Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Rencana


__ADS_3

Perlahan kaki Casandra melangkah menuju pintu utama, seperti dugaan, ia pulang terlambat lagi. Kemarin aku terlambat Om Aji dipecat, sekarang kalau aku terlambat, apa Om Doni juga bakal dipecat? . Gumam Casandra dalam hati.


Ia termenung sejenak menggigit bibir bawahnya, Tapi baguslah, pecat saja semuanya biar aku bisa bebas main. Gumamnya lagi.


Pintu telah terbuka perlahan, Casandra melongokkan kepalanya untuk melihat ruang utama, biasanya jika ia datang terlambat, Sam sudah duduk berpangku kaki dengan tatapannya yang dingin.


"Eh, apa Ayah belum pulang?" Casandra mencoba menerka.


"Selamat sore nona" sapa pelayan mbuka lebar pintu.


"Haduh kau ini, bikin kaget saja!"


"Maaf nona" ucapnya tertunduk.


"Eh sini, sini. Apa Ayah sudah pulang?" tanya Casandra sedikit berbisik.


"Su... " baru saja Tira akan menjawab, Sam keluar dari ruangannya.


"Pulang terlambat lagi sayang" ucap Sam dengan senyum yang tidak dimengerti oleh Casandra.


Ada apa ini? Kenapa perasaanku malah ga enak kalau ayah tersenyum saat aku melakukan kesalahan. Gumam Casandra dalam hati.


"Dimana Doni?" tanya Sam mendekat ke arah Casandra.


"Ayah, ini salahku. Tolong jangan pecat Om Doni." padahal tadi dia senang kalau Doni dipecat juga, tapi ternyata Casandra tetap tidak tega.


"Kata siapa Ayah mau pecat Doni? Justru ayah mau berterimakasih padanya" ucap Sam tersenyum, ia berlalu menyusul Doni yang sedang memarkirkan mobilnya.


"Ada apa dengan ayah. Mencurigakan" Casandra menatap punggung Sam sejenak, setelah itu iya bergegas menuju kamarnya.


*****


"Sayang. Kenapa kau terlihat bahagia sekali?" ucap Riyu yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

__ADS_1


Sam beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan kebelakang tubuh Riyu lalu memeluknya. "Aku sudah mendapatkan orang yang tepat untuk menjadikannya bodyguard putri kita" ucap Sam lembut mengecup pundak Riyu.


"Oh ya? Haha, jangan sampai dia kau pecat lagi gara-gara dibikin pusing oleh Casandra"


"Untuk kali ini aku rasa tidak, dia memiliki pendirian yang kuat." ucap Sam belalih mengecupi leher Riyu yang jenjang. "Tapi untuk mendapatkannya aku harus agak sedikit kasar. Dengan begitu dia pasti akan menyanggupi untuk bekerja sama dengan kita"


"Kalau boleh tau, siapa? Apa dia dari teratai hitam?"


Sam menarik tali yang mengikat pinggang Riyu, seketika ia menariknya hingga tak ada satupun yang menghalangi aktifitasnya di tubuh Riyu yang polos.


"Bukan. Dia pria biasa, aku memang sudah menunggunya dan ternyata memang tidak mengecewakan."


"Beri tahu aku siapa dia" ucap Riyu sesekali menggelinjang menahan geli di bagian sensitifnya.


"Kau akan tau" bisik Sam diiringi dengan tiupan lembut yang menerpa telinga Riyu, obrolan santai di kamar itu berubah menjadi dengusan nafas yang saling bersenggama satu sama lain.


*****


Sudah beberapa hari ini suasana di kampus terasa murung dan sepi, Nanda dan Sara tidak terlalu berani mengajak bercanda Casandra karena dia menjadi pemarah dan pendiam. Mereka masih bersama-sama mengerjakan tugas, ke kantin, dan ke taman kampus, tapi rasanya hambar kalau yang satu itu masih saja murung karena belum bisa mendapatkan topinya.


"Casandra. Ayolah, jangan murung terus" ucap Nanda mengelus punggung Casandra lembut.


"Iya nih, aku kan jadi takut kalau kamu cemberut terus!" Sahut Sara.


