
Tragedi malam tahun baru menjadi pemberitaan utama di setiap layar televisi, di kabarkan ada sekitar 107 orang yang meninggal akibat kecelakaan robohnya kincir raksasa. Tahun baru yang seharusnya di rayakan dengan penuh suka cita, tapi malah menjadi perayaan yang berkabung.
Noval termenung memandang Riyu yang masih terbaring di ranjang rumah sakit, Riyu mengalami syok dan beberapa bagian tubuhnya terdapat luka sayatan akibat tergores ranting pohon.
Tapi keadaan Sam bisa di bilang parah, dia mengalami pendarahan di kepala, selain mendapatkan luka sobek, Sam juga mengalami patah tulang rusuk. Seluruh keluarga mengerahkan perawatan dan dokter terbaik untuk menyembuhkan Riyu juga Sam.
"Noval, Bagaimana keadaan Riyu? Apa dia sudah sadar?" Tanya Nita yang baru saja masuk.
"Belum" Jawab Noval singkat.
Nita melihat ada kemarahan di mata putranya, "Dari hasil penyelidikan ledakan pada kincir bukanlah tidak sengaja, apa kau mengetahui sesuatu tentang ini?" Nita menatap Noval dalam.
"Mangsur!" Ucap Noval mengepalkan tangannya, ia pun beranjak dari kursinya bergegas pergi. Sedangkan Nita hanya terdiam memandang Noval yang sudah menghilang di balik pintu.
Di lorong rumah sakit ada Lila yang akan menjenguk Sam, saat itu juga dia berpapasan dengan Noval yang menatapnya tajam.
"Noval... Bagaimana keadaan Sam..."
Plaakkk.....
Tamparan keras mendarat di pipi Lila. Lila sangat terkejut Noval menamparnya tanpa ragu, ia memandang Noval sambil memegangi pipinya yang terasa perih.
"Kau masih berani datang dengan wajah memuakkan mu itu? Seharusnya kau tau malu!"
"Noval... A... Aku tidak bermaksud..." Lila terbata, air mata mulai mengalir dari matanya.
Tanpa memperdulikan Lila lagi, Noval berjalan melewatinya. Lila masih berdiri terisak melihat Noval yang semakin jauh dari pandangannya.
****
***Perusahaan Mangsur**
Braaakkk*.....
Pintu ruangan Mangsur terdobrak sangat keras, Mangsur yang sedang sibuk dengan pekerjaannya kaget dan langsung berdiri melihat ke seseorang yang mendobrak pintunya.
Ternyata dia adalah Noval, yang terlihat sangat marah berjalan cepat ke hadapannya....
__ADS_1
"Noval kau..." Mangsur terperangah.
"Kenapa? Apa kau terkejut karena aku baik-baik saja!" Ucap Noval seraya mencengkram erat kerah leher Mangsur. "Aku kira kita adalah partner, tapi ternyata kau juga berniat membunuhku!"
"Noval... I... Ini tidak seperti apa yang kau pikirkan" Mangsur terbata karena merasa tercekik akibat cengkeraman itu.
"Apa lagi alasanmu ha!" Noval menghempaskan Mangsur hingga dia tersungkur ke lantai.
"Noval kau tenang dulu! Biar aku jelaskan semuanya" Mangsur menyeret tubuhnya ke belakang untuk menghindari Noval. Tapi dengan cepat Noval kembali mencengkram Mangsur dan menariknya berdiri tepat di hadapannya.
"Kau memang orang ternama di kota S Mangsur, tapi kau lupa... Kalau kau sedang bermain-main dengan ketua geng hitam! Nyawamu seperti semut jika sudah berada di tanganku!" Ucap Noval menggeletakkan giginya.
"Noval... Kau tenang, biar aku jelaskan semuanya padamu. Oke." Wajah Mangsur mulai terlihat pucat dan berkeringat. Noval melepaskan cengkeramannya dan menatap Mangsur menunggu kejelasan.
Beberapa detik Mangsur mencoba mengatur nafasnya sambil merapikan dasinya.
"Memang aku yang memasang bom di kincir itu Noval, tapi aku memilih bom dengan ledakan yang tidak terlalu besar. Aku sendiri tidak sangka kalau akibatnya se-fatal ini!" Ucap Mangsur lalu ia kembali menarik nafas panjang. Sedangkan Noval masih diam mengamati.
"Aku tidak berniat memcelakai mu! Aku pikir yang ada di dalam kincir itu adalah Sam dan Lila, jadi saat bom merusak mesin kincir mereka akan terjebak berdua lebih lama di kincir. Aku ingin agar mereka lebih dekat"
"Tapi karena kebodohan mu! Sam dan Riyu jadi makin dekat, Mangsur!" Bentak Noval.
