Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Bab 11


__ADS_3

Aji terus mengemudikan mobilnya, namun di tengah perjalanan...


"Lepaskan aku Sam! Sadarlah aku kakak iparmu!" ucap Riyu terus mencegah Sam menyentuhnya. Ruangan mobil yang sesak membuat Riyu tidak bisa berontak banyak.


"Bisakah kau berhenti menyebutkan tentang status kakak ipar!" Baaakkk... Sam menghantam jendela mobil dengan kencang.


Riyu terdiam melihat wajah Sam yang merah padam, Riyu tidak mengerti kenapa Sam bisa begitu marah. Sam kembali ke tempat duduknya, suasana menjadi canggung dan senyap selama perjalanan.


Saat berada di persimpangan lampu merah, Aji bertanya. "Jadi kita ke vila bos?"


"Tidak, tolong antar aku pulang. Atau tidak aku bisa turun di sebelah sana dan mencari taksi" sahut Riyu


Sam hanya terdiam mengepalkan tangannya.


"Sam benar-benar marah, kenapa dia tidak bisa menerimaku menjadi kakak iparnya. Apa... Dia membenciku" bisik Riyu dalam hati.


"Aji turunkan dia" ucap Sam acuh. Aji menghentikan mobilnya di pinggir jalan setelah lampu merah.


Riyu memandang Sam sesaat "Maafkan aku" bisiknya dalam hati, lalu Riyu bergegas turun dari mobil.


Aji mengamati wajah Sam yang risau "Bos" ucap Aji.


"Kamu selidiki latar belakangnya, aku ingin tau sebenarnya apa hubungan Riyu dengan keluarga Galuh Saputra!" ucap Sam menatap tajam ke arah luar jendela mobil.


"Siap bos" Jawab Aji singkat.


_______________________


 


Tap... Tap... Tap.... Suara langkah kaki Bu Mahesa Yang berjalan menuju kantor Noval. Langkahnya yang tegas, ekspresinya yang begitu berwibawa, layak jika wanita ini sulit untuk di kalahkan.


 


"Aku perlu bertemu dengan Noval, dia ada di ruangannya bukan?" tanya Bu Mahesa kepada sekertaris.


"A... Ada nyonya, tapi pak Noval..." belum sempat sekertaris itu menjelaskan, Bu Mahesa langsung menuju ruangan Noval.


Ketika Bu Mahesa masuk kedalam ruangan, ia melihat Noval sedang bersama seorang wanita.


"Di jam seperti ini masih sempat kau bermain-main?" tanya Bu Mahesa secara tiba-tiba, membuat Dewi dan Noval terkejut bukan main.


"Akh... Bisakah mama mengabari aku dulu sebelum datang! Minimal mengetuk pintulah" ucap Noval agak kesal.


Dewi bergegas merapikan bajunya lalu beranjak dari pangkuan Noval, Bu Mahesa mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu datang kemari ma?"


"Kenapa? Putraku keberatan jika ibunya ingin mengunjungi ke kantornya!"


"Aish, bukan begitu ma. Cuma... Aku agak heran saja kenapa mama tiba-tiba datang kesini, sepertinya ada suatu hal yang begitu penting"


"Kamu sudah menikah dan rumor tentangmu yang suka mempermainkan wanita sudah hilang sekarang, mama harap kamu bisa menjaga sikapmu di ruang publik Noval! Jangan sampai papamu tau tentang ini!"


Noval terdiam menghela nafasnya.


"Oke, Okee... Sekarang beri tau aku, ada masalah apa mah?


"Baiklah mama akan memberi tau maksud kedatangan mama kemari. Kamu tau kenapa mama menikahkanmu dengan Riyu?"


"Jadi mama datang kesini hanya untuk membahas wanita kampung itu? Sungguh buang-buang waktu saja!" ucap Noval enggan.


"Sayang... Kenapa kau begitu bodoh? Kita tidak akan menyia-nyiakan harta karun yang ada di genggaman tangan kita" ucap Bu Mahesa tersenyum tenang.


"Harta Karun? Apa maksudmu?" tanya Noval mengerutkan keningnya.


"Aku sudah menyelidiki gadis itu sejak lama, awalnya aku hanya ingin membersihkan namamu dari rumor buruk di luar sana tapi ternyata aku mendapatkan kejutan lain"


"Ma! Tolong langsung pada intinya, tidak perlu berbelit-belit"


"Ya... Keluarga kaya yang berakhir tragis. Bukankah mereka sudah musnah?" tanya Noval tidak mengerti.


"Tidak... Tidak semuanya musnah!" nyonya Mahesa beranjak dari duduknya lalu berjalan pelan memandang jendela.


"Masih ada putri dari keluarga Galuh yang masih hidup, dialah ahli waris yang sesungguhnya"


"Lalu apa hubungannya dengan Riyu?"


