
Tuk... Tuk... Tuk...
Telunjuk Riyu bergerak naik turun mengetuk permukaan meja, ia duduk menatap hampa pada ruangannya. Kejadian malam itu membuat Riyu lebih menghindari Sam saat di rumah...
Tidak... Menghindar bukan karena Riyu benci pada Sam, tapi karena Riyu takut hanyut lebih dalam terbawa perasaan.
Kling... Satu pesan di terima.
"Riyu, aku harap kau tidak melupakan janjimu untuk menemaniku menghadiri pesta pernikahan di kota S besok malam"
Begitulah isi pesan yang ternyata dari Sam. Riyu menggigit bibirnya, dia mencoba untuk menghindar tapi lupa kalau sudah menyanggupi ajakan Sam.
"Bagaimana ini... Apa aku harus meminta ijin pada Noval? Aku takut dia marah, tapi kalau ga ijin takutnya jadi masalah"
"Aduuhhh... Jadi ribet gini sih" Ucap Riyu lalu menggeletakkan kepalanya di atas meja.
"Non Riyu" Sapa Asistennya dari depan pintu.
"Ya" Jawab Riyu menegakkan kepalanya.
"Saya ingin menyerahkan berkas yang Tuan Darma kirim tadi pagi" ucap asisten memberikan sebuah berkas pada Riyu.
"Oke, thanks" jawab Riyu menerima berkas.
Setelah asistennya keluar dari ruangan, Riyu langsung membuka berkasnya. "Ini... Baru kali ini kakek memberiku berkas yang berbeda" gumam Riyu serius memeriksa setiap halamannya.
"Hah... Laporan tambang berlian? Kakek belum pernah membahas ataupun memberitahuku tentang tambang berlian sebelumnya. Lebih baik aku menemui kakek supaya jelas" Ucap Riyu langsung memasukkan berkas itu ke dalam tasnya dan bergegas menuju perusahaan Darma Union.
"Riyu, kau mau pergi kemana?"
"Noval? Kau ada disini?"
"Ya, aku ingin mengajakmu makan siang. Tapi sepertinya kau buru-buru"
"Aku cuma mau pergi menemui kakek, mungkin kita bisa pergi makan siang dulu"
Riyu dan Noval berjalan beriringan menuju lobby, merekapun pergi menuju restoran yang tak jauh dari sana
"Ada apa dengan kakek?" Tanya Noval sambil fokus menyetir.
"Aku rasa kakek memberiku berkas yang salah" Riyu mengangkat kedua bahunya.
"Kok bisa? Memang... Berkas apa yang kakek berikan padamu?"
"Aku sih baru membacanya sebagian Val, karena banyak yang ga aku paham. Cuma... Di berkas itu isinya hasil pendapatan tambang berlian"
Ciiitttt... Noval menghentikan mobilnya secara mendadak. "Noval perhatikan setirmu!" Ucap Riyu kaget.
"Sorry... Ehm... Pendapatan tambang berlian?" Tanya Noval lalu melajukan mobilnya lagi.
Dia ingat kalau Mangsur pernah membahas tentang tambang berlian ini sebelumnya. Kebetulan sekali, berarti ia mendapatkan kesempatan untuk mengorek informasi lebih dalam. Sebelum membahas lebih jauh, Noval membelokkan mobilnya menuju restoran.
"Boleh aku lihat berkasnya?" ucap Noval.
"Oh sebentar" Riyu mengambil berkas dari tasnya lalu memberikannya pada Noval. "Ini... Mungkin kau paham dengan grafiknya?" ucap Riyu.
Noval memeriksa dengan serius, dia benar-benar tidak sangka kalau pendapatan pertahunnya bisa mencapai ratusan kali lipat dari keuntungan perusahaannya.
"Pantas saja, Mangsur begitu berambisi untuk mendapatkan tambang berlian itu!" Bisik Noval dalam hati.
Tapi sayang sekali, di berkas itu tidak satupun tercantum dimana tempatnya letak dari tambang berlian itu.
"Bagaimana Noval?"
"Sepertinya kau memang harus bertanya pada kakek, supaya lebih jelas informasinya. Em... Maksudku, supaya kau paham"
"Ya kau benar, selama ini kakek tidak pernah membahas tentang tambang itu" ucap Riyu lalu melahap makanannya.
"Mungkin setelah ini kau harus bahas lebih detail Riyu, kakek Darma memang memiliki banyak kejutan" Noval mengeluarkan seringainya. Kali ini, lewat perantara Riyu dia akan terus mengorek informasi yang selama ini di sembunyikan dengan rapat.
"Oh iya Noval, Sabtu nanti aku harus menghadiri acara pernikahan di kota S dan..." ucap Riyu was-was, dia takut kalau Noval akan keberatan.
