
Riyu melangkah tanpa bersuara mendekati Maya yang mulai bergerak perlahan, "Maya" langsung berlari dan menggapai tangannya. Mata Maya mulai terbuka perlahan, berkedip-kedip memperjelas penglihatannya. Rasa bersalah mulai menghampiri Riyu, seandainya mencegah Noval dan Maya untuk tidak pergi, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Berulang hati Riyu berbisik.
"Riyu? Aku dimana?" bertanya lirih, bingung melihat ruangan.
"Kau di rumah sakit Maya, kau memerlukan sesuatu? Jangan sungkan, mintalah padaku" ucap Riyu bergetar.
"Noval. Dimana Noval? Apa dia baik-baik saja?" Maya terperanjak cemas.
"Kau jangan khawatir, Noval hanya cidera ringan. Dia sudah di obati"
Setelah kesadaran Maya pulih seutuhnya, ia menceritakan semuanya pada Riyu. Dari hal yang di kuntit mobil misterius, bahkan sampai kejadian bom yang terpasang di piringnya. Tangan Riyu tergenggam erat, teror sepertinya sudah dimulai bahkan mereka melakukannya dengan sangat ekstrim. Apa yang di ucapkan kakek Darma waktu itu, berarti telah memperkirakan semua ini.
"Lalu bagaimana keadaan Kakek sekarang?" tanya Riyu menatap pekat pada Maya yang kemudian terdiam tak bergeming. "Katakan padaku May, bagaimana keadaan kakek?!" Riyu mulai tidak sabar.
"Riyu maafkan aku. Kakek... Beberapa waktu terakhir ini kondisinya memburuk, kesehatannya lemah sekarang"
"Kenapa kau tidak memberitahu aku May! Kenapa?!" sentak Riyu.
"Maafkan aku Riyu, kakek melarangku." Maya mulai terisak. Riyu terdiam memandang Maya, dia menangis, belum pernah melihat Maya selemah ini. Pasti banyak sekali tekanan di batinnya. "Maafkan aku Riyu. Maaf" ucap Maya berlinang. Riyu langsung memeluk Maya dan mengelus punggungnya dengan lembut.
"Tidak May, aku yang minta maaf. Aku yakin kau sudah melakukan hal yang terbaik untuk Kakek kan? Sudah jangan menangis ya" ucap Riyu merasa bersalah.
Sebisa mungkin Riyu menahan diri hingga Maya pulih dan tenang. Besok, saat Maya sudah di ijinkan pulang, ia akan mengantarnya sekalian menjenguk kakeknya.
*****
Di tempat lain, masih di waktu yang bersamaan. Noval mengemudikan mobilnya menuju perusahaan Mangsur. Ia yakin, dengan dugaannya. Mangsurlah yang memasang bom di piring yang di gunakan Maya, tapi kenapa dia mengincar Maya yang tidak tau apa-apa. Padahal sebelumnya yang paling dia inginkan adalah Riyu, juga berkas pertambangan berlian.
Sambil menyetir, tangan kirinya pun sibuk mencari nomor ponsel Sam di ponselnya. Masih sama, jawaban operator yang ia dengar. Noval beralih menelpon anak buah Sam,
"Ya Tuan" jawab Aji saat menerima telepon dari Noval.
"Dimana Sam?! Suruh dia mengaktifkan ponselnya cepat!" Noval emosi.
"Bos sedang ada rapat sekarang, Tuan"
"Kalau tidak kau berikan ponselmu padanya sekarang!" semakin kesal.
"Tapi... "
"Jika tidak, katakan padanya. Kalau dalam waktu 3 menit Sam tidak menghubungiku, maka aku akan menggerayangi Riyu di tempat tidur!" Noval langsung mematikan teleponnya, dan langsung membanting telepon ke kursi kosong di sebelahnya.
"Si brengsek itu berani-beraninya sok sibuk di hadapanku!" umpat Noval Sambil terus mengemudikan mobilnya. Benar saja, tak lama kemudian, ponselnya berdering. Terpampang nama Keparat Tengil memanggil.
"Lihat, sepertinya ancamanku berhasil!" Noval langsung menjawab teleponnya.
"Apa yang kau lakukan! Jika sejengkal saja kau menyentuh Riyu, aku akan mematahkan jari-jarimu!" langsung mendapat gertakan dari Sam.
"Cih. Bodoh! Lebih baik kau pulang sekarang, keadaan sedang genting Sam, aku di serang dengan Bom di restoran!" ucap Noval masih sambil fokus pada setirnya.
"Aku tidak keberatan kau kena bom, asal jangan Riyu" nada mulai menyebalkan.
"Bisakah kau serius sialan!"
"Aku serius!"
