Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Sebuah Rekayasa


__ADS_3

Setibanya di kantor, sekertaris langsung menghampiri saat melihat Sam yang baru saja turun dari mobilnya. Wajah sekertaris terlihat cemas, ia mempercepat langkah kakinya untuk menemui Sam.


"Slamat pagi, Tuan Sam" sapa sekertaris. Melihat ekspresi sekertarisnya, Sam menatap seksama. Senyum cerahnya langsung hilang dari wajahnya.


"Pagi. Ada apa?" tanya Sam mencoba menerka.


"Tuan Darma. Beliau sudah menunggumu di ruangan, Tuan" jawabannya gugup.


Sam terdiam mengerutkan kedua alisnya, ia menyerahkan kunci pada Aji untuk memarkirkan mobilnya, lalu bergegas menuju ruangannya.


Ini kedua kalinya Darma menemui Sam secara langsung, jika bukan karena hal penting dia tidak akan buang-buang waktu untuk datang. Terakhir


Darma datang menemui Sam di kantor berakhir dengan buruk, "Apa dia akan memukulku dengan tongkatnya lagi ?!" gumam Sam dalam hati.


Tapi ini lebih baiklah, daripada para bodyguard nya yang datang, pasti akan menghancurkan pintu kantornya lagi.


Sebelum sekertaris membukakan pintunya, Sam berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. Setelah ia siap, Sam mengangguk pada sekertaris, seperti isyarat yang mengatakan "buka pintunya". Sekertaris mengangguk pelan, lalu perlahan tangannya menggapai gagang pintu dan membukanya dengan perasaan yang tegang.


Sam berjalan masuk, matanya menyisir ruangan dan berhenti di sosok pria sepuh yang sedang berdiri menatap keluar jendela.


Dia datang sendirian?, apa dia tau kalau aku mencium cucunya di rumah sakit tadi? Sepertinya aku harus siap dipukul tongkat. Sam mencoba menerka.


Bukan Darma yang ia takuti, tapi lebih tepat takut dengan ucapannya. Takut jika harus disuruh berpisah atau menjauh dari Riyu lagi.


"Selamat pagi Tuan Darma" sapa Sam setelah masuk ke dalam ruangannya, Darma menoleh ke arah Sam dengan tatapan tegas seperti biasanya. Sam mempersilahkan Darma untuk duduk di sofa, merekapun saling menatap satu sama lain.


"Ada angin apa sehingga Tuan Darma meninggalkan singgasana, dan datang ke perusahaan kecilku?" Sam tersenyum menyembunyikan rasa yang penuh tanda tanya dan waspada. Siapa tau tongkat tua itu langsung terbang ke arah wajahnya kan?.


"Kau terlalu merendah anak muda" Sahut Darma kemudian. "Aku ingin membuat suatu perjanjian dengan mu" Tatapan Darma berubah sayu.


"Perjanjian? Hemh. Aku ragu"


"Apa maksudmu?!"


"Seperti biasanya, kau yang membuat perjanjian, tapi nantinya kau juga yang mengingkari. Tuan Darma" Sam menatap tajam.


Darma terdiam menatap Sam dalam, ia tau. Sam masih kecewa atas sikapnya. "Sam, aku sudah sudah tua, aku tidak lagi main-main dengan ucapanku"


"Hemh. Benarkah? Kalau begitu langsung pada intinya saja Tuan Darma"


Darma langsung meletakkan sebuah berkas berwarna biru di atas meja, tepat di depan Sam. Sam merenyitkan alisnya, sebentar melirik ke arah berkas lalu kembali menatap Darma. "Bukalah" Darma mempersilahkan.


Kemudian Sam membuka dan membaca isi berkas itu, wajahnya terlihat serius, ia juga tidak mengendurkan kerutan di alisnya. Usai membaca dengan teliti, Sam kembali menutup berkasnya.


"Apa maksudnya ini? Kenapa kau menunjukkannya padaku?" Sam melempar kembali berkas itu ke atas meja.


"Aku ingin kau menyimpannya. Berjanjilah, kau akan menyimpan dan menjaga berkas itu seperti kau menjaga cucuku" Darma menatap Sam tajam.


"Hahaha" Sam tertawa geli, membuat Darma mengerutkan keningnya. "Kau menyuruhku untuk menjauh dari Riyu, tapi kau menyuruhku untuk menjaganya juga. Dan berkas ini? Aku benar-benar tidak paham apa isi di kepalamu kakek Tua"


Darma menghela nafas panjang, tatapannya beralih menatap lurus ke sebelah kirinya. Sam menangkap dari ekspresi yang tersirat, kesedihan, tekanan, keputusasaan, Darma yang ada di hadapannya seperti bukan Darma yang ia kenal selama ini.


