Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Mendapatkan Restu


__ADS_3

Malam sudah larut, Riyu mondar-mandir didepan tempat tidurnya. Pikirannya sedang fokus pada kalimat yang akan diucapkan saat meminta maaf pada Sam nanti. Sam cemburu, ini bukan suatu perkara yang mudah. Kalau Riyu tidak bisa melumerkan kecemburuan Sam, bisa-bisa dia akan terkena imbasnya, Sam akan lebih menyebalkan saat cemburu. Sesekali matanya melirik ke jam dinding, tapi belum juga ada tanda-tanda kedatangan Sam.


Noval juga belum pulang, biasanya dia... Ah biarlah, palingan juga dia sedang memadu kasih dengan wanita lain!. Gumam Riyu. Malah hatinya berharap Noval tidak pulang, supaya dia bisa menjelaskan semuanya pada Sam.


Tin... Tin...


Terdengar suara klakson mobil, tak lama kemudian terdengar suara pintu gerbang yang terbuka. Riyu langsung mengintip dari jendela kaca, terlihat mobil Sam yang memasuki garasi rumah utama. "Untunglah Sam datang terlebih dulu" ucap Riyu, langsung berlari keluar dari kamarnya.


Sampai di depan pintu masuk, telah ada pelayan yang akan membukakan pintu. "Loh, Non Riyu belum tidur?" Tanya Pelayan Mirah yang terkejut melihat Riyu.


"Aku belum bisa tidur. Sini biar aku saja yang buka pintu ya"


"Baik Nona" ucapnya mengangguk.


Meskipun heran dan bingung, Mirah mundur beberapa langkah tanpa banyak bicara. Terlihat Riyu menghela nafas panjang, tangannya perlahan menarik gagang pintu.


"Sam, kau sudah... " berhenti bicara karena yang dilihat bukanlah Sam. "Aji? Kau sendirian? Dimana Sam?!" Riyu menatap seksama wajah Aji yang mengeluarkan ekspresi yang aneh.


"Eeemm... Bos Sam dan Tuan Noval... " Belum sempat Aji menjawab, tiba-tiba 2 orang ambruk ke lantai dari sisi kanan dan kirinya Aji. Riyu tersentak kaget melihat dua orang itu tepar babak belur.


"Aaaa.... Apa yang terjadi?!" teriak Riyu


Spontan, ia langsung menutup mulutnya karena berteriak terlalu kencang, bisa-bisa membangunkan seisi rumah nantinya, wajah Riyu pucat seketika melihat mereka berdua. "Noval, Sam? Aji katakan padaku apa yang terjadi!" Riyu panik. Tapi Aji bingung mau menjelaskan dari mana.


"Mereka hanya... "


"Ayo cepat bantu aku! Bantu mereka masuk ke kamar!" Riyu bergegas mengambil kotak obat, sedangkan Sam dan Noval dipapah oleh Mirah dan Aji untuk masuk ke dalam kamar masing-masing.


"Apa mereka bertarung lagi? Ini pasti karena Sam cemburu, lalu menghajar Noval kan? Kenapa mereka kekanak-kanakan sekali sih!" gerutunya sambil menyiapkan kompres luka.


"Mana dulu ini yang aku obati?" langkah kakinya berhenti di tengah tangga. Bingung antara Noval atau Sam dulu yang mau dikompres. "Maafkan aku Noval, aku akan memulainya dulu dari Sam, biar aku juga bisa bicara padanya" ucap Riyu. Sebelum masuk ke dalam kamar Sam, ia terlebih dahulu memberikan kotak obat untuk Noval.


"Apa yang kalian pikirkan sebenarnya! Kenapa suka sekali menyelesaikan masalah dengan bertarung. Ha!" Tangan Riyu sibuk menyeka darah di wajah Sam, terlihat Sam meringis menahan nyeri saat handuk kecil menempel di wajahnya.


"Apa sekarang kalian puas? Menyakiti diri sendiri, dasar bodoh!" Kesal sekali melihat tingkah kedua orang itu, sampai-sampai rasanya ingin mengomel sampai pagi. Tiba-tiba Sam tertawa, lalu batuk. Membuat Riyu ingin sekali memencet luka Sam karena kesal.


"Kenapa kau malah tertawa?!" protes Riyu, siapa yang tidak kesal? Sudah khawatir setengah mati tapi malah di tertawakan.


