Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Janjian


__ADS_3

Sudah seminggu Sam membiarkan anaknya bebas, tapi tetap dibawah pengawasannya yang ketat. hanya saja bedanya tidak semenonjol dulu. Pagi itu, dengan rutinitas seperti biasanya sarapan pagi bersama keluarga. Hanya saja, pagi itu Sam memilih untuk disiapkan Sarapan di taman dekat danau.


"Selamat pagi Ayah, selamat pagi Ibu" sapa Casandra diiringi kecupan manis dipipi kedua orang tuanya."


"Pagi sayang" jawab Sam dan Riyu serentak.


"Bagaimana, apa kau menikmati harimu?" ucap Sam sambil mengolesi rotinya dengan selai kacang.


"Ya ayah, aku sangat menikmatinya"


"Baiklah, tapi hanya untuk sampai akhir pekan ayah akan membebaskanmu. Selanjutnya, tetap harus ada seorang penjaga untuk ikut denganmu kemanapun kau pergi."


Pernyataan Sam membuat Casandra terkejut, ia kira, Ayahnya sudah benar-benar berfikiran normal. Tapi ternyata belum.


"Ayah, kan sudah ada Om Doni yang selalu menjaga dan mengawasiku. Bahkan Om Aji juga sudah ada sekarang"


"Tidak Casandra. Doni akan kembali mengawal ibu, dan Aji akan mengawal Ayah. Minggu depan kami harus mengurus tender yang ada di luar negri, dan Ayah juga tidak mungkin meninggalkanmu sendiri di rumah. Oleh sebab itu, Ayah sudah mencarikanmu Bodyguard yang bisa diandalkan."


"Disini sudah banyak sekali penjaga yang kuat ayah, masa ayah mau nambahin lagi?" protes Casandra, itu berarti akan adalagi penguntit yang selalu menempel padanya setiap saat. Membosankan.


"Sayang, Ibu percaya Ayah pasti memiliki suatu alasan kenapa dia menambah lagi penjagaan untukmu. Percayalah." ucap Riyu dengan lembut.


Casandra tidak bisa menyangkal lagi, percuma, meskipun keberatan juga ia tidak akan pernah menang berdebat dengan ayahnya. "Terserah kalian deh" ucap Casandra mendengus pasrah.


"Ayah, ibu, Casandra berangkat kuliah dulu"


Kecupan kembali terlepas. Casandra berjalan lesu menuju mobilnya, sebelum ia masuk ke dalam mobil, tangannya mengelus lembut body mobil kesayangannya itu.


"Baiklah sayang. setelah ini kau akan tidur lagi di garasi, dan aku harus menggunakan mobil model orang tua dengan penjaga menyebalkan dan selalu menguntit kegiatanku." ucapnya membuang nafas panjang.


"Selamat Nona, doamu terkabul" ucap Aji tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.


"Apanya yang terkabul. Justru doaku semua nyangkut dan tidak sampai pada Tuhan! Aku yakin. Pesawat pasti sudah menyambarnya!" jawab Casandra kesal.


"Dasar pesawat kurang ajar. Beraninya menyambar doa nona mudaku." ucap Aji sambil mendongak melihat langit.


"Mungkin kau bisa pergi ke Bandara untuk melarang pesawat supaya tidak lewat di atas rumah ini Om!" geram Casandra.


"Nona itu mustahil" . Dasar bocah!. "Tapi saya pernah mendengar doa Nona" ucap Aji.

__ADS_1


"Doa yang mana? Doa Apa?"


"Nona pernah bilang, ingin mendapatkan Bodyguard yang tampan, muda, tidak tua. Dan... Itu semua terkabul sekarang" jelas Aji.


Casandra terdiam mengingat-ingat kata itu. Ya, dia memang pernah berucap seperti itu saat kesal pada Aji. "Memangnya, seperti apa dia? Apa dia tampan?" tanyanya penasaran.


Sedangkan Aji hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyum. "Bodolah. Setampan apapun dia, pangeranku tetap yang terbaik!" ucap Casandra langsung masuk ke dalam mobilnya. Aji masih berdiri, ia berbalik ketika mobil Casandra sudah keluar dari gerbang utama.


*****


Anan masih termenung di dalam kamarnya. Setelan baju yang telah ia terima kemarin tergeletak diatas meja, Anan memandanginya lama. Ragu, khawatir, selain ancaman dari Sam ia juga mempertimbangkan gaji besar yang akan ia terima. Sebenarnya ia juga tidak mengerti, kenapa Sam memilihnya untuk menjadi pengawal putrinya. padahal dirinya sangat jauh dengan kriteria orang-orang Randar.