Ada apa ini sebenarnya. Sam bergumam dalam hati.


"Aku belum bisa mengatakan padamu Sam, berjanjilah padaku kalau kau akan menjaga berkas itu. Jangan sampai jatuh ke tangan orang yang salah, dan... " suara Darma terdengar getar. "Aku pasrahkan Riyu padamu" Darma langsung beranjak dari tempat duduknya, melangkah pergi ke luar ruangan Sam.


"Sebenarnya apa maumu kakek Darma! Kenapa kau plin plan sekali? Sebentar menyuruhku jauh dari Riyu, sekarang kau berubah lagi menyuruhku untuk melindungi Riyu. Kau ingin mempermainkan aku?!" suara Sam memenuhi langit-langit ruangan.


Langkah kaki Darma terhenti, ia diam mematung di tempatnya berdiri sekarang.


"Aku sengaja memakimu, aku sengaja menyuruhmu jauh darinya."


"Apa tujuanmu melakukan itu semua?!"


"Karena aku ingin memberikan informasi palsu pada mata-mata yang mengintai, Sam! Aku ingin mereka mendengar bahwa aku tidak merestui kalian! Biar mereka mengira kalau aku membencimu! Dengan begitu, mereka tidak akan curiga kalau aku menitipkan berkas berlian itu padamu!" jelas Darma.

__ADS_1


Darma berbalik menatap Sam dengan wajah yang merah padam. "Perusahaanku sedang terancam sekarang, dan jika esok aku mati, setidaknya aku sudah tenang karena telah memberikan berkas tambang berlian padamu" ucap Darma dengan suara yang lebih rendah.


Sam tersentak mendengar kejelasan dari Darma, ia baru sadar kalau sikapnya selama ini memang ada suatu alasan di baliknya. Sam jadi merasa bersalah karena telah salah paham pada Darma.


"Kakek, kau orang terkuat di kota ini bukan? Kenapa kau malah putus asa seperti ini?! Kerahkan seluruh kekuatanmu untuk melawan mereka!"


"Akan aku coba. Tapi bahkan sampai detik ini aku belum menemukan siapa penghianat itu. Bahkan aku sampai mencurigai orang kepercayaan ku" ucap Darma bergetar sambil mengalihkan pandangannya.


"Maksudmu, Bayu?" tanya Sam.


Darma hanya menjawab dengan tatapannya. "Kalau begitu bagaimana dengan ku? Kau menyerahkan begitu saja berkas itu kepadaku!"


"Karena aku percaya padamu" ucap Darma lugas menatap Sam seksama. Setelah itu, Darma berbalik lalu keluar dari ruangan Sam.


Sam kembali duduk di sofanya, cukup lama ia memandangi berkas yang di berikan Darma tadi. Ternyata laki-laki tua itu sedang menghadapi masalah yang sulit. Namun siapa musuhnya? Hingga bisa membuat Darma begitu cemas, bahkan tidak bisa menyelidiki dan mencurigai orang terdekatnya.


Sam berfikir keras, masih terdiam bersandar di kursi sofanya. Apa Noval keparat itu terlibat dalam kasus ini? Tapi dia terbukti tidak melakukan apapun di rumah kakek Darma. Apa mungkin Bayu menghianatinya?! Selama ini bukankah dia sudah lama menjadi bayangan kakek Darma? Bahkan sudah ada di belakangnya dari Tuan Galuh masih kecil.


Cukup lama Sam bergelut dengan fikirannya sendiri. Entah apa yang membuat tersentak, Sam langsung menyuruh Aji masuk ke dalam ruangannya.


"Ada apa Bos? Apa Tuan Darma memukulmu?" Aji cemas setelah masuk menemui Sam.


"Bukan Darma yang memukulku, tapi kau yang akan memukulku. Ayo cepat!"


"Apa?" Aji tidak mengerti atas dasar apa Sam memintanya untuk memukulnya.


"Sudah lakukan saja! Pukul aku sekarang!" Bentak Sam.


"Tapi Bos."


"Cepat!" Bentak Sam lebih keras. Buukkk. Sontak Aji reflek langsung memukul wajah Sam. Ia bangkit lagi dan kembali berdiri tegap di hadapan Aji.


