Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Stroberi Par2


__ADS_3

"Kenapa dia lama sekali? Aku saja


yang awanita tidak selama itu siap-siapnya. Coba kalau aku yang lelet seperti


itu, dia pasti akan langsung memakanku. Jika terlambat satu detik saja, rasakan


sendiri akibatnya. Orang menyebalkan itu pasti akan langsung memakanku!”


menggerutu sendiri sambil bersandar mobil menirukan gaya bicara Sam. Sedangkan


dari balik badannya sudah ada sepasang mata yang sedang mengamatinya sambil


tersenyum tipis  melihat Riyu yang


manyun-manyun menirukan gaya Sam berbicara.


“Coba ucapkan sekali lagi,


bibirmu terlihat seperti


Terperanjak, saat berbalik menoleh kearah Sam yang telah


berdiri dibelakangnya. “eheheh Sam, sayang. Kau sudah siap? Ayo kita berangkat


sekarang.” Senyum cerah menyembunyikan gugup. "Sam. Kenapa kau pakai kaos seperti itu? Biasanya kau memakai kemeja" semakin gugup saat melihat melihat kearah stempel yang ia


buat tadi pagi  terpampang jelas kalau


Sam cuma memakai kaos.


"Kenapa?


Aku akan memakainya meskipun berangkat kekantor nanti" seringai jahil


terlihat dibibir Sam.


"Kau...


" Riyu mau protres, seperti apa ekspresi orang-orang saat melihat stempel


stroberinya dileher Sam, membayangkan saja wajah Riyu sudah merah merona.


"Sudah


ayo masuk! Lambat sekali" Sam sudah masuk kedalam mobil padahal Riyu belum menyelesaikan kata-katanya.


"Hey, kau


yang lambat! Kenapa aku juga yang kena". gumam dalam hati. Bergegas Riyu masuk kedalam mobil, Aji


mulai mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan Riyu


terdiam, matanya kosong memandang keluar jendela mobil. Sam menyandarkan


kepalanya melirik kearah Riyu yang seperti memikirkan satu hal. Perlahan Sam


menarik tubuhnya supaya duduk lebih dekat dengannya, "Apa yang kau


pikirkan?" suara lembut ditelinga membuat Riyu terperanjak sekaligus


merinding. Tangannya sudah melingkar di pinggang Riyu sekarang.


"Aku


hanya teringat kakek Sam, aku sangat merindukannya" jawab Riyu menahan


debar jantung yang berdegup kencang.


"Saat


kau merindukan seseorang yang telah tiada, coba pejamkan mata, bayangkan


wajahnya. Kirim ucapan doa untuknya Riyu" tangan kanan Sam menarik kepala


Riyu untuk bersandar di pundaknya, kecupan hangat menyertai kenyamanan Riyu


pada posisinya. Tidak ada percakapan lagi setelah itu, mereka terdiam senyap


menikmati perjalanan yang sebentar lagi sampai.


*****


Meskipun wajah


Maya masih terlihat beberapa luka, namun senyum bahagianya selalu terpancar di


bibirnya. Tangannya membelai lembut poni Dhea yang terurai diatas mata


bulatnya. Bibir ingin sekali sekali mengucapkan "Sayang, mama sangat


menyayangimu" tapi beberapa kali mencoba, hanya suara serak tertahan

__ADS_1


dileher Maya. Bersabarlah Maya, kau pasti akan segera sembuh dan akan kembali


bermain bersama Dhea nanti. Noval berjongkok didekat kursi roda yang dikenakan


Maya.


"Dhea,


dengar ucapan ayah. Ayah dan ibu akan pergi jauh untuk pengobatan ibu,


sementara Dhea tinggal dulu bersama kakek Mahesa. Dhea harus nurut, jangan


nakal. Oke?" kini tatapan gadis imut itu beralih menatap Noval.


"Ayah,


kenapa Dhea tidak boleh ikut?" suara polos sambil memiringkan kepalanya.


"Untuk


sekarang ini jangan dulu sayang. Ada saatnya nanti ayah akan menjemputmu, dan


kita akan ke Singapore bersama"


"Ayah


janji?" Dhea mengayunkan tubuhnya, kelingking kecil meminta balasan untuk


ikatan janji.


"Ayah


janji" Noval menyambut kelingking Dhea lalu mengecup keningnya. Tiba-tiba


lengannya merasakan ada sentuhan halus, Noval menoleh kearah Maya yang


menatapnya dengan tatapan berlinang. "Aku tidak ingin jauh dari


Dhea"seperti itulah yang tertangkap melalui sorot matanya.


"Maya,


kau jangan khawatir. Riyu, Sam, dan papa pasti akan menjaga Dhea dengan baik.


