
Hari itu sebelum makan siang, Riyu pergi ke rumah Darma, ia sengaja membawakan kue kesukaan Darma dan ingin makan siang bersama dengan Maya dan Darma. Sebelum Riyu sampai, Maya telah menyiapkan minuman herbal untuk Darma, memang, meskipun ada beberapa pelayan yang tersisa di kediaman Darma, tapi Maya lebih suka merawat kakek Darma secara langsung daripada menyuruh pelayan.
Sejak Darma dan perusahaannya drop, ia banyak sekali memulangkan pelayan dan juga bodyguard yang bekerja di rumahnya. Tentu saja dengan pesangon yang tidak sedikit, untuk menutup mulut pelayan yang di pulangkan supaya tidak berbicara terbuka pada media yang mengincar informasi untuk di jadikan bahan berita.
Maya berjalan menuju dapur untuk menaruh nampan yang di pakainya mengantar minuman tadi, tapi disana, tidak sengaja ia mendengar pak Amir yang sedang berbicara melalui ponselnya. Entah siapa yang dia hubungi, tapi sepertinya pembicaraannya sangat penting.
"Bos, semua sudah saya pasang di titik sesuai dengan keinginan anda" Amir diam mendengar jawaban di telepon, Maya beralih ke tempat yang aman untuk bersembunyi sekaligus untuk mendengarkan Amir berbicara. Sekarang apalagi yang sedang dia rencanakan?!. Bisik Maya dalam hati.
"Ya, semua sudah terpasang seperti apa yang anda inginkan. Setiap Cctv juga sudah saya urus"
Maya semakin berdebar kencang mendengar percakapan Pak Amir, sekarang pasti rencananya lebih mengerikan daripada yang terjadi di restoran waktu itu.
"Bos. Ternyata memang seperti yang kita duga" Amir melirik pada guci yang berdiri di depannya, ia melihat bayangan Maya yang sedang bersembunyi. Seringai langsung muncul di bibir Amir, ia mematikan ponselnya dan berjalan keluar menuju halaman belakang.
Amir berjalan membawa sebuah tas berwarna hitam melangkah menuju pintu gerbang belakang. Apa yang dia bawa?. Maya bergegas mengikuti pak Amir, ia tidak ingin melewatkan satupun gerak geriknya.
Amir terus berjalan menuju gerbang belakang, tapi tiba-tiba ia menghilang di balik tanaman hias yang tertanam rapi mengitari gerbang belakang itu. Maya bergegas menyusulnya, takut kehilangan jejak Amir. Ia langsung menerobos tanaman hias dimana tempat Amir menghilang barusan.
"Loh, itu kan Maya" ucap Riyu saat dia baru sampai, tidak sengaja Riyu melihat Maya dari dapur saat ia sedang menaruh kue yang di bawa tadi. "Maya! Apa yang kau lakukan disana?!" teriak Riyu masih mengamati Maya yang fokus dengan tanaman hias. Tapi sepertinya, Maya sama sekali tidak mendengar Riyu. Karena penasaran Riyu bergegas menyusul Maya.
Maya berhasil menerobos tanaman hias, namun Amir sudah tidak ada di sana. Gerbang belakang memang selalu di kunci dan jarang sekali di jamah oleh para penghuni kediaman Darma, bisa dikatakan gerbang belakang adalah gerbang yang terlupakan. Maya menyisir seluruh tempat dengan matanya, yang ia lihat disana sebuah jalan menuju satu lorong seperti jalan trobosan alternatif. Mungkin tempat itu sengaja dibangun untuk suatu tujuan, tapi sepertinya tidak banyak orang yang tau kecuali orang yang benar-benar sudah lama tinggal di kediaman Darma, bahkan hampir tidak pernah Darma menggunakan jalan terobosan itu.
"Tempat apa ini? Baru kali ini aku melihat rumah kakek ada jalan pintas" gumam Maya sambil melihat setiap cela disana. "Tapi kemana perginya pak Amir tadi?"
"Mencariku Nona?" ucap Amir dari belakang Maya, sontak Maya langsung berbalik dan menoleh ke arah Amir.
"Kau... " Maya terpekik melihat seringai jahat di wajah Amir.
