Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Memperalat Sam


__ADS_3

 


Menurutmu. Dalam kisah ini siapa yang menderita? Riyu... Atau Sam? Tatkala keduanya memiliki kisah hidup yang sangat berat, Sam yang kehilangan ibunya, dan Riyu yang kehilangan ayah dan ibunya. Mereka berjuang sendiri untuk terus berdiri di tengah badai, bahkan setelah menemukan cinta... Mereka juga memiliki penghalang yang kuat.


 


Keduanya berkorban keras untuk melindungi satu sama lain, tapi. Dari rasa ingin melindungi itu, terdapat siksaan untuk Sam dan juga Riyu.


Langkah lunglai, pandangan kosong, bibir yang terkatup rapat. Bayangan Sam yang bersimbah darah masih sangat kental di ingatan Riyu, ia masuk kedalam kediaman Darma dengan wajah dan tubuh yang gemetar. Bukan hanya menahan sakit di kepalanya, tapi juga menahan sakit karena hati yang hancur.


"Tuan, nona Riyu" ucap kepala pelayan cemas.


Darma berusaha berjalan cepat menghampiri Riyu yang terlihat lusuh.


"Riyu. Riyu kau darimana saja? Kakek sangat mengkhawatirkanmu" ucap Darma dengan mata yang berkaca.


Riyu melihat ke arah Darma, namun telinganya sama sekali tidak mendengar apapun, kecuali dengungan dan suara Sam yang terbatuk kesakitan memanggil namanya.


Saat Darma hampir merengkuh untuk memeluknya Riyu terhenti, kakinya menjadi lemah tak sanggup menopang tubuhnya, mata Riyu perlahan terpejam, ia pun ambruk seketika sebelum Darma menyentuhnya.


"Riyu..." Teriak Darma, jantungnya semakin berdebar melihat cucu semata wayangnya tergeletak tak sadarkan diri.


"Cepat siapkan mobil dan bawa Riyu ke rumah sakit sekarang juga!" ucap Darma tak mampu mengendalikan emosinya.


Bayu langsung menggendong Riyu dan meletakkan Riyu di jok belakang bersama Darma, tak lama setelah itu terlihat darah segar mengalir dari kedua hidung Riyu, membuat Kakek Darma semakin gusar dan menangis mengecup keningnya.


____________🍃🍃🍃🍃🍃_____________


Darma termenung di bangku tunggu yang terletak tepat di ruang UGD, sudah hampir dua jam menunggu namun belum ada satupun dokter yang keluar dari ruangan dan memberinya kabar. Bisikkan hatinya tak berhenti mengucapkan doa untuk cucu tercintanya.


"Tuhan... Kau baru saja mempertemukan aku dengan cucuku, aku mohon selamatkan dia. Hanya dia satu-satunya yang aku miliki sekarang" Ucap Darma dalam hati.


Tak lama kemudian, lampu hijau menyala. Seorang dokter terbaik di kota Y bernama Lukman keluar dengan wajah yang kurang menyenangkan.


Darma menatap Lukman dengan sayu, ia tau bahwa akan ada kabar yang kurang mengenakkan.


"Apapun yang terjadi, beritahu padaku" ucap Darma dengan suara berat dan serak.


"Tuan Darma, Di dalam saraf otak Riyu masih terdapat penggumpalan darah. Untuk mengatasinya harus dilakukan operasi, tapi... " Lukman terdiam sesaat menghela nafasnya,

__ADS_1


"Tapi apa?!" Tanya Darma tidak sabar.


"Akan ada resiko jika Riyu di operasi" ucap Lukman menatap tegar ke arah Darma


*****


Di lain tempat...


"Bagaimana ini bisa terjadi! Bukankah kau bekerja untuk melindungi Sam! Tapi kenapa kau membiarkan Sam terluka parah seperti ini!" Hardik Mahesa disusul dengan bogem mentah yang mendarat di pipi Aji.


Aji terdiam, bahkan tidak menolak saat Mahesa menghantamnya. Aji juga merasa bersalah karena tak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.


Di tengah amarah Mahesa yang meluap-luap seorang suster keluar dari ruangan operasi,


"Kondisi pasien kritis! Dia memerlukan donor darah secepatnya, apa ada dari kalian yang memiliki golongan darah AB+?!" ucap suster tegas.


Mahesa terdiam karena golongan darah Sam sama seperti ibunya, "Biar saya yang mendonorkan darah, Golongan darah saya juga AB+" ucap Aji.


Mahesa mengendurkan cengkeraman tangannya dikerah Aji lalu menatapnya dalam.


"Baiklah, kalau bisa kita lakukan pengambilan darah sekarang?" ucap suster mempersingkat waktu, Aji mengangguk dan segera mengikuti suster untuk pengambilan darah.


Beberapa jam kemudian, Operasi berjalan lancar, hanya saja Sam masih kehilangan kesadarannya. Setelah operasi, Sam di pindah ke kamar VIP.


