Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Terjebak Di Dalam Kamar


__ADS_3

Blaakkk sreeeet.


Pintu tertutup kencang, seketika itu juga ada seseorang yang menyekap Casandra dari belakang yang tidak lain adalah Anan.


Anan menatap lekat, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja, hingga bisa saling merasakan nafas keduanya. Nafas Casandra tidak beraturan, naik turun karena sangat terkejut dengan gerakan Anan yang tiba-tiba.


"Ternyata selain tengil, kau juga suka menguntit kamar pria ya!"


 


"Enak saja!" protes Casandra sambil mendorong Anan supaya tidak lagi menghimpitnya. "Aku kesini karena tidak melihatmu di bawah!"


"Kenapa kau mencariku? Rindu?" Anan menyeringai.


"Cih. Siapa yang merindukanmu! Dasar." sangkal Casandra mulai kesal. "Cepat turun ke bawah, aku akan memperkenalkanmu pada seseorang," Ucap Casandra sambil merapikan jaket jeansnya.


"Kenalin siapa?" tanya Anan merenyitkan kedua alisnya.


"Tidak perlu banyak tanya, cepat ayo kita turun." ucap Casandra berbalik hendak membuka pintu.


Grek... grek... grek, beberapa kali Casandra memutar panel pintu, tetap saja tidak bisa terbuka. "Hey! Kenapa dengan pintunya?"


"Entah" jawab Anan singkat mengangkat kedua bahunya.


"Kenapa kau diam saja, bantu aku buka pintu ini."


Sepuluh menit sudah mereka berdua mengotak atik pintu, tapi tetap saja belum berhasil membukanya. Anan duduk di tepian temapat tidurnya. Melepas kaosnya dan menggunakannya untuk menyeka keringat.


"Kenapa kau membuka bajumu!"


"Kenapa? Takut tergoda ya?"


"Cih. Menyebalkan! Lihat! Semua ini salahmu. Sekarang aku harus terjebak di kamar sempit ini!" Ucap Casandra kesal dan terus memalingkan wajahnya. Tubuh sexi Anan sangat mengganggu pandangannya.


"Kau menyalahkan aku?" protes Anan.


"Iyalah! Kalau kamu tidak membanting pintu tadi, pintu ini pasti ga akan macet!"


"Itu salahmu! Kalau kamu ga ngintip, aku juga ga akan banting pintu!" balas Anan tidak mau mengalah.


"Kau... " Casandra geram.


"Apa?" ucap Anan.

__ADS_1


Mereka saling membuang wajah, sekaligus membuang kesal masing-masing. Casandra dan Anan terdiam cukup lama. Berfikir, bagaimana caranya supaya bisa keluar dari kamar itu. Tidak sengaja Casandra melihat ada jendela di sana. Senyumnya langsung terpancar cerah.


"Baiklah. Aku selamat" ucapnya girang.


"Hey Nona, kau malah akan mati jika kau keluar dari jendela" ucap Anan bersedakap mengamati Casandra.


"Oh ya! Itu lebih baik daripada aku harus terjebak dengan pria gila sepertimu di sini!" ucap Casandra. Ia berusaha membuka jendela kamar, tidak perlu waktu yang lama, ia pun berhasil membukanya.


"Ahahah lihat kan. Aku berhasil membukanya!" ucap Casandra sengaja meledek Anan.


Anan masih tidak bergeming sambil mengamati gadis ceroboh yang sedang melongok ke bawah itu. Sedangkan disisi lain, senyum Casandra langsung masam ketika luar jendela yang ia lihat jauh lebih tinggi dari apa yang ada di pikirannya.


"Kenapa Nona? Kau bilang mati lebih baik dari pada terjebak denganku di sini?" ucap Anan sengaja menggodanya saat ia melihat ekspresi Casandra.


"Diam kau! Aku masih muda, juga belum bisa mengupas apel. Aku belum mau mati!"


"Cih, Menggelikan" Anan tersenyum tipis.


"Minggir" ucap Casandra kembali ke posisi seperti semula. Anan berdiri di belakangnya sambil mengamati, apa lagi yang akan Casandra lakukan sekarang.


Satu kaki Casandra terangkat dan mencoba menahan di tembok, sedangkan kedua tangannya berusaha sekuat tenaga menarik gagang pintu.


"Heh, Kenapa kau diam saja dasar. Ayo cepat bantu aku!" pekik Casandra sambil terus mengeluarkan tenaganya.


Anan tertawa menggelengkan kepalanya, Dasar gadis bodoh. Gumamnya dalam hati, ia melangkah kedepan untuk membantu menarik gagang pintu itu. Anan memegangi pinggang Casandra lalu menariknya.


