
Sam melangkah lesu menuju ruang tengah, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa lalu menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam. Mungkinkah malam itu malam terakhir untuk kita Riyu... Bisiknya dalam hati.
"Sam" Sapa Mahesa membuyarkan angan Sam yang baru saja akan tenang. Ia membuka matanya, menatap lelah ke arah Mahesa.
"Apa yang ingin kau katakan, katakanlah!" ucap Sam, hatinya sedang di rundung keputus asaan. "Kau pun sudah pasti tau apa yang terjadi" Sam tersenyum getir.
Mereka saling bertatapan beberapa waktu, namun tidak ada kata yang terucap. Sam beranjak dari tempat duduknya berjalan menuju kamar. Sedangkan Mahesa masih terdiam memandang Sam yang berlalu.
****
Langkah kaki tegas menyusuri lantai dingin sebuah kaffe, Maya membawa selembar koran menghampiri Lila yang sedang fokus dengan laptopnya. Siapa lagi kalau bukan wanita picik itu yang telah menyebarkan foto Sam dan Riyu, resepsi pernikahan Kevin di selenggarakan di kota S bukan? Di mana kota S asal keluarga Mangsur. Maya sudah sangat mengenal kelicikan mereka.
Slerek... Kertas koran terlempar mendarat tepat mengenai wajah Lila, ia terkejut. Siapa yang telah berani bersikap tidak sopan padanya. "Beraninya kau..." Lila melotot tidak melanjutkan kata-katanya. "Maya?"
"Terkejut?" Senyum sinis tersirat di wajahnya. "Aku ga mau basa basi lagi Lila, kau yang melakukannya kan?!" Ucap Maya dengan nada santai sambil menunjuk koran yang tergeletak di dekat laptop.
Lila mulai gugup, tapi ia berusaha menyembunyikannya dan melempar senyum pada Maya. "Hemh kau terlalu percaya diri dengan tuduhanmu ya. Hati-hati Nona Maya, menuduh tanpa adanya bukti kau bisa terkena masalah"
"Ow, kau berdalih cukup bagus. Sepertinya perkiraanku itu memang benar, keluarga Mangsur sangat pandai bersilat lidah"
"Jaga ucapanmu Maya!"
"Kau berani menyuruhku untuk menjaga ucapan! Sedangkan kau sendiri bahkan menjaga sikap pun ga becus!"
Lila mengepalkan tangannya erat, wajahnya mulai merah menghadapi wanita yang berdiri tegak di hadapannya.
"Untuk kali ini aku ucapkan padamu. Selamat karena sudah berhasil menciptakan keributan di dua keluarga besar Nona Lila. Kau telah sangat berani sudah mengedarkan foto dan berita itu dengan cukup bagus!"
"Hemh, jadi kau menemuiku hanya untuk masalah ini? Buang-buang waktu!" Lila mengemasi barangnya dan ingin bergegas pergi. Namun cengkeraman erat dari tangan Maya berhasil menahannya saat Lila hendak melewati Maya yang berdiri di depannya.
"Hapus berita itu dan buatlah klarifikasi!" Ekspresi Maya berubah drastis, ia menghempaskan lengan Lila dengan kuat, tatapannya kini siap menusuk Lila.
"Maya hentikan omong kosong mu! Klarifikasi apa yang kau maksud! Bukan aku yang menyebarkan foto dan berita itu!"
"Lalu apa ini?!" Maya menunjukkan layar ponselnya ke pandangan Lila. Mata Lila langsung terbuka lebar saat ia melihat vidio rekaman Cctv yang ada di gedung pernikahan, ada gambar dirinya yang bergerak mengendap endap mengintai Sam dan Riyu kemanapun mereka pergi, sambil memasang kamera di ponselnya.
"Apa ini cukup bukti?" Ucap Maya dengan nada dingin.
Kening Lila mulai terlihat berkeringat, bagaimana bisa dia mendapatkan rekaman Cctv itu! gumam Lila dalam hati, tapi dia tidak ingin terlihat kalah di Maya.
"Hahaha, tidak ku sangka kau berani membela Riyu sampai seperti ini. Sampai kau tidak memikirkan nasib mu kedepannya, apa kau sudah menjadi pelayanannya sekarang? Atau hanya ingin mendapatkan simpati dari tuan Darma supaya kau juga dapat warisannya saat dia wafat nanti!"
__ADS_1
Plaakkk...
