Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Kemarahan Darma


__ADS_3

Tap... Tap... Tap...


Langkah tergesa-gesa menuju kamar Riyu di kediaman Darma, matanya sembab hatinya di penuhi rasa kesal karena perbuatan Sam yang keterlaluan padanya. Bahkan ia tidak berani pulang ke rumah Mahesa. Karena mungkin hatinya tidak akan kuat berdebar saat menghadapi tatapan Nita dan Mahesa.


Buru-buru Riyu menaiki tangga sebelum kakek Darma melihatnya, ingin sekali rasanya menenangkan diri untuk beberapa saat sebelum bertemu dengan siapapun.


"Darimana kamu!"


Suara serak memecah keheningan ruangan yang sunyi, Riyu berhenti, jantungnya mulai berdegub kencang, tapi dia tidak berani menoleh ke arah sumber suara.


"Aku...." Riyu terdiam.


Sekarang dia mulai gugup. Takut jika Darma marah padanya, tapi mungkin semua itu tidak bisa di hindari lagi.


Darma melirik sebentar ke tangan Riyu yang masih memegang kopernya erat, kemudian kembali menatap punggung Riyu dengan tajam.


"Apa benar kau pergi dengan Sam?! Beraninya kau!"


Maya melihat kemarahan di wajah Darma, ia bergegas menghampiri mereka... "Kakek, mereka hanya pergi untuk menghadiri..."


"Diam kau, aku tidak menyuruhmu berbicara!" ucap Darma, Maya langsung tertunduk tidak berani meneruskan ucapannya saat sepasang mata tajam menatap ke arahnya.


"Kau juga Maya, berani-beraninya kau sekongkol dengan mereka dan tidak meminta ijinku!"


Maya terdiam gemetar meremat jari-jemarinya, kemudian Darma kembali menatap cucunya. "Jawab pertanyaanku Riyu!" ucapnya dengan nada yang semakin tinggi.


Riyu menarik nafas dalam-dalam. "Iya" Jawabnya pasrah.


"Tatap mataku saat aku sedang berbicara" nada Darma terdengar dingin.


Sekarang Riyu tidak hanya berdebar, tapi ia juga mulai gemetar. Kembali Riyu menarik nafas panjang untuk mengurangi rasa gugupnya, dan perlahan Riyu berbalik menatap Kakek Darma yang telah siap menusuk dengan matanya.


Slerek...


Darma melempar selembar koran tepat mengenai wajah Riyu, saat itu ia hanya berani melirik ke koran yang ternyata terpampang gambarnya saat berdansa dan saat di gendong Sam di resepsi pernikahan. Kakinya mulai gemetar, tidak di sangka, hanya selisih satu malam saja Sam dan Riyu menjadi pemberitaan utama di kota Y.


"Kau adalah presiden Galuh Union, Riyu. Orang ternama di kota ini. Semua orang tau kau adalah istri Noval putra dari keluarga Mahesa. Dan sekarang semua orang juga tau kalau kau... Bermesraan dengan adik iparmu! menginap di apartemen yang sama!"


Bentak Darma bergetar, wajahnya merah padam menahan amarahnya. Ia belum pernah semarah ini pada Riyu sebelumnya.


"Maafkan aku kek" Ucapnya Riyu lirih tertunduk menahan sesak di dada.


"Apa yang ada di otakmu, Riyu?! Kelakuan mu itu telah mencoreng nama baik Almarhum Ayahmu!"

__ADS_1


"Ayah... Tidak..." Gumam Riyu semakin lemas saat Darma menyebut ayahnya.


"Bahkan kata maaf yang keluar dari mulutmu tidak cukup untuk menebusnya"


Riyu semakin merasa tertekan, belum sempat ia menenangkan diri karena perbuatan Sam padanya kemarin malam, sekarang ia merasa semakin bersalah pada kakeknya dan juga... Ayahnya.


Aku tidak berguna... Aku terlalu menuruti perasaanku. Ayah aku tidak berguna...


Riyu mulai tidak kuat menopang tubuhnya, koper di tangannya terjatuh, ia berpegangan pada kayu tangga agar bisa bertahan.


Maya yang dari tadi menyimak perbincangan itu langsung menghampiri Riyu dan menopangnya, ia tidak tega karena Riyu sudah terlihat pucat dan lemah.


"Kakek aku mohon cukup, semua sudah terlanjur terjadi kek. Kalau memang semua orang sudah tau tentang kedekatan Riyu dan Sam biarkan saja! Biarkan mereka tau kalau sebenarnya Riyu dan Sam saling mencintai!"


"Maya!" Bentakan Darma menggelegar kencang. Keduanya terkejut dan tidak berani berucap lagi.


Tangan Riyu mencengkram Maya dengan erat, tak lama kemudian tes... Tes... Tes... Cairan hangat menetes di lengan Maya yang sedang memegangi Riyu, Maya pikir itu adalah air mata Riyu tapi saat menoleh, di lengannya terdapat cairan merah yang keluar dari hidung Riyu.


"Riyu?" Pekiknya.


Tangan Riyu yang gemetar mulai mencengkram erat kepalanya lagi, beberapa kali terasa Riyu mengejang pelan di dekapan Maya. Tatapan tajam Darma seketika itu juga berubah saat melihat Riyu yang mulai ambruk.


"Riyu... Riyu!" Ucap Maya sambil menggoyangkan wajah Riyu, tapi tidak ada efek apapun. Tubuhnya malah semakin kaku.


"Ada apa Nona?!" Ucap Bayu langsung berlari menghampiri.


"Cepat bawa Riyu ke rumah sakit! Ayo cepat!"


