
Casandra melangkah lesu menuju mobilnya, kepikiran topi berharganya yang sekarang berada di tangan orang lain. Topi itu dipesan khusus untuknya tahun lalu saat ultahnya yang ke 17 tahun. Dan sekarang Casandra kehilangan topi berharganya.
Bukan berlian yang ada ditopi yang menjadikannya berharga, tapi kasih sayang Sam dan Riyu yang tersirat menjadikan topi itu sangat berharga untuknya.
"Tenang Nona, saya sudah menyuruh orang untuk mencari topinya" ucap Doni sesekali melirik sepion.
"Terimakasih Om, semoga saja masih bisa ketemu" jawab Casandra lirih menatap hampa keluar jendela.
Casandra melihat bayangannya dikaca jendelu mobil, topi Anan masih melekat di kepalanya. "Kenapa juga aku masih pakai topi ini!" Casandra memyambar topi itu lalu menginjaknya beberapa kali.
"Gara-gara kau. Aku jadi kehilangan hadiah dari ayah dan ibu kan! Topi kecut! Ugh." topi hitam itu terlempar keluar dari kaca jendela mobil. Melayang tertepa angin lalu tergeletak ditengah jalan.
Doni mengamati wajah Casandra yang kesal dari kaca spionnya. "Jika pelakunya ketemu, biar saya menghajarnya Nona"
"Tidak perlu! Aku mau menghajarnya dengan tanganku sendiri." Casandra dengan nada dingin.
Doni melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, cuaca sore itu begitu cerah, cahaya senja terlihat keemasan memeluk awan yang bergerumul. "Eh" Casandra menajamkan matanya pada sosok pria yang sedang parkir motor didepan kedai. Matanya langsung tertuju pada topi hitam berlambang S yang sedang dipakainya.
Meskipun Casandra tidak menjelaskan, Doni sudah paham dengan apa yang Casandra lihat. "Sekarang biar aku selesaikan urusan topi. Nanti tinggal memikirkan permintaan maaf pada ayah karena sudah pulang terlambat. Iya kan Om Doni?" ucap Casandra menyeringai.
"Silahkan Nona" ucap Doni dengan nada yang tenang. Ia kemudian membelokkan mobilnya lalu parkir didepan kedai Sanya.
*****
Casandra bergegas menghampiri Anan yang sedang berjalan masuk ke dalam kedai.
"Hei kau! Kembalikan topiku!" ucap Casandra menepuk lalu mencengkeram erat pundak Anan. Matanya tajam menatap punggung pemuda yang tingginya 181cm itu.
Anan menghentikan langkahnya lalu terdiam merasakan cengkraman di bahunya, baginya, tepukan atau cengkraman dipundak dari seseorang di belakangnya adalah suatu ancaman. Anan berbalik sambil melontarkan sedikit jurusnya untuk memastikan siapa yang ada di belakangnya.
"Hap!" dengan lincah Casandra langsung menepis serangan Anan.
"Kau?!" Anan terkejut, kalau ternyata yang menjadi lawannya adalah seorang wanita yang ia tabrak tadi pagi.
"Kembalikan topiku dasar kau tukang kue kecut!" tanpa aba-aba Casandra langsung menyerang, mencoba untuk mengambil topi yang terpasang di kepala Anan.
"Dasar kau wanita tengil! Bisakah kau bicara baik-baik!" ucap Anan tidak kalah kencang.
"Tidak akan!" Casandra semakin kesal karena dijuluki wanita tengil. Ia semakin lincah mengayunkan tangan dan kakinya untuk menyerang Anan. Tapi setiap serangan Casandra, Anan bisa menepisnya dengan sempurna.
__ADS_1
Pemuda ini, boleh juga. Gumam Doni. Ia berdiri santai bersandar di mobilnya, menikmati pertunjukan pertarungan pemuda dan Nona mudanya itu. Sebenarnya, sudah sedari tadi Doni merekam adegan itu dengan kamera yang terpasang dibalik jasnya.
Sudah banyak orang yang mengerubungi tempat mereka bertarung. Anan ingin menyudahinya, tapi Casandra masih tetap berusaha mengambil paksa topi yang terpasang di kepalanya. Namun, dengan sigap, Anan langsung menangkap tangan Casandra dan memutarnya lalu ditahan dipunggung Casandra.
"Aauuuu" Jerit Casandra merasakan nyeri di lengannya yang terpelintir ke belakang. Selama ini, meskipun Anan adalah pria biasa. Tapi kemampuan beladirinya cukup mumpuni.
"Maafkan aku Nona. Tapi sudah cukup kita bertarung!" ucap Anan dengan nada dingin berbisik jelas di telinga Casandra.
Sanya keluar dari kedainya, kegaduhan mereka berdua membuat Sanya penasaran ingin melongok siapa yang sedang membuat kerusuhan didepan kedainya.
"Anan!. Apa-apaan kau ini!" hardik Sanya keras.
