Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Kesetiaan


__ADS_3

Cuaca pagi itu cukup mendung, ditambah lagi angin yang berhembus menambah suasana terasa dingin. Riyu berdiri di balkon apartemen memandang kota, sesekali ia menikmati rambutnya tersibak terbelai angin lembut. Ia termenung, namun tidak tau apa yang ia renungkan. Meskipun Riyu tersanding suami dan kakek tercinta namun dirinya masih merasa ada sesuatu yang kurang. Riyu mencoba menemukan jawaban diingatannya, namun semua gelap tak tersisa.


"Riyu. Cuaca sangat dingin, kenapa kau berada di luar!" Tegur Darma mendekati Riyu.


"Kakek kau mengejutkanku. Aku rasa cuaca seperti ini sangat bagus kek, ga panas" Riyu tersenyum.


"Kau benar, tapi jika berlama-lama di sini kau bisa demam"


Darma menghela nafas panjang, seketika itu juga asap tipis keluar dari mulutnya. Suasana menjadi hening sesaat, sampai akhirnya Riyu membuka sebuah obrolan.


"Kakek..." ucap Riyu lirih dengan wajah tertunduk. Darma memandang Riyu yang terlihat resah.


"Seperti apa kota Y? Tidak ada satupun yang Riyu ingat di sana"


Darma terdiam menatap Riyu seksama,


"Banyak kenangan di kota Y Riyu, di sanalah orang tuamu mampu berdiri menguasai seluruh penjuru. Kau harus siap untuk itu" jawab Darma diiringi tawa ringannya.


"Hanya itu? Apa tidak ada yang lain?" Riyu menatap Darma tajam. "Aku merasa kalau ada sesuatu di sana, kakek pasti tau kan? Kenapa kakek menyembunyikannya!"


"Riyu adakalanya kenangan buruk memang harus hilang dari ingatan kita. Kau sudah bahagia dengan Noval, lalu apalagi?! Lebih baik kau fokus memikirkan masa depanmu!" Ucap Darma yang langsung meninggalkan Riyu di balkon.


"Maafkan aku Riyu. Kau harus memulai hidup yang baru setelah ini" ucap Darma dalam hati sambil berjalan menuju mobilnya.


"Selamat pagi kek" sapa Noval yang kebetulan berpapasan di pintu utama.


"Pagi" jawab Darma memandang Noval dengan penuh arti. Setelah itu Darma masuk ke dalam mobilnya.


Noval masuk ke dalam rumah, sesampainya di kamar ia meletakkan tas laptop nya di sofa. Mata Noval menangkap Riyu yang sedang terdiam di balkon, sambil mengendurkan dasinya, Noval mendekatinya.


"Apa ada masalah dengan kakek Darma? Sepertinya dia terlihat kesal" tanya Noval yang tiba-tiba muncul di samping Riyu.


"Tidak ada, kami cuma ngobrol biasa" jawab Riyu tanpa menoleh ke Noval sedikitpun.


Noval yang gemas dengan tingkah Riyu langsung menarik tangannya sampai Riyu berada tepat di depan tatapannya. "Berhentilah bersikap angkuh Riyu, aku suamimu!" ucap Noval menggeletakkan gigi.

__ADS_1


"Lalu kenapa? Kau tidak bisa memaksaku dalam segala hal termasuk dalam menyentuhku!" Riyu menatap tajam.


"Kau..." Noval geram. Tapi ia buru-buru meredam amarahnya.


Riyu bergegas pergi dari hadapan Noval tanpa mengucapkan apapun. "Untuk sementara ini aku akan bersabar Riyu, tapi jangan salahkan aku jika suatu hari aku tidak mampu menahan diriku!" ucap Noval memandang Riyu yang semakin jauh dari matanya.


Selanjutnya Noval berjalan menuju lemari kaca yang berisi anggur, ia menuangkan ke dalam dua gelas dan membawakannya untuk Riyu. "Kali ini, kau harus berhasil menjadi mainanku" ucap Noval menyeringai.


"Baiklah sayang, aku minta maaf" ucap Noval tersenyum sambil menyodorkan gelas anggur kepada Riyu.


Sebelum menerima anggur itu Riyu memandangnya, Noval tau Riyu tidak kuat dengan alkohol dan mengambil kesempatan itu. "Apapun yang kau pikirkan mungkin akan lebih rileks jika kau meminumnya"


Riyu terdiam, meskipun ragu Riyu menerima gelas itu, ia menatap Noval sejenak lalu seketika menengguk anggur hingga tak tersisa. "Bisa kau tuangkan lagi?" Ucap Riyu menatap tegak ke arah Noval.