"Riyu, aku ada kabar gembira untukmu" Sam menggenggam tangan Riyu, rasanya semakin tidak tega saat menatap Sam yang babak belur seperti itu. "Riyu, aku menang. Aku berhasil mengalahkan Noval! Hahaha" Sam tertawa lepas.


"Kau masih bisa tertawa?! Dengan bangga kau bilang menang dari Noval! Kau benar-benar ya!" tangan Riyu memelintir pinggul Sam.


"Aduh! Tunggu Nyonya Galuh, aku belum selesai bicara. Dengarkan aku dulu" Sam menghindari Riyu, takut jika tangannya mencubitnya lagi.


"Apa yang ingin kau jelaskan? Apa kau akan bercerita bagaimana kau menang dari Noval?! Itu bukan berita gembira tapi berita yang menyebalkan!" Riyu mencoba mencari celah untuk memberi pelajaran pada Sam yang menghalangi tubuhnya dengan bantal.


"Bukan, bukan itu yang akan aku jelaskan"


"Lalu apa?!" Suara Riyu tersengal karena marah.


"Noval telah menyetujui hubungan kita" ucap Sam mengintip Riyu dari balik bantal.


"Apa kau pikir aku akan... Apa katamu?" Riyu langsung tertegun tak percaya.


"Noval, telah merestui hubungan kita. Kau tau? Dia mengijinkan kau untuk bersamaku"


"Sam, kau sedang tidak bercanda kan?" Tanya Riyu tak percaya.


"Tidak. Kami bertarung karena ini adalah tanda kesepakatan dan kesenangan. Riyu." Sam menggenggam tangan Riyu dan menariknya untuk duduk di sampingnya.


"Sam, Noval tidak mempermainkan kita kan? Dia tidak bohong kan?" Riyu semakin bergetar.


"Kau boleh menanyakan padanya jika kau mau" Sam membelai kepala Riyu.


"Apa aku boleh?"

__ADS_1


"Pergilah" Sam tersenyum. Riyu menatap sayu, sekarang ia bergegas menemui Noval di kamarnya.


*****


Diwaktu yang bersamaan, di kamar Noval...


"Tuan, biar saya bantu"


"Tidak perlu, kau istirahat saja. Ini sudah larut"


"Tapi Tuan... "


"Pergilah"


"Ba... Baik, Tuan. Permisi" Mirah melangkah keluar dengan hati yang bertanya-tanya, tumben Noval tidak membentaknya.


Sambil membawa kompresnya, Noval melangkah menuju balkon. Sebelum duduk ia membuka kemejanya yang sobek dan lusuh, lalu melemparnya ke atas lantai balkon. Kemudian membanting tubuhnya ke atas kursi, dan mulai menempelkan kompres diwajahnya.


Kompres tertahan pada bagian wajah yang berdarah, Noval menikmati rasa nyerinya sambil menatap lurus ke depan, ia kembali bergelut dengan pikirannya. Semoga keputusan Noval kali ini, adalah keputusan tepat yang benar-benar ia sanggupi.


Tangannya kembali mencelupkan handuk ke dalam baskom air, lalu setelah memerasnya Noval kembali menempelkan ke wajahnya. Tatapan Noval semakin dalam memandang malam yang pekat, mata Ranu yang kembali menyeruak dari ingatannya, Maya yang kehilangan bayinya, dan Nita dengan segala ancamannya.


Noval termenung, "Mungkin dengan cara ini aku bisa menebus kesalahanku." Bisiknya dalam hati. Noval hanya tidak ingin ada wanita yang menjadi korban lagi dihidupnya, ditambah lagi, setelah ia bertemu kembali dengan Maya, rasa sakit dipisahkan dan kehilangan seseorang yang dicintai. Noval pernah merasakan semua itu.


Merelakan Riyu untuk bersama Sam, adalah satu-satunya cara untuk Noval supaya menjauhkan orang yang dicintanya dari bahaya. Setidaknya, ia masih bisa melihat senyum Riyu kan? Meskipun esok ia tidak lagi disisinya.


*****


"Bi Mirah, kenapa kau ada disini? Aku menyuruhmu untuk membantu mengobati luka Noval kan?!" tegur Riyu pada Mirah yang masih berdiri di depan kamar Noval.


"Maafkan saya Nona, tapi Tuan Noval menolak untuk saya bantu" menjelaskan dengan nada bersalah.


"Ya sudah, kau istirahatlah. Biar aku yang mengurusnya.


"Iya Nona, saya permisi" Mirah berlalu.


