
"Antarkan aku ke tempatnya" ucap Sam tanpa basa basi.
Sedangkan Suti mengikuti langkahnya di balik punggungnya. Sbernarnya apa yang sudah Pandi lakukan, Tuan Sam terlihat benar-benar marah. Gumam Suti dalam hati.
Sam berjalan menuju taman belakang yang ada di panti asuhan. Menurut laporan Doni, Pandi tinggal tepat di belakang panti asuhan itu. Sam berhenti sejenak memandang taman belakang panti asuhan, di sana rupanya ada sebuah playground tempat anak-anak biasa main. Ada prosotan, jungkat-jungkit, bangku taman, ayunan, dan kolam pasir putih. Sepertinya Suti benar-benar mengurus panti dengan baik.
Beberapa anak terlihat sedang bermain kejar-kejaran dengan riang. Seorang anak laki-laki berlari tanpa memperhatikan jalannya, ia berlari hingga menabrak Sam yang sedang berdiri.
"Nak, perhatikan jalanmu! Ayo cepat minta maaf pada tuan Sam" hardik Suti tidak enak hati.
"Maafkan saya Tuan, saya tidak sengaja" ucap bocah laki-laki yang berusia sekitar 7 tahun itu dengan sopan.
Sam terdiam sesaat menatap dingin bocah itu, seorang pria kecil dengan mata indah berwarna coklat terang. Sepertinya Sam sangat tertarik dengan bocah kecil itu, sopan, meskipun tatapannya sayu tapi Sam melihat sisi lain. Entahlah, Sam memang selalu memiliki ketertarikan yang tidak semua orang bisa paham.
"Jika aku menghancurkan panti asuhan ini apa yang akan kau lakukan?" ucap Sam secara tiba-tiba membuat Suti tersentak begitu saja.
Apa iya, hanya karena tertabrak anak asuhnya Tuan muda kota ini akan menghancurkan panti yang sekaligus menjadi rumahnya untuk membagi kasih pada anak-anak malang. Apa tuan Sam sekejam itu?!. Suti bergelut dengan pikiran dan perasaannya.
Mata sayu sang bocah berubah menjadi merah dan tajam mendongak menatap tanpa berkedip pria kaya di hadapannya. "Aku tidak akan membiarkankmu menghancurkan rumahku ini" ucapnya dengan nada yang bergetar.
"Aku orang nomor satu di kota ini, hanya dengan satu kali jentikan jari, aku bisa membuat rumahmu ini rata dengan tananah" Sam membalas tatapan bocah itu dengan tajam. Ia kemudian berbalik lalu berjalan melewati taman.
Cairan bening telah terlihat di ujung mata Suti. Sungguh dirinya tidak mampu berkata apapun. Sepertinya Sam sangat serius dengan kata-katanya, tapi jika benar itu terjadi. Bagaimana nasib anak-anaknya nanti, kemana mereka akan tinggal nantinya. Pikiran Suti benar-benar di buat kacau.
__ADS_1
Bocah itu menoleh memandang ibu Suti menyeka air matanya, memandang adik-adik pantinya berkumpul ketakutan di belakang kaki ibu Suti. Bocah itu mengepalkan tangannya dengan erat, hingga getaran di tubuhnya semakin kuat. Bocah itu berbalik menatap tubuh Sam dengan mata tajamnya.
"Aku tidak peduli. Meskipun kau orang nomor satu di kota ini. Aku tetap tidak akan membiarkanmu menghancurkan rumahku, menyakiti ibu Sutiku bahkan menyakiti adik-adikku!" suara lantang itu menngelegas tegas menghentikan langkah kaki Sam.
Dari balik punggungnya Sam tersenyum bangga. Doni menatap heran padanya. Bagaimana bisa tuannya tersenyum bangga saat di hina oleh anak kecil! Bisik Doni dalam hati. Sedangkan Aji yang sudah tau dengan watak Sam, ia hanya memandang, melihat adegan bosnya melawan anak kecil dengan nikmat.
"Memangngnya apa yang akan kau lakukan untuk melawanku dengan tubuh kurusmu itu?" Sam berbalik kembali menatapnya.
"Apapun akan aku lakukan. Semampuku, bahkan aku rela mengorbankan nyawaku demi adik-adik, kakak, dan juga ibuku! aku akan melawanmu Tuan Sam!"
Sam berjalan cepat menghampiri tubuh kurus itu, dengan cepat sekejap saja tangannya sudah mencengkram kerah si bocah dengan kuat hingga ia meringis karena tercekik. Suti dan anak-anak menangis ketakutan.
"Tuan sam, saya mohon maafkan anak asuh saya, dia masih terlalu kecil dan masih belum mengerti dengan ucapannya. Saya mohon tuan jangan sakiti dia. Saya mohon maaf tuan, saya mohon" Suti terisak bersimpuh memohon supaya Sam melepaskan cengkramannya.