Disisi lain, ada anak buah Sam dari Teratai Hitam yang sudah mengikutinya juga bersiap menyerang Amir. Ia mengambil pistol dari lengan bajunya, bergerak mengendap-endap, siap menembakkan peluru.
"Maya awas!" Teriak Riyu yang tiba-tiba datang dari balik pohon hias. Anak buah Sam terkejut, juga Amir yang langsung menembak saat melihat Riyu.
"Nona awas!" anak buah Sam bergerak cepat menarik Riyu, mereka terhempas ke tanah karena menghindari peluru yang di tembakkan Amir. Saat semua teralihkan, Buuukkk. seseorang telah memukul kepala Maya dari belakang. Maya ambruk tak sadarkan diri.
"Maya!" teriak Riyu, ia segera bangkit, berusaha mengejar mobil yang membawa Maya pergi.
"Nona hentikan!" Anak buah Sam mencegah Riyu, tidak mungkin kan mengejar mobil dengan cara berlari?
"Kau. Siapa kau?! Kau pasti salah satu dari para penjahat itu kan?!" Riyu mendorong pelayan itu.
"Aku Doni, Bos Sam yang menugaskan aku disini" jawabnya lugas.
"Tapi kenapa kau hanya diam saja saat Maya sedang dalam bahaya!" teriak Riyu kesal.
"Kau Nona, yang menggagalkan seranganku tadi. Jika kau tidak berteriak, aku sudah berhasil menghabisi Amir!"
Doni memijat keningnya. "Aku tidak tau kenapa bos Sam bisa sangat mencintai wanita seperti dia. Huh!" Doni berlalu meninggalkan Riyu dengan perasaan kesalnya.
"Heh mau kemana kamu?!"
"Tentu saja menyelamatkan Nona Maya!" Doni berlari menuju mobil yang telah di siapkan khusus.
"Jadi dia pelayan yang menyamar? Ah masa bodo, aku harus memberi tau Sam dan Noval. Maya, semoga kau baik-baik saja"
Hanya saja apa yang harus di katakan Riyu kepada Darma?, langkahnya terhenti saat melihat Darma yang telah menunggunya di pintu kaca. "Kakek" ucap Riyu lirih. Melihat ekspresi Darma, jelas, sudah pasti dia tau apa yang terjadi.
"Kau pergilah, beritahu Sam, untuk menyelamatkan Maya. Tapi kau juga jaga dirimu Riyu, aku tidak mau kehilanganmu lagi" tangis isak langsung keluar dari mulut Darma. Riyu memeluk kakeknya dengan erat. "Aku janji kek, aku akan baik-baik saja. Dan aku yakin, Sam pasti bisa menyelamatkan Maya" Riyu bergegas pergi meninggalkan kediaman Darma.
*****
Cetak... Cetak... Cetak... Suara jari terketuk dipermukaan meja kayu, matanya menjalar ke tubuh Maya yang terkulai, terikat kuat pada kursi kayu dihadapannya. Lenguhan nafas mulai terdengar dari bibir Maya, kepalanya mulai bergerak menyesuaikan posisi tubuhnya yang tegak dan menstabilkan penglihatannya yang masih berkunang-kunang.
__ADS_1
"Sudah sadar, gadis cantik?" Suara berat menggema di ruangan hampa. Perlahan kepala Maya terangkat ke sosok yang sedang duduk memandanginya, seperti seekor buaya yang sedang melihat mangsanya. Mangsur... Bisik Maya dalam hati, masih sulit berbicara karena sakit di saraf belakang lehernya.
Mangsur mencengkram rahang Maya. "Haha lihat mata tegasmu itu, tapi kau jangan khawatir. Aku memiliki surprise untuk mata indahmu ini" Mangsur melepas cengkeraman di rahang Maya dengan kasar.
"Kau... Biadap!" teriak Maya. Bukannya Mangsur tersinggung, ia malah tertawa puas.
"Jika aku tidak biadab, maka aku tidak akan bisa berdiri sejauh ini" Mangsur membungkukan badannya, kini wajah Mangsur bertatapan dengan Maya. "Kau gadis luar, tapi beraninya menghalangi urusanku" tamparan keras mengiringi ucapan Mangsur. Tidak sampai di situ, Mangsur langsung menjambak rambut Maya hingga wajahnya mendongak ke atas.