"Kak. Dia duluan yang menyerangku!" Anan membela diri.
"Lepaskan dia sekarang juga!" Sanya benar-benar marah pada Anan, matanya menatap tajam menusuk adiknya.
Meskipun kesal tapi Anan tidak bisa membantah kakaknya, ia melepaskan Casandra dari cengkeramannya.
"Kamu tidak apa-apa?" Sanya langsung merengkuh Casandra yang memegangi pergelangan tangannya yang sakit.
Casandra terdiam mengamati wajah Sanya, ia baru ingat kalau wanita itu adalah orang yang telah ia selamatkan dari tindasan Igun kemarin.
"Kakak sudah bilang. Kau boleh belajar beladiri tapi tidak untuk menyerang wanita! Sekarang apa Anan?!" Sanya menegur keras Adiknya.
"Cukup! Sekarang minta maaf padanya."
"Apa? Dia yang salah, kenapa aku yang minta maaf?"
"Minta maaf padanya" Sanya mulai bergetar dengan mata merahnya.
Anan terdiam. Baru kali ini ia melihat Sanya benar-benar marah padanya. "Maaf" ucap Anan singkat lalu bergegas pergi masuk kedalam kedai.
Sanya menghela nafas panjang. "Tanganmu sakit ya? Ayo, biar aku kompres lukamu. Ucap Sanya lembut sambil memapah Casandra masuk ke dalam kedainya.
*****
Tok... Tok... Tok... Doni mengetukkan jarinya pada kemudi mobil, ia melirik ke arloji dipergelangan tangannya. Setengah jam berlalu, tapi Casandra juga belum keluar dari kedai itu.
"Selamat sore Tuan" Jawab Doni pada Sam yang menelponnya.
__ADS_1
"Bagaimana hasilnya?" tanya Sam dari seberang sana.
"Tepat seperti dugaanmu tuan. Bocah itu sudah tumbuh menjadi pria kuat sekarang, dia juga memiliki kemampuan beladiri yang bagus. Bahkan, Nona Casandra dibuat tidak berkutik olehnya" jelas Doni.
"Apa putriku terluka?!" Sam mulai gusar.
"Sedikit tuan. Tapi jangan khawatir, Sanya merawatnya dengan sangat baik"
"Lakukan tugasmu, rencana selanjutnya biar aku atur!" ucap Sam langsung mematikan percakapan.
Doni kembali mengawasi Nona mudanya dari dalam mobil. Ia tau, Sam agak keberatan ketika tau Casandra terluka, tapi apa boleh buat untuk kali ini Sam harus bisa mengendalikan emosinya.
****
"Aku minta maaf atas apa yang telah dilakukan oleh Anan padamu." ucap Sanya penuh dengan penyesalan sambil terus mengompres pergelangan tangan Casandra.
Casandra terdiam menatap Sanya dalam. Apa dia kakaknya pria kue itu? Kenapa perbedaannya jauh banget. Kak Sanya sangat lembut dan santun. Sedangkan adiknya sangat menyebalkan! Casandra menggerutu dalam hati.
Di tengah-tengah obrolan Sanya dan Casandra Anan datang berdiri tegak di hadapan mereka. "Aku akan menyerahkan topi ini padamu. Tapi dengan syarat, kau juga harus mengembalikkan topiku"
Waduh. Casandra menggigit bibir bawahnya, mengingat kalau topi Anan sudah ia buang dijalan tadi.
"Kembalikan dulu topiku, setelah itu aku akan membelikan topi baru untukmu." ucap Casandra tidak enak hati.
"Kau kemanakan topi itu?" Anan menatap dingin.
"Sudah aku buang!"
"Apa?!" Anan terlihat marah. Matanya kini beralih tajam menusuk Casandra.
"Kenapa? Aku bisa membelikan banyak topi untukmu! Topi yang itu sudah lusuh dan jelek. Makanya aku buang. Sekarang, sini topiku, setelah itu aku bisa menggantimu topi lebih banyak."
Anan mengepalkan tangannya, sedangkan Sanya hanya bisa menatap adiknya yang marah sekaligus kecewa. "Sebelum kau menemukan topi itu, aku tidak akan pernah mengembalikan topi ini padamu!" Anan berbalik dan pergi dari kedai.
"Apa-apaan! Hey kau. Kembali!" teriak Casandra kesal.
Sanya berdiri menatap adiknya yang kesal, ia melihat Anan yang semakin jauh mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Sanya tau, Anan pasti sedih dengan kejadian ini.
"Apa yang salah dengannya?!" tanya Casandra jengkel.
__ADS_1
"Nona. Maafkan aku. Apa bisa kau cari lagi topi Anan? Dia akan sedih jika topi itu hilang" Sanya merasa sungkan.
Casandra adalah penyelamatnya, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Anan sedih nantinya. Karena topi yang telah ia jaga selama bertahun-tahun telah dibuang begitu saja.