"Pergilah" jawab Noval langsung. Moodnya sedang baik gara-gara berlian.
"Terimakasih suamiku" ucap Riyu melempar senyum.
Meskipun akhir-akhir ini Noval sering di buat kesal oleh Sam, rasanya tergantikan sudah... Semua terbayar saat Noval tau Darma mulai mempercayai Riyu untuk mengurus mengenai pertambangan berliannya.
Usai makan siang Riyu dan Noval kembali ke kantornya masing-masing, Noval menurunkan Riyu di lobby Darma Union. Melihat Riyu datang, sekertaris Darma langsung menyambutnya dengan ramah.
"Selamat siang Nona Riyu"
"Selamat siang, apa kakek ada?"
"Seperti biasa, beliau ada di ruangannya. Oh iya, ada apa nona tiba-tiba datang?"
__ADS_1
"Sekertaris, aku datang karena sepertinya kakek telah memberikanku berkas yang salah" Jawab Riyu menjelaskan.
"Apa kau yakin Nona?"
"Ya... Aku sudah memeriksanya, dan itu berkas yang tidak seperti biasanya"
Sekertaris tersenyum lembut, "Nona, Tuan sendiri yang menyuruhku untuk mengantar berkas itu. Dan... Tidak mungkin salah"
"Benarkah? Tapi aku masih belum paham apalagi tentang tambang..."
"Nona..." Sekertaris langsung memotong ucapan Riyu, "Kita bahas di ruangan Tuan saja" ucap sekertaris melihat ke seluruh penjuru, meyakinkan kalau tidak ada orang yang dengar.
Melihat ekspresi sekertaris, sepertinya tentang pertambangan itu memang rahasia. Jadi tidak bisa di bahas di sembarang tempat, Riyu menyetujui usulnya mereka pun bergegas menemui Darma di ruangannya.
"Selamat siang kakek" Sapa Riyu.
"Siang. Sudah ku duga kau akan datang kemari Riyu"
Riyu tersenyum penuh tanda tanya, "Jadi kakek sengaja?"
Darma mendekat ke hadapan Riyu... "Ya. Aku sudah terlalu tua, jadykau harus mulai belajar hal baru selagi aku masih hidup" Darma beranjak dari tempat duduknya...
"Pertambangan berlian ini memang sengaja di rahasiakan karena ada satu pihak yang begitu berambisi untuk mengambil alih, jika sampai itu terjadi maka... Kita tidak bisa lagi menciptakan kedamaian di kota ini, karena mereka akan menggunakannya untuk memperkaya diri"
"Om.. Mangsur?"
"Kau ingat?"
"Ya. Kakek pernah bercerita padaku"
Darma tersenyum... "Riyu, kau boleh menanyakan padaku jika ada yang tidak paham, tapi aku berpesan padamu. Jaga rahasia ini, jangan sampai ada orang yang tau termasuk... Suamimu, Noval"
"Loh, Kenapa kek? Noval itu kan suamiku, kenapa dia ga boleh tau?"
"Aku tidak mempercayainya" ucap Darma menatap Riyu tajam.
Tatapan Darma membuat Riyu tidak berani membantah, itu tandanya ada sesuatu yang tidak kakek suka dari Noval.
"Baik kek" ucap Riyu memandang dalam.
Sepanjang perjalanan Riyu merenung sambil melihat keluar jendela mobil, Bayu mengantarnya pulang ke kediaman Mahesa, sesekali melirik Riyu dari spionnya.
"Nona, kau tidak boleh terlalu banyak berfikir" ucap Bayu mencairkan suasana yang senyap.
"Nona... Tua Darma melakukan itu semua karena tidak ingin kau sakit. Aku berdiri di sampingnya sejak aku masih muda, aku paham benar apa yang dia khawatirkan"
Riyu mendengarkan ucapan Bayu dengan serius...
"Nona, Untuk saat ini tuan Darma tidak berani berbicara terlalu banyak. Dia takut kau akan tertekan dan banyak fikiran, jadi Nona... Jangan berfikir yang tidak-tidak, apa yang di lakukan Tuan Darma tidak lain adalah untuk kebaikan Nona Riyu, beliau sangat menyayangimu"
"Baiklah... Aku mengerti" Jawab Riyu bergetar, dia sudah salah paham pada kakek. Mendengar penjelasan Bayu, saat itu juga rasanya ingin sekali Riyu memeluk kakeknya erat...
****
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Riyu mengantar Noval ke bandara. Mungkin butuh waktu 14 hari untuk Noval mengerjakan tugas perusahaannya. Setelah pulang dari bandara Riyu akan pergi bersama Maya mencari gaun untuk acara bersama Sam malam nanti.
