
Kecemasan mulai melanda, Casandra terus mengamati jalan yang gelap. Tebing, hutan, hanya ada beberapa lampu jalan yang memancarkan sinar remang.
"Anan!" sentak Casandra.
Saat itu juga Anan menghentikan mobilnya, menginjak rem secara mendadak membuat Casandra tersentak.
"Sekarang turunlah" ucap Anan menatap dingin.
Casandra melihat ke sekitar. Lagi-lagi hanya ada lampu remang di ujung jalan yang sedikit menanjak. Ia menatap Anan seksama, takut jika malam ini bodyguard pilihan ayahnya melakukan sesuatu yang berbahaya.
"Ayo turun" ucap Anan.
"Tidak. Ayah sudah salah memilihmu. Kau mengajakku kemari hanya untuk membunuhku kan?! Di tempat seperti ini kau bisa menghilangkan jejak dengan cara melempar mayatku ke dalam jurang!" ucap Casandra terengah.
"Nona, apa yang kau katakan adalah ide yang bagus. Aku harap kau jangan memberikan ide itu kepada orang lain. Sekarang turunlah." ucap Anan dengan ekspresi datar.
"Tidak! Aku tidak mau turun" ucap Casandra menyembunyikan kecemasannya.
"Baiklah kalau begitu" ucap Anan bergegas turun dari mobil, berlari kecil lalu menghampiri Casandra. "Ayo cepat turun"
"Tidak!" jawab Casandra mulai berkeringat dingin.
"Selama ini yang aku tau kau sangat pandai berkelahi, pemberani, tapi kenapa sekarang kau malah seperti anak kucing yang memelas!" ucap Anan.
Casandra terdiam sesaat, membenarkan rok selutut yang ia kenakan. Anan memperhatikan Casandra yang tidak nyaman juga tidak terlalu percaya diri. Senyum tipis terpasang di bibir Anan.
Tanpa menunggu lagi, terpaksa Anan menggandeng Casandra lalu membawanya keluar dari mobilnya.
"Hey! Apa yang kau lakukan. Lepaskan aku!" Casandra berontak. Tapi tangan Anan benar-benar seperti lem susah untuk dilepas.
"Sudah kau diamlah!" ucap Anan.
"Tidak! Aku tidak akan diam kalau kau tidak melepaskan aku. Tolooonggg!." teriak Casandra.
Tidak peduli bagaimana Casandra berusaha lepas dan berteriak minta tolong. Anan terus membawanya naik ke jalan yang lebih menanjak, tidak jauh kedepan ada beberapa anak tangga dan cahaya lampu yang lebih terang.
__ADS_1
"Lepaskan!" ingin rasanya Casandra menendang wajah Anan, tapi pakaian yang ia kenakan terlalu pas di tubuhnya. Bisa-bisa sobek jika dia melakukan gerakan beladiri.
"Tolong. Siapapun tolong aku!" teriaknya lebih kencang.
Kini Anan telah sampai membawa Casandra ke puncak, Anan berhenti mencengkram pinggul kecil Casandra dan menahannya untuk tidak berontak lagi. Anan terdiam menatap Casandra tajam.
"Sekarang kau diamlah bawel, dan lihat sekitarmu. Jika kau berteriak lagi maka sama saja kau mempermalukan dirimu sendiri" ucap Anan agak berbisik namun jelas terdengar.
Tangan Anan kini terlepas, Casandra melangkah mundur dan melihat ke sekelilingnya. Banyak lampu hias kelap-kelip yang terpasang di beberapa pohon, bangku pandang, tanaman bunga yang berjejer indah, juga banyak pasangan muda-mudi yang sedang menikmati suasana di tempat itu.
Beberapa dari mereka menatap Casandra dengan tatapan aneh, mungkin mereka bingung dan heran dengan teriakan Casandra tadi.
"Tempat apa ini?" tanya Casandra mengalihkan wajah meronanya.
"Tempat berkencan apa lagi?!" jawab Anan cuek. "Ikuti aku." ucap Anan lagi.
"A... Apa??"
Sedangkan Casandra masih berdiri diam mengamati Anan. "Ayo cepat! Waktunya tidak banyak"
"Kau... Ergh!"
Baru saja Casandra memijakkan kaki tepat disamping Anan... Darrr... Darr... Darr... Suara ledakan diiringi cahaya warna-warni yang menjulang di atas langit pusat kota Y.
"Waaahhhh" ucap Casandra tersenyum lebar. Matanya berbinar menatap kembang api dengan warna dan bentuk yang beraneka ragam.
