Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Kecaman bagian 2


__ADS_3

Dalam perjalanan hidup yang perlu diutamakan adalah rasa waspada, seperti apa yang Sam lakukan sekarang. Ibarat mati satu, tubuh seribu. Orang jahat tidak akan sirna dari dunia ini, apalagi dengan kedudukannya yang sekarang. Riyu dalam hidupnya kini menjadi suatu kekuatan untuk Sam. Sebelum Riyu hadir, ia berfikir kalau hidupnya tidak begitu berguna, tapi sekarang, ia sadar, banyak yang Sam lalaikan selama ini.


Makan malam tersedia istimewa malam itu, Siti sudah begitu akrab dengan Dhea. Melihat Dhea, dirinya jadi tidak sabar ingin sekali menimang cucu dari Sam juga Riyu. Haha, ya suatu harapan kecil yang manis bukann?


Sam dan Riyu berjalan beriringan menuju meja makan, melihat Agi yang terus memandangi Riyu, membuat Sam merasa jengah padanya. Namun, tidak mungkin juga kalau Sam langsung memberinya pelajaran ditengah senyum bahagia Siti juga Mahesa.


"Sam, Riyu. Bagaimana kabar bangunan rumah yang kalian dirikan di kediaman almarhum Tuan Darma?" tanya Mahesa sambil memilih lauk favoritnya.


"Sudah hampir finish pa, setelah menikah nanti kami akan memeriksanya kesana. Iya kan Sam?" jawab Riyu antusias, sebenarnya ia juga sudah sangat tidak sabar melihat bagaimana rumah yang mereka bangun berdua. Apalagi, Sam sepesial menambahkan danau disana. Suasana pasti akan lebih tenang dandamai.


"Hem. Aku jga memiliki kejutan untukmu di sana"


"Apa itu Sam?"


"Kalau aku bilang, bukan kejutan lagi namanya. Dasar" seperti tidak memperdulikan manusia-manusia yang ada di meja makan itu, Sam langsung mengecup bibir Riyu di hadapan semua orang.


Apa-apaan Sam! Aku ingin sekali menarik telinganya. Kau anggap apa orang-orang yang ada disini!" Riyu menggerutu dalam hati, tapi tetap saja ia tidak bisa menyembunyikan wajah meronanya. Hanya Sam yang merasa biasa saja dengan tingkahnya itu, Siti tersipu malu tapi bahagia karena melihat Sam benar-benar mencintai Riyu, Mahesa lebih memilih pura-pura tidak tau dan mengalihkan perhatiannya kepada Dhea. Sedangkan tepat di seberang mereka berdua, ada Agi yang menatap mereka dengan hati yang tidak karuan.


"Hey, kenapa kau merona begitu! Bukannya besok juga kita akan berciuman di depan orang banyak?" ucap Sam sekenanya.


"Apa?! Sam, jelas itu berbeda" protes Riyu menahan debar jantungnya.


"Apanya yang berbeda?" Sam meringis, melihat ekspresi Riyu yang salah tingkah.


Apalagi yang harus Riyu jawab? Ia memilih terdiam tersipu. Tapi dalam benaknya, Riyu sedang membayangkan saat sebentar lagi akan bersatu dengan Sam. Memakai gaun pengantin, berucap ikrar suci, berjanji bersama sehidup semati. Senyum bahagianya kembali terpancar.

__ADS_1


"Riyu, setelah ini aku ingin bicara denganmu" ucap Agi tiba-tiba. Semua tatapan langsung mengarah padanya. Riyu merenyitkan alisnya, masih saja Agi mencoba mengusik dan beraninya dia berbicara di depan Sam. Riyu langsung khawatir, susah payah ia menenangkan Sam gara-gara kejadian tadi siang, malah sekarang Agi memancing amarahnya lagi. Memang apalagi yang mau dibicarakan, bukannya semua sudah jelas? Agi sudah tidak memiliki kesempatan sekarang.


"Hemh. Kau bisa berbicara disini sekarang" jawab Sam cepat lalu menyandarkan punggungnya di kursi makan. Tagannya menggenggam erat tangan Riyu di bawah meja, berharap dirinya bisa menahan diri menghadapi kakak angkat Riyu. Kalau bukan karena Siti, mungkin gelas sudah mendarat di kepala Agi sekarang.


"Riyu, bisa kan?" ucap Agi lagi, mengabaikan Sam seakan tidak mendengar peringatannya barusan.


"Sebenarnya apa maumu?!" suara tenang, tapi begitu dingin, membekukan suasana yang tadinya hangat, tatapan Sam kini melekat pada pria dihadapannya itu.


"Agi! Jaga sikapmu!" bisik Siti merasa tidak enak dengan putranya yang kurang sopan. "Maaf nak Sam" ucap Siti lagi.