"Sekarang dengarkan aku, jika kau masih ingin aku untuk mengampuni nyawamu, beritahu aku dimana Riyu menyimpan liontin berliannya" Mangsur menatap tajam.
"Tidak akan!" jawab Maya lugas. "Hahaha, percuma kau menculikku, karena aku tidak akan memberikan informasi apapun untukmu, iblis!"
"Aku akui, kau memang gadis yang pemberani" Mangsur menyeringai. "Meskipun aku tidak mendapatkan informasi apapun darimu, setidaknya aku bisa menyingkirkan penghalang dari rencanaku. Maya, sekarang kau ada disini, dan Darma ada di kediamannya dengan bom yang telah aku pasang untuk menghancurkannya beserta seluruh kediamannya" Mangsur tertawa lepas.
"Tidak... " ucap Maya bergetar. "Kakek" pekiknya. Meskipun gemetar, Maya tetap berusaha menggapai ponselnya yang ia kantongi di saku belakang celana jeans-nya. Meskipun tanpa melihat, Maya sudah menyiapkan tombol untuk menghubungi Noval secara otomatis. Tapi, belum sempat telepon tersambung dengan Noval, seseorang merebut ponselnya dari tangannya. Maya terperanjak.
"Rupanya tindakanmu lebih berani dari sekedar menguntit"
Suara itu, Maya sangat mengenal suara orang yang berbicara di belakangnya. "Tante Nita... " pekik Maya lagi.
"Oh. Kau mengenali suaraku ternyata" Nita berjalan ke hadapan Maya, berdiri bersanding dengan Mangsur. "Lain kali kau harus hati-hati saat sedang mengecam mangsamu Mangsur, jika kau lengah, kau sendiri yang akan terbunuh" Nita menyerahkan ponsel Maya kepada Mangsur.
Melihat Mangsur yang memeluk pinggul Nita, Maya sudah bisa menduga, kalau hubungan mereka tidak hanya sekedar partner kejahatan. "Dasar kau wanita serakah! Tidak hanya suka mencelakai orang tapi ternyata kau juga menghianati om Mahesa!"
"Hemh. Bicaralah sepuasmu Maya, sebelum aku merusak tenggorokanmu. tapi sebelumnya, aku ingin tau, siapa yang kau hubungi tadi" Nita membuka ponsel Maya untuk memeriksa riwayat panggilan keluar.
"Noval?" setelah mengetahui nama putranya, wajah Nita berubah pias. "Sudah aku bilang padamu untuk menjauhi putraku. Tapi kenapa kau masih saja mendekatinya?!" Nita geram.
"Karena aku mencintainya!"
Nita tertegun, jawaban Maya sungguh membuatnya marah dan kesal. "Bram!" teriak Nita. Tak berselang lama, Bram datang.
"Iya Nyonya" jawab Bram.
*****
Di waktu yang bersamaan, Noval masih sibuk dengan layar laptopnya. ponselnya berdering dengan panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal, Noval mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang memanggil.
"Hallo" jawab Noval.
"Kau sibuk, anak muda?" tawa terkekeh terdengar mengerikan. Noval menghentikan ketikan jarinya.
"Mangsur, apalagi yang kau mau" Suara Noval terdengar geram. Namun Mangsur terdiam tak bersuara, tiba-tiba terdengar suara wanita menjerit kesakitan diiringi tangisan kemudian. Suara yang tidak asing di telinganya. "Maya????" Darah Noval berdesir cepat, mempercepat jantungnya berdegup tak karuan.
"Mangsur apa yang kau lakukan padanya!" berteriak marah.
"Hahaha, memberi wanitamu pelajaran tentunya"
"Kurang ajar kau keparat!"
"Kau tenang saja, jika kau bertindak cepat, wanita ini mungkin masih sanggup bernafas. Ingat Noval, semua tergantung padamu" Mangsur mengecam.