Anan memandang Casandra yang sedang heran dan senang melihat kembang api itu. Lihatlah, tuan putri ini. Sepertinya baru pertama kali melihat kembang api. Dasar." Gumam Anan dalam hati.
"Lihat. Lihat. Ada yang berbentuk Elang hahaha" ucap Casandra riang sambil menepuk-nepuk pundak Anan.
Sesekali Anan tersenyum melihat Casandra yang melompat girang, wajah murung dan kesal hilang tak berbekas sedikitpun. Anan terdiam, ia meletakkan telapak tangannya di depan dadanya. Aneh, semakin lama ia memandang Casandra, jantungnya semakin berdetak kencang. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah kembang api untuk meredam debaran jantungnya.
Lima belas menit berlalu, sinar kembang api mulai meredup dan hilang. Suasana di bukit pandang kembali tenang.
"Nona, boleh aku berkata jujur?" ucap Anan menatap jauh ke depan.
__ADS_1
Casandra tersentak, ia menatap Anan yang wajahnya terlihat serius. "Silahkan" ucap Casandra sedikit gugup. Aduh, kenapa dengan jantungku. Bisik Casandra dalam hati.
"Katakan saja apa yang mau kau katakan!" ucap Casandra gemas, tidak sabar. Sedangkan Anan masih berdiri menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Nona... Kau terlihat sangat menggelikan" Anan tertawa geli. Ekspresi Casandra mulai mrengut mendengar ucapan Anan.
"Lihat. Lihat itu, kau pakai rok haha, sepatu balet. Kau sangat menggelikan Nona" Anan semakin terpingkal.
"Sudah. Terus saja kau menertawakan aku!" Casandra kesal membelakangi Anan.
Baiklah Anan, kau sudah keterlaluan membuli nona muda!. Anan berdehem, menstabilkan nafasnya dan kembali berbicara pada Casandra.
"Nona, aku tau kau ingin tampil cantik di depan orang yang kau sukai. Tapi di sisi lain juga kau harus memikirkan dirimu, apa yang kau pakai nyaman? Sesuai dengan kesukaanmu? Jangan sampai kau membahagiakan orang yang kau suka tapi dirimu sendiri malah tersiksa"
Deg...
Kata-kata Anan menghentak perasaannya. Casandra termenung dan melirik ke bagian bawah tubuhnya. Selama ini dia tidak pernah bergaya feminim karena tidak begitu suka dan tentunya tidak nyaman.
"Kau sudah terlihat cantik dengan gaya apa adanya dirimu. Ingat Nona, jika dia benar menyukaimu maka dia akan menerima juga apa adanya. Tidak akan terlalu banyak menuntut" ucap Anan lagi.
Jika dia benar menyukaiku maka dia akan menerimaku apa adanya... gumam Casandra dalam hati. Apa yang dikatakan Anan memang banyak benarnya, membuat Casandra sadar dan malu. Tangannya mengepal, kepalanya tertunduk.
Menyadari hal itu Anan menghentikan bicara seriusnya. "Hey Nona, jika kau memakai rok seperti itu bagaimana jau bisa menendang? Yang ada nanti musuhmu malah bergairah melihatmu" ucap Anan melirik sinis.
"Hey jaga ucapanmu! Kau mulai menyebalkan!"
"Tapi aku benar kan?" Anan mengangkat kedua bahunya.
Casandra terdiam, tidak bisa menjawab lagi dan kembali membelakangi Anan. Iya sih.
"Sudah saatnya kita pulang. Ayo" ucap Anan sambil memasangkan topinya ke kepala Casandra. "Jadilah dirimu sendiri Nona" Anan tersenyum lalu melangkah menuju mobil.
Casandra kaget memegangi topi Anan yang telah terpasang di kepalanya, "Topi ini! Beraninya dia memakaikannya di kepalaku!" teriak Casandra kesal. "Tapi... Aku bisa keramas kan setelah ini" ucapnya lagi tidak jadi melepaskan topinya.
"Cepatlah Nona! Sudah larut kita harus segera pulang!" teriak Anan tidak sabar.
__ADS_1
"Iya. Iya! Apa kau tidak lihat aku sedang jalan!"
Sebelum Casandra kembali kedalam mobil, ia berbalik tersenyum pada kota Y yang terlihat seperti bintang dari bukit itu. "Terimakasih" bisiknya kemudian bergegas menyusul Anan yang telah siap mengemudikan mobilnya.