap Casandra dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Kau? Nona muda?" ucap Anan. Disusul kemudian suara tawa geli membuat Casandra merah padam.
"Apa yang kau tertawakan dasar menyebalkan! Sekarang pergi dari rumahku!"
Bukannya pergi Anan malah tertawa semakin geli. "Sudah tolong jangan bercanda lagi, perutku mulas" ucap Anan.
__ADS_1
"Aku serius! Sekarang cepat pergi dari sini. Ayo pergi!" Casandra menarik lengan Anan. Tapi disisi lain juga Anan tetap bertahan, akhirnya terjadilah keributan keduanya.
Sam dan Riyu yang masih di meja makan segera melihat ke arah keributan itu. "Ada apa ini?" tanya Sam.
"Sayang kenapa ribut sekali?" tanya Riyu.
"Ayah, Ibu aku sedang berusaha mengusir penyusup di rumah kita" ucap Casandra.
"Penyusup?! Tuan, Nyonya dia ... " Anan tersentak. "Ayah? Ibu?" ucapnya memandang bergantian Casandra, Sam dan Riyu bergantian.
"Kenapa kau sangat terkejut? Bukannya hal wajar jika putriku memanggil orang tuanya dengan sebutan Ayah dan Ibu?"
"Jadi... Dia Nona muda?" tanya Anan ragu.
"Iya Anan, Casandra putri kami satu-satunya. Saya harap kau bisa menjaganya dengan baik" ucap Riyu lembut.
"Kenapa kau sangat terkejut?" tanya Sam.
"Ti... Tidak Tuan" sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kurang ajar, gadis tengil ini sudah menipuku. Tunggu pembalasanku.
"Ayah, apa ini maksudnya?" Casandra masih belum mengerti.
"Oh iya putriku. Mulai hari ini Anan akan menjadi bodyguard pribadimu" ucap Sam serius.
"Apa???" teriak Casandra kaget, suaranya terdengar sampai luar. "Ayah, sudah Sandra bilang kalau Sandra ngga butuh bodyguard. Ada om Aji, ada om Doni, bukannya sudah cukup?"
"Tidak cukup. Sekarang berangkatlah kuliah jangan sampai terlambat" ucap Sam sambil berlalu menuju mobilnya.
"Ibu. Apa-apaan ini?" Casandra tak berdaya.
"Sayang. Ayahmu hanya ingin melakukan yang terbaik untuk putrinya" Riyu membelai pipi Casandra.
Sesaat Casandra menatap tajam pada Anan. Sebenarnya bukan hanya Casandra yang syok, Anan juga. Ngga nyangka kalau dia harus menjadi bodyguardnya Casandra. Tapi apa boleh buat, yang satu tuntutan kerja, yang satu tuntutan dari orang tua.
Anan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat Casandra mencengkram erat jok mobil. "Dunia tidak adil. Kenapa harus kau yang menjadi bodyguard ku!" protes Casandra sambil mengalihkan ketakutannya karena laju yang kencang.
"Kau sendiri bagaimana? Dasar penipu!" ucap Anan dengan nada dingin.
__ADS_1
"Aku berbohong untuk mengamankan identitasku!" teriak Casandra. "Pelankan mobilnya" ucapnya lirih bergetar.
"Kenapa? Takut? Tidak akan!" Anan semakin menambah kecepatan, membuat nafas Casandra terasa sesak.