Maya menampar Lila hingga tangannya terasa kebas. "Aku bukan tipe orang yang gila harta sepertimu, memangnya kau? Yang menghalalkan segala cara demi memuaskan keserakahan! Bahkan sampai rela menjual tubuhnya!"
Lila terdiam memegangi pipinya yang mulai bengkak, ia menatap Maya dengan mata yang mulai merah dan berair.
"Aku beri waktu hingga besok Nona Lila, jika kau tidak segera melakukan klarifikasi maka aku akan sedikit bermain denganmu!" Ucap Maya mendekat ke wajah Lila, lalu berbalik pergi.
Setelah Maya berlalu, Lila baru sadar kalau dirinya sedang menjadi tontonan orang-orang di kaffe itu. Baru kali ini, ia sangat di permalukan di depan orang banyak. Tapi melihat Maya tadi, sepertinya dia tidak main-main. Lila bergegas pergi untuk menghindari tatapan-tatapan orang di sana. Hatinya kesal, pipinya sakit. Ia membuka mobilnya dan meninggalkan parkiran.
****
Sepertinya aku menamparnya cukup keras, bahkan tanganku masih terasa kebas sampai sekarang. Gumam Maya dalam hati.
Ia melajukan mobilnya kembali ke kerumah sakit. Seharian ini dia belum bertemu Riyu sejak pagi, karena tidak sabar membendung kemarahannya pada orang yang telah membeberkan foto itu, pagi-pagi sekali dia harus bergegas memburu waktu untuk memberi perhitungan pada Lila.
Meskipun anggota tubuhnya sedang berkonsentrasi pada setir mobilnya, namun angan Maya sedang menyeruak ke masa silam. Masa dimana Galuh dan Diana masih hidup. Saat itu Maya berusia 7 tahun, sedang mengalami masa yang begitu sulit. Perceraian orang tuanya, kebangkrutan perusahaan, hingga hampir saja ibunya mengalami depresi karena itu.
Masa kecilnya yang kelam membuatnya kehilangan sisi ceria, sampai ketika itu Diana datang menjulurkan tangannya memeluk erat tubuh kecil Maya. Hati yang dingin karena kehilangan kasih sayang, kembali hangat saat berada di dekapan Diana.
Selama dia susah dan terpuruk, Galuh dan Diana lah yang membantunya bangkit. Mengingat senyum hangat Galuh, belaian penuh kasih dari Diana tak terasa Maya meneteskan air mata.
"Om... Tante... Tidak ada satupun harta yang bisa membalas kebaikan kalian. Aku dan Mama bisa berdiri sampai sekarang ini berkat bantuan mu. Tapi kalian jangan khawatir, aku disini sekarang, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Riyu. Aku akan berusaha melindunginya semampuku" Ucap Maya diiringi air deras yang mengalir di pipinya.
"Baru saja aku tinggal sebentar kau sudah mulai melamun!?" Ucap Maya mengejutkan Riyu yang sedang memandang kosong ke arah jendela.
"Maya bisa ga kamu, ga bikin aku kaget! Selalu saja datang tiba-tiba!"
"Lagian kamu sih, melamun terus, bahkan aku masuk kamarpun kamu ga dengar! Dokter Lukman berpesan supaya jangan terlalu banyak fikiran. Riyu, aku takut banget waktu lihat wajahmu yang kejang-kejang itu! Jadi jangan seperti itu lagi oke!"
"Dasar!" Riyu melempar serbet bersih kecil ke arah Maya.
"Darimana saja kamu?" Tanya Riyu penasaran, dia belum pernah melihat Maya keluar sendirian selama itu.
"Aku ada urusan tadi" jawab Maya singkat. Ga mungkin kan dia bercerita pada Riyu, kalau baru saja menampar wanita rubah. Takut jika nanti malah jadi beban pikirannya.
Senyum Riyu jadi jarang sejak kejadian itu, ia juga di larang untuk keluar meskipun hanya di taman rumah sakit sampai keadaan benar-benar stabil. Selain dari sisi kesehatan Riyu, juga menghindar dari kejaran para wartawan yang gila berita.
Maya memandang dalam pada Riyu yang kembali terdiam menatap jendela "Riyu kau begitu tertutup sekarang"
"Hehe, aku cuma lagi ga mood aja May. Jangan berfikir yang tidak-tidak deh"
__ADS_1
Maya menatap Riyu dalam. "Maya" Ucap Riyu tanpa mengalihkan pandangannya. "Hem?" Jawab Maya sambil mengunyah cemilan yang ia ambil dari toples yang tersedia di meja.
