Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Siti Curiga


__ADS_3

Malam itu Siti duduk di ruang tamu sambil meremat jari jemarinya, perasaannya berdesir tak karuan. Bayangan tatapan Riyu yang terlihat lelah seperti yang ada di mimpinya tadi, terlihat lagi di angannya.


"Sebenarnya ada apa ini? Apa yang terjadi pada Riyu" gumam Siti di tengah keheningan.


"Sudah tiga bulan Riyu tidak mengunjungiku, bahkan teleponku juga tidak di angkat sama sekali! Besok aku akan datang ke rumah nyonya Mahesa, untuk mencari tahu dan memastikan Riyu tidak kenapa-kenapa" ucap Siti lalu bergegas menuju kamarnya.


Pagi-pagi sekali Siti sudah berpakaian rapi, Agi yang baru saja bangun memandang Siti sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Loh Bu, udah dandan begini mau kemana? Kondangan?"


"Enggak. Ibu mau ke rumah nyonya Mahesa" jawab Siti.


"Wah, ada apa Bu? Mau ngambil uang ya?" Agi meringis senang. Wajah ngantuknya berbinar seketika.


"Uang terus yang di pikirkan! Ibu kesana cuma mau nengokin Riyu. Udahlah jangan berisik, ibu berangkat dulu" Siti bergegas pergi menghindari Agi sebelum melontarkan banyak pertanyaan.


"Kok tumben sih ibu khawatir sama Riyu, bodolah!" Agi langsung masuk kedalam kamar mandi.


*****


Sejak Sam bertunangan dengan Lila, ia memutuskan untuk tinggal di villanya, jauh dari Riyu dan juga yang lainnya. Selama itu juga Sam tidak pernah datang lagi menemuinya, atau bahkan menelpon Riyu. Meskipun kedua hati dilanda oleh kerinduan, tapi demi melindungi satu sama lain mereka rela berpisah tanpa komunikasi.


"Noval." Nita membangunkan Noval yang masih terlelap tidur saat itu.


"Ah. Mama kau mengagetkanku" ucap Noval nengok lalu menggeletakkan kepalanya lagi di atas bantal.


"Sudah saatnya kau bangun dan pergi ke kantor! Dimana Riyu? Seharusnya ini adalah kewajiban dia untuk mengurusmu!" Nita menyisir ruangan kamar dengan pandangannya, tapi ia tidak menemukan Riyu di sana.


"Oh gadis kampung itu? Aku sedang membersihkannya di Bathtub" ucap Noval dengan santai.


"Apa?" Nita langsung melangkah ke dalam kamar mandi.


Nita melihat shower yang menyala, lalu matanya tertuju pada sosok wanita yang di ikat kedua tangannya pada kran menggigil basah kuyup.


"Riyu?" ucap Nita terkejut, ia langsung mematikan shower dan melepaskan Riyu. Wajahnya pucat, bibir biru yang gemetar, tubuh Riyu terasa begitu dingin.


"Noval apa yang kau lakukan! Sejak kapan kau mengurung Riyu di kamar mandi?!" ucap Nita sambil memapah Riyu keluar dan membawanya duduk di sofa.


"Hanya semalaman saja ma, aku tidak sudi menyentuh wanita bekas Sam! Jadi aku berniat membersihkannya" Noval menyalakan rokoknya.


"Apa kau gila? Jika seperti ini dia bisa demam atau bahkan mati kedinginan! Kau ceroboh Noval!" Nita langsung mengambilkan handuk untuk Riyu. Pakai ini, hangatkan tubuhmu" ucap Nita pada Riyu. Nita memanggil Mirah untuk menyiapkan minuman hangat.


"Ma. Sejak kapan mama sangat perhatian padanya!" Noval protes.


"Kamu pakai bajumu, setelah itu temui aku di ruanganku!" ucap Nita menatap Noval tajam.


"Bibi, kau urus Riyu. Jangan biarkan dia kedinginan"

__ADS_1


"Baik nyonya"


Nita beranjak pergi, tidak lama kemudian Noval menyusulnya.


"Non Riyu. Apa yang terjadi?" Tanya Mirah cemas.


"A.. Aku. Tidak tau." Riyu menggigil gemetar.


Mirah tidak tega bertanya lagi padanya. Ia membantu Riyu mengeringkan rambutnya setelah membantunya mengganti pakaian.


*****2,


"Noval apa kau lupa dengan rencana kita! Kenapa kau bersikap kejam pada gadis itu!"


Noval menghela nafasnya kesal. "Lalu apa aku harus bersikap lembut padanya? Memanjakannya? Aku tidak sudi!"


"Noval ini hanya untuk sementara waktu saja, sampai kita mendapatkan sumber harta waris Riyu dari almarhum Galuh"


"Tapi ma. Semua itu belum jelas kan! Ya kalau dia benar anak Galuh kalau bukan? Buang-buang waktu saja!" Noval bangkit dari kursinya lalu pergi.


"Noval. Noval! Ugh anak ini!" Nita kesal tak di gubris oleh putranya.


Ding dong. Suara bel pintu berbunyi.


"Siapa lagi sih, pagi-pagi begini bertamu! Dasar tidak tahu malu" ucap Nita memijat pelan keningnya.


"Siapa?" tanya Nita dengan nada enggan.


"Budenya non Riyu" jawab Mirah singkat.


