
Pagi hari udara terlihat mendung, suasana seperti ini
rasanya malas sekali untuk berangkat kekantor. Riyu masih terungkup didalam
selimutnya, masih ada waktu setengah jam untuk bersiap-siap. Lumayanlah masih
ada waktu bersantai asal jangan ketiduran hehe.
Kring kring, alaram di ponsel kembali berdering. Riyu
melongokkan kepalanya dari dalam selimut, dimatikannya alaram karena ia sudah
bangun dari tadi. Mata merahnya terdiam menatap screen layar ponselnya, foto
dirinya dengan kakek Darma masih terliat senyum segar dan sumringah.
“Kakak, dua minggu lagi aku dan Sam akan bertunangan. Aku
tau meskipun kau, ayah dan ibu tidak ada di sampingku, tapi kalian pasti
melihatku dari alam sana bukan? Aku sangat merindukan kalian.” Kecupan singkat
mendarat dilayar ponselnya. Mata Riyu terpejam saat memeluk ponsel di dadanya.
Belum sempat membuka mata, Riyu merasakan benda berat yang
menindih tubuhnya. Ia kembali melongok untuk memastikan, monster apa yang telah
bendarat di atas tubuhnya yang masi berbalut selimut itu.
“Sam!” protes Riyu menggoyangkan badannya. Bukannya pindah
tempat, Sam semakin memejamkan matanya tetap tiduran. “Sam. Kau berat tau!
Tempat tidur ini cukup luas untuk tidur tiga orang, kenapa kau tidur di atasku
dasar!” protes dan terpekik, mencoba mendorong dengan sekuat tenaga.
“Lebih asik tidur diatasmu, aku seperti tidur di pangkuan
ibu” jawab Sam masih dengan mata terpejam.
Jawaban Sam terdengar menyebalkan namun juga membuat hatinya
trenyuh. Melihat selama ini Sam hidup dengan kesendirian dan juga menderita
meskipun ada tuan Mahesa. “Mama Ranu, lihat anakmu sedang bersikap sangat
manja. Tapi kau tenang saja, aku akan memberikannya cinta dan kasih sayang yang
aku punya” berbisik dalam hati. Tangan Riyu menyeruak keluar selimut membelai
Sam dengan lembut.
“Pagi-pagi begini kau mencoba untuk menggodaku ya” senyum
menyeringai. Sedangkan tangan Riyu langsung terangkat dan kembali masuk kedalam
selimut.
“Dasar menyebalkan. Percuma berbuat baik padanya, aku juga
yang kena” gumam-gumam namun jelas.
“Apa kau bilang?” protes mendengar Riyu.
“Sam, aku mau bersiap kekantor” Riyu kembali menggoyangakan
tubuhnya supaya Sam bangun.
“Kau kan bos, tidak salah kan kalau sekali saja berangkat
terlambat? Aku masih inginbersamamu Riyu, akhir-akhir ini kita terpisah karena
kesibukan masing-masing kan?”
__ADS_1
Memang mahkluk satu ini pandai sekali mencari kesempatan dan
membuat hati Riyu luluh. “Sam”
“Hmm”
“Apa kau sedang ada masalah?”
Kini Sam beranjak dari posisinya, memeluk erat Riyu yang
masih terbalut selimut dari belakang. Apa Sam belum bahagia sekarang? Pelukan
kesepian itu terasa kembali, sama seperti yang Riyu rasakan saat pertamakali
bertemu dengannya. Suasana hening, hanya terdengar detik jam diding memenuhi ruangan kamar.
Perasaan sedih dan penuh tanda tanya.
“Sam”
“Aku merindukan ibu”
“Kau pernah bilang padaku, saat merindukan seseorang yang
telah meninggal. Bayangkan wajahnya dan ucapkan doa. Iya kan?”
“Aku sedang melakukannya, bahkan sedang memeluknya” ucap Sam
masih dengan mata terpejam. “Riyu, aku melihat ibu di matamu. Itu sebabnya aku
tidak terima siapapun memilikimu ataupun menyakitimu. Hari ini adalah
peringatan kematian ibu”
“Apa?” Riyu langsung berbalik menatap Sam.
“Kenapa? Bergerak seperti itu, bikin kaget saja”
“Kenapa kau tidak bilang kalau hari ini peringatan kematian
ibu?” Riyu kesal, Sam menopang kepalanya dengan tangan menatap Riyu.
menunjuk kening Riyu.
