
Keesokan paginya...
Hari ini sepertinya tidak begitu cerah, mendung, dan udara lembab. Disisi jendela kaca Riyu berdiri menatap kosong pada buliran embun yang menggerumul kemudian meluncur bebas. Jari jarinya sibuk menyentuh bibir merah jambunya, sesekali terdengar dengusan nafas dari hidungnya. apa yang ia pikirkan... Tentu saja semua masalah yang begitu kusut di benaknya.
Tin... Tin...
Terdengar suara klakson mobil, Riyu melirik ke arah gerbang utama terlihat mobil sedan memasuki kediaman Darma, tak lama kemudian seorang penjaga membuka gerbang lalu membungkukkan badannya pada seseorang yang berada di mobil sedan berwarna biru tua. Ya. Mobil Noval. Meskipun tau Noval telah datang, Riyu tetap tidak bergeming dari sana...
"Selamat datang Tuan" sapa kepala pelayan menyambut kedatangannya. Satu orang pelayan kemudian ia mengambil tas dan koper yang Noval bawa.
"Apa kakek Darma sudah ke kantor?" Tanya Noval melepas sepatunya.
"Sudah Tuan" jawab kepala pelayan. Ia mengambil sepatu dan menaruh sandal rumah di dekat kaki Noval.
"Lalu di mana Riyu?!" Tanyanya lagi dengan nada yang dingin.
"Nona Riyu sedang ada di kamarnya Tuan"
Mendengar jawaban itu Noval langsung berdiri dan berjalan cepat menaiki tangga menuju kamar.
"Tuan..." ucap kepala pelayan menghentikan langkah Noval, "Nona Riyu baru sembuh, harap untuk tidak..." Kepala pelayan tidak berani meneruskan kata-katanya saat melihat tatapan Noval yang begitu mengerikan Kau hanya pelayanan jangan ikut campur. Itu yang di tangkap dari tatapan itu. Noval pun berbalik dan melanjutkan langkahnya.
"Pak sepertinya Tuan Noval marah, apa perlu kita laporkan pada Tuan Darma? Takut jika Non Riyu..." Ucap pelayan khawatir.
"Sstt. Kita lihat saja. Tuan Noval tidak akan berani selancang itu di kediaman Tuan Darma! Sudah kau lanjutkan saja pekerjaan mu" ucap kepala pelayan yang sebenarnya dia sendiri pun khawatir kalau Noval akan melakukan sesuatu yang buruk pada Riyu.
Jebreet... Pintu kamarnya terbuka dengan kencang membuyarkan lamunan Riyu yang sontak menoleh ke Noval yang telah berdiri menatapnya marah.
Noval mendekat ke hadapan Riyu, kemudian melempar foto-foto dirinya bersama Sam saat berdansa di balkon gedung resepsi di kota S. Riyu memandang foto yang berserakan tanpa ekspresi.
"Aku kira sikap murahanmu itu akan berubah setelah membuka kehidupan yang baru, Riyu. Tapi tetap saja, sifat murahanmu tidak bisa hilang" ucap Noval menatap tajam.
Riyu terdiam sesaat, matanya beralih menatap Noval lagi. "Kau salah Noval, bukan sifat murahku yang tidak hilang... Tapi perasaanku terhadap Sam yang tidak pernah hilang"
__ADS_1
Plaaakkk... Noval langsung menampar. Dan Riyu tidak terkejut dengan tamparan itu.
"Kau masih menjadi istriku yang sah, tapi berani menghianati status pernikahan ini!"
Riyu kembali mengalihkan pandangannya ke mata Noval dan melempar senyum sinis tanpa memperdulikan rasa sakit di pipinya.
"Lalu bagaimana denganmu? Lila... Dewi... Wanita-wanita penghibur yang kau temui di bar?"
Noval tersentak, kata-kata Riyu seperti setrum yang menyambar telak. Noval bergetar menatap Riyu penuh tanda tanya, bagaimana bisa Riyu tau semua itu.
"Kau terkejut? Aku mengingat semuanya! Selama ini aku diam bukan berarti aku tidak mencari tau dengan apa yang telah terjadi, Noval. Aku melihat bagaimana kau memperlakukan aku, aku melihat bagaimana cara Sam melindungiku"
"Hentikan omong kosongmu!" ucap Noval bernada dingin.
"Kau yang omong kosong! Selama ini kau memanfaatkan aku!" Ucap Riyu bernada tinggi.
"Diam!" Bentak Noval kembali mengangkat tangannya siap untuk menampar Riyu lagi. Tapi Noval tertahan...
