Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Anan Ditangkap


__ADS_3

Hari ini Casandra menghabiskan waktu liburnya di rumah, Biasanya ia memilih untuk berlatih di pinggir danau karena pergi keluar pun, Sam pasti tidak mengijinkannya. Boleh sih, tapi harus ada penjaga yang mengerubutinya seperti semut. Ngeselin.


"Casandra" Sapa Riyu yang membawa jus alpukat kesukaan putrinya. "Sudah dari tadi kau berlatih, sini istirahatlah"


"Baik bu" jawab Casandra terengah.


Riyu mengamati Casandra yang meminum jusnya dengan riang, sepertinya memang sangat kehausan. "Haha pelan-pelan minumnya!"


"Ini enak sekali bu, kau sangat tau apa yang Sandra suka. Terimakasih bu" kecupan cepat mendaarat di pipi Riyu.


"Dasar kau ini. Casandra ibu mau bertanya padamu, apa benar topimu hilang?"


"Uhuk... Uhuk... " langsung tersedak karena mendengar pertanyaan Riyu.


"Sayang, sudah ibu bilang pelan-pelan minumnya!" Riyu menepuk punggung Casandra.


"Ibu maafkan aku, aku janji akan menemukan topi itu. Tapi tolong jangan beritahukan pada ayah" Casandra bersimpuh di pangkuan Riyu.


"Sayang. Hentikan tingkah konyolmu itu. Ayah sudah tau semuanya"


"Apaaa!!!" teriak Casandra. "Ibu, apa ayah akan menghukumku?" Casandra langsung memeluk Riyu.


"Mana mungkin ayahmu tega menghukum putrinya yang manis ini. Casandra, kau sudah 17 tahun sekarang, kenapa masih selalu bertingkah ceroboh"


"Ibu, aku tidak sengaja. Topi itu tertukar saat kami bertubrukan di kampus"


"Bagaimana bisa kalian bertubrukan?!" Riyu heran.


"Laki-laki itu sedang kocar-kacir dikejar senior wanita bu, dia lari ngga lihat ke jalan lalu menabrakku"


Riyu tertawa geli mendengar cerita Casandra. "Dia pasti laki-laki tampan sampai-sampai dikejar para wanita di kampus. Haha"


"Tampan apanya! Dia sangat menyebalkan!" ucap Casandra kesal.


"Sayang hati-hati, seseorang yang menyebalkan biasa jadi dia adalah orang yang akan kau rindukan nanti. Haha" Riyu menggodanya sambil berlalu masuk kerumah utama.

__ADS_1


"Ibuuu" rengek Casandra tidak terima dengan ucapan Riyu. Ch, gantengan juga Riko! gumamnya dalam hati.


*****


Nafas panjang terdengar di jok belakang kemudi, Doni menatap Sam yang sedang terpejam menyandarkan kepalanya. Pekerjaan hari ini begitu melelahkan, hari libur tapi Sam masih belum bisa libur, apalagi hari ini Sam mendapatkan klien yang lumayan keras kepala. Energinya terbuang untuk menahan emosinya.


"Jadi dia disini?" ucap Sam sambil terus memperhatikan kedai Sanya yang terlihat ramai pelanggan.


"Ya tuan, setelah nyonya Suti wafat. Mereka membuka usahanya disini." jelas Doni.


Lama mereka terdiam di pinggir jalan, Sam masih terus memperhatikan gerak-gerik orang-orang yang ada di sana, sampai akhirnya, mata dinginnya menangkap sosok yang ia tunggu dari tadi.


Pria berbadan tegap, tinggi, tampan tentunya. Mata goldnya terpancar setelah terkena sorot sinar matahari, Sam tersenyum sinis ketika melihat topi putrinya terpasang di kepala pria itu.


"Cih, dia pasti akan menjadi musuh paling menyebalkan untuk Casandra" ucap Sam. Doni tersenyum tipis dari balik kemudi mobil.


"Kita lakukan sekarang?" tanya Doni.


"Tentu, aku ingin melihat pertunjukannya" ucap Sam masih belum beralih dari Anan.


Saat itu juga Doni mengeluarkan ponselnya, cukup satu kali tekan saja, ia sudah mengirimkan sinyal pada anak buah untuk melaksanakan tugasnya.


*****


Tap, tap, tap.


Suara hentakan langkah kaki bersepatu terdengar jelas mendekat dari belakang Anan, ia berbalik, tapi sayang, belum sempat Anan jelas melihat orang yang datang ia sudah terkena tinju di bagian pipinya.


Anan menghindar dan melangkah mundur. Berdiri tegap menghapus darah yang mengalir di ujung bibirnya, sambil menatap satu persatu orang yang sudah mengepung dirinya.


