
"Kenapa dia lama sekali? Aku saja
yang awanita tidak selama itu siap-siapnya. Coba kalau aku yang lelet seperti
itu, dia pasti akan langsung memakanku. Jika terlambat satu detik saja, rasakan
sendiri akibatnya. Orang menyebalkan itu pasti akan langsung memakanku!”
menggerutu sendiri sambil bersandar mobil menirukan gaya bicara Sam. Sedangkan
dari balik badannya sudah ada sepasang mata yang sedang mengamatinya sambil
tersenyum tipis melihat Riyu yang
manyun-manyun menirukan gaya Sam berbicara.
“Coba ucapkan sekali lagi,
bibirmu terlihat seperti
Terperanjak, saat berbalik menoleh kearah Sam yang telah
berdiri dibelakangnya. “eheheh Sam, sayang. Kau sudah siap? Ayo kita berangkat
sekarang.” Senyum cerah menyembunyikan gugup. "Sam. Kenapa kau pakai kaos seperti itu? Biasanya kau memakai kemeja" semakin gugup saat melihat melihat kearah stempel yang ia
buat tadi pagi terpampang jelas kalau
Sam cuma memakai kaos.
"Kenapa?
Aku akan memakainya meskipun berangkat kekantor nanti" seringai jahil
terlihat dibibir Sam.
"Kau...
" Riyu mau protres, seperti apa ekspresi orang-orang saat melihat stempel
stroberinya dileher Sam, membayangkan saja wajah Riyu sudah merah merona.
"Sudah
ayo masuk! Lambat sekali" Sam sudah masuk kedalam mobil padahal Riyu belum menyelesaikan kata-katanya.
"Hey, kau
yang lambat! Kenapa aku juga yang kena". gumam dalam hati. Bergegas Riyu masuk kedalam mobil, Aji
mulai mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan Riyu
terdiam, matanya kosong memandang keluar jendela mobil. Sam menyandarkan
kepalanya melirik kearah Riyu yang seperti memikirkan satu hal. Perlahan Sam
menarik tubuhnya supaya duduk lebih dekat dengannya, "Apa yang kau
pikirkan?" suara lembut ditelinga membuat Riyu terperanjak sekaligus
merinding. Tangannya sudah melingkar di pinggang Riyu sekarang.
"Aku
hanya teringat kakek Sam, aku sangat merindukannya" jawab Riyu menahan
debar jantung yang berdegup kencang.
"Saat
kau merindukan seseorang yang telah tiada, coba pejamkan mata, bayangkan
wajahnya. Kirim ucapan doa untuknya Riyu" tangan kanan Sam menarik kepala
Riyu untuk bersandar di pundaknya, kecupan hangat menyertai kenyamanan Riyu
pada posisinya. Tidak ada percakapan lagi setelah itu, mereka terdiam senyap
menikmati perjalanan yang sebentar lagi sampai.
*****
Meskipun wajah
Maya masih terlihat beberapa luka, namun senyum bahagianya selalu terpancar di
bibirnya. Tangannya membelai lembut poni Dhea yang terurai diatas mata
bulatnya. Bibir ingin sekali sekali mengucapkan "Sayang, mama sangat
menyayangimu" tapi beberapa kali mencoba, hanya suara serak tertahan
__ADS_1
dileher Maya. Bersabarlah Maya, kau pasti akan segera sembuh dan akan kembali
bermain bersama Dhea nanti. Noval berjongkok didekat kursi roda yang dikenakan
Maya.
"Dhea,
dengar ucapan ayah. Ayah dan ibu akan pergi jauh untuk pengobatan ibu,
sementara Dhea tinggal dulu bersama kakek Mahesa. Dhea harus nurut, jangan
nakal. Oke?" kini tatapan gadis imut itu beralih menatap Noval.
"Ayah,
kenapa Dhea tidak boleh ikut?" suara polos sambil memiringkan kepalanya.
"Untuk
sekarang ini jangan dulu sayang. Ada saatnya nanti ayah akan menjemputmu, dan
kita akan ke Singapore bersama"
"Ayah
janji?" Dhea mengayunkan tubuhnya, kelingking kecil meminta balasan untuk
ikatan janji.
"Ayah
janji" Noval menyambut kelingking Dhea lalu mengecup keningnya. Tiba-tiba
lengannya merasakan ada sentuhan halus, Noval menoleh kearah Maya yang
menatapnya dengan tatapan berlinang. "Aku tidak ingin jauh dari
Dhea"seperti itulah yang tertangkap melalui sorot matanya.
"Maya,
kau jangan khawatir. Riyu, Sam, dan papa pasti akan menjaga Dhea dengan baik.