Yang paling Anan takutkan adalah, ia tidak bisa menjalankan tugas dengan baik. Tapi di sisi lain, ia juga ingin bekerja untuk membantu kakaknya supaya bisa mendapatkan tempat yang lebih baik.


"Ada apa Anan?" ucap Sanya mengelus lembut punggung Anan. Matanya melihat baju di atas meja."Jika kau ragu, tidak perlu kau ambil tawaran Tuan Sam. Kau tidak perlu khawatir, kita bisa pergi dan pindah dari kota ini, Anan. Kita buka usaha di kota lain"


Sanya tau apa yang membuat Anan resah, ia juga tidak mau adiknya tertekan dan terpaksa demi melindungi dirinya. "Tidak kak. Aku akan berusaha bekerja dengan baik. Lagian, sebenarnya dari dulu aku pengen sekali kerja pada Tuan Sam, dan ini adalah kesempatan untukku. Iya kan?" Anan menggenggam tangan Sanya.


Sanya terdiam menatap adiknya sesama. "Apa kau yakin, Anan?"


Anan mengangguk dan tersenyum. Keraguan dalam hatinya mulai mereda ketika melihat tatapan Anan yang meyakinkan.


"Kakak juga belum pernah melihatnya. Di koran, majalah, juga media sosial tidak ada yang menyorot putri tuan Sam" jawab Sanya. "Sejak kakak dengar kau akan bekerja menjadi pengawalnya, kaka mencoba cari tau, tapi tetap saja hasilnya nihil. Tuan Sam sangat tertutup jika mengenai putrinya"


"Gadis ceroboh itu pasti tau, iya kan? Dia kan dekat sama putrinya Tuan Sam."


"Nona Sandra, Anan. Kau benar juga coba kamu tanya saja sama dia" ucap Sanya dengan mata yang berbinar.


Anan menyetujuinya iya bergegas dan bersiap untuk pergi ke kampus menemui Casandra.


*****


Lima belas menit membelah jalanan ibu kota, Casadra tiba dan memarkirkan mobilnya di parkiran kampus. Matanya menyisir ke seluruh penjuru, tapi dia tidak melihat kedua sahabatnya di sana. Heran aja, biasanya kan Nanda dan Sara selalu menunggunya di parkiran.


"Sandra" Sapa Riko yang ternyata sudah berdiri dibalik punggungnya.


"Eh, iya"


"Tumben kok pagi banget sampai kampusnya?"

__ADS_1


"Em... Hehe. Ya aku memang lagi pengen datang agak awal aja sih. Oh iya, ngapain kamu di parkiran? Apa baru dateng juga?"


"Aku disini sengaja nungguin kamu Ndra" jawab Riko dengan senyuman manisnya.


Casandra tertegun, wajahnya berubah merona mendengar jawaban dari Riko. Aku ga salah denger kan? Tapi... Ngapain dia nunggu aku?. Bisik dalam hati Casandra. "Eum... Nunggu aku? Ada apa ya?"


"Sandra. Malam minggu besok aku ada waktu luang. Kamu mau ga aku ajak jalan-jalan?"


Apa bisa aku bilang kalau Riko ngajak aku kencan?? Aaaa senangnyaaa. Bengong sambil senyum-senyum sediri.


"Sandra!" ucap Riko.


"Eh iya. Jalan-jalan kemana? Jam berapa?" Casandra mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.


"Aku mau ajak kamu makan malam dan nonton bareng di bioskop. Sabtu sore jam 4 aku jemput di rumah ya"


Jemput ke rumah? Duh... Gimana ngomong sama Ayah dan ibu?. Perasaan berbunga bunga barusan berubah mencengkam dan dingin ketika Casandra mengingat tatapan maut ayahnya.


"Kamu tenang aja, nanti biar aku yang ijin langsung sama Om Sam. Gimana?" ucap Riko, ia seperti tau saja apa yang Casandra cemaskan.


Selama ini memang orang tua Riko dan Sam kenal cukup dekat, sepertinya ada kemudahan untuk mereka pergi berkencan, lagian Riko juga berasal dari keluarga terpandang, bahkan Riko sendiri adalah mahasiswa yang sangat berprestasi, Sam pasti akan mengijinkan Casandra untuk pergi bersama Riko. Casandra setuju kalau Riko datang ke rumahnya dan bilang langsung sama Ayahnya. Ini adalah kesempatan yang ia nantikan sejak tahun lalu.


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2