Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Kedai Kecil


__ADS_3

Di pinggir jalanan ibukota, berdirilah sebuah kedai kecil dipaling ujung berjajar dengan restoran besar lainnya. Kedai kecil itu menyediakan jenis-jenis makanan tradisional, memang tidak terlalu besar tempatnya, tapi pengusaha kecil itu cukup memiliki keberanian dan kepercayaan diri yang tinggi karena berani berdiri ditengah persaingan restoran besar di ibukota.


Meskipun banyak yang memandangnya aneh, tapi pemilik kedai itu tidak pernah menyerah. Ia yakin kalau suatu hari dirinya pasti akan sukses. Sudah banyak pelanggan dari berbagai kalangan yang puas dengan kue bikinan tangannya.


Sebelumnya sudah ada beberapa orang yang ingin membeli kedainya dan memberikan tawaran padanya untuk memodali usaha dan tempat, tapi pemilik kedai tetap kekeh ingin berdiri di sana meskipun dengan modal pas-pasan.


"Sanyaa. Aku pesan kue 45 kotak ya" ucap pelanggan yang buru-buru masuk.


"45 kotak nyonya? Hari ini hanya cukup untuk 35 kotak" Sanya memandangi kue terjajar di etalasenya. "Sayang sekali, kau datang terlalu sore Nyonya" ucapnya agak menyesal.


"Aduh. Ya sudah, aku bawa semuanya. Kau bungkus cepat ya, terus bantu aku membawanya ke mobil!."


"Baik Nyonya" Sanya tersenyum senang. Ia bersyukur karena hari itu jualannya habis bersih. Dengan sigap Sanya langsung memasukkan kue-kuenya kedalam kotak.


"Haah dasar adik payah. Kenapa dia lama sekali, seharusnya dia cepat kembali dan bisa membantuku untuk membungkus kue-kue ini." keluh Sanya sambil mempercepat gerakkannya.


Sepuluh menit berlalu, kue-kue itu siap dimasukkan ke dalam mobil. "Sudah siap Nyonya" ucap Sanya tersenyum ramah.


"Aahh terimakasih Sanya, jadi merepotkanmu. Kue buatanmu itu enak, aku akan membawa kue ini untuk oleh-oleh. Haha, ini uangmu. Sekarang aku harus cepat pergi!"


Sanya menerima beberapa lembar uang yang diberikan nyonya tadi. "Nyonya! Kembaliannya?"


"Sudah. Ambil saja. Aku buru-buru!" mobi langsung melaju menjauh dari tempatnya berdiri.


Senyum terlukis di wajahnya, hari ini bisa jadi hari keberuntungan bagi Sanya. Ia masuk kedalam kedai bersiap untukmu membereskan lalu menutup kedainya.


"Sanya sayang" sapa seorang pria bertubuh gempal, ia datang bersama beberapa anak buahnya lalu duduk di kursi pelanggan. Sedangkan anak buahnya berjejer rapi di belakangnya.


Sanya sedang sibuk beres-beres, mendengar ada pelanggan datang ia langsung menaruh lap basahnya lalu menghampiri kedepan. "Maaf, kuenya sudah ha... Tu... Tuan Igun" Sanya tertegun dengan jantung yang berdegup kencang. Si brengsek ini masih saja berani datang, padahal adikku sudah memperingatkan dia.


Sedangkan mata pria gempal itu mengelus dagunya sambil meraba Sanya dengan pandangan matanya. Ia tidak peduli kalau gadis di depannya risih dengan tatapan seperti itu.


"Bagaimana Sanya. Apa kau sudah mempertimbangkan jawabanmu?"


"Jawaban apa lagi tuan?"


"Tentang pernikahan kita. Ayolah Sanya, terima saja tawaranku. Setelah menikah denganku hidupmu pas terjamin. Kau tidak perlu lagi bersusah payah berjualan di kedai kecil ini"


"Maaf tuan. Tapi lebih nyaman dan bahagia meskipun hanya berjualan di kedai kecil"

__ADS_1


"Kau masih menolakku?!" Igun menatap tajam seperti kecaman.


"Maaf tuan. Saya tidak bisa menerima tawaran anda" Jawab Sanya meremat jari-jemarinya. Anan kau di mana? Tolong kakak. Bisik Sanya dalam hati.


Bagaimana dia menghadapi Igun sendirian, Sanya sudah tau watak Igun, ia pasti akan melakukan kekacauan lagi di kedainya.


"Ini yang terakhir kalinya Sanya. Jawab. Kau mau menikah denganku?"


"Tidak!" jawab Sanya lugas. Aku pasrah, meskipun kau membunuhku hari ini, mungkin itu lebih baik daripada aku harus menikah denganmu!


Marah Igun mendengar Sanya menolaknya lagi, wajahnya merah lalu menggertakkan gigi. "Beri dia pelajaran. Aku ingin mendengar kata ampun dari mulut gadis sombong ini!"