"Argh. Masalahnya sekarang yang menjadi incaran mereka tidak hanya Riyu! Bodoh. Tapi Maya! Bom sengaja di pasang di piring Maya saat kita makan siang di restoran tadi. Kau pulang sekarang atau aku yang akan menyeretmu!" Noval berbicara dengan satu tarikan nafas, ia langsung mematikan teleponnya dan kembali membanting ponselnya ke kursi di sebelahnya.
Akhirnya tiba di Perusahaan Mangsur yang ada di kota Y, Noval sudah hafal setiap seminggu dua kali Mangsur akan ada di kantornya. Namun saat Noval akan turun mobil, ponselnya berdering tanda pesan masuk. Ia merengkuh ponselnya yang tergeletak di samping kursi kemudinya.
"Jika kau berani melangkah satu jengkal saja, maka wanita-wanita cantik yang ada di rumah sakit ini akan lenyap dari dunia ini. Ingat Tuan, aku sedang ada di sekitar mereka sekarang, jika kau berani keluar dari mobilmu sekarang, aku tidak akan sungkan lagi untuk meledakkan rumah sakit beserta isinya!"
Begitulah isi pesan dari nomor tak dikenal. Noval langsung menelpon ke nomor yang mengirimkan pesan tadi, tapi ternyata sudah tidak bisa di hubungi. "Sial" tinju menghantam ke setir mobil. "Maya, Riyu." Noval baru tersadar, bergegas ia membelokkan mobilnya dan langsung tancap gas menuju rumah sakit.
"Awas kau Mangsur!"
*****
Sementara itu, seringai jahat dari orang yang berdiri dibalik kaca hitam perusahaan Mangsur, menyertai kepergian mobil Noval yang mulai berbalik arah.
__ADS_1
"Katakan pada mereka kalau kita akan menambah mangsa baru, aku sudah tidak membutuhkannya. Anak muda itu tidak berguna lagi untukku" ucap Mangsur menatap tajam dengan menyeringai pada jendela kaca lantai 4 kantornya.
"Baik Tuan" jawab anak buah Mangsur yang hanya terlihat bayangan hitam berdiri tegak di pojokan ruangannya.
*****
Tap... Tap... Tap...
Noval berlari melewati koridor rumah sakit, pikirannya buyar gara-gara pesan tadi. Pintu kamar terbuka kencang, mengejutkan dua orang yang sedang berbincang-bincang di kamar inap Maya.
"Noval. Apa yang terjadi?" tanya Riyu tersentak kaget.
"Apa kalian baik-baik saja?" Noval terengah, keringat bercucuran dari keningnya, nafasnya tersengal karena berlari di sepanjang koridor.
Maya dan Riyu saling pandang penuh tanda tanya. "Ya. Kami baik-baik saja" jawab Maya, semakin heran saat melihat Noval memeriksa seluruh barang yang ada di kamar rumah sakit itu.
"Sial! Mereka mempermainkan aku rupanya!" kesal, Noval tidak menemukan apapun di sana. Rupanya ancaman bom itu bertujuan supaya Noval tidak menyerang Mangsur di kantornya. Noval langsung membanting tubuhnya diatas sofa.
"Noval, sebenarnya apa yang terjadi?!" tatapan Riyu menekan meminta jawaban dari Noval.
"Dengar, untuk sementara ini kalian jangan banyak berkeliaran dulu diluar tempat, termasuk kau Maya."
Mendengar peringatan Noval, kedua wanita itu semakin terlihat tegang. "Kita tunggu sampai Sam datang, dia sedang dalam perjalanan pulang sekarang. Biar kami mengurusnya, kalian para wanita lebih baik patuh perintah! Awas kalau sampai merepotkan!." Bibir Riyu langsung manyun dua senti karena ucapan Noval.
*****
Suatu masalah terkadang bisa merenggangkan hubungan saudara, suatu masalah terkadang juga malah bisa mempererat hubungan saudara. Seperti halnya Sam dan Noval sekarang, meskipun perbedaan pendapat dan masih sering sekali berdebat memperjuangkan isi pikirannya masing-masing, tapi, mereka berjuang pada jalan yang sama yaitu... Melindungi cinta dan mempertahankan kesetiaan.
Beberapa jam berlalu, akhirnya Sam datang ke rumah sakit tempat dimana Maya dirawat. Kamar inap sekaligus menjadi ruang rapat untuk mereka berempat sekarang.
"Bagaimana keadaanmu Maya?"
"Aku baik-baik saja Sam, rasa pening juga berangsur hilang sekarang"
Sam melangkah menuju sofa dimana Noval duduk. "Mangsur kan?" ucap Sam dengan suara pelan namun jelas didengar oleh Noval.
