Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Rahasia Liontin


__ADS_3

Riyu terbangun dijam 2 pagi, penutup makan malam tadi terlalu manis dan benar-benar membuat tenggorokannya kering. Ia menoleh ke sisi dimana Noval tidur, tapi hanya ada bantal dan selimut yang kosong.


 


"Kemana lagi dia pergi" gumam Riyu. Ia mengambil gelas di atas meja, tapi ternyata Riyu lupa mengisi air ke gelas itu. Dengan malas dan mata yang masih mengantuk, Riyu berjalan menuju dapur.


"Pelankan suaramu! Jika tidak, maka akan terdengar sampai luar" ucap seorang pria dengan suara yang berbisik.


Langkah kaki Riyu terhenti saat berada di depan kamar tamu, "Hem? Apa mungkin aku salah dengar." gumam Riyu menyibakkan rambutnya ke sela-sela telinga.


Setelah dirasa dia cuma salah dengar, Riyu kembali berjalan menuju dapur. "Pelan! sakit tau!" ucap seorang wanita. Riyu kembali berhenti dan memastikan bahwa dia tidak salah dengar kali ini.


Suasana yang sangat sepi membuat suara berbisik itu terdengar jelas ke telinganya, Riyu meletakkan gelas ke lemari hias yang tidak jauh dari tempatnya berdiri lalu mengikuti ke sumber suara itu.


"Suara tadi sepertinya terdengar dari kamar tamu yang di tempati Lila, apa mungkin Lila dan Sam... Ah, bukankah Sam pergi dan tidak pulang malam ini!" gumam Riyu menahan debaran jantungnya yang kian berdegub kencang, membayangkan Sam dan Lila Sedang melakukan permainan di atas tempat tidur.


Dengan hati-hati Riyu mendekat ke pintu kamar tamu, terlihat pintu itu tidak tertutup dengan rapat. Semakin lama suara yang aneh semakin terdengar, diiringi lenguhan dari bibir seorang wanita dan pria membuat Riyu semakin tidak karuan.


Riyu mencoba mencari celah dan mendorong sedikit pintu itu hingga terlihat jelas, siapa yang sedang bercinta di kamar itu. Namun dugaan Riyu salah, yang di dalam kamar itu bukanlah Sam tapi Lila dengan suaminya. Noval.


Riyu terkejut, ia menahan suaranya dengan telapak tangan yang menutup mulutnya kuat-kuat. Kali ini dia tidak salah dengar bahkan tidak salah lihat saat Noval sedang bersama Lila di kamar tamu.


Riyu melangkah mundur menjauh dari pemandangan yang mengerikan itu, badannya tiba-tiba merasa lemas dan gemetar. Ia tidak jadi mengambil air minum, Riyu langsung berlari masuk kedalam kamarnya.


"Kau menjijikkan! Aku rasa akulah orang yang paling menjijikkan tapi ternyata kalian lebih menjijikkan!" Riyu tidak mampu mengendalikan emosinya, ia melempar semua bantal hingga berserakan di lantai.


"Lila. Meskipun Sam tidak mencintaimu tetapi aku tidak rela jika kau menghianatinya"


Sampai menjipagi Riyu masih t


duduk memandang luar jendela, tak lama kemudian Noval masuk kedalam kamar yang sudah berantakan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, apa kau sudah gila!" bentak Noval tidak suka kamarnya berantakan.


Riyu masih terdiam dengan rambut yang berantakan, ia merasa tertekan. Ia merasa kecewa, selama ini Riyu rela menahan rasa cintanya karena telah menjadi seorang istri, namun dengan mudahnya mereka menghianati pengorbanan yang telah Riyu tanggung demi mempertahankan harga diri sebagai seorang istri.


"Apa kau bisu ha! Kau membuat kamarku berantakan!"


"Jika kau tidak suka maka enyahlah dan tidur di kamar Lila sana!" Ucap Riyu marah, menatap dengan penuh rasa benci.


"Kau..."


"Kenapa? Kau heran kenapa aku bisa tau kebusukan kalian?! Haha... Suara menjijikkan itu terdengar sampai luar Val. Aku tidak bisa membayangkan jika tuan Mahesa yang memergoki kalian!"


Sontak Noval langsung menampar Riyu dengan kencang hingga terhempas ke sisi tempat tidur.


