Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Serangan Bom


__ADS_3

Duduk sambil menikmati mentari yang beranjak naik, mengeringkan setiap butiran embun, adalah suasana yang menjadi kesukaan Kakek Darma. Sesekali senyum tersirat di wajahnya, matanya menatap pemandangan pagi yang penuh kedamaian, sedamai suasana hatinya sekarang. Di pangkuannya tergeletak satu bingkai foto penuh dengan senyuman orang-orang yang dikasihinya, sesekali tangan tua membelai lembut permukaan foto keluarga putranya, Galuh, Diana dan Riyu yang masih kecil.


Maya berdiri menatap punggung Darma, ditangannya membawa semangkuk sarapan, air putih dan satu botol kecil obat. Setelah sebulan Riyu pulang ke rumah Mahesa, Darma lebih sering berdiam diri sambil memegangi bingkai foto. Maya semakin khawatir karena kesehatan Darma mulai memburuk akhir-akhir ini.


"Kakek... " Sapa Maya lirih, ia sedih karena keceriaan Darma tak secerah kemarin.


"Maya, Aku merasa damai sekarang" ucap Darma dengan suara yang begitu tenang. Meskipun getaran hatinya ingin mengeluarkan air mata, namun Maya tetap melempar senyum dan tawa terbaiknya dihadapan Darma.


"Kakek, kau jangan terlalu banyak berfikir. Ayo sarapan, aku sudah membuatkan bubur untukmu"


Maya duduk bersebelahan dengan Darma, "Bagaimana nasib perusahaan? Apa masih bisa di selamatkan?" Darma melempar tatapan lembutnya.


"Itu... " Apa yang harus dijelaskan, jika Maya menjelaskan keadaan yang sesungguhnya, takut jika akan menambah beban pikiran Darma, dan akan memperburuk kesehatannya. "Kakek jangan khawatir, aku dan Bayu sedang berusaha semaksimal mungkin, Darma Union pasti akan bangkit lagi, benar?" Maya berbicara dengan nada yang riang.


"Maya, kau tidak perlu menghiburku. Digrafik bahkan aku melihatnya. Hahaha" ucapan Darma membuat wajah Maya berubah pias. "Tapi aku tidak khawatir, cucuku Riyu dan juga Sam pasti akan membereskannya" ucap Darma agak berbisik.


"Sam???"


"Sttt. Pelankan suaramu!" Darma menyusuri seluruh penjuru dengan matanya, memastikan bahwa tidak ada orang yang menguping pembicaraan itu.


Kakek seperti resah tinggal di rumah sendiri, apa ada yang mengawasinya?! Sebenarnya ada apa? Kenapa kakek tidak memberitahu aku masalahnya padaku. Maya menatap Darma seksama.


"Kakek, aku akan menyuruh Riyu untuk datang mengunjungimu. Kau pasti merindukannya kan?" Maya langsung mengalihkan pembicaraan saat melihat pak Amir melintas sambil membawa nampan.


Maya dan pak Amir saling bertatapan, terlihat pak Amir menganggukkan kepala dengan sopan. Maya membalasnya dengan senyum dan anggukan yang sama. Ini pasti ada hubungannya, aku sudah curiga sejak awal padanya. Setelah ini aku pasti akan menyelidiki, orang itu.


"Kau jangan mengganggu Riyu dulu, dia pasti sangat sibuk sekarang. Akhir pekan saja" Darma menepuk tangan Maya lembut. "Maya, antar aku kekamar. Aku ingin istirahat"


"Baik Kakek" Sungguh keramahan Maya dan senyum hangatnya membuat Darma sangat merasakan kasih sayang dan perhatian.


Usai mengantar Darma ke kamarnya, Maya bergegas mengambil ponselnya. Jarinya sibuk mencari nomor ponsel Sam "Nomor yang anda tuju sedang di luar jangkauan... " berkali-kali mencoba menelpon tapi selalu mendapat jawaban yang sama dari operator. Begitu juga dengan Riyu, nomor ponselnya juga tidak aktif.


"Aduuhhh, pada kemana si!" Maya kesal, cemas. Ia diam berfikir sejenak. "Apa aku pergi ke kantor Riyu aja ya?" Maya mencari cara. Setelah yakin dengan keputusannya, ia langsung menyambar tas tangan dan mengambil kunci mobil diatas meja riasnya.


"Nona Maya, anda mau kemana?" tanya Bayu saat berpapasan pada Maya di pintu utama.