"Hemh... Beberapa waktu lalu dia meminta ijin untuk pergi ke makam orang tuanya, jadi aku menyuruh salah satu supir kepercayaan kita untuk mengantarnya. Dari laporan supir itu, makam yang di kunjungi Riyu adalah makam Galuh Saputra dan istrinya, itu berarti... Riyu adalah putri Galuh yang hilang..."


Noval sangat serius mendengarkan ucapan Bu Mahesa, "Jika itu benar, lalu siapa yang memegang perusahaan Galuh selama ini?" tanya Noval.


"Itu yang masih mama selidiki Noval... Perusahaan Galuh dilindungi oleh orang misterius yang kuat, tapi aku yakin mereka belum mengetahui dimana keberadaan Riyu sekarang"


"Itu berarti, jika Riyu bisa menduduki perusahaan Galuh maka... Kita akan semakin kuat ma" ucap Noval berbinar.


"Tepat sekali... Tapi untuk melakukannya tidak semudah itu Noval, kita harus memperdalam informasi dan penyelidikan ini. Kita memerlukan banyak waktu dan bukti, supaya Riyu bisa mengambil alih warisannya. Setelah kita mendapatkan itu semua... Mau di apakan gadis itu... Itu terserah padamu"


Bu Mahesa dan Noval saling berpandangan dengan senyum yang misterius.


**Malam harinya di meja makan...

__ADS_1


"Papa beruntung kita dapat berkumpul malam ini, ada yang ingin papa bicarakan" ucap pak Mahesa dengan wajah yang lelah.


"Ada apa pa? Sepertinya genting sekali"


Sam, Riyu, dan Noval menyimak ucapan pak Mahesa seksama.


"Perusahaan papa yang berada di London mengalami masalah, papa akan pergi ke sana bersama mama untuk menangani masalah ini"


"Ini benar-benar mendadak pa, Kapan kita akan berangkat?"


"Lusa kita harus berangkat ma, Noval jaga Riyu baik-baik. Masalah perusahaan di sini biar Sam yang mengurus nya" ucap pak Mahesa dengan mimik wajah yang tidak bisa di bantah.


"Sial... Sam mendapatkan kepercayaan papa untuk mengurus perusahaan, sedangkan aku hanya di jadikan penjaga Riyu!" Noval menggerutu dalam hati.


"Kenapa Noval? Kamu keberatan Sam mengurus perusahaan?" tanya pak Mahesa menatap tajam.


"Oh tidak pa, memang sudah waktunya Sam untuk belajar mengurus perusahaan" ucap Noval menyembunyikan rasa kesalnya.


"Bagaimana Sam? Papa lihat kamu sibuk akhir-akhir ini. Apa yang sedang kamu rencanakan?" ucap pak Mahesa lalu melahap makanannya.


"Memang banyak yang sedang Sam rencanakan pa" ucap Sam memandangi wajah Noval dan Bu Mahesa yang khawatir.


"Tapi intinya aku berhasil mendapatkan tanda tangan dari keluarga Mangsur untuk bekerja sama"


"Apa kamu bercanda Sam! Selama ini tidak ada yang bisa dengan mudah bekerja sama dengan perusahaan Mangsur. Kali ini papa tidak salah, kamu memang pantas memegang perusahaan"


Noval dan Bu Mahesa semakin panas mendengar pujian yang di lontarkan, sedangkan di sisi lain Riyu tersentak saat mendengar nama keluarga Mangsur.


"Keluarga Mangsur?" tanya Riyu secara tiba-tiba.


"Ada apa Riyu? Apa kamu mengenal keluarga Mangsur?" tanya pak Mahesa yang membaca ekspresi Riyu yang ketakutan. Sam menatap Riyu seksama.


Detik itu juga bayangan kecelakaan 6 tahun yang lalu kembali terpampang di memori Riyu. Riyu tergoncang, badannya gemetar, dadanya merasa sakit dan sesak.


"Kamu kenapa Riyu?" tanya pak Mahesa khawatir.


"Riyu... Riyu tidak apa-apa pah, aku sudah selesai makan. Mohon maaf Riyu ijin duluan" ucap Riyu lalu beranjak pergi ke kamarnya.


"Ada apa dengannya, mendengar nama Mangsur dia ketakutan sekali" gumam Sam dalam hati.


Dengan sempoyongan Riyu masuk ke kamar lalu mengunci pintunya, kepalanya terasa berat dan sakit. Suara teriakan dan benturan mobil jatuh dari jurang terngiang kencang di telinganya.


"Ibu... Ayah... Tidak..." gumam Riyu menutup mata dan telinganya kuat-kuat.


"Tolong hentikan... Aku tidak mau melihat kejadian itu lagi... Tolong hentikan..." Riyu jongkok di pojokan kamar lalu menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


__ADS_2