"Apa yang kau mau" Noval mendengarkan dengan getar di tubuhnya, mata yang terpancar lembut selama ini kembali berubah tajam. Kebencian kembali menceruat di tatapannya. Setelah itu, Noval mematikan teleponnya dan bergegas pergi.
"Riyu, dimana kamu?" ucap Noval menelpon Riyu sambil fokus pada kemudinya.
"Noval, aku sedang dalam perjalanan menemui Sam, Noval Maya.... " Belum sampai Riyu menyelesaikan kata-katanya telepon sudah di matikan. Dengan cepat, Noval langsung putar arah menyusul perjalanan Riyu dengan kecepatan tinggi.
*****
Ciiiittttttt..... Mobil sedan biru tua menghadang Riyu di jalan, Tak lama setelah itu terlihat Noval menghampirinya dengan wajah yang begitu marah, ia membuka pintu kemudi mobil Riyu. "No... Noval" Riyu bingung.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Noval langsung menarik Riyu dan memindahkan ke kursi samping kemudi. "Noval apa yang kau lakukan? Apa kau akan membawaku menyelamatkan Maya?" ucap Riyu menampis semua kecemasannya.
Tapi Noval tetap terdiam, ia menarik rem tangan dan langsung membawa mobil Riyu dengan kecepatan tinggi. Riyu mencengkram kursinya erat, tidak tau akan di bawa kemana oleh Noval. Tapi seberapa banyak Riyu bertanya, Noval tetap diam dan malah menatapnya dengan tatapan yang kejam.
Sepuluh menit berlalu, Noval membelokkan ke gedung pengadilan. Tentu saja membuat Riyu sangat terkejut, "Noval, apa yang kau... "
Noval turun, kemudian menarik Riyu untuk masuk ke gedung pengadilan. Tidak ada yang bisa Riyu ucapkan lagi, apapun pertanyaannya Noval tetap diam.
setelah memasuki gedung itu, Noval mendobrak salah satu ruangan hakim. Hakim itu terlihat terlihat pias dan ketakutan. "Ada apa Tuan?" tanyanya gemetar.
"Ceraikan aku dengan istriku" ucap Noval menatap dingin.
"Apa?" pekik Riyu, benar-benar terkejut dengan sikap Noval yang tiba-tiba.
"Tapi Tuan... "
"Ceraikan kami sekarang!" Bentak Noval sambil menodongkan pistol ke kening sang hakim.
"Ba... Baik" menjawab gemetar.
Tidak ada surat keterangan, tidak ada data apapun, tidak ada saksi. Proses perceraian yang begitu tiba-tiba, bahkan di luar dugaan Riyu sebelumnya. Setelah melakukan beberapa proses hakim menyatakan Noval dan Riyu resmi bercerai.
"Ini untukmu, anak buahku akan mengantarkan berkas dan keterangan yang kau perlukan!" Noval melempar segepok uang ke meja sang hakim, lalu ia kembali membawa Riyu masuk ke mobilnya.
"Noval kau... " Riyu menyerah, ia memalingkan wajahnya menatap luar jendela menyembunyikan semua pertanyaan di benaknya. Mereka terdiam, Riyu dengan isaknya dan Noval dengan kemarahan serta kediamannya.
Usai mereka keluar dari gedung pengadilan, Noval kembali menghampiri mobilnya yang teronggok begitu saja di tengah jalan. "Noval!!!" Teriak Riyu yang tidak tahan dengan sikap Noval yang diam seribu bahasa.
"Sekarang katakan padaku! Atau aku akan membencimu seumur hidupku!!!" Teriak Riyu dengan sekuat tenaganya. Langkah Noval terhenti, ia terdiam sejenak lalu berbalik mendekati Riyu.
"Maaf" ucapnya lirih. tangannya menyentuh wajah Riyu dengan lembut. "Kau bisa bersatu dengan Sam setelah ini" cairan bening kemudian meluncur dari mata Noval.
Riyu terperangah, terdiam menatap Noval dalam, Noval yang selama ini dia kenal... Menangis??? Matanya menyiratkan tekanan yang begitu berat. "Riyu berjanjilah padaku, kau akan bahagia bersama Sam" ucap Noval bergetar lirih, menempelkan keningnya di kening Riyu dengan mata yang terpejam.