Jika Dhea ikut, nanti malah kasihan dia. Saat pertunangan Sam dan Riyu nanti,
kita akan kembali sebentar sekaligus menjenguknya. Berjanjilah kau akan segera
sembuh" Noval tersenyum hangat. Tatapan yang tadinya sayu kini berubah
lembut dan juga tatapan lembut dari Noval.
"Wah,
wah, wah, lihat. Kalian memang keluarga yang bahagia" ucap Sam usai sampai
dihadapan mereka, tangannya melingkar di pinggang Riyu.
"Noval,
Maya. Maaf kami terlambat" ucapnya tidak enak hati, melihat Mama muda sudah
datang, Dhea langsung berlari memeluknya.
"Mama
muda sudah datang" ucap Dhea riang. Sedangkan Maya tersenyum melihat
pemandangan manis itu, hatinya semakin lega Dhea tidak keberatan tinggal
bersama Riyu untuk sementara ini. Usai berpelukan, Riyu menggandeng tangan Dhea
mendekati Maya.
"Maya.
Kau jangan khawatir, aku akan berusaha menjaga Dhea dengan baik. Berjanjilah
padaku, kau harus tetap semangat supaya lekas sembuh" tangannya
menggenggam tangan Maya. Senyum lebar terlukis di wajah Maya, ia mengangguk
sebelum Riyu memeluknya.
“Sam,
kapankau akan bertunangan?” Tanya noval dengan pandangan yang tidak lepas dari
tiga wanita dihadapannya.
“Mungkin
__ADS_1
bulan depan. Kau akan datang?”
“Ya akan
aku ushakan” matanya masih tidak berpaling. Termenung, Noval belum pernah
melihat senyum Riyu seriang itu saat bersamanya. Antara perasaan sedih tapi
juga bahagia, antara bersalah dan juga menyesal. Tapi apa yang yang menjadi
keputusan noval sudah benar kan? Meskipun dia harus merelakan Riyu bersama Sam
tapi cara itulah yang dijadikan Noval untuk menebus kesalahannya.
"Lambaian tangan mengiringi
mengiringi kepergian Noval dan Maya, Dhea hanya terdiam menatap orang tuanya
dari jauh. “Mama muda, ibu dan ayah pasti akan menjemput Dhea lagi kan? Mereka
tidak akan mennggalkan Dhea lagi kan?” mendengar perkataannya Riyu terdiam
menatap Dhea dalam. Anak itu pasti trauma dengan masa lalunya, yang di buang
dan harus tinggal di panti asuhan dengan anak-anak lain yang tidak memiliki
orang tua.
“Dhea sayang, ayah dan ibu pasti
akan segera kembali. Sekarang ada mama, ada om Sam,dan juga kakek Mahesa yang
sangat menyayangimu dan juga akan melindungimu.Dhea, kau jangan takut” belaian
lembut terusap di kepala ank kecil itu.
Setelah di dalam mobilpun Riyu
masih terdiam menatap Dhea yag duduk ditengah-tengah antara Sam dan Riyu,
anaganyya memikiran sesuatu yang menyeruak bertanya pada batinnya. Sebenarnya sepertiapa
kehidupn Dhea saat di panti asuhan, apa dia mendapatkan perlakuan yang baik? Apa
dia makan dengan makanan yang baik? Semakin difikirkan Riyu merasa sedih dan
cemas.
“Hei, kenapa memandang bocah cerewet
ini dengan pandangan begitu menyedihkan?” Tanya Sam asik bersandar pada jok
kursinya.
“Sam, aku penasaran dengan
kehidupan Dhea waktu di panti asuhan. Apa orang-orang disana baik?”
“Sayang, Dhea sudah bersama kita
sekarang. Apalagi yang kau khawatirkan?”
“Tapi sam. Aku akan tetap
menyelidikinya, seperti apa keadaan panti asuhan itu.”
“Riyu… “
“Sam, jika mereka baik aku akan
memasukkan data kedalam daftar terbaik. Tapi jika perlakuan mereka buruk
terhadap anak-anak panti, aku akan mengganti ketua juga pengurus panti.
Meskipun Dhea sudah bersama kita, tapi aku melihat ada suatu trauma dimatanya.
Setidaknya kita juga bisa melihat kondisi anak-anak lain di sana kan?”
Sam mengerutkan alisnya, menatap
Riyu dalam. Mungkin apa yang dikatakannya betul juga. Mkarena nasib malang
tidak hanya dialami oleh Dhea, tapi juga banyak anak-anak lain yang masih
kurang beruntung.
“Oke, kalau begitu pekan depan
kita akan pegi kesana. Aku akan mengirim beberapa anak buah untuk
menyelidikinya terlebih dahul”
__ADS_1
“Terimakasih Sam” senyum lega terpapar di wajah
manisnya