Bergegas Bayu menggendong Riyu dengan kedua tangannya, Maya membukakan mobil lalu memangku kepala Riyu... "Bertahanlah Riyu! Bertahanlah!" ucap Maya terisak membelai wajah Riyu.


Sedangkan Darma masih mematung sambil melihat ke mobil Bayu yang menjauh dari gerbang utamanya. "Apa yang telah aku lakukan" ucap Darma bergetar.


****


Sesampainya di rumah sakit Dokter Lukman langsung menangani Riyu dengan cekatan, Maya menunggu di luar UGD dengan perasaan yang tidak karuan. Darma pun telah sampai di sana, ia duduk termenung memegangi tongkat tua yang menopang kedua tangannya.


Di tengah suasana yang senyap, deru nafas seseorang yang terengah terdengar di ruang tunggu. Maya yang dari tadi mondar mandir menunggu dokter Lukman keluar dari ruangan UGD kini berhenti menatap pekat pada sosok yang baru datang.


"Sam?" Gumam Maya lirih.


Sam dan Maya saling pandang. Sedangkan Darma tetap terdiam tidak memperdulikan kehadiran Sam di sana. Saat Sam hendak menghampiri Maya untuk menanyakan ke adaan Riyu, tiba-tiba dokter Lukman keluar dari ruangan, membuat Sam berhenti saat itu juga.


Ekspresi dokter Lukman sangat menghawatirkan, ia berjalan perlahan menuju hadapan Darma.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan cucuku?" Tanya Darma tak berdaya masih dalam posisi yang sama, matanya menatap kosong ke permukaan lantai yang dingin.


"Tuan, Riyu mengalami tekanan dan banyak fikiran hingga mempengaruhi sarafnya. Jika sedikit saja terlambat tadi, maka resiko yang paling fatal adalah kelumpuhan pada bagian tubuhnya" jelas dokter Lukman.


Maya terperangah menutup mulutnya dengan tangan, diiringi dengan cairan bening yang keluar dari ujung matanya.


"Tuan Nona Riyu masih dalam proses pemulihan, jika dia memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya maka akan berakibat buruk. Tapi sekarang Nona Riyu telah melewati masa kritisnya. Untuk kedepannya, saya harap Nona Riyu bisa menjaga kesehatan supaya jangan terlalu stres. Saya permisi Tuan Darma"


Lukman menundukkan kepalanya singkat dan berlalu dari hadapan Darma. Tak lama setelah itu para suster keluar dari UGD sambil mendorong bed stretcher yang terdapat Riyu terbaring di atasnya. Mata dari ketiganya melihat ke arah Riyu yang masih tidak sadarkan diri, dengan oksigen yang terpasang di hidung.


Para suster berlalu memindahkan Riyu ke ruang inap VIP. Sam bergegas menyusul, tapi kemudian... "Sam!" Ucap Darma menghentikan langkah kaki Sam.


Setelah berjam-jam akhirnya Darma beranjak dari tempat duduknya, ia menghampiri Sam yang sedang memandangnya, sorot mata Sam seperti menyiratkan aku pasrah jika kau memarahiku...


"Aku tau kau sangat mencintai cucuku, bukankah kau berjanji untuk melindunginya?" Ucap Darma.


Maya tersenyum, apa ini artinya kakek merestui mereka gumamnya dalam hati.


"Ya aku mencintainya, aku pasti akan melindunginya" ucap Sam yakin.


"Kalau begitu, lindungi Riyu dari dirimu sendiri!" Tatapan dan nada bicara Darma berubah drastis.


Sam terdiam, entah kata apa yang harus ia ucapkan. Matanya mulai membendung cairan bening, membalas tatapan Darma dengan hampa.


"Jauhi Riyu, Sam. Itu akan lebih baik"


"Tidak, Riyu sudah bisa mengingatku, aku tidak akan menjauhinya..."


"Tapi kedekatanmu malah memperburuk keadaannya, Sam" ucap Darma bergetar. "Awalnya aku percaya padamu, tapi karena kelakuanmu yang lancang itu... Kali ini aku tidak akan membiarkanmu bertindak lebih jauh!" Darma masih tidak rela Sam membawa Riyu pergi tanpa seijinnya kemarin malam.


"Kakek..."


"Sekali lagi aku katakan padamu! Jauhi cucuku" Darma menatap pekat kemudian ia berlalu meninggalkan Sam yang berdiri mematung.


Apa yang terlihat dari matanya yang kini berair adalah perasaan yang remuk, bagaimana bisa menjauhi orang yang paling dia cintai. Tetapi melihat keadaan Riyu yang sekarang, Sam pun membenarkan ucapan Darma bahwa Riyu akan semakin buruk jika ia terus memaksanya.


Maya hanya terdiam, ia adalah orang yang sangat mendukung perjuangan Sam dengan Riyu. Tapi kini harapan untuk mempersatukan mereka sirna, setelah Darma tidak lagi di pihaknya.


Kasih sayang Darma terhadap cucunyalah yang membuat dirinya begitu khawatir sehingga bersikap keras, karena ia tidak ingin lagi kehilangan seseorang yang penting dalam hidupnya.


Sam memandang Riyu yang terbaring dari kaca kecil yang terpasang di pintu ruang rawat, di sampingnya terdapat Darma yang sedang menangis menggenggam tangan Riyu erat. Sam berfikir keras. Jika dia mempertahankan kemauannya, maka akan menghancurkan perasaan kakek tua yang telah lama menjadi sebatang kara.


Jari Sam meraba pintu sejenak, tidak terasa air mata telah menetes dari ujung pelupuk. Sam memalingkan wajahnya, dan iapun berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2