"Lagi!" ucap Sam.


"Apa? Bos kau... " Aji benar-benar tidak mengerti, kenapa Sam melakukan hal gila semacam ini.


"Bos!" Aji langsung memapah Sam untuk bangun.


"Arrhh, brengsek kau! Kenapa memukul keras sekali! Kau sengaja ya!" umpatnya pada Aji.


Bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk memukulmu? Dasar... "Maaf bos" cukup jawab begitu saja, daripada urusan runyam nanti. Aji memapah Sam duduk di sofa.


"Kau dengar, aku ingin orang-orang mengira kalau Darmalah yang memukulku karena aku menggoda cucunya. Sebarkan berita ini, kau mengerti" ucap Sam menatap dingin.


"Bos apa kau gila? Kau fitnah Tuan Darma bisa runyam... "


"Cukup lakukan tugas yang aku perintahkan Aji, aku tidak ingin mengulang kata-kata ku lagi!"


"Baik Bos" patuh. Aji benar-benar di buat bingung oleh kelakuan Sam kali ini. Tapi, dia paham, kalau Sam bertingkah gila seperti ini pasti ada alasannya.


Setelah menyeka darah yang keluar dari ujung bibirnya tadi, Sam mengambil berkas itu dan bergegas pergi. "Aji, kita pergi. Ada urusan yang harus aku lakukan"


"Baik Bos" jawab Aji singkat tanpa banyak bicara, padahal di hatinya, ia penasaran. Tapi dia belum berani banyak tanya, diam, dan mengikuti Sam di belakang punggungnya.


Saat Sam keluar dari ruangan, sekertaris langsung menghampirinya. Ia cemas terjadi apa-apa pada Sam, karena Tuan Darma keluar dari ruangannya dengan wajah yang marah. Sekertaris terkejut melihat wajah Sam yang babak belur, "Apa yang terjadi? Apa Tuan Darma memukul Tuan Sam lagi?" Dalam hati sekertaris bertanya-tanya.


"Sekertaris, atur ulang jadwalku. Batalkan semua acara dan pertemuan hari ini!" ucap Sam pada sekertaris yang berjalan beriringan di belakang punggungnya.


"Baik Tuan" ucap sekertaris membungkukkan badannya, tanpa banyak bertanya. Setelah Sam dan Aji menghilang dari pandangan matanya, sekertaris bergegas melaksanakan tugasnya.


*****


Keesokan harinya...


Rekayasa dan rencana Sam benar-benar berjalan mulus, gosip tentang Darma yang memukul Sam di kantornya sampai di telinga Riyu. Sudah lama tidak masuk kantor, setibanya di sana, Riyu langsung mendapat laporan itu dari asistennya. Usai mendengarkan kronologi dari mulut asistennya, Riyu bergegas menemui Darma di kantornya.

__ADS_1


"Selamat pagi Nona Riyu" sapa sekertaris Darma ramah menyambut kedatangannya.


"Pagi. Apa Kakek ada?"


"Beliau ada di ruangannya seperti biasa, Nona"


Sekertaris Darma mengantar Riyu sampai depan ruangan Darma. Selama perjalanan mereka hanya diam, melihat ekspresi Nona Riyu yang masam, sekertaris tidak berani banyak bertanya.


"Silahkan Nona" sekertaris menjulurkan tangannya mempersilahkan Riyu masuk.


Setelah pintu di buka, Riyu langsung masuk menemui Darma yang sepertinya sedang ngobrol dengan Bayu.


"Kakek, aku mau bicara"


Darma menoleh ke arah cucunya yang sudah berdiri lurus menatapnya. Darma tau, Riyu datang pasti ingin menegurnya karena gosip itu. Darma melambaikan tangan pada Bayu, sebagai isyarat kalau dia harus meninggalkan ruangannya. Isyarat Darma langsung ditangkap oleh Bayu, ia membungkukkan badannya, lalu menutup pintu rapat-rapat.


Kini. Ruangan senyap hanya ada Darma dan Riyu. "Kakek kenapa kau memukul Sam? Apa salahnya?" tanya Riyu kesal.


"Kau baru sampai, duduklah terlebih dahulu" Jawab darma santai.


Riyu langsung membanting tubuhnya di atas sofa, tepat di samping Darma. "Baiklah, sekarang jelaskan padaku"


"Jelaskan apa?" Darma menatap Riyu heran.