"Riyu, aku sudah ada di kediaman Om Mahesa sekarang. Apa kamu udah mau pulang?" Tanya Maya lewat telepon.
"Maya, aku sedang dalam perjalanan pulang, Tapi jalanannya macet banget. May, kamu masuk aja dulu ke rumah, kamu tunggu aku ya"
"Em... Aku..."
"Udah ga papa, ga perlu sungkan, oke?" Ucap Riyu langsung mematikan teleponnya.
Maya yang masih berdiri di depan pintu gerbang kediaman Mahesa, menatap ragu ke arah rumah itu. Maya bimbang, antara masuk... Atau tetap menunggu di luar.
Namun, saat Maya berpaling hendak menjauh dari rumah Mahesa... "Non Maya ya?" Tanya Mirah yang tiba-tiba muncul dari gerbang.
"I... Iya" Jawab Maya gugup.
"Kenapa masih di luar Non? Mari silahkan masuk" ucap Mirah ramah.
"Tapi Bi... Lebih baik aku tunggu di luar saja"
"Jangan Non, kalau tunggu di luar nanti Bibi bisa dimarahi Non Riyu. Barusan Non Riyu telepon menyuruh Bibi buat jemput Non Maya masuk"
Maya masih tertegun, kakinya terasa sangat berat saat hendak berjalan masuk rumah Mahesa... "Tidak apa, Mari Non" Mirah langsung menggiring Maya masuk ke dalam rumah.
Setelah sampai di ruang tamu, Mirah bergegas pergi ke dapur untuk membuat minuman dan cemilan. Sebelum duduk di sofa, Maya menoleh ke seluruh penjuru ruangan dengan wajah cemas.
"Semoga dia sudah pergi ke kantor" gumam Maya.
Tak lama kemudian Mirah datang lagi dengan segelas teh hangat dan beberapa jenis kue...
"Silahkan Non Maya, kalau ada perlu apa-apa bibi ada di dapur"
__ADS_1
"Terimakasih Bi" jawab Maya tersenyum ramah.
Sudah 20 menit Maya menunggu, tapi Riyu belum datang juga. Sepertinya mereka meleset jauh dari perkiraan waktu yang sudah di tentukan, Maya sudah mengirim pesan untuk Riyu, katanya sekitar 15 menit lagi Riyu akan sampai.
"Kau masih memiliki keberanian untuk muncul di hadapanku?!" Ucap seseorang memecah keheningan.
Sontak Maya langsung berdiri dan menoleh ke sumber suara... "Ta... Tante Nita" pekik Maya, wajah Maya berubah pucat saat melihat Nita.
"Maya..." Ucap Nita mendekat sambil mengamati dari ujung rambut hingga ujung kaki, membuat Maya semakin gugup.
"Sudah 7 tahun berlalu ya, dan... Apa kau sudah lupa dengan perjanjian itu?" Ucap Nita menatap tajam.
"Maaf Tante, tapi kedatangan ku kemari hanya untuk bertemu dengan Riyu! Tidak lebih" jawab Maya, sambil mencoba menguatkan diri.
"Ya... Tentu. Dengan kedekatanmu dengan Riyu kau pun bisa sering bertemu dengan Noval bukan? Tidak di ragukan lagi jika sewaktu waktu sikap murahanmu itu muncul kembali" ucap Nita menatap sinis..
Maya terdiam, ia berdiri gugup sambil meremat jari jemarinya. "Tante, Kau tidak berhak menuduhku seperti itu!"
"Menuduh? Itu fakta! Aku salah... Aku salah karena masih membiarkanmu hidup, seharusnya dulu aku membuatmu pergi ke alam baka bersama janin harammu itu!"
Mendengar ucapan Nita, Maya merasakan ada api yang membakar dadanya, api yang telah ia tahan selama bertahun-tahun. Matanya yang sayu berubah tajam menatap ke arah Nita...
"Kau lupa! Janin yang kau hina tidak lain adalah cucumu sendiri, Tante!" Ucap Maya bergetar.
"Aku tidak menginginkan cucu dari rahimmu!" Jawab Nita.
"Kau memang wanita yang tidak memiliki perasaan, melakukan segala cara untuk menuruti ambisi serakah mu itu. Wanita sepertimu tidak pantas di sebut sebagai nenek, atau bahkan.... Sebagai ibu!" Ucap Maya tegas, masih menatap Nita tajam diiringi mata yang mulai berair.
"Kau berani berbicara seperti itu padaku!" Nita menggertakkan giginya.
"Kenapa tidak? Kau merubah Noval menjadi iblis, sama seperti dirimu!"
Plaakkk.... Nita menampar Maya dengan keras. Namun Maya kembali menatap Nita yang mulai geram...
