
Sudah beberapa hari ini, Riyu memang menyempatkan diri untuk melihat-lihat keluaran gaun model terbaru di suatu majalah. Ada satu gaun yang memang sangat menarik di matanya, tidak begitu glamor, simple, tapi tidak mengurangi kesan anggun saat di pakai.
"Nona Riyu, kita sudah sampai" ucap supir yang tidak di sadari ternyata sudah parkir di depan butik.
Riyu dan Maya bergegas turun dari mobil, Maya melangkah dengan semangat menuju pintu masuk sedangkan Riyu masih belum bergeming dari samping mobilnya sambil melihat ke arah butik.
"Ada apa Riyu?" Tanya Maya menghampiri Riyu.
"Entahlah May, sepertinya aku ga asing sama butik ini" ucap Riyu tanpa memalingkan pandangannya.
"Sudahlah, ayo kita masuk" ucap Maya menggandeng tangan Riyu lalu menariknya masuk ke dalam butik.
Setelah Riyu melewati pintu masuk, seorang pelayan menghampiri mereka dengan senyum ramahnya.
"Selamat datang Nona Riyu, sudah lama sekali kau tidak mengunjungi butik kami?" Sambut pelayan.
"Kau... Tau namaku?" Tanya Riyu dengan ekspresi bingung.
"Tentu, Nona Riyu kan langganan kami" jawab pelayan toko yang agak bingung dengan tingkah Riyu yang seperti orang linglung.
"Pantas saja aku merasa tidak asing dengan butik ini" gumam Riyu.
"Nona sering memesan gaun di tempat kami, oh iya... Biasanya Nona selalu datang bersama Tuan muda Sam. Apa Tuan Sam tidak ikut?"
Riyu terkejut menatap pelayan itu penuh dengan tanda tanya... "Sam?" ucap Riyu semakin tidak paham.
"Eum... Mohon maaf, ada sedikit tragedi yang membuat ingatan Riyu agak terganggu. Jadi... Bisakah kami melihat koleksi gaunmu?" Ucap Maya mencoba mengalihkan pembicaraan.
Pelayan itu baru mengerti setelah mendengar penjelasan Maya, pantas saja Riyu terlihat bingung dan linglung. Akhirnya iapun menjalankan tugasnya tanpa banyak bertanya "Oh iya, silahkan Nona"
Mereka berjalan beriringan menuju ruangan koleksi butik, Maya langsung berpencar mencari gaun yang cocok di sisi lainnya, "Nona Riyu, bisa kau ikut saya sebentar?" ucap pelayan.
Riyu mengangguk tanda setuju ajakannya dan mengikuti kemana pelayan itu membawanya, tak jauh dari Maya yang sibuk melihat-lihat, pelayan itu berhenti di depan sebuah Mannequin yang terpajang menggunakan gaun yang indah.
"Ini Nona, Tuan Sam telah memesan gaun ini untukmu sebelumnya. Dia berpesan saat kau datang, aku harus menunjukkan gaun ini untukmu" ucap pelayan tersenyum sambil menunjuk ke arah Mannequin.
"Jadi Sam sudah memesan gaun ini untukku?" Ucap Riyu terkejut, ia tidak menyangka kalau gaun yang dia incar sudah di pesan khusus untuknya.
"Betul, selera Tuan Sam memang sangat bagus. Kebetulan gaun ini satu-satunya di kota Y, dan Tuan Sam sudah memesannya khusus untukmu"
Riyu terdiam lalu membelai lembut gaun itu, ternyata Sam telah memesan gaun yang benar-benar dia inginkan sejak beberapa hari lalu. Riyu tersenyum, ia merasa ada suatu perasaan yang entah kenapa dia begitu senang.
"Apa... Aku boleh mencobanya?"
"Tentu Nona, gaun ini milikmu sekarang"
__ADS_1
Riyu tersenyum, ia bergegas ke ruang ganti untuk mencoba gaunnya. Di depan cermin Riyu memandang gaun berwarna ungu yang begitu pas dan cocok saat dia pakai, sepertinya Sam benar-benar tau warna kesukaannya.
"Riyu... Waow" ucap Maya memandang Riyu dari atas hingga bawah.
"Bagaimana? Bagus ga?" Tanya Riyu sambil berputar menunjukkan keanggunannya.
"Ini benar-benar bagus dan cocok sekali untukmu Riyu!"
"Kau tau? Sam yang memesannya untukku" ucap Riyu agak berbisik.
Melihat senyuman Riyu yang begitu bahagia Maya tiba-tiba merasa tersentuh, selama dekat dengannya, tidak sekalipun Maya melihat Riyu tersenyum dengan mata yang berbinar seperti sekarang ini.
****
Kling... Sebuah pesan masuk ke posel Sam, ia menghentikan ketikannya lalu membuka ponselnya.
"Terimakasih Sam... Aku sangat menyukai gaunnya"
Sebuah pesan yang di kirim oleh Riyu, Senyum teduh langsung tersirat di wajah Sam. Dia semakin tidak sabar untuk bersamanya malam ini meskipun masih begitu asing di ingatan Riyu... Sebelumnya Sam sudah memesan tiket pesawat sejak dua hari yang lalu, mereka akan berangkat ke kota S pukul 4 sore nanti.
Usai pergi mencari gaun, aksesoris dan keperluan lainnya, Riyu dan Maya bergegas pulang. Mereka berpisah di Mall, setelah Maya di jemput oleh Bayu, Riyu langsung bergegas menuju rumah untuk menyiapkan barang yang akan di bawa.