Tidak ada kata yang bisa di ucapkan Riyu, sikap Noval membuatnya kelu untuk berbicara. Perlahan, Noval merengkuh leher belakang Riyu. Mata Riyu terpejam, tak lama kemudian Noval menciumnya. Mencium lama dan dalam meluapkan seluruh perasaannya. Riyu sekarang mengerti, meskipun Noval tidak menjelaskan apapun dia merasakan semua keresahan dan tekanan di perasaan Noval saat itu.
"Maafkan aku Riyu, maaf" ucap Noval lirih. Terakhir Noval membelai wajah Riyu, menyeka lehernya dengan tangannya. Kemudian, menarik paksa liontin berlian yang selalu terpasang erat di leher Riyu.
"Noval!" teriak Riyu. Tapi dia telah masuk ke dalam mobil. "Noval! Noval aku mohon jangan lakukan itu, kembalikan liontinku Noval. Noval!" Riyu menggedor mobil Noval yang mulai bergerak pergi, tapi hampa, Riyu tidak bisa menghentikannya.
Perasaannya kembali tidak karuan, Riyu bergegas masuk ke dalam mobilnya untuk menemui Sam di villanya. Sebelum Riyu datang, Sam sudah mendengar kabar bahwa Maya telah di culik. Tentu saja, Doni sudah melaporkannya terlebih dahulu sebelum Riyu. Riyu mengemudikan mobilnya menuju villa Sam dengan kecepatan tinggi, matanya fokus pada jalan kota yang senggang.
"Ini berarti mereka sudah mengatakan perang. Aji, ikut denganku. Mereka sendiri yang mau aku mencabut nyawanya" wajah Sam merah padam. Kakinya melangkah cepat menuju mobilnya. Namun saat sampai di pintu keluar villanya Sam terhenti karena melihat Riyu. "Riyu" ucap Sam. Seketika itu juga, Riyu turun dari mobilnya dan memeluk Sam erat.
"Maya benar Sam, pak Amir adalah penjahat! Sam selamatkan Maya, selamatkan kakek aku mohon" Riyu terisak di dekapannya.
Tangan Sam menyentuh dagu Riyu lalu mendongakkan wajahnya. Pipinya telah basah berurai air mata, Wajahnya menyiratkan ketakutan dan juga kekhawatiran atas orang-orang yang disayanginya dalam bahaya. Jari jemari Sam membelai wajah Riyu lembut, mengusap air matanya dan mengecup keningnya lembut. "Mereka akan membayar semua darah dan airmata yang mereka tumpahkan Riyu, aku akan mengurusnya"
Sam menggandeng tangan Riyu masuk ke dalam villa, mengiringnya masuk ke dalam kamar. "Sam, kenapa kau membawaku ke sini? Kita harus bergegas mencari Maya!. Dan juga Noval, dia menceraikan aku, tapi dia juga mengambil liontin berlian dari leherku" protes Riyu mengibaskan tangan Sam. Sam berhenti menatap Riyu.
"Apa? Noval menceraikanmu dan mengambil liontimu?" tanya Sam tak percaya.
"Iya, Sam ayo kita hentikan kegilaan mereka ini, Sam ajak aku bersamamu" Riyu memohon. Namun Sam langsung merengkuhnya dan langsung mencium dalam bibir Riyu yang masih terisak.
"Riyu, berjanjilah kau akan menungguku" ucap Sam menatap dalam. Sekali lagi ia membelai wajahnya, lalu bergegas balik badan tanpa menunggu jawaban dari Riyu, Sam menutup kamar lalu menguncinya.
"Sam! Sam apa yang kau lakukan!" teriak riyu menggedor pintu.
"Jaga dia. Pastikan Riyu aman, jika kalian lengah atau Riyu kabur dari villa ini. Aku tidak akan segan melubangi kepala kalian"
"Baik bos"
__ADS_1
Sam bergegas pergi, tidak peduli Riyu menggedor pintu atau berteriak. Tujuan Sam supaya Riyu aman sampai dia bisa menemukan Maya, dan Noval, namun sebelum itu, Sam haru pergi ke kediaman Darma untuk menemuinya.