"Hemh... Jika bukan aku yang memberi kelembutan pada Noval, siapa lagi? Jika bukan aku yang memberinya kehangatan, kasih sayang siapa lagi? Sedangkan kau sebagai ibunya sibuk mengejar harta dan mendidiknya dengan menanamkam kebencian sehingga Noval menjadi seperti yang sekarang ini!"
"Diam kau!" Bentak Nita.
"Kau yang diam Nyonya Mahesa! Kau mempengaruhinya supaya Noval meninggalkan aku! Kau memfitnah ku supaya Noval membenciku! Dan bahkan kau membunuh hasil dari benih cinta kami! Kau kejam!"
Nita terdiam, dia tidak menyangka kalau Maya... Gadis polos dan mudah sekali di ancam, kini berbicara lugas di hadapannya.
"Aku melakukannya karena tidak ingin hidup Noval terpuruk! Aku ingin dia menikahi gadis yang lebih baik!"
"Lebih baik... Atau lebih kaya?!" Sahut Maya langsung. "Tante... Meskipun kini Noval telah menikah dengan Riyu, itu bukan berarti aku akan marah ataupun membenci Riyu. Tapi justru aku akan melindungi Riyu dari iblis sepertimu, aku tidak akan membiarkannya bernasib sama sepertiku!" Ucap Maya lalu melangkah mendekat ke hadapan Nita....
"Ingat Tante, aku memegang semua kartumu! Dulu aku memang terlalu bodoh karena harus takut dengan ancamanmu, tapi sekarang... Aku akan berdiri melawanmu! Atau mungkin... Menggagalkan rencanamu!" Ucap Maya lalu berbalik menuju pintu. Namun...
"Riyu..." Langkah kaki Maya terhenti saat melihat Riyu sudah berdiri di sana.
"Ada apa ini?!" Tanya Riyu menatap Maya tajam. Maya tertunduk menyembunyikan matanya yang merah...
"Jawab Maya!" Bentak Riyu. Namun Maya tidak memiliki kekuatan untuk menceritakan pada Riyu sekarang,
"Riyu kau sudah pulang, ayo kita bergegas. Kita harus segera ke butik untuk keperluanmu" Ucap Maya tersenyum menyembunyikan perasaannya.
Tapi Riyu menyingkirkan tangan Maya dari lengannya, kemudian Riyu mendekat ke arah Nita dengan tatapan yang menusuk. "Rencana apa yang akan kau lakukan? Kenapa kau mengancam Maya?"
"Riyu, kau hanya salah paham..."
"Aku tidak tuli Ma!"
"Cukup Riyu! Urusi saja urusanmu!" Ucap Nita lalu beranjak pergi.
Riyu beralih memandang Maya yang sedang menghapus sisa air mata di ujung matanya, meskipun tidak banyak yang Riyu dengar tapi Riyu merasakan kalau Maya benar-benar sedih. Saat itu juga, Riyu melihat ada bekas tamparan di pipi kiri Maya.
"Apa ini? Apa mama Nita menamparmu!" Tanya Riyu melihat pipi Maya yang merah dan bengkak.
"Tidak apa-apa Riyu, mungkin karena aku terlalu lancang tadi, jadi dia reflek mensmparku,x jawab Maya sambil tersenyum.
Riyu terdiam menatap Maya dalam, bagaimana cara dia membelsnya sedangkan ia belum tau permasalahannya, karena hanya sedikit yang baru Riyu dengar tadi.
"Sudahlah, ayo kita harus segera pergi. Jika tidak, nanti kau bisa terlambat pergi dengan Sam" ucap Maya sedikit berbisik.
Merekapun bergegas menuju mobilnya, meskipun Maya tersenyum, ceria, banyak bicara di sepanjang perjalanan, tapi rasa Riyu merasakan kalau sisi lain dari Maya sedang menyembunyikan rasa sedihnya.
"May..." Ucap Riyu memotong cerita hebohnya Maya.
"Iya, ada apa Riyu?" Tanya Maya menatap Riyu heran.
Tapi Riyu cuma diam memandang Maya sambil menahan tangisnya, lehernya terasa kelu dan bingung mau ngomong apa. Tiba-tiba Riyu langsung memeluk Maya dengan erat.
"Maafin aku May, aku tau apa yang kau rasakan sekarang meskipun... Aku tidak tau masalah apa yang kau hadapi. Tapi, aku tidak akan rela jika ada orang yang berani menyakitimu... Siapapun itu aku tidak rela!" ucap Riyu terisak memeluk Maya.
Maya hanya terdiam, ia harus menguatkan dirinya supaya Riyu tidak cemas. "Sudahlah Riyu, kau jangan sedih, oke" ucap Maya menepuk punggung Riyu pelan.
__ADS_1