"Saya mau ke kantor pak, aku ada urusan. Tolong titip kakek ya" jawab Maya menyembunyikan keresahan dibalik senyuman. Sedangkan Bayu terdiam menatap punggung Maya dengan tajam. Lebih baik kau berhati-hati Nona, aku harap kau tidak melakukan tindakan yang membahayakan keselamatanmu sendiri. Bayu masih menatap hingga mobil Maya menghilang dari jangkauan matanya.


Sambil menyetir mobilnya, Maya terus bergelut dengan pikirannya. Ia mengambil ponselnya lagi, kali ini mencoba menghubungi nomor telepon perusahaan Galuh.


"Selamat siang, dengan siapa saya bicara?" Sapa ramah terdengar.


"Siang. Saya Maya cucu Tuan Darma"


"Nona Maya, ada yang bisa saya bantu?"


"Apa Riyu ada di kantornya?"


"Nona Riyu sedang rapat bersama klien, Nona. Mungkin 30 menit lagi Nona Riyu baru akan keluar dari ruang rapat"


"Baiklah, aku sedang dalam perjalanan ke sana. Aku akan menunggu. Jika Riyu keluar sebelum aku datang, tolong sampaikan padanya, ada hal penting yang harus aku sampaikan"


"Baik, Nona Maya" jawaban terakhir dari sekertaris Rani, Maya pun mengakhiri obrolannya dan kembali fokus pada kemudinya.


*****


Sesampainya di kantor, Maya disambut ramah oleh sekertaris. Rasanya lebih nyaman untuk menunggu Riyu di ruang tunggu khusus daripada di ruangan direktur. Mondar-mandir Maya tidak bisa diam, sesekali ia berhenti melirik jam tangannya, lalu kembali mondar-mandir lagi.


Seseorang membuka pintu kaca, Maya bernafas lega, akhirnya Riyu datang. "Riyu, syukurlah kau... " Maya terdiam kaget, sayangnya yang datang saat itu bukanlah Riyu, melainkan. "Noval" ucap Maya lirih. Kenapa dia ada disini?.


"Kau. Baik-baik saja?" tanya Noval heran, melihat wajah Maya yang pias.


"Ahaha. Ya aku baik-baik saja" jawab Maya menyembunyikan resah.


Noval duduk di sofa, kemudian Maya juga duduk di sofa yang agak jauh dari Noval. Matanya terus melihat ke arah pintu, berharap Riyu segera datang dan mengusir canggung juga kecemasan dihatinya. Tanpa disadari, ternyata Noval memperhatikan Maya yang duduk tidak tenang sambil meremat tangannya sendiri.


"Kau baik-baik saja? Sepertinya ada satu masalah. Benar?" Noval menatap seksama.

__ADS_1


"Ya, kau tenang saja. Aku baik-baik saja" Maya tersenyum hangat. "Kau juga ingin bertemu dengan Riyu?"


"Ya, aku akan mengajaknya makan siang. Karena kebetulan kau ada disini, sekalian saja ikut bersama kami"


Maya tertegun pada sikap Noval yang agak aneh, tatapan benci pada dirinya seakan hilang di telan bumi.


Ternyata yang diceritakan Riyu lewat telepon waktu itu benar ya, apa Noval sudah benar-benar berubah sekarang?


"Apa aku boleh? Takutnya nanti malah mengganggu waktu kalian berdua" ucap Maya tidak enak hati.


"Hahaha. Santailah, aku yang akan traktir"


Maya menatap Noval dalam, hatinya merasakan sedikit cahaya cerah diwajah Noval. Tawa ringan yang lama tidak terlihat, kini kembali muncul dibibir Noval. "Apa, ada sesuatu di wajahku? Kau melihatku seperti ingin menamparku saja" canda Noval.


"Haha tidak. Maafkan aku, aku hanya senang melihatmu bisa tertawa lagi"


Kini Noval yang jadi agak canggung, mengalihkan wajahnya dari senyum hangat itu. "Noval. Maya? Kalian ada di sini?" sapa Riyu langsung menghampiri Maya dan memeluknya erat.


"Uuh aku kangen banget sama kamu. Oh iya, bagaimana keadaan kakek?"


Maya terdiam menatap Riyu sejenak, "Kakek... Dia, baik-baik saja" ucap Maya ragu memberi tau Riyu, tapi Noval menangkap kenyataan yang sebaliknya dari mata Maya.


