Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Ijin


__ADS_3

Hari ini memang tugas kuliah cukup padat, Casandra memundurkan kursi mobilnya lalu bersandar, sesekali ia melirik Anan dengan kesal. Tapi tidak ada lagi omelan yang bisa ia ungkapkan karena sudah merasa lelah hari ini.


Mata sayu Casandra menatap kosong ke luar jendela, satu persatu gedung tinggi telah dilewati dengan kecepatan sedang. Semilir AC mobil menambah rilex, Casandrapun mulai terpejam. Menyimpan tenaganya untuk nanti malam, semoga kau bisa merayu Ayahmu ya Casandra. Hmmm.


Anan masih fokus dengan kemudinya, sesekali ia melirik Casandra yang sedang tidur pulas di jok sampingnya. Aku ngga nyangka kalau selama ini dia adalah putri dari Tuan Sam yang misterius itu. Hmh. Anan tersenyum menggelengkan kepalanya.


Meskipun sempat di bohongi oleh Casandra, tapi rasa kesal Anan mulai hilang. Ia paham, Casandra adalah gadis yang sederhana meskipun dia adalah anak konglomerat di kota. Sedikitpun ia tidak pernah mengungkapkan siapa dirinya. Berbeda dengan gadis lain yang begitu bangga menguluh-uluhkan kekayaan orang tuanya.


Dari fashion, fasilitas, Casandra terlihat sederhana meskipun dirinya memiliki segalanya.


Beberapa waktu berlalu, mobil sudah memasuki gerbang utama kediaman Sam. Tapi Casandra masih terlihat tidur pulas.


"Selamat sore Tuan Anan" sapa Tira pelayan Casandra.


"Tuan Anan? Jangan panggil saya dengan sebutan itu. Panggil saja saya Anan" ucap Anan keberatan.


"Em... Baik, Anan. Oh iya, mana Nona muda?"


"Dia masih tidur di dalam mobi. Tira, bisa tolong kau siapkan kamarnya? Biar aku bawa Nona muda ke atas. Kasihan jika dia harus tidur di dalam mobil."


Tira terdiam sesaat, khawatir. Gimana kalau pas Anan membawa Nona mudanya terus ditengah jalan terbangun? Otomatis bogem mentah langsung meluncur. Begitulah pikir Tira.


"Kenapa? Kau tenang saja aku tidak akan berbuat yang macam-macam" ucap Anan jujur.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan menyiapkan kamarnya" Tira bergegas.


Dengan sangat hati-hati, Anan mulai mengangkat Casandra yang masih tidur pulas ke dalam gendongannya. Tidak ada perlawanan, bahkan suara, hanya gerakan kepala lunglai dari Nona muda yang sangat mengantuk.


Sesampainya di kamar Anan menggeletakkan Casandra pelan-pelan, melepas topi dari kepalanya, juga sepatu yang masih di pakai Casandra.


Kau manis juga saat tertidur seperti ini Nona, setidaknya duniaku sedikit damai. Gumam Anan sebelum menutup pintu tanpa suara.


Anan berlari kecil saat menuruni tangga, hatinya lega karena tugasnya hari ini slesai dengan lancar. Meskipun masih ada hari esok yang seterusnya yang pasti tidak kalah repotnya. Di ujung tangga, langkah kaki Anan terhenti saat matanya menangkap sosok tenang yang sudah duduk menatapnya di ruang tengah.


"Selamat sore Tuan" sapa Anan agak gugup. Ia baru saja menggendong Casandra ke kamar, pasti Sam akan marah padanya. Anan bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Kau cukup baik mengatasi putriku yang keras kepala itu, luar biasa" ucap Sam tersenyum.

__ADS_1


Namun tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir Anan, dia sendiri tidak mengerti kenapa Sam tidak memarahinya. Bukannya dia sangat murka kalau ada seseorang yang berani menyentuh putrinya?


"Hari ini aku cukup mengawasimu. Mengerjai putriku hingga ketakutan, membuatnya kesal, bahkan berlari sampai hampir kehabisan nafas!" Sam menatap dingin. "Bahkan aku sendiripun tidak pernah melakukan itu padanya"


"Maafkan saya Tuan, saya siap dihukum" ucap Anan pasrah.


"Bagus kalau kau menyadarinya. Tentu aku akan menghukummu" jawab Sam dengan nada datar.


Anan terdiam, menunggu hukuman apa yang akan diterimanya.


