
Kegiatan pagi hari,sarapan telah tersedia di atas meja, susu hangat dan telur setengah matang menjadi sarapan favorit Dhea, "Selamat pagi papa. Selamat pagi Dhea" sapa Riyu ramah, kecupan hangat mendarat di kepala Dhea.
"Pagi, dimana Sam?" tanya Mahesa.
"Mungkin sebentar lagi turun pa" jawab Riyu, dalam hatinya juga bertanya dimana Sam, biasanya dia paling pagi daripada dirinya.
Tak lama setelah itu, Sam turun. Wajahnya musam menatap Riyu. "Ada apa Sam?" Riyu merenyitkan alisnya.
"Riyu, aku akan membatalkan pertunangan kita" ucap Sam menatap datar.
Deg, sendok terjatuh dari genggaman Riyu. Semua mata di sana menatap Sam seksama. Apa maksudnya membatalkan pertunangan? Bahkan semua orang di kota sudah mendengar berita tentang pertunangan itu. Suasanya menjadi senyap, diam dengan debaran jantung yang tak menentu.
"Kenapa kau menatapku begitu?!" kesal. Dasar orang aneh, dia yang membuat semua orang menatapnya heran karena ucapannya, tapi dia sendiri yang tersinggung.
"Apa maksudmu membatalkan pertunangan Sam?! Semua orang sudah mengatahui pertunanganmu dengan Riyu, bahkan undanganpun sudah disebar dan kau membatalkan pertunangan begitu saja?" Mahesa sangat tidak terima dengan keputusan Sam yang seenaknya sendiri.
"Memangnya kenapa kalau pertunangan harus batal. Aku sudah tidak tahan lagi karena... "
"Apa maksudmu sudah tidak tahan lagi?" suara lirih, Riyu terunduk dalam.
"Riyu..."
"Kenapa kau mempermainkan aku?!" wajah Riyu mulai merah padam, rasanya sudah tidak bisa lagi membendung emosi. Wanita mana yang tidak sedih dan kecewa saat tiga hari menjelang hari pertunangan, tapi malah dibatalkan seenaknya begitu saja.
Suasana sudah enak di meja makan, usai Dhea menghabiskan makanannya, Mahesa langsung membawa Dhea menuju kamarnya. Meninggalkan mereka berdua dengan ketegangan, Mahesa memberi waktu untuk mereka berdua menyelesaikan masalah ini sambil berharap kalau Sam tidak akan membuat Riyu kecewa dengan keputusannya.
"Hari ini ikutlah denganku" ucap Sam. Bagaimana bisa dia sesantai itu, sedangkan di sisi lain perasaan Riyu hancur seperti sebuah kaca yang terjatuh dari ketinggian.
"Tidak!" jawab Riyu singkat mengangkat tubuhnya meninggalkan Sam di meja makan.
"Riyu, aku bilang ikutlah denganku!" ucap Sam dengan nada tegas. Ia baru sadar kalau Riyu benar-benar kesal. Namun sedikitpun Riyu tidak menggubris atau menghentikan langkahnya.
Baru saja tangannya menggapai gagang pintu mobil, Sam datang langsung merengkuhnya. "Lepaskan aku!" Riyu berontak. Sam memasukkan Riyu kedalam mobilnya.
__ADS_1
"Aku bilang lepaskan aku!" sekuat tenaga Riyu mendorong Sam menjauh darinya. Sedikitpun Sam tidak bergeming meskipun Riyu terus berontak dan mendorongnya.
"Aji, jalan." ucap Sam tanpa mengalihkan pandangannya dari Riyu.
Kondisi mulai tenang, lelah rasanya mendorong pria itu, tenaganya sama sekali tidak berpengaruh. Hawa dingin menyelimuti mobil Sam yang melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali terlihat Riyu yang menyeka airmata, masih kesal menatap keluar jendela.
Tangan Sam membelai Riyu lalu menyelipkan rambut ke kesela telinganya. "Sayang, kenapa kamu malah marah? Seharusnya kau tanya padaku kenapa aku membatalkan pertunangan itu. Bodoh." senyum tipis terlihat di wajah Sam.
Apa-apaan ini, merayu tapi kata bodoh masihsaja dia ucapkan. Dasar menyebalkan! mengumpat dalam hati.
"Apalagi yang harus aku tanyakan? Bukannya kamu sudah bilang kalau kamu sudah tidak tahan lagi?!" menjawab dengan nada kesal.
"Itu memang benar." ucap Sam santai.
"Sudahlah aku tidak ingin berbicara padamu!" kembali Riyu mendorong Sam. Tapi dengan cepat Sam langsung menangkap tangan Riyu lalu menariknya kedalam pelukannya. Suasanya kembali senyap saat mereka tenggelam dalam ciuman dalam cukup lama.
"Kau tau kenapa aku membawamu pergi hari ini? Aku akan membawamu untuk memakai gaun pengantin yang telah aku pesan khusus untukmu" ucap Sam dengan nada tenang.
Dalam dekapan Riyu langsung diam mematung, "A... Apa maksudmu?" bertanya dengan jantung berdegup kencang.
"Riyu, aku sudah tidak tahan karena ingin segera bersatu denganmu. Aku membatalkan pertunangan karena ingin langsung menikah denganmu, dekorasi gedung untuk pertunangan aku ubah menjadi dekorasi pernikahan. Apa aku salah dengan semua itu?" Sam membenamkan wajahnya ke leher Riyu yang masih diam mendengar penjelasan Sam barusan. "Jangan marah padaku, maafkan aku" ucapnya lagi dengan nada lirih dan menyentuh.