“Maksudku, kenapa kau tidak bilang dari kemarin. Jadi hari
ini kita bisa pergi mengunjungi makam ibu”
Sam hanya tersenyum menatap Riyu, Riyu sadar kalau kemarin
juga mereka jarang sekali bertemu karena sibuk. Banyak sekali pekerjaan yang
harus di selesaikan karena terbengkalai selama beberapa waktu.
“Sam, aku akan menghubungi sekertarisku supaya menunda rapat
sampai besok. Setelah itu kita bisa pergi mengunjungi makam ibu Ranu” ucap Riyu
antusias.
“Hei. Kenapa kau sangat bersemangat?” Sam mulai gemas dengan
ekspresi Riyu yang penuh semangat.
“Tentu saja aku sangat bersemangat Sam. Selama ini kau tidak
pernah mengajakku berkunjung ke makam ibu, karena hari ini ada kesempatan, ayo
kita pergi kesana. Aku ingin memberi penghormatan pertamaku juga meminta restu
padanya”
Sam berbinar mendengar ucapan Riyu, “Oke, kita hbiskan hari
ini dengan berkunjung kemakam para orang tua kita” Sam beranjak setelah mencium
__ADS_1
Riyu.
Dhea kecil telah diurus oleh pelayan yang telah dipercaya
Sam dan Riyu untuk menjaganya saat mereka sibuk, dengan peraturan ketat
tentunya. Tidak boleh keluar rumah sembarangan, tidak boleh bertemu dengan
orang asing, meskipun orang tersebut adalah tamu di kediaman Mahesa.
Beberapa rangkaian bunga telah di pesan untuk di bawa ke
pemakaman. Riyu memesan bunga lili kesukaan ibu dan ayahnya, sedangkan Sam
memilih mawar ungu dari belanda untuk ibunya. Pemakaman yang sama namun letak
yang berbeda. Mungkin sebelum hubungan sedekat ini, tanpa sadar mereka juga
pernah bersama di satu pemakaman untuk mengunjungi orang tua masing-masing.
Dengan bergandengan
tangan, Sam dan Riyu bersama berdiri di depan makam Ranu. Dari senyuman mereka
seakan berkata “Lihat kami bu, kami sangat bahagia dan akan hidup bersama
selamanya” usai meletakkan rangkaian bunda, mata mereka terpejam memanjatkan
doa masing-masing.
“Ibu Ranu, kami akan segera bertunangan dan menikah. Restui kami
agar kebahagian dan keselamatan selalu menyertai kami. Ibu, semoga kau
beristirahat dengan damai di sana” _Riyu_
“Ibu, lihat. Aku membawa calon menantu kehadapanmu, dia
cantik bukan? Matanya sama persis dengan matamu. Bu, aku mampu merasakan
kehadiranmu dalam dirinya. Aku bisa melihatmu dalam dirinya, siapapun tidak
akan aku biarkan menyakitinya. Kini aku sudah dewasa bu, Aku akan menjaganya,
melindunginya\, tidak akan lengah seperti dulu saat aku lengah dengan keadaanmu._Sam_
Riyu menoleh kearah Sam yang masih terpejam memanjatkan doa,
“Dia manis sekali kalau sedang begini” senyum-senyum sendiri. Saking senangnya
melihat wajah Sam, Riyu tidak sadar kalau pria itu sekarang sedang menatapnya
dingin. Seketika itu juga Riyu langsung mengembalikan pandangannya ke arah
makam Ranu. “Baiklah, sekarang dia terlihat mengerikan” gumamnya dalam hati.
Selesai mengunjungi makam Ranu. Mereka beralih berkunjung ke
makam Galuh dan Diana, orang tua Riyu. Keluarga Galuh sangat terkenal dengan
keharmonisannya, hanya saja nasib mereka saja yang kurang beruntung. Semoga
Riyu dan Sam bisa seharmonis mereka, dengan keselamatan dan kebaagiaan
tentunya.
Siang harinya mereka hibiskan waktu untuk makan siang
bersama, sambil berbincang banyak hal, tentang acara pertunangan juga rencana
tentang panti asuhan Dhea. Kemudian pergi ke beberapa toko di mall dan juga toko
kue untuk Dhea. Seandainya Dhea ada disanamungkin akan lebih menyenangkan, tapi
hari itu Sam sedang ingin mengabiskan waktunya berdua saja dengan Riyu. Tidak
__ADS_1
bisa dibayangkan, kalau saat itu Riyu mengajak Dhea, Sam dan Dhea pasti malah
akan sibuk ribut berdua.