"Aku penasaran, anak buah darimana yang dia pakai sekarang. Bahkan anak buahku saja sulit untuk mengakses informasi tentang mereka" Sam berbicara dengan suara pelan supaya Maya dan Riyu tidak mendengar pembicaraannya.
"Hey keparat. Sekarang katakan padaku, dulu kau cukup dekat dengan Mangsur kan? Bahkan kau ada dipihaknya" Sam tersenyum tipis.
"Itu dulu, bodoh. Sebelum aku berangkat ke Singapore bersama Riyu aku masih tau siapa saja yang ada di belakangnya termasuk Bram. Tapi setelah aku pulang dari Singapore dia malah berbalik menyerangku"
Bram? Sepertinya aku pernah dengar nama itu. Sam termenung, mengingat nama Bram yang sepertinya tidak asing di telinganya.
"Sam, Noval. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Riyu. Noval beranjak dari tempat duduknya lalu mendekat ke arah Maya.
"Aku penasaran kenapa mereka mengincarmu Maya, apa ada yang kau ketahui? Atau ada seseorang yang kau curigai?" Noval menatap Maya seksama.
Terlihat Maya berfikir mengingat ingat untuk menjawab pertanyaan Noval. "Ah iya, di rumah Kakek. Aku, memang sedang mencurigai pak Amir" jawab Maya lugas.
"Pak Amir? Apa kau yakin Maya?" Riyu bertanya.
"Eum... Entah Riyu, hanya saja, dia seperti mengawasiku. Matanya saat menatapku seperti tatapan yang mengancam"
"Tapi pak Amir sudah bersama dengan Kakek sejak ia muda, apa iya dia tega mengkhianati Kakek?" Riyu ragu dengan feeling Maya. Sedangkan selama ini Riyu juga mengenal Amir sebagai orang yang baik.
Noval berfikir sejenak. "Bagaimana jika dipastikan saja? Maya, apa kau bisa mengawasi gerak-gerik Amir di kediaman Tuan Darma?. Laporkan pada kami jika kau menemukan informasi yang mencurigakan"
"Akan aku usahakan Noval"
"Oke. Riyu, kau bisa pulang bersama Sam. Biar aku yang menjaga Maya disini. Jika Mama bertanya, cari saja alasan yang tepat untuk mengalihkan curiga" ucap Noval.
"Noval kau mulai membohongi ibu kesayanganmu apa kau tidak takut durhaka?" Sam tertawa geli.
"Diamlah kau tengik!"
Melihat ekspresi Noval yang kesal membuat Sam semakin ingin menggodanya.
*****
__ADS_1
Malam harinya Noval memilih tetap berada di rumah sakit untuk menemani Maya, meskipun tidak ada percakapan tentang perasaan masing-masing sih. Noval kekeh, hanya melindunginya untuk menebus kesalahannya.
Sedangkan Darma yang telah mendengar kabar buruk itu, hanya bisa menunggu Maya di rumah, Bayu tidak mengijinkan Darma menjenguk Maya di rumah sakit karena kondisi kesehatannya sendiripun masih belum baik.
Sam terpaksa menetap sekarang, rencana yang sedang dia susun setengah jadi, tertunda lagi. Tapi ia telah menyerahkan kepada Aji untuk mengaturnya, salah satu rencana Sam adalah mengawasi kediaman Darma. Tidak di sangka, anak buah yang sudah Sam utus untuk mengawasi sejak Darma menyerahkan berkas itu ke padanya, masih saja kebobolan. Akhirnya Sam memutuskan untuk menambah jumlah anak buah gangster Teratai Hitam untuk berpencar tinggal di sekitar kediaman Darma, dan juga untuk melindungi Maya dari kejauhan. Bahkan salah satu dari mereka sudah ada yang masuk menjadi seorang pelayan disana, mungkin Darma sendiripun tidak akan menyadarinya.
Purnama terlihat terang malam ini, Sam dan Riyu berada di balkon kamar sekarang. Mata mereka sulit untuk terpejam meskipun malam beranjak larut. Riyu masih tidak ingin lepas dari dekapan Sam yang membuatnya merasa nyaman dan tenang.
"Sam, apa semua akan baik-baik saja?" tanya Riyu lirih, wajahnya bersandar pada dada Sam yang bidang.
"Semoga. Yang pasti kita tidak boleh menyerah dengan keadaan Riyu" Sam membelai kepala Riyu dengan lembut.
"Apa yang mereka incar sebenarnya? tanya Riyu masih memeluk Sam semakin erat.
"Kau" jawab Sam singkat...
"Loh, kok aku?" Heran, karena Riyu belum tau kalau musih yang ia hadapi adalah Mangsur. Pembunuh orang tuanya. Riyu mendongakkan kepalanya. Sam tersenyum lalu mengecup kening Riyu dengan lembut.