"Dengan ini Sam pasti akan mendapatkan peluang untuk dekat dengan Riyu, jika itu sampai terjadi maka dia pun akan semakin berusaha menghalangiku untuk mengorek informasi!"
Mangsur terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Apa yang di ucapkan oleh Noval ada benarnya juga, dia pun tidak akan mendapatkan apa-apa jika sampai rencana itu gagal.
"Ingat Mangsur.... Aku sedang bermain lembut sekarang, karena jika sedikit saja menggores kulitnya, maka Darma tidak akan mengampuniku. Aku tidak mau mati konyol dengan tangan kosong!"
"Aku minta maaf Noval, lain kali aku tidak akan bertindak konyol lagi" Mangsur mencoba membujuk Noval.
"Jika sampai kau menyakiti Riyu lagi, aku tidak akan segan membuat putri tunggalmu merasakan hal yang sama" Noval berbalik melangkah menuju pintu.
"Noval jangan sampai karena peran lembut mu, kau menjadi luluh dan jatuh hati pada Riyu!"
Mendengar ucapan Mangsur, langkah Noval terhenti. Namun tidak ada kata-kata yang di ucapkan oleh Noval, tanpa berbalik ia pun beranjak pergi dari ruangan itu.
"Hem... Sepertinya kau tidak bisa sepenuhnya di andalkan, Noval!" Gumam Mangsur dengan seringainya.
__ADS_1
****
RUMAH SAKIT
Sam mulai sadar dari pingsannya, matanya mulai terbuka perlahan. Tepat di sisinya, Tuan Darma duduk memandang Sam dengan tatapan sayu...
"Ada apa kakek tua? Kau mengkhawatirkan aku hem?" Ucap Sam dengan suara berat sambil melempar senyum sinis.
"Dalam keadaan seperti ini jangan coba-coba menggodaku Nak, aku bisa mencekik mu dengan mudah" Ucap Darma menatap Sam dingin.
Tawa kecil diiringi batuk terurai dari bibir Sam, Darma merasa sangat bersalah. Ia memandang Sam dengan mata yang mulai berair, perasaannya menyampaikan kalau dirinya benar-benar menyayangi Sam, merasa terluka saat Sam terluka, tapi Darma tidak bisa mengungkapkan itu semua...
"Kau sudah terlalu banyak berkorban untuk Riyu, Sam. Bahkan tidak pernah memikirkan nyawamu sendiri, kau selalu mengorbankan dirimu untuk cucuku... Sam... Kau membuatku sangat tersiksa dengan penyesalan ini!" rintih dalam hati Darma.
"Bagaimana dengan keadaan Riyu?" Tanya Sam menatap kosong langit-langit kamar rumah sakit.
"Dia baik-baik saja, lukanya tidak terlalu parah. Hanya saja Riyu mengalami syok karena kejadian itu" Jelas Darma mengusap pipinya.
"Hei... Apa kau menangis kakek tua?" Tanya Sam.
Darma memalingkan wajahnya, "Ayolah, aku ingin melihat ekspresi mu" goda Sam lagi.
"Sudah ku bilang jangan menggodaku!" Darma yang kesal dan malu langsung mencubit pinggul Sam hingga Sam berteriak minta ampun.
"Oke... Oke aku tidak akan menggoda mu lagi, itu terasa sakit kakek tua!" Protes Sam.
kegaduhan itu terdengar sampai keluar sehingga Mahesa dan Aji langsung datang menghampiri...
"Apa yang terjadi?!" Tanya Mahesa dengan ekspresi panik.
"Tolong aku! Kakek tua ini berusaha membunuhku!" Ucap Sam meringis karena nyeri.
"Aku tidak hanya akan membunuhmu tapi juga mencincang mu! Mahesa! Putramu harus di didik lagi tentang tata Krama!" Ucap Darma kesal.
Keisengan Sam ternyata tidak jauh berbeda dengan Galuh waktu muda, selain Sam hanya Galuh yang mampu menggodanya hingga membuat wajahnya merah merona.
Melihat kelakuan keduanya Mahesa tertawa ringan, "Sam... Aku berterimakasih padamu karena telah menyelamatkan Riyu" ucap Darma menatap Sam dalam.
__ADS_1
Ekspresi Sam berubah, ia terdiam... Darma tau apa yang Sam siratkan di wajahnya, Darma menunduk sesaat dan menghela nafasnya. "Maafkan aku" Darma menepuk lembut pundak Sam, ia pun beranjak pergi.
Tidak ada kata-kata yang bisa di ucapkan lagi, Mahesa hanya diam menatap Sam yang memejamkan kembali matanya. Suasana di sana menjadi senyap kembali, seakan tertutup kabut dingin yang tebal.