"Siti? Ada perlu apa dia kemari. Gawat. Jika dia melihat Riyu dengan keadaan seperti ini maka... " Nita panik. "Hemh. Uang pasti bisa membungkamnya, lagian selama ini juga dia lebih menyayangi uang dari pada gadis itu" Nita tersenyum sinis.


"Baiklah, aku akan menemuinya" ucap Nita pada Mirah.


"Siapa yang datang bi?" tanya Riyu dengan nada yang lemah, saat Mirah kembali ke kamar Riyu.


"Bu Siti yang datang non"


"Bude? Untuk apa dia kemari?" Riyu terkejut.


"Tadi katanya dia ingin bertemu denganmu, dia khawatir karena sudah lama kau tidak berkunjung ke rumahnya. Dia juga bilang ponsel non Riyu tidak bisa di hubungi" jelas Mirah.


"Ahhhh. Ini salahku, nomorku terblokir dan aku lupa memberi kabar pada bude" Riyu terdiam. "Bude... Ternyata kau menghawatirkan aku" Riyu tersenyum.


"Ada apa non?" tanya Mirah bingung melihat Riyu yang pucat tiba-tiba tersenyum.


"Bi. tolong siapkan baju lengan panjang untukku, aku akan berias supaya tidak terlihat pucat. Aku ingin menemui bude, karena aku juga kangen padanya" ucap Riyu bersusah payah jalan menuju meja riasnya.

__ADS_1


*****


"Siti. Ada perlu apa kau datang kemari?" Nita melangkah mendekatinya.


Siti berdiri gugup menggenggam jari jemarinya "Nyonya. Saya... Saya hanya ingin bertemu dengan Riyu" ucap situ agak sungkan.


"Riyu? Tumben, ada perlu apa? Jika itu urusan uang aku bisa memberimu, tanpa harus bertemu dengan Riyu. Katakan saja, berapa yang kau inginkan?"


"Bukan tentang uang nyonya, hanya..."


"Bude" sapaan lemah lembut dari bibir Riyu. Siti dan Nita langsung menoleh ke arah Riyu yang baru datang, Riyu tersenyum ramah menyembunyikan semuanya seakan tidak pernah terjadi apa-apa.


Nita yang tertegun mengamati Riyu seksama, "Gadis ini... Bagaimana bisa dia menyembunyikan lukanya??" gumam Nita dalam hati.


"Riyu, Bude kesini hanya... Ah, apa kau baik-baik saja?" Siti tidak bisa berbasa basi lagi.


"Ya. Seperti yang bude lihat aku baik-baik saja" Riyu tersenyum riang.


" Sejak kapan kau berias?" tanya Siti curiga.


"Bude, aku sudah menjadi nona di keluarga Mahesa sekarang. Mana mungkin aku akan membiarkan wajahku polos, tidak salah kan? Aku berias juga untuk menyenangkan suamiku"


"Iya. Kau benar." Siti mengangguk menepis kecurigaan nya.


Tapi meskipun Riyu begitu riang dan terpancar senyum di wajahnya, hati Siti masih merasa gusar. Dia banyak diam memandang Riyu saat bercerita kehidupannya yang bahagia, tapi Siti tetap merasa sedih.


Matanya melirik ke pergelangan Riyu yang ada luka lebam melingkar di sana, namun... Siti tidak bisa berucap apapun. Pakaian yang Riyu kenakan seperti sengaja menutupi tubuhnya.


"Riyu. Kapan kau akan berkunjung ke rumah bude? Akan aku ijinkan kau menginap di sana! Aku rasa nyonya Mahesa tidak keberatan bukan?" ucap Siti dengan logat galaknya.


Mendengar permintaan Siti Nita terdiam sesaat, ia menangkap ada suatu maksud dari gelagat Siti.


"Hey Nyonya Mahesa? Tenang saja. Aku hanya butuh Riyu untuk membantuku membereskan rumah dan gudang!" Ucap Siti menghilangkan keraguan pada Nita.


"Jadi begitu? Dasar." gumam Nita dalam hati. "Oke, baiklah. Aku rasa Noval tidak keberatan dengan hal itu"


Riyu terdiam memandang Siti dengan penuh tanda tanya.


"Kau dengar Riyu? Sabtu malam datanglah! Karena Minggu pagi-pagi sekali kita akan mulai beres-beres rumah, kau paham! Ingat jangan terlambat, jika terlambat aku tidak akan segan menghukummu!" ucap Siti lalu berdiri. "Kalau begitu aku akan pergi sekarang"


Siti berpamitan pada Nita, Riyu mengantarnya hingga depan gerbang rumahnya...


Sebelum pergi, Siti memandang Riyu dengan tatapan sedih. Matanya berair. Tangannya dengan lembut membelai pipi Riyu.


"Riyu... Kau tidak pandai berbohong" ucap Siti bergetar.


Siti membalikkan badannya bergegas pergi, menyembunyikan air mata yang langsung meluncur dari kelopak matanya. Sedangkan Riyu terdiam memandang punggung Siti yang berjalan semakin jauh dari pandangannya.

__ADS_1


"Semua ini salahku! Gadis bodoh itu kenapa dia berbohong padaku? Padahal dia tidak baik-baik saja tapi dia terus mengoceh, tersenyum dan tertawa begitu saja!" Ucap Siti saat berjalan pulang.


__ADS_2