Sejenak Casandra membuang nafas panjang. "Aku bingung, itu cowok maunya gimana sih. Diganti dengan topi baru ga mau, sedangkan aku udah cari topinya di jalan sudah ngga ada. Kan kesel!"


"Iya juga sih, serba salah jadinya. Ngadu ke Om Sam pun percuma, yang ada nanti dia malah melakukan hal yang... Hiii." Sara bergidik sendiri dengan gambaran di benaknya.


"Haa! " lampu di kepala Sara bersinar cemerlang karena mendapat ide. "Casandra, kau masih ingat kan topi yang dipakai cowok itu? Gimana kalau kamu beli topi baru yang mirip, terus dibikin kumal dan rusak. Habis itu kamu balikin deh ke dia, bilang aja kamu sudah menemukannya" ucap Sara antusias.


Nanda dan Casandra menatap Sara seksama, "A... Apa aku salah?" Sara merasa tidak enak hati. Takut salah bicara dengan ide konyolnya, dan membuat Casandra semakin kesal.


"Sara. Aku akui kali ini kau sangat jenius" ucap Casandra menatap tanpa berkedip. "Kenapa aku ga kepikiran dari kemaren ya. Haha" Seketika Casandra berbinar mendengar ide bagus itu.

__ADS_1


"Oke, nanti biar aku bantu belikan topinya. Kalau kamu yang pergi, pasti tidak diperbolehkan sama Om Sam." ucap Nanda.


"Thanks yaaa" Casandra memeluk kedua sahabatnya.


Suasana kembali menjadi hangat setelahnya, tinggal menunggu Nanda membawakan topinya, setelah itu biar menjadi urusan urusan Casandra untuk mengembalikannya.


Ide dari Sara benar-benar membuat Casandra lega, Tidak berselang lama kemudian, Riko kembali menghampiri tiga sekawan yang sedang menikmati es krimnya. "Hai... " ucapnya canggung. Casandra, Nanda dan Sara terkejut dengan kedatangan Riko yang tiba-tiba.


"H... Hai" balas Casandra canggung.


Memang sejak gagal datang ke hari ultah, Riko jadi semakin dekat dengan Casandra. Ia juga jadi lebih sering menyapa.


"Casandra, kita ke perpustakaan dulu ya hihi" Nanda langsung menarik tangan Sara, berlari menjauh meninggalkan mereka berdua.


Kurang ajar, kenapa mereka selalu ninggalin aku kalau ada Riko!. Protres.


"Apa aku ganggu?"


"Haha, enggak kok. Oh iya ada apa?" meskipun jantungnya berdegup kencang tapi Casandra mencoba untuk tetap biasa saja. Matanya melirik ke arloji yang ia berikan sebagai kado untuk Riko, senang rasanya melihat Riko selalu memakai pemberiannya.


"Aku dengar topi berlianmu diambil orang?" tanya Riko menatap tajam.


"Loh darimana kamu tau?"


"Sara yang ngasih tau aku. Pria dekil penjual kue itu kan? Kau tenang saja. Biar aku yang memberinya pelajaran" ucap Riko marah.


Casandra terdiam, mencoba meraba kenapa Riko ikut marah. Apa dia sedang membelanya sekarang? Casandra senang, tapi masalah ini bukanlah urusan Riko, Casandra yakin ia bisa menyelesaikan masalahnya ini.


"Tidak apa-apa Riko, aku sudah menemukan cara untuk mengambil topiku. Kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan mendapatkannya." tiba-tiba saja perasaan Casandra jadi tidak enak, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Tidak apa-apa, biar aku yang beri pelajaran padanya. Biar dia juga tau resikonya karena sudah mencari gara-gara pada Tuan putriku" Riko menarik tangan Casandra lalu mengecupnya. Casandra langsung merinding dengan perlakuan Riko yang seperti itu. Dia tidak seperti ini sebelumnya, bahkan terkesan cuek.


Ada perasaan senang karena Riko membelanya, tapi disisi lain juga ada perasaan yang sulit Casandra mengerti, takut, kalau Riko melakukan hal yang tidak-tidak. Casandra memang sangat kesal dengan pria kue itu, tapi ia juga tidak ingin menyakitinya karena Casandra mengenal kak Sanya adalah orang yang sangat baik.

__ADS_1


__ADS_2