"Siapa kalian?!" tanya Anan dengan nada dingin dan tatapan tajam.


Tidak ada jawaban dari orang berpakaian serba hitam itu, salah satu dari mereka langsung kembali menyerang Anan tanpa alasan yang jelas. Bak, buk... Perkelahian empat banding satu terjadi.


"Anan! Apa yang terjadi." Sanya panik ketika melihat adiknya dikeroyok orang. Perkelahian itu membuat pelanggan Sanya lari ketakutan meninggalkan kedai.

__ADS_1


"Hentikan! Kenapa kalian menyerang adikku!" ucap Sanya sambil membantu Anan memukul menggunakan sapu. "Hentikan!" teriak Sanya lagi.


Hantaman, tendangan, serta gerakan menangkis. Anan sudah hampir tumbang karena orang itu menghajarnya tanpa celah. Salah satu dari mereka menangkap sapu yang terus dipukulkan oleh Sanya, ia langsung menyergap Sanya supaya berhenti memukul.


"Jangan kau sentuh kakakku!" ucap Anan bergetar marah. Wajahnya yang sudah babak belur menatap tajam pada orang yang menyergap Sanya.


Meskipun sudah kehilangan sebagian tenaganya, Anan kembali bangkit menyerang balik untuk menyelamatkan Sanya. Dua pria berbaju hitam itu mencoba mencegah Anan, tapi, sekarang kekuatan Anan terasa lebih kuat hingga mereka tidak sanggup menahannya.


Selang beberapa menit kemudian, orang berbaju hitam itu bergelimpangan menahan sakit ditubuhnya. "Prok... Prok... Prok..." terdengar suara tepuk tangan.


"Tu... Tuan Sam" pekik Sanya.


Sam membuka kacamata hitamnya, ia melihat anak buahnya yang sudah terkapar di lantai. "Hmh. Perlindungan diri yang bagus. Anan" ucap Sam menatap tajam pada pemuda di hadapannya.


Anan terdiam, ia tidak mengerti. "Kau berhasil mengalahkan anak buahku yang sudah terlatih."


"Ma... Maaf Tuan. Tapi kenapa anak buah tuan Sam menyerang adik saya?" tanya Sanya.


Perlahan tanpa mengalihkan pandangannya pada Anan, Sam mendekat lalu menarik topi yang masih dikenakan Anan. "Karena ini. Topi berlian putriku" ucap Sam bernada dingin.


Anan dan Sanya sangat terkejut. Selama ini yang mereka tau topi itu milik bodyguard wanita Tuan Sam, mereka sama sekali tidak tau kalau pemilik sebenarnya adalah putri Sam.


"Kau tau betapa istimewanya topi ini?" ucap Sam. Anan dan Sanya hanya bisa terdiam menahan cemas, berurusan dengan Sam mereka tau pasti akibatnya. Jika bukan nyawa, maka jalan hidup yang akan hilang.


"Aku dan Riyu yang mendesain khusus topi ini. Dari ukuran, bentuk, juga hiasan. Sederhana memang, tapi, ini... " Sam menunjuk huruf S yang terdapat di topi.


"Ini adalah diamond gold Yang hanya terdapat di pertambangan Galuh senilai $17 juta. Dengan seenaknya kau mengambil barang berharga ini?!"


Sanya menatap Anan. Tubuhnya gemetar, takut, tapi ia sendiri tidak tahu harus melakukan apa. "Maafkan adik saya Tuan. Saya yakin dia tidak sengaja mengambilnya, sekarang topi itu bisa tuan ambil kembali tapi tolong bebaskan Anan" ucap Sanya bergetar.


Sam menatap tajam kearah Sanya. "Kau pikir semudah itu?!" bentak Sam. Sanya tertunduk memeluk lengan Anan.


"Tangkap dia! Bawa dia menghadapku." ucap Sam berlalu menuju mobilnya.


Seketika itu juga, anak buah Sam tadi menyergap Anan dan memasukannya ke dalam mobil. Tidak ada perlawanan dari Anan, ia diam, pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya.

__ADS_1


"Tidak! Tuan tolong jangan bawa adik saya. Tuan, biar saya yang menerima hukumannya, tolong jangan bawa adik saya. Tuan!" Sanya mencoba menghentikan mereka, tapi percuma, sekuat apapun Sanya berusaha menahannya. Anan tetap dibawa oleh Sam.


"Aanaaann!!!" Teriak Sanya tersimpuh melihat mobil yang melaju semakin jauh. Apa yang harus ia lakukan sekarang, Anan adalah satu-satunya keluarga yang ia punya. Sanya tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi pada adiknya.


__ADS_2