Riyu masuk kedalam kamar, matanya menyisir ke seluruh ruangan kamar. Tidak terlihat ada Noval di sana, saat kakinya melangkah menuju kamar mandi untuk mencarinya, ternyata orang yang dicari sedang duduk di balkon bertelanjang dada, sambil meringis mengompres lukanya sendiri. Entah kenapa, Riyu merasa kasihan melihat Noval. Tidak. Sebelum aku memastikan apa yang diucapkan Sam, aku tidak akan kasihan padanya. Riyu takut kalau dia terhempas sakit nanti, jika Noval berbohong.


"Biar aku bantu" Riyu mengambil kompres dari tangan Noval, belum berani menatap wajahnya, takut tidak tega.


"Kenapa kau datang kesini? Apa kau sudah mengobati Sam?"


Tersentak mendengar pertanyaan dari Noval, kini Riyu menatap Noval tidak percaya. "Kenapa kau terkejut seperti itu?" Noval tertawa ringan.


"Tidak, aku hanya... Noval, ini bukan rencana licikmu kan?!" tanya Riyu menatap tajam.


"Apa maksudmu?!" Noval serius.


"Apa, yang diucapkan Sam itu benar?" tanya Riyu lirih.


"Memangnya apa yang dikatakan bocah tengil itu?"


"Sam bilang, kalau kau telah merestui aku dengannya. Kau merelakan aku untuk bersamanya, Apa itu benar?" ragu-ragu bertanya, tapi juga ingin kepastian dari jawaban Noval.


"Hemh. Ya benar" Noval tertunduk, tersenyum getir. "Apa kau bahagia? Kau senang sekarang kan?" pandangannya beralih menatap Riyu yang mulai membendung cairan bening di matanya.


"Kenapa?" tanya Riyu lirih dan bergetar.


"Karena aku mencintaimu. Aku sudah mengatakannya waktu itu, tapi kau tidak percaya" Noval tertawa ringan lagi. "Maafkan aku jika selama ini aku selalu bersikap kasar padamu, kau sudah cukup menderita, dan sekarang. Aku ingin kau bahagia, meskipun tidak disisiku. Kau... Memaafkan aku kan?"menyentuh kepala Riyu dan mengusapnya lembut.


Riyu terdiam, lehernya kelu untuk mengeluarkan suara. Malam ini untuk pertama kalinya, telinga Riyu mendengar ucapan terindah dari bibir Noval yang biasanya kasar, membentaknya, namun sekarang dia berbicara dengan lembut dengan tatapan yang hangat.


"Dengar, aku sudah bosan memiliki adik laki-laki yang menyebalkan seperti Sam. Dan, aku ingin merasakan memiliki adik perempuan. Seperti kau. Kau akan menjadi adik kesayanganku nantinya"


Riyu tetap tidak menjawab, tangisnya meledak seketika. Ia langsung memeluk Noval dan menangis disana. "Kenapa kau malah menangis! Dadar bodoh!" Noval menepuk kepala Riyu namun tidak kencang.

__ADS_1


"Terimakasih Noval, aku juga akan menyayangimu" ucap Riyu terisak.


Noval menikmati pelukan hangat itu, bukan pelukan yang berasal dari suami istri, ataupun sepasang kekasih. Tapi pelukan kasih sayang antara kakak, dan adik. Benarkah? Noval merasa berat sebenarnya, tapi, dia juga tidak ingin menahan wanita yang dicintainya menderita disisinya.


Sam berdiri melihat pemandangan di balkon, agak keberatan juga saat Riyu memeluk Noval. Tapi kali ini Sam membiarkan, memberi kesempatan, merelakan Noval dipeluk Riyu. Sam tersenyum, dan membiarkan mereka, setidaknya dia merasa lega sekarang. Sam pun kembali menuju kamarnya.


"Sudah jangan menangis. Lebih baik kau istirahat sekarang. Sudah terlalu larut"


Riyu mengusap air matanya, "Kau pun juga harus istirahat. Pasti lelah setelah bertarung kan?" gelak tawa terdengar dari keduanya.


"Tapi untuk sementara ini kita harus tetap tinggal satu kamar, sampai aku memiliki waktu tepat untuk mempersatukan kalian"


"Tidak apa-apa, aku mengerti" Riyu tersenyum.


"Tidurlah, aku mau mandi dulu"


Riyu mengangguk, sebelum ia naik ke tempat tidur, ia menyiapkan baju ganti untuk Noval dan meletakkannya di atas sofa. "Sekali lagi, terimakasih Noval"


*****


Pagi harinya, seperti biasa sarapan pagi telah tersedia hangat di atas meja makan.