"Apa kau pernah jatuh cinta?"
Maya merenyitkan alisnya, tidak seperti biasanya Riyu bertanya hal menggelikan seperti itu.
"Eum... Maksudku, aku ga pernah lihat kamu dekat dengan siapapun selama ini. Aku juga ga pernah lihat kamu berkencan" ucap Riyu agak kurang enak hati saat melihat ekspresi Maya.
"Aku wanita biasa Riyu, sama sepertimu. Aku pernah jatuh cinta dan juga mencintai seseorang" jawab Maya tersenyum hangat.
Bahkan bodohnya aku, masih mencintainya sampai sekarang. padahal jelas-jelas dia telah menghancurkan hidupku. Gumam dalam hati.
"Lalu apa yang terjadi?" Mata Riyu menatap penuh harap supaya Maya mau menceritakan kisahnya.
"Haha, ibunya tidak merestui kami Riyu. Dia lebih memilih calon menantu yang lebih kaya" Riyu menatap Maya prihatin, seakan mengerti rasa sakitnya. Sedangkan Maya menghela nafas panjang lalu melanjutkan ucapannya.
"Dulu dia... Sebenarnya pria yang baik, tapi karena didikan yang salah dia tumbuh menjadi kejam, aku bisa melihat itu dari matanya yang hampa, Riyu. Dulu dia juga tidak suka bermain wanita. Kami sering menghabiskan waktu bersama di akhir pekan." Maya tersenyum lembut, matanya menerawang jauh ke masa yang indah sepertinya.
"Hingga akhirnya ibunya menyuruh kami untuk berpisah, dia sempat frustasi karena tidak melepasku pergi. Sebenarnya akupun begitu, tidak rela jika harus berpisah dengannya. Kami mencoba mempertahankan cinta kami dengan segala cara termasuk... Membiarkan aku Hamil benihnya"
Riyu terpekik menutup bibirnya dengan jari-jarinya, "Bukannya restu yang kami dapat, tapi malah ibunya menjebakku"
"Menjebakmu?"
"Ya. Aku dibius Riyu, lalu ibunya membayar pria lain. Paginya saat aku sedang benar-benar bingung dengan pria asing di sampingku, saat itu juga dia masuk dan memergoki kami. Aku melihat tatapan marahnya, jijik, dan juga muak. Sampai akhirnya aku positif hamil, tapi saat aku memberitahunya dia menolakku dan menyangkal kalau yang di rahimku bukan anaknya"
Maya tertunduk menggenggam jarinya erat, membuka luka lama memang menyakitkan. "Dia meninggalkan aku, dan menyetujui untuk menerima perjodohannya. Sejak kami berpisah dia sering melampiaskan kekesalannya dengan bermain wanita"
"Lalu dimana anakmu?" Tanya Riyu bergetar.
"Aku keguguran. Ibunya berfikir kalau anak di rahimku akan menghancurkan rencananya nanti. Saat aku pulang dari toko perlengkapan bayi, dia menabrakku. Aku masih sangat hafal dengan plat mobilnya" tatapan Maya berubah benci.
Tidak terasa pipi Riyu sudah basah, Hatinya mengumpat kesal, bagaimana ada orang sejahat itu.
"Haha... Sudahlah, kau malah jadi ikut sedih kan! Maafkan aku" Maya tertawa sambil mengusap air di ujung matanya.
"Maya... Suatu hari kau pasti akan mendapatkan cinta sejatimu. Kau pasti akan bahagia, biar Tuhan yang mengganti penderitaan yang telah kau lalui" ucap Riyu menggenggam tangan Maya.
"Aku harap demikian Riyu" Maya tersenyum,
"Riyu, jangan pernah sia-siakan orang yang benar-benar tulus padamu. Meskipun kau tidak mengingatnya sekarang, tanyakan pada hatimu bagaimana perasaan mu saat dekat dengannya. Jika nyaman... Jangan biarkan dia pergi"
__ADS_1
Riyu tertegun mendengar ucapan Maya, meskipun ia tidak begitu paham tapi matanya menyiratkan bahwa orang yang di maksud Maya adalah Sam. Maya memeluk Riyu dengan hangat.
"Itu sebabnya aku mendukung Sam, Riyu. Kau beruntung bisa mendapatkan orang yang benar-benar mencintaimu dengan tulus. Meskipun keadaan sedang runyam sekarang, tapi aku harap suatu hari kau bisa bersatu dengannya. Orang yang mencintai dan melindungimu"