Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Pelampiasan


__ADS_3

Kerlip bintang membuat Casandra enggan berpaling, lama ia tidak berkedip menatap hampa. Di sisi kirinya Anan duduk memandanginya, memandang wajah manis, sosok gadis muda yang malam itu rambutnya terurai panjang. Pemandangan langka karena selama ini Casandra sangat suka mengikat rambutnya.


Anan tersenyum, ia tau apa yang sedang dipikirkan Nona mudanya. "Nona, seharusnya kau beruntung dan bahagia memiliki orang tua yang sangat menyayangimu" ucap Anan beranjak lalu berdiri di pembatas balkon.


Casandra masih terdiam, tanpa berpaling masih menatap langit. "Tuan Sam memang sangat prosesif. Semua dibatasi, dan tidak akan bisa bebas tanpa seijinnya. Dia seorang ayah yang sangat penyayang hanya saja dia tidak bisa mengungkapkannya dengan cara yang lembut"


Casandra mulai gusar, keinginannya untuk menenangkan diri terusik oleh ucapan Anan. Dadanya kembali naik turun hendak meluapkan emosinya. Anan menyadari hal itu.


"Tapi Nona, kau sangat beruntung masih memiliki kedua orang tua, bahkan masih bisa merasakan kasih sayangnya meskipun kadang memberatkan dipihak anak. Tapi di sisi lain, banyak anak yang tidak bisa mendapatkan itu bahkan, tidak tau dimana dan siapa orang tuanya. Hidup seperti yatim piatu."


Tatapan Casandra langsung beralih menatap sosok pria yang sedang menatapnya sayu. "Apa itu yatim piatu?" tanya Casandra lirih.


"Anak yang tidak memiliki ayah dan ibu" Anan menatap seksama. "Ada yang hidup di jalanan, panti asuhan, mereka berdiri sendiri mencari jalan untuk hidup. Tidak ada bodyguard, padahal banyak orang yang berbuat jahat padanya. Bekerja terlebih dahulu baru bisa makan. Sedangkan kau Nona, hidupmu sempurna tapi kenapa kau malah protes"


Casandra terdiam, ia tertunduk lalu mengalihkan wajahnya ke arah lain. "Baiklah Nona, malam semakin larut. Lebih baik kau beristirahat sekarang" ucap Anan.


"Aku masih ingin disini" jawab Casandra tanpa menoleh.


Anan mengurungkan langkah kakinya, ia kembali menemani Casandra sampai ia puas menikmati suasana malam yang semakin dingin.


*****


Tiga hari berlalu, Sam datang berkunjung ke rumah Mahesa. Tidak banyak yang mereka obrolkan karena pada saat Sam datang Casandra masih ada di kampusnya. Ada rasa berat di hati Sam karena harus berpisah dengan Casandra. Tapi demi ketenangan putrinya, ia terpaksa meninggalkannya dengan kakeknya.


"Bagaimana Sam, apa kau menyerah dengan putrimu?" ucap Mahesa lalu terkekeh.


Sam tersenyum. "Seharusnya kau bersyukur Pa, karena dirumah jadi ada teman" ucap Sam.


"Kau ini pandai sekali membuat alasan" Mahesa terkekeh. "Sam, kau harus bisa lebih bijaksana lagi. Casandra masih sangat belia, dia juga butuh bergaul dengan teman lainnya. Biar dia eksplor masa mudanya"


"Jadi aku harus membebaskan dia, mengeksplor dunia luar maksudmu? Apa jadinya putriku nanti" Sam keberatan.

__ADS_1


"Tapi setidaknya kau tidak terlalu prosesif, Sam"


"Aku tau kalau yang aku lakukan agak sedikit berlebihan Pa, tapi setidaknya aku bisa melindungi putriku. Aku tidak ingin kejadian waktu itu terulang kembali" ucap Sam mengepalkan tangannya.


Mahesa terdiam melihat kepalan tangan putranya gemetar. Ia tau, kejadian itu sangat membuat Sam syok bahkan mungkin sampai sekarang.


"Papa mengerti, Sam. Kalau begitu biar Papa yang menjaga Casandra di sini, kau jangan khawatir, aku akan menasehatinya perlahan" ucap Mahesa.


"Sam, aku sudah siap" ucap Riyu yang sudah mengemasi barang-barangnya.