"Kau tidak akan pernah bisa melaporkan ini kepada Mahesa, jika kau berani berucap sedikit saja, aku tidak akan segan-segan memotong lidahmu bahkan menghabisi keluarga kumalmu itu!" ucap Noval menjambak rambut Riyu.


"Kau boleh menyakitiku, tapi aku tidak akan membiarkan iblis sepertimu menyakiti keluargaku!" Riyu menghantamkan kepalanya ke wajah Noval dengan kuat.


Noval langsung merasa pusing, ia melangkah mundur sambil memegangi hidungnya, seketika terlihat darah segar mengalir dari lubang hidung.


⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈⛈


"Non. Non Riyu, waktunya sarapan" Ucap Mirah dari balik pintu sambil mengetuk pintu.


"Non. Apa non Riyu masih di dalam?" ucap Mirah lagi namun masih tetap tidak ada jawaban dari Riyu.


"Biasanya pagi-pagi sekali non Riyu sudah siap kerja, apa dia masih mandi?" gumam Mirah. "Non Riyu, apa non masih mandi? Ini sudah pukul 8, non Riyu bisa terlambat nanti" ucap Mirah lagi.


Merasa ada hal yang tidak beres, Mirah membuka pintu kamar Riyu. Ia melihat kamar yang berantakan, namun saat dia melangkah untuk memastikan, tiba-tiba kaki Mirah menginjak sesuatu yang lengket.


"Loh apa ini" ucap Mirah membungkukkan badannya. "Ini. Darah..." Mirah terpekik melangkah mundur. Perasaannya menjadi tidak karuan dan semakin cemas dengan Riyu.

__ADS_1


"Non. Non Riyu, kau tidak apa-apa? Nooonnnn....." Mirah syok dan berteriak saat melihat Riyu tergeletak di lantai dengan keadaan yang memprihatinkan.


"Ya Tuhan. Non Riyu kamu kenapa???" Mirah menangis sambil berusaha memapah Riyu ke atas ranjang.


Wajah Riyu terluka parah, bahkan hidung dan bibirnya masih mengeluarkan darah. Hampir disetiap tubuhnya di temukan lebam, Mirah sampai tidak tega melihatnya.


Ponsel Riyu berdering tanda banyak sekali panggilan dan pesan yang masuk, tapi Riyu masih terdiam dengan tatapan kosong.


"Non Riyu, Biar saya.."


"Pergi, biarkan aku sendiri" ucap Riyu lirih.


"Tapi non..."


"Pergi!!!" Teriak Riyu memegangi kepalanya dengan kedua tangan.


Mirah tersentak lalu bergegas pergi dari hadapan Riyu,


Setelah Mirah keluar dari kamarnya, Riyu sempoyongan melangkah ke wastafel. Rasa sakit di kepalanya kembali hadir setelah 7 tahun berlalu sejak ia menjalani operasi.


Riyu langsung menggapai kotak obat yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, setidaknya di sana ada obat pereda rasa sakit.


Matahari mulai menjulang tinggi, Riyu duduk di depan jendela sambil menggenggam Liontin di lehernya. "Ibu... Ayah, bisakah kalian ajak aku pergi? Riyu tidak memiliki tujuan apapun lagi" ucap Riyu memandang kosong ke tirai jendela.


Pletak. Liontin itu tiba-tiba terlepas dari lehernya lalu jatuh ke lantai, Riyu langsung mengalihkan perhatiannya ke bandul liontin yang telah terbuka. Terlihat foto kecil Galuh dan Diana menatapnya dengan senyum yang terpampang lembut dari wajahnya.


Air mata Riyu mulai jatuh, perlahan dia mengambil liontin itu dan memandang foto kedua orangtuanya. Tapi ternyata bingkai kecil di dalamnya terlihat mencuat.


"Tidak... Aku sudah merusak liontin ini" ucap Riyu panik.


Tapi ada aneh, bingkai kecil yang mencuat itu dibuka oleh Riyu dengan perlahan. Ternyata liontin tidaklah rusak, tapi memang ada bingkai kedua dibalik foto orang tuanya.

__ADS_1


Riyu mengamati wajah dua orang pria yang ada difoto ke 2, yang satu adalah Galuh ketika masih muda, dan yang satu terlihat seorang pria yang terasa tidak asing lagi dia adalah...


"Kakek Darma???" Pekik Riyu tidak menyangka.


__ADS_2