Namun permintaan maaf dari mulut Siti tetap tidak bisa mencairkan suasana. Mahesa menyadari putranya sedang merasa kesal, tapi dia terdiam menyimak pembicaraan itu.


"Bude Siti. Kau meminta maaf untuk putramu yang telah mengabaikan aku, atau meminta maaf untuk putramu karena telah lancang masuk kedalam kamar calon pengantinku?" ucap Sam begitu tenang. Senyum memang terlihat diwajahnya, tapi entah kenapa senyum itu mengisyaratkan kau dia sedang mengancam orang.


"Apa?!" Siti terperangah. Tidak hanya Siti, tapi juga Mahesa terkejut akan hal itu.


Wajah Agi dan Siti berubah pias, tentu saja Siti merasa syok dengan ucapan Sam barusan. Ada penyesalan dalam hatinya karena telah mengajak Agi untuk datang, karena ia pikir Agi sudah bisa merubah sifatnya yang selalu tidak sopan pada Riyu. Tpi perkiraannya salah, justru malah membuatnya malu di hadapan keluarga Sam.


Usai menyampaikan kecamannya yang serius, Sam menggandeng tangan Riyu meninggalkan meja makan. Sayang sekali, suasana yang tadinya hangat jadi tidak enak saat itu. Menyadari keadaan Siti yang serba salah, Mahesa pergi membawa cucunya ke dalam kamar. Mungkin Siti juga perlu berbicara empat mata terhadap Agi.


****


Sam termenung pada balkon kamarnya, mengingat masa itu. Masa disaat Riyu berlari tengah malam dengan wajah lebam dan baju yang sobek, di belakang Riyu ada Agi yang mengejarnya. Tangan Sam mengepal erat, gemetar, menahan semua gejolak saat mengingat tawa Agi malam itu.


"Seharusnya aku habisi saja dia malam itu" gumam Sam bergetar.

__ADS_1


Tiba-tiba tangan halus menyentuh kepalan tangannya yang gemetar, seketika itu juga kehangatan menjalar pada tiap urat yang mulai terbakar amarah. "Sam, apa yang kau khawatirkan? Apa kau terlalu takut pada orang semacam Agi?" Riyu berucap lembut, melempar senyum tenangnya.


Sam terdiam, menoleh kearah Riyu yang tersenyum teduh saat itu. "Aku tidak tidak takut padanya, aku hanya takut dia akan menyakitimu. Sama seperti dulu"


"Itu dulu sayang. Sekarang berbeda. Selagi ada kau di sisiku, siapapun tidak akan bisa menyakitiku, kau akan selalu melindungiku bukan?"


"Tentu" Sam tersenyum.


Setelah perbincangan hangat itu, Sam merengkuh Riyu kedalam pekukannya. Hangat, nyaman, tenang. Keduanya saling mengisi dengan kasih sayang yang pernah hilang dari hidupnya.


****


Plaaakkk... suara tamparan keras memenuhi ruangan kamar tamu.


"Apa yang ada di otak kotormu itu Agi?! Apa kau cari mati!" bentak Siti diiringi air mata mengalir melewati pipinya.


Agi hanya terdiam, bahkan ia tidak memperdulikan sakit bekas tamparan Siti tadi. "Dari dulu apa tidak puas kau mengganggu Riyu! Dia sudah bahagia bersama Sam sekarang dan kau masih saja ingin berbuat bejat padanya?! Kau benar-benar cari mati!"


"Aku mencintainya Bu! Aku mencintai Riyu, aku tidak rela jika Riyu menikah dengan Sam!" balas Agi tak kalah kencang suaranya.


"Besok kau harus pergi dari sini" ucap siti dengan nada melemah dan bergetar, tak sanggup lagi dirinya menatap wajah Agi.


"Tapi Bu... "


"Pergi!" bentak Siti berbalik menatap Agi dengan penuh emosi.

__ADS_1


Agi terdiam sesaat menatap ibunya dalam. Tanpa mengucapkan spatah kata apapun lagi, Agi pergi kembali kekamarnya. Siti terduduk lunglai bersandar tempat tidrnya, tangisnya meledak ketika Agi sudah menutup pintu rapat. "Maafkan ibu, tapi Riyu bukanlah takdirmu nak" ucap Siti dalam kekecewaan.


Tentu saja Siti sangat kecewa dengan kelakuan Agi. Ia ingat saat pertama kali Agi mendengar kalau Riyu dan Noval telah bercerai, betapa bahagianya Agi kala itu. Tapi Siti tidak tau kalau putranya ternyata ingin memiliki Riyu. Namun mau bagaimanapun juga, Siti tidakakan pernah mendukung riyu dengan Agi. Riyu sudah bahagia sekarang, lebih baik, ia menjauhkan Agi dari Riyu demi kebahagiaan Riyu, juga keselamatan Agi. Selamat dari kemarahan Sam.


__ADS_2