Sesaat Riyu memandangi kamar atas yang ditempati Casandra, hatinya sangat berat tapi ini akan berakhir ketika keduanya damai. "Papa, kami pulang. Titip Casandra ya, mungkin dia akan membuatmu sedikit sakit kepala" ucap Riyu tertawa tapi membendung air mata.


"Papa akan menjaga Casandra semampu Papa Nak, kalian hati-hati di jalan."


Sam dan Riyu bergantian memeluk Mahesa. Lambaian tangan mengiringi laju mobil yang bergerak meninggalkan kediamannya.


*****


"Sandra, aku dengar kau tinggal bersama kakekmu sekarang?" ucap Sara dengan nada sedih.


"Wah hebat sekali. Baru beberapa hari saja gosip ini sudah tersebar luas" ucap Casandra.


"Tidak ada yang tau selain kami Sandra. Aku tau kau ada dirumah kakek dari pelayanmu"


"Terus, memang kenapa kalau aku tinggal bersama kakek? Kalian mau meledekku? Menghinaku karena aku di usir oleh ayah yang maha kaya itu?!" berbicara dengan nada marah.


"Casandra apa maksudmu?! Kami tidak meledekkmu, atau bahkan menghinamu. Sandra, kami tau kau sedang ada masalah tapi tolong jangan tuduh kami seperti itu, kau sahabat kami San, mana mungkin kami seperti itu?" ucap Nanda.


Casandra terdiam, ia masih kesal pada kehidupannya dan malah melampiaskan pada teman-teman terbaiknya. "Maafkan aku" ucap Casandra lirih bergetar.


Nanda dan Sara langsung memeluk Casandra. Mereka tau emosional Casandra memang sedang kurang baik. "Kita adalah sahabat, Casandra. Suka duka kita berbagi bersama. Okey" ucap Sara mengusap punggung Casandra lembut.

__ADS_1


Sedangkan Casandra mulai sesenggukan dan menjawab dengan anggukan pelan. Tak terasa langkah mereka sudah sampai di parkiran kampus, tiga sekawan saling melambaikan tangan berpisah ke mobil jemputan masing-masing.


Setelah masuk kedalam mobil, Casandra bersandar seperti tidak bertenaga. Anan masih terdiam, cuek tapi tetap mengawasi.


"Hey, mau kemana ini? Ini kan bukan jalur ke arah rumah kakek" protes Casandra.


"Nona, cukup diam dan ikut saja denganku. Kita akan mencari pelampiasan hari ini" ucap Anan masih fokus mengemudi.


Pelampiasan?. Gumam Casandra dalam hati. Seketika juga otaknya membayangkan pria tampan memijat pundaknya, menciumi lehernya, lalu menggrelia tubuhnya. Casandra bergidik merinding lalu memegangi kepalanya. "Tidak! Aku masih perawan" pekik Casandra.


"A... Apa? Hey Nona memangnya apa yang kau pikirkan dasar mesum!" protes Anan mulai gusar mengemudi.


"Apalagi?! Kau bilang pelampiasan kan? Kau pasti akan mengajakku ke tempat para ****** ganteng yang pernah di pesan oleh tante Rahel!" ucap Casandra.


"Siapa itu Tante Rahel?" jawab Anan tidak mengerti. Sial bocah ini, kenapa sampai berfikiran ******! Membuatku pening saja.


"Dia tante seksi, punya payudara besar, juga gairah yang besar. Dia selalu mencari pelampiasan dan selalu mencari ******" ucap Casandra dengan satu tarikan nafas.


"Cukup Nona, tidak perlu juga menyebutkan payudara besar!"


"Memangnya kenapa dengan payudara besar! Aku berkata jujur kok dan aku akan melaporkanmu karena akan mengajakku mencari pelampiasan!" ucap Casandra mengambil ponselnya dari dalam saku celana jeans-nya.


"Hey tunggu Nona! Bukan pelampiasan itu maksudku." ucap Anan.


Anan menepikan mobilnya, sebelum Casandra menelpon Aji, Anan bergegas merebut ponsel Casandra.


"Eh. Lepaskan ponselku dasar kau bodyguard mesum!"


"Kau yang mesum Nona, sekarang hentikan tingkah konyolmu atau kita berdua akan terkena masalah jika kau berani menelpon Tuan Aji. Berikan telponnya!"


"Tidak!"

__ADS_1


"Maafkan aku Nona" ucap Anan kemudian ia langsung melompat ke atas tubuh Casandra yang bersandar di jok mobil.


__ADS_2