Apa ini? Setelah menjebak Riyu hingga emosi, sekarang Sam berhasil membuatnya merasa bersalah karena telah salah paham padanya? kenapa si dia tidak menjelaskan secara langsung tadi. Antara perasaan kesal dan bahagia, Riyu sampai bingung apa yang ingin ia utarakan saat itu.
"Sam kenapa kau tidak menjelaskan padaku dari tadi!" protes.
"Kau tidak bertanya. Malah langsung marah dan pergi begitu saja. Dasar tidak sopan!" ucap Sam memasang wajah polos.
Riyu membuka mulut ingin membantahnya, telak sudah, yang diucapkan Sam memang benar. Riyu langsung marah sebelum menanyakan alasannya. Melihat ekspresi Riyu yang merona malu dan juga kesal, membuat Sam tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya di bahu Riyu.
*****
Waktu terus bergulir seperti air mengalir yang mengalami berbagai halangan rintangan untuk bermuara di samudera yang luas. Hari bahagia akan segera tiba, penantian bersama dengan pria yang mencintainya dan yang telah melindunginya sejak kecil.
__ADS_1
Beberapa tahun lalu Riyu juga memakai baju pengantin, tapi saat itu, dirinya terjerumus dalam mimpi buruk yang mengerikan, Nita, Noval, tapi semua sudah berakhir. Semoga kali ini, akan mengalir berbagai kebahagiaan dan cahaya terang setelah badai berlalu di hidupnya.
Tap... Tap... Tap...
Kaki jenjang keluar dari ruangan, cermin besar terpampang dihadapannya melukiskan tubuh terbalut gaun pengantin berwarna putih yang indah yang didesain khusus untuk hari pernikahannya. Sepasang mata saling bersitatap mengutarakan perasaannya masing-masing. Senyum ragu terlukis jelas di wajah Riyu.
"Em... Apa, aku cocok memakai ini?" tanya Riyu
sambil menyelipkan rambut ke sela telinganya, merasa tidak percaya pada dirinya.
Sam beranjak dari tempat duduknya mendekati Riyu, entah apa yang ia pikirkan tapi raut wajah Sam membuat Riyu merasa tidak enak. " Kau terlihat cantik. Apa kau masih ragu?" tanya Sam menatap dalam. Tangannya mulai menggenggam hangat, menenangkan.
"Tidak Sam, Aku hanya... " Riyu tertunduk diam. Ragu? Mungkin tidak, hanya sedikit teringat apa yang pernah terjadi. Getaran dari dalam hatinya menyeruak, Riyu memberanikan diri menatap Sam.
"Sam. Kau tidak akan berubah kan? Kau... Akan selalu mencintaiku kan? Dan tidak akan pernah meninggalkan aku?" nada bergetar lirih diiringi dengan buliran bening yang terbendung di matanya.
Aku sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini, aku akan sendirian jika kau meninggalkanku Sam. Aku benar-benar takut, membayangkan saja aku sampai kehilangan tenaga. _Riyu_
"Kau tau? Saat kau bilang membatalkan pertunangan aku sudah sangat ketakutan Sam"
Sam termenung menatap dalam. Ia tidak menyalahkan Riyu, Sam tau apa yang sedang mengganggu pikiran Riyu sekarang. Masa lalu. Dimana statusnya sebagai istri dibuat trauma oleh Noval, juga kesendirian.
"Ini aku, Riyu. Sam. Yang akan menjadi suamimu adalah aku" Sam meletakkan tangan Riyu di dadanya. "Kau akan menikah dengan sosok yang berbeda, kita juga akan membangun kehidupan baru yang berbeda. Apa yang menjadi pertanyaanmu barusan, jawabannya akan terjawab seumur hidupku, Riyu."
Seumur hidup. Itu berarti pertanyaan Riyu akan Sam jawab melalui perbuatan, bukan hanya sekedar ucapan. "Yang aku butuhkan darimu adalah sebuah kepercayaan, Riyu. Percaya padaku" ucap Sam lembut, belaian hangat menerpa wajah Riyu yang tegang.
"Aku percaya padamu" pelukan hangat langsung ia salurkan pada Sam. Riyu yakin Sam sangat berbeda, Sam mencintainya bukan karena status, kekuasaan, harta. Kakek Darma juga pasti telah bisa membaca sebelumnya, jika tidak, tidak mungkin kakek akan memilih Sam untuk bersanding dengannya.
"Maaf karena telah berfikir yang tidak-tidak Sam" senyum lega dalam dekapan.
"Kau terlihat sangat cantik dengan gaun ini. Aku mencintaimu" kecupan lembut mendarat di kepala Riyu.
Melihat adegan romantis di hadapannya,para pelayan yang di butik itu enggan berpaling dari adegan romantis yang mengharukan. Betapa beruntungnya mereka, meskipun banyak rintangan yang mereka lalui, tapi mereka saling mencintai dan juga percaya satu sama lain. Tuhan, jika masih ada lelaki seperti Tuan Sam di dunia ini Tolong sisakan satu untukku. Ucap para pelayan jomblo yang iri melihat sepasang merpati di depannya.
__ADS_1