"Dengan senang hati" ucap Noval tersenyum puas.


Riyu terus menengguk hingga habis beberapa gelas anggur, pandangannya mulai kabur dan tubuhnya terasa lunglai, sampai-sampai Riyu berdiri dengan sempoyongan. Sampai tenggukan yang terakhir Riyu sudah tidak mampu berdiri lagi, Noval menopang Riyu dengan kedua tangannya lalu memapahnya ke dalam kamar.


"Kau benar. Aku lebih rileks sekarang" celoteh Riyu dengan nada mabuknya dan tertawa lepas.


"Hah?" Noval berhenti melangkah menatap Riyu dengan wajah aneh. "Terserahlah aku tidak peduli" ucap Noval lagi.


"Ya, apa boleh aku menamparmu sekarang?"


"Riyu kau sangat jujur saat mabuk, sekarang diamlah! Aku akan mengajakmu untuk melakukan sebuah permainan" Noval menggendong Riyu menuju tempat tidur. "Kali ini kau tidak akan bisa menolakku Riyu, jadilah mainan yang baik!"


Memang benar, tenaga Riyu tidak mampu menolak Noval saat itu. Matanya terpejam, pasrah dengan apa yang akan Noval lakukan padanya.


*****


Sam mengetikkan jarinya dikeyboard laptop dengan cepat, perasaan kesal tiba-tiba muncul, kenangan pada saat ia menyentuh Riyu tiba-tiba menyeruak jelas di pikirannya.


Brraakkk.... Brraakkk.... Brraakkk.... Praanggg....


Sam menghentakkan tangannya di keyboard itu dan langsung melempar laptop hingga hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Sam mencengkram erat kepalanya, menahan debar jantung yang kian berdegub kencang. "Haarrgghh!" teriak Sam meluapkan kekesalannya.


Tak lama kemudian Aji masuk ke dalam ruangan Sam, ia melihat laptop yang berhamburan dan Sam yang sedang mencengkram kepalanya.


"Bos apa yang terjadi!" Aji mendekat. Ia khawatir jika Sam kembali merasakan cidera karena lukanya dulu.


"Pergilah dan jangan ganggu aku!" Sam menatap Aji tajam dengan mata merahnya lalu melangkah pergi begitu saja.


Mahesa yang sedang menemui klien di ruang tunggu melihat Sam berjalan dengan langkah cepat menuju lobby. "Sam. Sam!" Panggil Mahesa, tapi Sam tidak berpaling sedikitpun.


Tak lama kemudian terlihat Aji yang bergegas menyusul Sam, "Apa yang terjadi pada Sam?!" Tanya Mahesa.


"Saya masih belum tau Pak, Anda jangan khawatir, biar saya yang menyusulnya" Aji berpamitan untuk segera menyusul Sam.


Cukup lama Aji memutari perbatasan kota, tapi dia tidak menemukan jejak Sam sama sekali. Namun ada satu tempat yang belum ia kunjungi, bukit di atas danau kota Y. Aji langsung membelokkan mobilnya menuju jalan menanjak, setelah sampai di puncak bukit ia melihat Sam yang sedang duduk termenung di atas sebuah batu menghadap senja.


"Kenapa semua orang menyembunyikan Riyu dariku Aji. Kenapa! Sedangkan Noval yang telah menyakitinya bisa dengan bebas bersanding di dekatnya"


Mendengar ucapan Sam, Aji sama sekali tidak mampu menjawab apapun. Dalam masalah ini tidak ada satupun yang mampu menghibur Sam kecuali Riyu. Aji berdiri di samping Sam memandang senja yang indah.


"Bos. Seekor merpati harus berjuang melawan burung yang lebih besar dari ukurannya bahkan elang sekalipun untuk mempertahankan pasangannya, merpati juga di kenal sebagai burung yang setia. Baik jantan atau betina"


Aji menghela nafasnya kemudian melanjutkan ucapannya. "Yakinlah, meskipun terjadi sesuatu pada Nona Riyu, Ia akan selalu mengingatmu di hatinya" Aji berbalik lalu menepuk pundak Sam, tatapan matanya menyiratkan Sam tidak perlu khawatir, setelah itu Aji kembali ke mobilnya.


"Tanang kan dirimu, setelah itu kembalilah. Aku akan menraktrir mu wiski jika kau kembali nanti" teriak Aji lalu melajukan mobilnya meninggalkan Sam.


Apa yang di ucapkan Aji membuat Sam merasa sedikit lega, namun tetap saja... Sebelum matanya bertemu Riyu, Sam masih belum bisa tenang. Hari mulai gelap, namun Sam masih enggan beranjak dari tempat duduknya.





__ADS_1


__ADS_2