"Baiklah, kalian tunggu sini dulu. Aku akan menyimpan berkas ini dan mengambil tasku" Riyu kembali meninggalkan ruangan.


"Kenapa kau menyembunyikannya dari Riyu? Jika dia tau maka akan sangat kecewa padamu" Noval menatap tajam.


"Maksudmu?" gugup.


"Tentang kakek Darma tentunya. Sebenarnya apa yang terjadi?!"


Maya terdiam, tidak mungkin dia menjawab Noval karena hatinya masih ragu, takut pria itu masih terlibat dalam kejahatan yang merenggut kejayaan Darma. "Tidak ada. Itu. Bukan urusanmu" Maya memalingkan wajahnya.


****


Sekarang giliran Riyu yang berfikir sambil mondar-mandir di ruangannya, bibir merah mudanya sibuk menggigit jari telunjuk. Ia berfikir, merencanakan sesuatu untuk moment langka ini.


"Baiklah, aku akan menemui mereka lagi dengan suatu alasan. Jika mereka bersatu, maka aku tidak akan merasa bersalah pada Noval karena tidak mampu membalas perasaannya." setelah bergelut dengan pikirannya sendiri Riyu bergegas menemui mereka di ruang tunggu.


"Maya, Noval" Riyu masuk dengan wajah yang dramatis.


"Riyu ada apa?" Maya cemas.


"Aku minta maaf pada kalian. Tapi siang ini aku harus pergi makan siang dengan klien penting, aku tidak bisa ikut dengan kalian. Maafkan aku"


Wajah Maya terlihat kecewa, tapi mau gimana lagi. Riyu sedang benar-benar sibuk sekarang. "Baiklah kalau begitu Riyu, tidak apa-apa. Kau pergilah dengan klien" jawab Maya, masih dengan perasaan yang pupus harapan.


"Sekali lagi maafkan aku ya, sudah membuat kalian kecewa. Noval, kau bisa mengajak Maya untuk menemanimu makan siang. Oke, aku pergi dulu ya. Daaahh" Riyu langsung kabur begitu saja.


"Bagaimana? Kau, mau makan siang bersamaku?"


Jantung Maya kembali berdegup kencang, "Baiklah" ucapnya gugup.


*****


Noval mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, suasana begitu canggung setelah sekian lama tidak pergi berdua.


"Noval, boleh aku bertanya?" Maya membuka obrolan.


"Silahkan" menoleh ke Maya lalu kembali menatap depan.


"Sam, apa dia sibuk sekarang? Aku mencoba menghubunginya tapi tidak bisa"


"Oh. Dia sedang mengurus proyek yang ada di kota S sekarang. Mungkin lusa baru balik. Ada apa kau mencarinya?"


"Tidak ada apa-apa, cuma, ada yang harus aku bahas dengannya"


"Baiklah. Aku akan mengabarimu jika Sam sudah pulang nanti." Lagi-lagi Maya dibuat terkejut dengan sikap Noval yang sudah mulai normal itu.

__ADS_1


Suasana kembali hening, setelahnya tidak ada percakapan lagi. Sampai akhirnya, ada sesuatu yang Noval rasa aneh.


"Maya, apa kau datang bersama seseorang?" tanya Noval dari balik kemudi. Sesekali matanya melirik tajam ke arah spion.


"Tidak. Aku datang sendiri" jawab Maya tidak paham.


"Memangnya ada apa Noval?"


"Mobil itu terus mengikuti kita sejak keluar dari loby tadi" jawab Noval. Kini semakin yakin kalau suasananya lebih gawat dari apa yang ia duga. Apa yang dilakukan Maya, sampai dia di kuntit seperti ini. Hati Noval bertanya-tanya.


"Sepertinya. Aku melihat mobil itu saat keluar dari kompleks kediaman Kakek Darma"


"Apa?" Noval terkejut. Berarti dugaannya benar, kalau Maya memang sedang diikuti orang.


Noval terus mengamati mobil itu, lalu ia membelokkan mobilnya menuju parkiran sebuah restoran. Dia ingin tahu, sejauh mana penguntit itu mengikuti.


"Bersikap biasa. Kita ikuti dulu permainan mereka" Ucap Noval agak berbisik. Maya hanya mengangguk tanda setuju. Mulai tidak nyaman suasananya.


Tempat pojok tapi bisa sambil mengawasi sekitar, menjadi tempat pilihan Noval saat itu. Ia membuka buku menunya lalu memesan untuk dua porsi beserta masing-masing minumannya.