"Pa Bagaimana keadaan adikku?" ucap Noval dengan mimik wajah yang terlihat cemas.


"Adikmu sudah melewati masa kritis, hanya saja dia masih belum sadar" jawab Mahesa dengan suara lelah.


Tak lama kemudian Nita masuk dan menangis menggenggam tangan Sam yang dingin,


"Pa, Sebenarnya apa yang terjadi pada Sam! kenapa dia bisa terluka parah seperti ini!" ucap Nita terisak.


"Sedang aku selidiki Nita, tapi banyak saksi yang mengatakan, sebelum Sam ditemukan terluka parah, Tuan Darma sempat datang dan memukul Sam, aku curiga ini pasti ada hubungannya dengan Tuan Darma!" ucap Mahesa menatap tajam.


"Apa? Tuan Darma? Apa mungkin orang besar seperti dia tega berbuat seperti ini?!" ucap Nita.


"Kenapa tidak? Bahkan klien Sam bisa menjadi saksi atas kejadian ini, tapi... Tuan Darma sempat menyebut nama Riyu setelah memukul Sam!"


"Riyu? Lagi-lagi bocah itu, dia memang pembawa sial untuk keluarga Mahesa! Kau harus lakukan sesuatu sayang. Aku tidak rela jika Sam harus terluka seperti ini hanya karena wanita itu!" ucap Nita

__ADS_1


"Kalian tenang saja, aku sudah menyiapkan pengacara terbaik dan akan membawa masalah ini ke meja hijau" ucap Mahesa.


Suasana di sana hening sesaat, Nita menunjukkan perhatian palsunya pada Sam di depan Mahesa. Begitu juga dengan Noval, tak seperti biasanya ia mau menunggu Sam di rumah sakit.


"Sayang. Kau pasti lelah, pulang saja dulu. Kau perlu mandi dan berganti pakaian, biar kami yang menjaga Sam di sini" ucap Nita lembut.


"Apa kalian bisa dipercaya?" Mahesa melirik tajam.


"Pa Sam juga anakku, apa kau berfikir kami akan mencelakainya? Jika kau tidak percaya, kau boleh pasang kamera di kamar ini!" Nita merasa tersinggung.


Mahesa menghela nafasnya, "Baiklah, aku percaya pada kalian. Langsung hubungi aku jika Sam sudah sadar, aku akan segera kembali" ucap Mahesa menatap Sam sebentar lalu pergi.


Nita mengantar Mahesa sampai di depan pintu kamar, setelah Mahesa jauh, iapun kembali masuk.


"Kenapa tidak kau bunuh saja bocah ini!" ucap Nita berbisik gemas di telinga Noval.


"Dia masih berguna untukku ma! Tolong pandailah sedikit!" Ucap Noval dengan nada santai.


"Noval! Jika kau membunuh Sam maka tidak akan adalagi penghalang untuk mendapatkan Riyu juga harta Mahesa!"


"Ma, dengarkan aku. Sekarang Riyu sudah setuju untuk tidak menceraikan aku, bahkan dia juga sudah menandatangani kontrak yang kita tulis! Bukankah rencana pertama kita berhasil?"


"Tapi jika Sam masih hidup tetap saja dia akan melakukan segala cara untuk menghentikan mu!"


"Apa mama tidak berfikir? Kalau aku masih butuh Sam untuk memperalat Riyu!"


"Apa maksudmu?" Nita mengerutkan alisnya.


"Hemh... Jika Sam tetap hidup maka Riyu akan selalu bisa aku peralat, jika dia berani membantahku, aku masih memiliki ancaman untuk membunuh Sam! Maka dengan begitu Riyu tidak akan menolak. Tapi... Jika Sam mati saat ini juga, yang ada Riyu malah akan menuntutku dan akan memasukan ku ke dalam penjara! Kita tidak akan mendapatkan apa-apa jika itu terjadi kan?"


Nita mulai mengerti maksud Noval, seringai jahatnya kembali muncul. Ekspresi wajahnya menjadi puas seketika itu juga.


"Kau memang benar-benar pandai Noval!" ucap Nita lalu memeluk anak tercintanya.


"Mama tenang saja, hanya tinggal duduk manis dan menikmati semua permainan ini" ucap Noval membalas pelukan Nita.


"Baiklah putraku. Mama akan pasrahkan semuanya padamu" ucap Nita menatap bangga pada Noval.


Kini kabut hitam semakin menyelimuti antara kedua keluarga besar Mahesa dan Darma Galuh. Noval berhasil membuat adu domba, dengan Darma yang menjadi kambing hitam.

__ADS_1


Mahesa dan Darma pasti akan perang dingin di persidangan nanti, yang satu memperjuangkan putranya, yang sisi satunya melindungi cucunya. Dan penjahat sesungguhnya bertepuk tangan menikmati kemenangannya.


__ADS_2