Satu koper kecil cukup untuk Riyu, dia hanya membawa beberapa baju dan keperluan penting yang dia butuhkan.
Tok... Tok... Tok... Suara ketukan di pintu kamar Riyu. Setelah menutup koper dengan rapat, Riyu bergegas membukakan pintunya.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Sam lembut.
Riyu tersenyum dan menjawab dengan anggukan kecil. Riyu mengambil tas selempang dan kopernya, saat ia berbalik dan siap berangkat, Riyu melihat Sam menjulurkan tangannya...
Riyu tertegun sejenak, ia menatap tangan Sam kemudian beralih menatap dalam matanya... Sam mengangguk perlahan seakan berkata, "Riyu... Genggam tanganku..."
Tangan Riyu bergerak perlahan menyambut tangan Sam, setelah tangan mereka bertemu, Sam langsung memegangnya erat.
Riyu terpejam... Seakan ada satu hentakan yang mengejutkan hatinya, Riyu terpejam... Merasakan genggaman Sam yang begitu hangat. Sam menggandeng tangan Riyu dan mereka berjalan bersama menuju mobilnya.
Dug... Dug... Dug... Debaran jantung Riyu semakin kuat. Sejak keluar dari rumah, meninggalkan bandara, hingga sampai di kota S pun, Sam selalu menggandengnya erat.
Masih ada waktu untuk mereka pergi jalan-jalan sebentar sebelum masuk ke apartemen, Sam mengajak Riyu mampir ke satu mini market yang tidak jauh dari apartemennya. Mereka membeli ice cream dan berjalan di trotoar sambil menikmati Senja...
Kota S yang begitu cerah, angin yang bertiup lembut membuat suasana yang sayang untuk dilewatkan... Riyu melihat ke arah tangannya yang masih berada di genggaman tangan Sam.
Kemudian Riyu beralih memandang Sam dari samping, melihat wajahnya yang terpapar cahaya senja, rambutnya yang terbelai lembut oleh angin, Riyu merasa nyaman, terlindungi, dan selebihnya... Sulit untuk di jelaskan.
****
__ADS_1
"Oke Tuan Putri, kita telah sampai di persinggahan" Ucap Sam saat membuka pintu kamar apartemennya.
Riyu berjalan masuk sambil melihat desain ruangan apartemen yang minimalis dan mewah.
"Wah Sam... Aku bisa melihat pantai dari sini" ucap Riyu melihat ke arah luar jendela kaca.
"Kau suka?" Ucap Sam menatap lembut.
"Ya tentu. Baiklah dimana kamarku?" Tanya Riyu.
"Ada di sana" ucap Sam sambil menunjuk ke pintu berwarna putih bersih.
Riyu bergegas membuka pintu, ia melihat ada satu ranjang yang cukup besar di sana, ternyata pemandangan lebih jelas dari jendela kamar yang mengarah tepat ke arah pantai...
"Waahh... Ini luar biasa" gumam Riyu senang. Saat ia berbalik, ternyata Sam telah berbaring di ranjangnya.
"Sam kenapa kau tidur di situ?" Tanya Riyu mengerutkan alisnya.
"Ini kamar kita! Tentu saja aku tidur di sini" jawab Sam dengan nada santai.
"Kamar kita?"
"Ya. Di sini hanya ada satu kamar, satu ranjang dan... Satu selimut" Sam menatap wajah Riyu yang mulai gugup.
"A... Apa?"
"Sayang, selain kita ke sini untuk menghadiri pesta, sekalian saja kita berbulan madu" Sam mulai menggoda Riyu, ia mengedipkan satu matanya sambil menepuk sisi ranjang sebagai tanda kalau Riyu akan tidur di sampingnya.
Wajah Riyu mulai merah, malu, kesal, Sam benar-benar menyebalkan.
"Kau... Ergh" Riyu bergegas keluar kamar. Sedangkan Sam tertawa geli karena berhasil menggodanya.
"Dia benar-benar ngerjain aku, tapi lihat saja nanti. Pasti akan aku balas kau Sam!" Ucap Riyu, lalu menengguk habis segelas air, kemudian kembali masuk ke kamar.
"Oke Sam... Malam ini kau harus tidur di sofa..." Riyu terdiam setelah melihat Sam yang ternyata sudah tidur pulas.
Riyu berjalan perlahan, langkah kakinya nyaris tak terdengar mendekat ke arah Sam. Riyu berdiri memandangi wajah Sam yang terlihat kelelahan, ia menarik selimut dengan sangat lembut supaya Sam tidak terbangun.
Saat tangannya berhenti tepat di atas dada Sam, Riyu memandang wajahnya dengan seksama. Ia melihat masih ada bekas luka di atas alis kanannya, juga masih ada luka bekas pukulan Noval di ujung bibirnya.
Rasa sakit mulai muncul di hati Riyu seakan tidak rela jika Sam terluka, ia pun ingat bagaimana Sam melindunginya saat kecelakaan di kincir. Sam merelakan tubuhnya supaya dirinya tidak terluka.
Perlahan Riyu menyentuh bekas luka yang ada di alis dan membelai lembut wajahnya...
"Sam... Sikapmu sebenarnya sangat menyebalkan, tapi kau juga bodoh! Kenapa kau begitu mengorbankan diri untukku. Kenapa kau bilang kau mencintai aku! Sedangkan aku... Aku adalah..."
__ADS_1
Riyu menutup bibirnya menahan isak, ia melangkah mundur dan berlari keluar meninggalkan Sam menuju ruang tengah...