"Sebenarnya, semalam Mama mendengar ada teriakan histeris. Tapi saat Mama dengar-dengar lagi suara itu hilang" Nita membuka obrolan. Riyu menggigit bibir bawahnya, dia baru sadar kalau teriakannya begitu kencang semalam. Bagaimana tidak! Siapa yang tidak syok melihat dua orang ambruk dan babak belur.


"Mungkin Mama mimpi kali" ucap Mahesa, menggapai susu yang telah tersaji hangat di hadapannya.


Seketika itu juga, Sam dan Noval saling berangkulan berjalan menuju meja makan. Meskipun wajah mereka lebam dan bengkak, tapi senyum mereka secerah mentari pagi.


"Selamat pagi Pa" ucap Noval dan Sam serentak.


"Hihihi" Riyu cekikikan menahan tawa, karena wajah Noval dan Sam terlihat sangat jelek sekali, tapi lucu sih haha.


Mahesa melihat ke arah kedua putranya itu.


"Brrruuppp... Uhuk uhuk" susu menyembur dari mulutnya, sampai terdesak. Nita yang terperangah melihat Sam dan Noval, langsung beralih mengambilkan minum untuk Mahesa.


Noval dan Sam saling pandang karena heran dengan Mahesa yang tiba-tiba tersedak, tapi rasa herannya kemudian berganti dengan gelak tawa yang kencang dari keduanya, karena melihat wajah masing-masing.


"Kenapa kau tertawa bodoh!"


"Wajahmu terlihat jelek sekali Noval! Hahaha"


"Dasar kau. Apa kau tidak bercermin seberapa jelek wajahmu!" Suara tawa kembali terdengar.


Usai mengatur nafasnya, Mahesa kembali mengamati keduanya. "Sam, Noval! Apa yang terjadi pada kalian berdua?!" Sentak Mahesa. Sam dan Noval langsung menghentikan tawanya. "Jangan bilang kalian bertarung lagi!" Mahesa kesal.


"Tapi memang itu yang terjadi Pa, kami bertarung" jawab Sam memasang wajah sepolos mungkin.


"Tapi lihat Pa, kita sudah akur kembali kan?" Sahut Noval bangga.


Mahesa memijit pelipisnya, tiba-tiba pening menghadapi putranya yang selalu saja membuat masalah. Tapi Nita masih heran dengan tingkah mereka, "Apa yang terjadi sebenarnya! Kenapa mereka bisa seakrab ini?!"


Noval dan Sam pun duduk dikursinya masing-masing, Riyu masih menahan tawanya melihat bengkak dibibir Noval dan bengkak dimata kanan Sam.


"Sebenarnya apa tujuan kalian bertarung hingga babak belur seperti ini?!"


Semua terbungkam, mana mungkin buka suara dan menjelaskan bahwa pertarungan itu untuk kesepakatan. Yang ada nanti malah ketahuan Nita, dan menjadi masalah baru untuk mereka.


Baru saja Noval ingin membuka mulutnya untuk angkat bicara, Mahesa menolaknya. "Sudah, sudah! Habiskan sarapan kalian. Papa ga mau tau, pokoknya setelah ini kalian harus tetap berangkat ke kantor!"


"Apa? Dengan wajah seperti ini?!" Protes Sam.


"Kenapa kau keberatan?! Salah kalian sendiri!" Mahesa menengguk habis susunya. "Awas jika kalian bolos kerja. Papa akan menyuruh kalian berkeliling kompleks dengan wajah bengkak seperti itu, jika kalian melanggar perintah" Mahesa langsung beranjak pergi.


"Kalian ini sudah dewasa! Masih saja bersikap kekanak-kanakan!" ucap Nita tak kalah kesal, lalu menyusul Mahesa ke mobilnya.

__ADS_1


Tinggal Riyu, Sam, dan Noval sekarang yang tersisa di meja makan. Melihat Riyu yang dari tadi tertawa, serentak Sam dan Noval melihat ke arah Riyu, membuat ia menghentikan tawa dan menutup mulutnya rapat-rapat.


"Aku... Sudah selesai sarapan, duluan ya. Daahhh" Riyu langsung kabur menuju mobilnya, cara yang paling aman untuk menyelamatkan diri dari dua orang yang menyebalkan itu.


__ADS_2