"Ya, kau yang memiliki kunci berlian di liontin itu, dan mereka sedang mencoba mengambil berkas pertambangan berlian di kediaman Kakek Darma. Hemh, tapi sayangnya, Kakek Darma sudah menyembunyikan berkas itu dimana tidak ada orang yang bisa mendapatkannya"
"Kediaman Kakek? Itu berarti mereka juga ada di kediaman Kakek Sam?!" Sam hanya mengangkat alisnya untuk menjawab Riyu.
Sam memainkannya bibir Riyu dengan jarinya, "Kau terlihat seperti permen kapas! Rasanya ingin melahapmu bulat-bulat!"
"Sam kau menakutkan! Aku sedang tidak ingin bercanda sekarang" Riyu kembali menyembunyikan wajahnya di pelukan Sam.
"Jika mereka mengincarku, kenapa mereka mencoba melukai Maya?" nada Riyu mulai sedih.
"Dasar bodoh. Itu berarti mereka tau kalau Maya adalah penghalang bagi mereka. Aku rasa Maya mengetahui sesuatu, aku sudah memperkuat penjagaan dan pengawasan. Kau tenanglah, aku akan berusaha sekuat mungkin Riyu, kau jangan khawatir"
Usapan lembut di kepalanya, benar-benar membuat nyaman. Sam benar-benar tau bagaimana mengurangi kecemasan Riyu.
Dalam suasana yang sedang nyaman itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamar Riyu. Sontak Riyu melepaskan pelukan Sam, panik, siapa yang mengetuk pintu kamarnya?.
"Itu pasti Nenek Lampir" bisik Sam pada Riyu. Otomatis, Riyu langsung memukul lengan Sam hingga nyengir kesakitan. "Coba lihat sini!" Sam merauk wajah Riyu kemudian mengacak-acak rambut Riyu.
"Hey! Apa yang kau lakukan!" protes Riyu kesal sambil mengibaskan tangannya untuk menghentikan kelakuan Sam.
"Kau buka pintunya, dengan keadaan berantakan seperti ini kau bilang saja sedang tidur. Bodoh!" tersenyum tipis.
"Oh iya ya. Baiklah aku buka pintunya. Sana! Kau harus sembunyi" Riyu mendorong Sam, mereka berbicara berbisik agar tidak terdengar dari luar.
Sam bergerak cepat mencari tempat sembunyi, sedangkan Riyu sedang sibuk membuat wajahnya yang seperti orang bangun tidur. Sebelum membuka pintunya, Riyu menoleh ke belakang memastikan Sam sudah tidak terlihat.
"Riyu, cepat buka pintunya!" suara orang dari luar mulai tidak sabar.
"Iya. Hooaammm... Ada apa mah?" baiklah akting Riyu cukup baik kali ini.
Tapi tanpa menjawab pertanyaan, Nita langsung menerobos masuk memeriksa kamar, kamar mandi, balkon. Tidak ada siapapun di sana.
"Dimana Noval?" Nita merenyitkan alisnya.
"Noval? Bukankah dia sudah berpamitan sedang ada pertemuan di luar kota mah?!"
"Apa. Luar kota? Bukannya dia terluka karena bom di restoran? Kenapa dia keluar kota?!"
Riyu terdiam menatap Nita tajam. Bagaimana wanita ini bisa tau kalau Noval terluka karena ledakan bom?. Padahal Sam dan Noval telah menutup rapat media untuk tutup mulut supaya Noval dan Maya tidak terekspos di media manapun.
Sadar dengan tatapan Riyu yang curiga, Nita langsung mengalihkan pertanyaan. "Sejak kapan Noval keluar kota?" tanya Nita gugup.
"Sejak siang tadi. Apa Noval tidak berpamitan padamu?"
"Tidak. Baiklah, kau... Kembali beristirahat" Nita beranjak pergi.
"Tapi kenapa Mama bisa menduga Noval terkena bom? Padahal. Mama sendiri tau kan? Restoran yang meledak itu bukan restoran langganan Noval. Bahkan letaknya jauh dari perusahaan" Riyu mencoba menjebak Nita dengan pertanyaan.
Melihat wajah Nita berubah pias, Riyu yakin, kalau ada sesuatu yang Nita sembunyikan. Atau jangan-jangan dia juga terlibat, ingin membuat Maya celaka karena masih ingin menyingkirkannya.
"Apa aku salah jika cemas pada putraku?! Sudah pergi tidur sana!" Nita buru-buru pergi meninggalkan kamar Riyu, jika tidak, maka rasa penasaran dan kecurigaan Riyu padanya akan semakin besar.
__ADS_1