"Katakan padaku sebenarnya apa yang terjadi! Apa kau akan menyembunyikan masalah segenting ini Maya?!" ucap Noval menatap tajam.


Maya semakin tertekan. Dia harus menyampaikan pada Sam secepatnya, tapi yang di hadapannya sekarang ini adalah Noval, apa dia bisa dipercaya?! begitulah pertanyaan yang ada dihatinya. Tapi melihat gelagat Maya yang ragu padanya membuat Noval sadar, ya, selama ini padangan orang terhadapnya tidak bisa begitu baik memang.


"Baiklah, aku mengerti. Tidak perlu memaksakan diri untuk bercerita" Noval mendengus kesal.


Di bawah meja Maya menggenggam jarinya erat, wajah kakek Darma yang pucat, perusahaan yang runtuh, kediaman yang kehilangan kedamaian, mengingat itu semua Maya tak mampu lagi menatap tegar. Bibirnya mulai terisak dibalik wajahnya yang tertunduk. seketika itu Noval langsung memandang pekat pada Maya yang kehilangan kekokohannya.


"Sebenarnya aku takut" ucap Maya lirih ditengah isaknya. "Semua telah berubah, Kakek Darma sedang dalam masa sulit sekarang. Bahkan kesehatannya semakin memburuk Noval" Maya mulai berani mengangkat wajahnya yang berlinang.


Noval terdiam, gadis tegas yang tidak pernah memperlihatkan air matanya kini benar-benar terlihat seperti ranting yang begitu rapuh.


"Aku ingin memberitahu Riyu semuanya, tapi Kakek selalu melarangku. Aku mencoba menghubungi Sam tapi tidak bisa, aku ingin meminta bantuannya, sekarang katakan padaku apa yang harus aku lakukan Noval?"


Baru saja akan angkat bicara, pelayan datang meletakkan pesanan di atas meja. Maya pun langsung menghapus air matanya, dan mengatur nafasnya supaya lebih tenang. Usai pelayanan restoran berpaling dari hadapan mereka, Noval menggapai tangan Maya dan menggenggamnya. Tapi...


Mata Noval langsung tertuju pada piring yang terletak di depan Maya, ada satu barang kecil berwarna hitam, berkedip-kedip mengikuti detik jam dengan lampu kecil berwarna merah. Noval masih mengamati, kedipan dari benda kecil itu kian cepat.


"Maya!" Teriak Noval, ia menarik tangan Maya hingga masuk ke dalam pelukannya. Noval memeluk Maya dengan erat dan....


Duaaaarrrr!!!


Ledakan keras menghancurkan meja dan barang yang ada di atasnya. Noval dan Maya terpental di lantai, asap hitam mengepul memenuhi restoran.


Noval tetap berusaha supaya tidak kehilangan kesadaran, telinganya berdengung kencang karena suara ledakan keras. Dalam pelukannya masih ada Maya, jika sedikit saja terlambat maka Maya pasti akan terkena ledakan itu.


"Maya? Maya!" ucap Noval sambil menggerakkan wajah Maya yang pucat dan terpejam. Maya tidak sadarkan diri.


*****


"Noval. Noval apa yang terjadi? Bagaimana keadaan Maya?" Riyu panik saat dirinya sampai di rumah sakit. Noval mendapatkan cidera dilengannya karena menopang tubuh Maya, sedangkan Maya masih tidak sadarkan diri akibat benturan di kepala.


"Dia baik-baik saja, kau jangan khawatir" ucap Noval menyentuh kepala Riyu.


"Lalu bagaimana denganmu?" Riyu menyentuh lembut lengan Noval yang diperban.


"Hanya cidera ringan"


"Apa yang terjadi? Kenapa Tina ada ledakan di restoran?"


"Riyu, kau pergilah. Jaga Maya, biar aku yang menyelidikinya"


Riyu mengangguk, ia bergegas pergi menemui Maya yang masih belum sadar di kamar inap tak jauh dari Noval. Mata Noval menatap lurus ke arah lantai rumah sakit, ledakan di restoran tadi mengingatkannya pada suatu kejadian. Jenis bom yang di sesain khusus, ledakan yang sama, ledakan, yang waktu itu merobohkan kincir raksasa di tahun baru kota Y. Sepertinya, Noval mendapatkan sedikit titik putunjuk yang kuat tentang siapa dalang dibalik semua itu.


"Mangsur!"


Ucap Noval mengepalkan tangannya geram hingga menggertakkan giginya.

__ADS_1


__ADS_2