"Satu hal yang perlu kau ingat... Aku tidak akan membiarkan kau memijakkan kaki di perusahaan Galuh Saputra... Dan aku akan tetap mempertahankan perasaanku pada Sam, aku mencintainya" Riyu mendorong Noval hingga mundur beberapa langkah.
Noval terdiam memandang hampa tempat dimana Riyu berdiri di hadapannya, rasanya seperti peluru panas yang menembus jantung. Rasa kesal bukan karena ia tidak bisa memijakkan kaki di perusahaan, tapi saat mendengar Riyu berkata mencintai Sam, ini benar-benar gila, gejolak besar tertahan di dadanya.
"Lalu kau akan melakukan apa?" Noval tersenyum tipis. Menyembunyikan kecemburuan.
"Menceraikan mu! Itu yang seharusnya aku lakukan dua tahun lalu!" Riyu bergegas pergi, tapi Noval berhasil menariknya lalu menahan Riyu di jendela kaca. Tangannya menopang di sisi kanan dan kiri Riyu, hingga ia tidak bisa bergerak kemana mana.
"Lepaskan aku, kau keparat!" Marah sambil memukul dan mendorong Noval, tapi tubuhnya tidak bergeming sedikitpun.
"Aku akui kau begitu berani sekarang sayang, berani mencoba menceraikan aku untuk yang kedua kalinya dan akan pergi ke pelukan Sam" Noval membelai lembut menyusuri telinga dan pipi Riyu. "Aku harap kau masih ingat bagaimana aku memperlakukan kalian berdua beberapa tahun lalu" seringainya kembali terlukis di bibir Noval.
Riyu terdiam, meskipun wajahnya tersirat kuat dan tegar tapi jantungnya mulai berdegub kencang mengingat saat tangan Noval yang membelainya sekarang, pernah tercecer darah Sam.
Noval tertawa terbahak. "Bahkan kakekmu Darma yang di kenal kuatpun bisa selengah itu Riyu, bahkan aku tinggal di rumahnya sekarang" Noval tertawa lagi. "Kau masih meremehkan aku?! Sudahlah, jangan terlalu banyak tingkah. Tetap berada di sisiku, biar kau dan keluargamu aman"
__ADS_1
Riyu menangkis tangan Noval hingga terhempas menjauh dari wajahnya, Si brengsek ini Lagi-lagi dia mengancamku! gumamnya dalam hati. "Baiklah kita buat kesepakatan!" ucap Riyu menahan diri.
Noval merenyitkan alisnya, menatap Riyu seksama. "Kesepakatan?!"
"Iya. Aku akan memberikanmu 45% perusahaan di kota. Tapi dengan syarat, kau harus menceraikan aku!"
"Apa?!" Nada tinggi.
"Apa?. Selama ini memang itu kan yang kau mau? Kekuasaan, uang, harta! Apa lagi!" Kesal melihat Noval.
"Aku tidak mau!" Ucap Noval tiba-tiba geram, dan menghantam jendela dengan tangannya. "Kau memberi aku setengah dari kekayaanmu lalu aku harus membiarkanmu bebas bersama Sam keparat itu?!"
"Apa masih kurang hah! Dasar kau serakah! Kau yang keparat bukan Sam!" Riyu memukul-mukul dada Noval.
"Hentikan itu! Hentikan!" Ucapnya sambil menangkap tangan Riyu yang tak henti memukulnya. "Tarik ucapanmu. Dan berhenti mengatakan cerai!" Nadanya semakin tinggi, wajah Noval merah sekarang.
"Pokoknya ceraikan aku! Atau aku yang akan menceraikanmu, dasar kau laki-laki iblis. Aku muak selalu kau ancam. Wajahmu memuakkan!"
"Aku bilang berhenti mengatakan cerai! Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan mu dan tidak akan membiarkan kau menceraikan aku. Apa lagi sampai kau kembali ke pada Sam!"
"Cerai cerai carai!"
"Diam!"
"Kenapa kau menyebalkan dasar kau serakah! Lepaskan aku!" Teriak Riyu sambil mengibaskan tangannya supaya Noval melepaskannya. Kamar itu benar-benar berisik, meskipun hanya dua orang yang berdebat di dalamnya, teriakan-teriakan mereka seperti nya hampir memecah kaca yang ada di sana.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskan mu!" Noval semakin kuat memegang tangan Riyu.
"Kenapa! Kenapa kau selalu membuatku menderita dan menindasku brengsek. kenapa??!!!"
"Karena aku mencintaimu!!!" Berteriak.
Deerrr.... Riyu seperti orang tersambar petir. Sontak pukulannya langsung berhenti karena ucapan Noval. Keduanya terdiam saling tatap, hanya nafas menderu yang terdengar sekarang.
__ADS_1