Namun sam masih tidak melepaskan cengkramannya, bahkan meskipun bocah itu tercekik hingga tubuhnya terangkat, tatapannya masih tidak pudar. Menatap Sam penuh amarah tidak sedikitpun terlihat goyah dan takut.
"A... Anan. Namaku Anan!" jawabnya tanpa ada rasa gentar sedikitpun.
"Apa kau tidak takiut padaku?!"
"Aku takut. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menyakiti ibu, kakak dan daik-adikku" jawab Anan terpekik. Jawaban yang jujur, takut tapi berani melawan tanpa pandang bulu. Gumam Sam dalam hati.
Seketika itu juga Sam nelepaskan cengkeraman tangannya hingga tubuh kurus Anan terjatuh, ia terbatuk mencoba untuk mengatur nafasnya yang sesak di leher akibat cengkraman Sam.
__ADS_1
"Ibu Suti." ucap Sam tanpa mengalihkan pandangannya pada Anan. Suti yang masih tersimpuh hanya terdiam gemetar dengan wajah yang kian terlihat pucat dan berkeringat. "Kau beruntung memiliki anak asuh seperti bocah tengik ini. Perthankan dia, jangan sampai dia kurang kasih sayang dan juga makan. Tubuhnya harus sudah berisi saat kita bertemu lagi nanti'
Sam berjongkok menatap Anan lalu tersenyum. "Dengar. Aku yakin suatu hari kau akan menjadi orang yang hebat"
Anan terdiam menatap Sam dalam. Bagaimana bisa, ekspresi mengerikan tadi hilang kini berubah menjadi orang yang tersenyum begitu tenang. "Apa... Apa aku bisa sehebat dirimu Tuan?" ucap Anan ragu-ragu.
"Tidak. Hanya aku oarang yang hebat." jawab Sam cepat.
"Orang ini selain galak dan mengerikan ternyata juga menyebalkan!" Bisik Anan dalam hati.
"Aku tau apa yang kau pikirkan bocah tengik, tapi tidak masalah, calon istriku juga menganggapku sangat menyebalkan" ucapan Sam membuat Anan meremat tangannya sendiri. "Tuan Sam benar-benar hebat, bahkan dia bisa mendengar hatiku bicara" gumam Anan lagi.
Sam berdiri menggenggam kedua bahu Suti dan membimbingnya berdiri. Suti di buat heran sekaligus bingung dengan perlakuan Sam. "Kau mengurus panti dengan sangat baik Bu Suti. Aku akan memberikan donasi dua kali lipat dari biasanya dan akan membangun panti ini supaya lebih nyaman dan luas"
Suti terperangah, ia menyalahkan dirinya karena telah berfikiran buruk terhadap Sam tadi.
"Maaf karena aku bersikap kasar barusan. Aku hanya menguji bocah itu dan terbukti cukup bagus. Kau tidak perlu khawatir, selagi ada bocah itu tidak ada orang yang akan berani mengusik dan menyakitimu" ucap Sam lembut. Suti begitu terharu hingga tidak mampu berucap apapun selain berterima kasih pada Sam.
"Anan. Kau menjaga kakak dan adik-adikmu dengan cukup baik. Tapi sayangnya, kau masih terlalu lengah." Sam mengusap kepala Anan. Anan tidak mengerti, kenapa Sam menganggapnya lengah padahal selama ini adik-adik di panti sepertinya baik-baik saja.
"Tapi kali ini biar jadi urusanku. Ibu Suti, bawa anak-anak masuk. Jangan sampai mereka melihat darah bercucuran nanti. Jangan ada yang keluar sebelum urusanku selesai." Sam berbalik meninggalkan mereka yang masih tertegun penuh dengan tanda tanya.
Tak lama setelah itu, tanpa disadari sudah ada segerombolan bodigard yang menyuruh mereka untuk masuk kedalam panti. Suti bingung, namun ia tidak berani banyak bertanya. Suti menurut, lalu membawa anak-anak panti masuk kedalam.
__ADS_1
Saat itu juga seorang gadis berusia 13 tahun berontak lalu berteriak. "Tuan Sam! tuhan telah mengabulkan doaku. Aku yakin Tuan adalah orang suruhan Tuhan untuk menghabisi pria bejat itu!" teriakknya lalu di susul dengan tangis yang pecah.
Sam berbalik menatap gadis cilik. Getaran di tubuh Sam semakin menjadi, ia yakin kalau gadis yang berteriak itu adalah anak yang menjadi korban kebejatan Pandi. Sam melangkah semakin cepat, sedangkan salah satu bodiguard menarik gadis itu untuk masuk kedalam.