Jika Dhea ikut, nanti malah kasihan dia. Saat pertunangan Sam dan Riyu nanti,


kita akan kembali sebentar sekaligus menjenguknya. Berjanjilah kau akan segera


sembuh" Noval tersenyum hangat. Tatapan yang tadinya sayu kini berubah


lembut dan juga tatapan lembut dari Noval.


"Wah,


wah, wah, lihat. Kalian memang keluarga yang bahagia" ucap Sam usai sampai


dihadapan mereka, tangannya melingkar di pinggang Riyu.


"Noval,


Maya. Maaf kami terlambat" ucapnya tidak enak hati, melihat Mama muda sudah


datang, Dhea langsung berlari memeluknya.


"Mama


muda sudah datang" ucap Dhea riang. Sedangkan Maya tersenyum melihat


pemandangan manis itu, hatinya semakin lega Dhea tidak keberatan tinggal


bersama Riyu untuk sementara ini. Usai berpelukan, Riyu menggandeng tangan Dhea


mendekati Maya.


"Maya.


Kau jangan khawatir, aku akan berusaha menjaga Dhea dengan baik. Berjanjilah


padaku, kau harus tetap semangat supaya lekas sembuh" tangannya


menggenggam tangan Maya. Senyum lebar terlukis di wajah Maya, ia mengangguk


sebelum Riyu memeluknya.


“Sam,


kapankau akan bertunangan?” Tanya noval dengan pandangan yang tidak lepas dari


tiga wanita dihadapannya.


 “Mungkin

__ADS_1


bulan depan. Kau akan datang?”


 “Ya akan


aku ushakan” matanya masih tidak berpaling. Termenung, Noval belum pernah


melihat senyum Riyu seriang itu saat bersamanya. Antara perasaan sedih tapi


juga bahagia, antara bersalah dan juga menyesal. Tapi apa yang yang menjadi


keputusan noval sudah benar kan? Meskipun dia harus merelakan Riyu bersama Sam


tapi cara itulah yang dijadikan Noval untuk menebus kesalahannya.


"Lambaian tangan mengiringi


mengiringi kepergian Noval dan Maya, Dhea hanya terdiam menatap orang tuanya


dari jauh. “Mama muda, ibu dan ayah pasti akan menjemput Dhea lagi kan? Mereka


tidak akan mennggalkan Dhea lagi kan?” mendengar perkataannya Riyu terdiam


menatap Dhea dalam. Anak itu pasti trauma dengan masa lalunya, yang di buang


dan harus tinggal di panti asuhan dengan anak-anak lain yang tidak memiliki


orang tua.


 “Dhea sayang, ayah dan ibu pasti


akan segera kembali. Sekarang ada mama, ada om Sam,dan juga kakek Mahesa yang


sangat menyayangimu dan juga akan melindungimu.Dhea, kau jangan takut” belaian


lembut terusap di kepala ank kecil itu.


 Setelah di dalam mobilpun Riyu


masih terdiam menatap Dhea yag duduk ditengah-tengah antara Sam dan Riyu,


anaganyya memikiran sesuatu yang menyeruak bertanya pada batinnya. Sebenarnya sepertiapa


kehidupn Dhea saat di panti asuhan, apa dia mendapatkan perlakuan yang baik? Apa


dia makan dengan makanan yang baik? Semakin difikirkan Riyu merasa sedih dan


cemas.


 “Hei, kenapa memandang bocah cerewet


ini dengan pandangan begitu menyedihkan?” Tanya Sam asik bersandar pada jok


kursinya.


 “Sam, aku penasaran dengan


kehidupan Dhea waktu di panti asuhan. Apa orang-orang disana baik?”


 “Sayang, Dhea sudah bersama kita


sekarang. Apalagi yang kau khawatirkan?”


 “Tapi sam. Aku akan tetap


menyelidikinya, seperti apa keadaan panti asuhan itu.”


 “Riyu… “


 “Sam, jika mereka baik aku akan


memasukkan data kedalam daftar terbaik. Tapi jika perlakuan mereka buruk


terhadap anak-anak panti, aku akan mengganti ketua juga pengurus panti.


Meskipun Dhea sudah bersama kita, tapi aku melihat ada suatu trauma dimatanya.


Setidaknya kita juga bisa melihat kondisi anak-anak lain di sana kan?”


Sam mengerutkan alisnya, menatap


Riyu dalam. Mungkin apa yang dikatakannya betul juga. Mkarena nasib malang


tidak hanya dialami oleh Dhea, tapi juga banyak anak-anak lain yang masih


kurang beruntung.


 “Oke, kalau begitu pekan depan


kita akan pegi kesana. Aku akan mengirim beberapa anak buah untuk


menyelidikinya terlebih dahul”

__ADS_1


 “Terimakasih Sam” senyum lega terpapar di wajah


manisnya


__ADS_2