"Sore ini kau tidak boleh pulang. Aku akan menambah tugas kerjamu. Sekarang pergilah, aku sudah menyiapkan kamar untukmu. Aku akan memanggilmu nanti" ucap Sam menatap tajam.


"Baik Tuan" jawab Anan, ia menunduk sopan lalu beranjak dari tempatnya berdiri.


Ada kecemasan di hati Anan, apa hukumannya? Apa Tuan Sam akan memukulnya hingga babak belur? Atau bahkan sampai nyawanya hilang. Gumam Anan dalam hati sambil terus berjalan menuju rumah belakang. Matilah aku.


*****


Lenguhan mulai keluar dari bibir Casandra, sepertinya dia cukup lama tidur saat itu. tangan dan kakinya bergerak meregangkan otot-otot di seluruh tubuhnya.


"Hah. Dimana aku?" ucap Casandra yang baru sadar kalau dirinya sudah berada di kamarnya sendiri. Ia bangun masih dengan baju yang ia pakai kuliah tadi.


"Tuan Anan yang membawamu ke kamar, Nona" ucap Tira yang datang menyiapkan pakaian.


"Apa maksudmu?" Casandra memicingkan matanya.


"Tadi Nona ketiduran di mobil, karena takut Nona tidak nyaman akhirnya tuan Anan menggendongmu ke sini" jelas Tira.


"Apaaa! Jadi dia menyentuhku?"


"Dia hanya menyentuhmu untuk membawamu ke kamar nona, Anan melepas topimu, sepatumu, menyelimutmu, setelah itu dia pergi. Anan tidak melakukan apa-apa yang membahayakanmu" jelas Tira lagi.


Casandra terdiam sesaat. "Tapi tetap saja dia menyentuhku! Jam berapa sekarang?"


"Jam 6, Nona"


"Aduh, aku harus bersiap sekarang. Tira, tolong siapkan baju pergiku." ucap Casandra langsung bergegas beranjak dari tempat tidurnya.

__ADS_1


"Baik, Nona"


Tirapun mulai sibuk memilih baju untuk nonanya. Sedang disisi lain, Casandra termenung dibawah shower yang mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Apa benar pria menyebalkan itu menggendongku ke kamar? Tapi meskipun dia bersikap baik padaku, jangan harap aku akan luluh dan memaafkannya. Gumam Casandra dalam hati.


Namun selain itu juga tetap masih ada yang mengganggu pikirannya, Riko, bisa tidak ya dia mendapatkan ijin dari ayahnya untuk pergi berkencan malam ini?. Membayangkan ekspresi ayahnya, air yang terasa hangat jadi dingin saat itu juga.


*****


Ding dong....


Bel pintu berbunyi. Seorang pelayan segera membuka pintu. Senyum hangat terpampang dari seorang pemuda yang berpakaian santai, celana jeans, kaos putih yang sangat pas di tubuhnya yang sempurna.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" ucap si pelayan.


"Bisa saya bertemu dengan tuan Sam dan nona Casandra?" ucap Riko ramah.


"Baiklah, silahkan tunggu sebentar, Tuan" jawab si pelayan. Ia kemudian masuk dan tak berselang lama kemudian muncul lagi.


"Silahkan masuk Tuan, tuan Sam sudah ada di ruang tamu."


Riko menghela nafas panjang untuk meredam rasa gugupnya, karena kali ini yang ia hadapi adalah singa jantan yang sulit sekali untuk didekati.


"Selamat malam, Om Sam" sapa Riko ramah.


"Duduklah" jawab Sam santai. "Ada perlu apa kau datang kemari Nak?" tanya Sam tersenyum lembut.


"Om, Riko datang kemari untuk meminta ijin langsung untuk mengajak Casandra jalan-jalan"


"Berkencan maksudmu?"


"Iya Om" jawab Riko sedikit tersipu.


"Oh, sepertinya putriku sudah mulai dewasa" ucap Sam terkekeh. "Pelayan, panggil putriku jika dia sudah siap"


"Baik Tuan." pelayan langsung melaksanakan tugasnya.


"Jadi Om Sam mengijinkan?"

__ADS_1


"Tentu" jawab Sam singkat.


Sam dan Riko berbincang ringan, mereka cukup akrab dan hangat karena memang, orang tua Riko adalah salah satu sahabat Sam. Ditengah perbincangan mereka, Casandra datang dengan pakaian yang sudah rapi.


__ADS_2