"Sudah jangan berisik! Lakukan saja!" teriak Casandra.


Paakkk.


Gagang pintu patah, Anan dan Casandra terpental diatas tempat tidur.


Rempong amat kalian berdua, Astagaa.


*****


Setengah jam berlalu, Nanda dan Sara masih menunggu Casandra di bawah. Sesekali keduanya menoleh ke semua arah untuk mencari Casandra, tapi masih belum juga mendapatkan tanda-tanda Casandra muncul.


"Sara, Sandra kemana si?" tanya Nanda yang mulai khawatir.


"Aku jga ga tau Nda, tadi terakhir aku lihat dia jalan ke arah dapur"


"Apa dia lagi ngobrol sama kak Sanya?"

__ADS_1


"Kayaknya engga deh, soalnya dari tadi aku juga lihat kak sanya sibuk ngurusin pesanan"


Nanda terdiam, mereka semakin khawatir, takut terjadi hal yang buruk menimpa sahabatnya itu. "Ya udah, kita tanya aja yuk ke kak Sanya." ucap Nanda.


Sara mengangguk kemudian bergegas mengimbangi langkah Nanda yang sudah jalan duluan di depannya. Sambil menunggu Sanya senggang sedikit, Nanda memberanikan diri untuk bertanya.


"Kak Sanya, apa kau melihat Sandra?" tanya Nanda agak sungkan.


"Oh dia pergi ke lantai atas tadi, masuk saja Nona, mungkin dia sedang ngobrol sama Anan" jawab Sanya dengan ramah. Nanda dan Sarah tersenyum dan mengangguk. Merekapun langsung berjalan menuju lantai atas.


*****


Tersadar kalau kepalanya membentur wajah Anan saat terbanting tadi, ia langsung berbalik melihat bagaimana kondisi Anan.


"Arh" rintih Anan pelan. Tangannya memegangi bibirnya.


"Hey, kau tidak apa-apa? Maafkan aku" ucap Casandra merasa bersalah. Ia bergerak sedikit ke atas untuk melihat kondisi bibir Anan yang terbentur tadi.


"Sebenarnya terbuat dari apa kepalamu itu ha! Argh" gerutunya sambil menahan sakit.


"Maaf, coba singkirkan tanganmu. Biar aku lihat" ucap Casandra. Ia melihat bibir Anan dengan posisi yang masih bertumpu pada Anan.


"Sakit ya?" ucap Casandra dengan serius sambil mengusap darah yang keluar dan meniupnya beberapa kali.


Sedangkan rasa sakit yang dirasakan Anan perlahan hilang, saat ia memandangi wajah Casandra yang masih sangat dekat di atasnya. Dia manis juga ternyata. Gumam Anan dalam hati.


Cekleeekkkk....


Pintu terbuka dari luar.


"Sandra?" Ucap Nanda dan Sara serentak. Mereka terbelalak, tidak menyangka dengan apa yang mereka lihat. Casandra berada di atas tubuh pria yang setengan telanjang, berkeringat, rambut berantakan, dan diatas tempat tidur dengan kamar yang tidak terkunci??? Begitulah yang ada dibenak keduanya.


Sadar dengan posisinya, Casandra beranjak dari atas Anan dan merapikan dirinya. "Ini... Ini tidak seperti apa yang kalian kira" ucap Casandra berupaya menjelaskan. Tapi Sara dan Nanda masih terdiam tidak percaya.


"Kalian sudah menunggu lama ya? Maaf Nona-Nona, kami sedikit bermain-main tadi" ucap Anan yang sengaja membuat suasana menjadi panas.


"Kau... "


Casandra menatap Anan, ia kesal karena Anan sengaja berbicara seperti itu.


"Uhuhu... Casandra, bilang donk kalau kamu ada hubungan sama dia. Kan aku jadi cemburu sekarang" ucap Sara dengan rengekan yang dibuat-buat.


"Tidak... tidak. tidak seperti itu! Tadi... " belum sempat Casandra menyelesaikan penjelasannya, Anan sudah memotongnya.

__ADS_1


"Permisi Nona, aku harus mengobati bibirku, dia melakukannya dengan begitu agresif tadi" ucap Anan menyeringai menatap Casandra. Iapun berlalu melewati Sara dan Nanda yang terperangah melihat luka di bibir Anan.


"Kau... Ergghh" Casandra mengebaskan kepalan tangannya. Seandainya tidak di kedai, dia pati sudah bebas mencekik Anan dari tadi. Sial! Dia sengaja mempermainkan aku! Lihat saja nanti, aku pasti akan membalasmu. Bisik Casandra dalam hati.


__ADS_2