******


Buk buk buk.... Berkali-kali hentakkan kaki terdengar di jok belakang kemudi, setelah berbelanja ala tahanan tadi, Casandra berpisah dengan Nanda dan Sara di lobby. Casandra tetap pulang bersama Aji, sedangkan Doni mengantar kedua sahabatnya.


Aji hanya tertawa di dalam hati melihat tingkah Casandra yang dibuat kesal oleh ayahnya. "Ayah kau menyebalkan. Dan kau juga Om Aji! Sungguh aku sebal padamu!"


"Apa salahku nona?" tanya Aji pura-pura tidak tau.


"Kau pasti sekongkol kan sama ayah!"


"Iya! Kau pasti sudah menyuruh anak buah untuk berpencar di mall."


"Nona, bukan saya yang nyuruh. Tapi tuan Sam" jawab Aji santai.


"Pokoknya kalian pasti sekongkol! Lihat saja dirumah nanti aku mau protes sama ayah... " Suara Casandra mengecil lalu ia terdiam.


Apa-apaan ini! Casandra melihat ke luar jendela, sambil menunggu lampu merah ia mengamati keributan yang terjadi. Tiga pria sedang mengeroyok satu wanita lemah.


"Dasar keparat!" gumam Casandra.


Aji mengamati apa yang sedang dilihat oleh Casandra. "Nona, jangan suka ikut campur... " belum sempat Aji menyelesaikan ucapannya, Casandra sudah keluar dari mobil dan berlari ke arah keributan.


"Sial! Bocah ini benar-benar!" Meskipun lampu merah belum usai, Aji langsung tancap gas untuk putar arah menyusul Casandra.


Sanya tersimpuh pasrah saat anak buah Igun menghancurkan kedainya, bibir dan hidungnya berdarah, juga lebam di pipinya. Melawanpun Sanya tidak akan sanggup. Ia hanya bisa menangis memandangi kedai yang di acak-acak.


Bag.... Bag... Tendangan kuat kaki Casandra meluncur cepat di pipi kedua pria yang sedang menahan Sanya dengan kakinya. Anak buah Igun tersungkur akibat tendangannya.

__ADS_1


"Brengsek! Siapa kau!" Bentak Igun. Tapi Casandra menatap tajam tanpa menjawab.


Casandra mengepalkan tangannya marah, ia tidak suka melihat seorang wanita ditindas, dan paling benci pada laki-laki yang sukanya keroyokan pada wanita lemah. Tanpa di sadari, salah satu anak buah Igun berlari sambil mengayunkan sebuah linggis ke arah belakang Casandra.


Baakkk...


Ayunan Linggis berhasil di tangkis. "Om Aji? Kau tidak apa-apa?" Casandra cemas. Meskipun Aji berhasil melindungi Casandra tapi sepertinya tangan kirinya cidera akibat pukulan linggis itu.


"Kurang ajar!" Casandra semakin marah.


Tangan, kaki, bergerak gesit dengan gerakan bela diri yang ia pelajari dari ayahnya. Tiga lawan satu, sepertinya Casandra bisa menghadapinya, tapi Aji tidak mau kalau nona mudanya terluka. Ia bangkit lalu ikut bertarung di samping Casandra.


Satu pukulan mengenai pelipis Casandra, ia hampir terjatuh karena merasa pening. Seketika itu juga, datang anak buah Aji lebih banyak. "Maaf bos, kami terlambat" Aji langsung merengkuh Casandra masuk kedalam mobil. Sisanya, anak buah Sam yang mengurus. Entah akan diapakan Igun dan anak buahnya, apalagi berani melukai anak tuannya.


"Tunggu Om Aji" ucap Casandra saat Aji hendak menyalakan mobilnya. Aji terdiam, Casandra langsung mengambil kotak obat lalu kembali ke arah Sanya.


"Gunakan ini. Oke" ucap Casandra.


Setelah itu, Casandra kembali masuk kedalam mobil. "Terimakasih nona! Terimakasih" ucap Sanya lirih.


"Om. Tanganmu cidera, biar aku saja yang nyetir ya" Casandra merasa kasihan pada Aji. pukulan linggis tadi pasti sangat sakit.


"Tidak apa-apa nona, naiklah. Kita harus segera pulang."


"Aku ngga akan naik kalau Om Aji tetap menyetir!" ucap Casandra masih menunggu di depan pintu mobil.


Ternyata dia lebih keras kepala!. Aji terpaksa bergeser ke jok samping kemudi.


"Om, kita ke rumah sakit dulu ya. Supaya lukamu langsung diobati" Casandra cemas.


"Tidak nona. Kita harus segera pulang, ayahmu pasti sudah menunggu" ucap Aji.


Casandra terdiam. Memang niatnya baik ingin menolong tapi karena kurang waspada, sekarang malah Aji jadi terluka. "Maafkan aku om Aji" ucap Casandra menyesal.


"Kenapa kau meminta maaf?"


"Gara-gara aku, om Aji terluka" ucap Casandra bergetar.


Gadis ini bisa bersikap manis juga rupanya.

__ADS_1


__ADS_2