"Tentang kenapa kakek memukul Sam! Apa salahnya? Apa karena dia menciumku di rumah sakit waktu itu? Pasti mata-mata kakek yang melapor padamu kan? Dan kau langsung menghampiri Sam lalu memukulnya!"


"Apa?! Kau bilang? Sam menciummu dirumah sakit?!" Darma benar-benar terkejut.


Melihat reaksi Darma yang begitu kaget, Riyu langsung menutup mulutnya dengan tangan. Jadi, apa kakek tidak tau tentang itu? Matilah aku. Gumam Riyu dalam hati.


"Ehem. Sudah jawab saja Kek, kenapa kau memukul Sam?!" ucap Riyu mengalihkan pembicaraan, padahal dia sendiri malu karena keceplosan barusan.


"Kakek tidak memukulnya" Darma menggelengkan kepalanya, memasang wajah yang benar-benar tidak tau apa-apa.


"Kakek jangan bohong sama Riyu ya!" ucap Riyu memastikan menatap seksama.


Darma mengangguk, meyakinkan Riyu kalau dirinya tidak memukuli Sam. "Apa kau lebih percaya pada pemuda tengil itu daripada kakek?"


"Tapi. Tapi orang bilang, muka Sam babak belur setelah kakek menghampirinya di kantor kemarin." Riyu masih dengan pendiriannya.


"Ternyata anak tengik itu memiliki ide yang licik juga ya! Memukul wajahnya sendiri lalu memakai nama kakek untuk kesalahannya" Darma tertawa terkekeh.


"Apa?!" Riyu tidak percaya. Kenapa Sam segila itu sampai-sampai dia memukul wajahnya sendiri. Jika kakek jujur, lalu apa maksudnya memfitnah kakek seperti ini?! Riyu mengepalkan tangannya.


"Kalau begitu, biar aku yang akan memberi perhitungan dengannya kek! Beraninya dia memfitnah mu dan mencemari nama baikmu!" ucap Riyu geram, ia beranjak dari duduknya, tapi Darma menarik tangannya hingga Riyu duduk lagi di tempat semula.


"Ada apa kek? Kenapa kau menahan ku?! Meskipun aku mencintai Sam, aku tidak akan membiarkannya menyakitimu dengan cara seperti ini!" kesal.


Darma tertawa ringan, ia menepuk-nepuk punggung tangan Riyu dengan penuh kasih. "Sam, tidak menyakiti kakek. Justru dia membantu Kakek" Darma tersenyum.


Sedangkan Riyu masih tidak mengerti, apanya yang membantu? Bukankah malah membuat nama Darma buruk di mata orang-orang?


Karena tidak ingin cucunya salah paham, Darma menceritakan tujuan sebenarnya. Mau bagaimana juga, siap tidak siap, Riyu harus tau semuanya. Darma memberi tau kalau perusahaannya sedang di ambang kehancuran.


"Apa?! Gak mungkin!" tersentak Riyu mendengar penjelasan Darma. Tidak menyangka kalau selama ini kakeknya menyembunyikan masalah yang begitu berat.


"Riyu, kemarin Kakek sengaja menemui Sam ke kantornya. Sedangkan Sam sengaja membuat wajahnya babak belur dan menuduh kakek memukulnya itu untuk pengalihan berita"


Riyu mulai paham, tapi dia juga mulai gemetar, hatinya bertanya-tanya musuh seperti apa yang bisa membuat Darma runtuh seperti ini.


"Riyu, apapun yang terjadi kau tidak boleh menyerah atau terpuruk. Jika esok aku tiada nanti, berdirilah tegap bersama Sam. Kakek percaya dia akan bisa melindungi dan membantu mu. Riyu, jangan bahas apapun termasuk masalah ini di luar. Bahkan dinding kediamanku saja telah menghianati ku, kau bisa jaga rahasia ini kan?" Darma menepuk pundak Riyu.


Sedangkan wajah Riyu mulai pasih karena mendengar pernyataan Darma, matanya sudah berair sekarang. "Kakek. Kita berdiri sama-sama okey, kita akan menyelesaikan masalah ini sama-sama kek" ucap Riyu gemetar.


"Kakek, kau akan tetap bersama kami. Aku dan Sam akan berusaha membantu kakek, Riyu janji kek" Riyu merengkuh Darma, memeluknya erat.

__ADS_1


Darma hanya mengangguk, ia tidak ingin membuat Riyu lebih khawatir lagi. Meskipun hatinya di penuhi keraguan, tapi setidaknya ada rasa Damai menyertainya.


__ADS_2