
"Dewi cinta. Apakah kau benar ada? Aku di sini berdiri memenuhi keinginan mu, tapi... Kenapa saat keinginan cintamu bersemi semua hangus terbakar dan hancur." _Riyu_
Ia duduk termenung dikeheningan senja, tatapannya lurus kedepan melihat liukan dedaunan yang terhempas angin dengan lembut.
"Maafkan aku Sam..." gumam Riyu lirih diiringi dengan cairan bening yang membelai pipinya.
Ceklek... Suara seseorang membuka pintu kamarnya, Riyu yang sadar langsung menghapus air matanya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang Riyu? Apa masih terasa sakit?" ucap Darma lembut penuh perhatian.
"Tidak kek. Aku baik-baik saja" ucap Riyu tersenyum ramah. Namun serapat apapun Riyu menyembunyikan perasaannya, Darma masih menangkap kesedihan dimata cucunya.
"Mungkin ini bukan waktu yang tepat Riyu, tapi aku akan memberi taumu sesuatu" ucap Darma dengan nada yang berat.
Riyu menatap Darma dengan seksama, ia tau kalau kakeknya akan membahas satu hal yang serius.
"Ada apa kek? Katakan saja" ucap Riyu.
"Mahesa menuntutku ke meja hijau, dia mengira kalau aku yang menyakiti Sam. Tapi sebelum kasus ini disidangkan, aku akan menyelidikinya" ucap Darma menatap Riyu tajam.
Riyu terpaku, ia tau apa kejadian yang sebenarnya namun, Apa dia harus menceritakan bahwa pelakunya adalah Noval? Jika dia membuka mulut maka Sam akan bahaya, tapi jika Riyu diam kakeknya akan dipenjara. "Noval... Kau benar-benar keterlaluan!"
"Bagaimana menurutmu?" ucap Darma meminta pendapat Riyu.
"Kakek jangan khawatir, aku akan membicarakan hal ini pada Papa Mahesa" jawab Riyu tersenyum tenang.
"Aku tidak ingin mereka saling bermusuhan karena jebakan Noval!" gumam Riyu dalam hati.
"Istirahatlah, jangan tidur terlalu larut" ucap Darma mengelus kepala Riyu lalu beranjak keluar dari kamar. Riyu mengangguk, sebelum menutup pintu Darma menatap Riyu sejenak.
"Bagaimanapun juga aku harus melakukan sesuatu." Riyu beranjak ingin bersiap menemui Mahesa secepatnya.
Tap... Tap... Tap...
Langkah cepat kaki Riyu menyusuri setiap ruangan yang ada di kediaman Darma, matanya melirik kesana kemari mencari Bayu untuk mengantarnya ke kediaman Mahesa.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, Riyu mendengar gumaman orang yang sedang bicara. Ya... Tepat di ruangan Darma, saat itu pintu tidak tertutup dengan baik. Riyu mendengar ada suara Bayu di ruangan itu, kebetulan ia juga bisa langsung meminta ijin kepada kakek untuk pergi sebentar. Riyu merapatkan jarinya untuk mengetuk pintu, namun tangannya terhenti karena mendengar pembicaraan mereka tentangnya.
"Bagaimana tuan? Apa sudah kau putuskan untuk melakukan operasi terhadap Nona Riyu? Aku rasa kemampuan dokter Lukman tidak usah diragukan lagi"
__ADS_1
"Operasi?" gumam Riyu yang langsung mendekatkan telinganya ke pintu.
"Aku sama sekali tidak meragukan kemampuan Lukman, hanya saja... Resiko dari operasi itu membuatku ragu" jawab Darma menundukkan kepalanya. Jika penggumpalan darah di kepala Riyu bisa diatasi, tapi bagaimana jika dia kehilangan ingatannya? Aku takut dia tidak akan mengenaliku."
Darma melihat ke arah pintu, ia sangat terkejut saat melihat Riyu yang berdiri menatapnya.
"Apa benar itu kek? Penggumpalan darah di kepalaku sudah hilang bertahun-tahun yang lalu!" ucap Riyu menahan amarahnya.
"Riyu... Kau tidak boleh marah, kendalikan dirimu. Sekarang istirahatlah"
"Jawab pertanyaanku kek!"
Darma menghela nafas panjang, ia tidak berani menatap mata cucunya yang tajam. "Dulu hanya mencegah gumpalan darah menyumbat saraf, tapi, Kini gumpalan darah yang ada di kepalamu telah membesar dan harus dilakukan pengangkatan Riyu, dan... Untuk resikonya, kau akan kehilangan ingatan"
Riyu berdiri gemetar, kakinya melangkah mundur lalu pergi berlari menuju kamarnya. "Hilang ingatan? Tidak, Tidak..."
Riyu tersimpuh di lantai kamar, lama ia terdiam memeluk lututnya. Lama Riyu termenung ia kembali bangkit dan bergegas menuju rumah Mahesa.
*****
Ding Dong... Bel pintu berbunyi, tidak lama kemudian datang seorang pelayan mbukakan pintu. "Non Riyu... Silahkan masuk non" ucap Mirah menatap wajah Riyu yang pucat.
"Silahkan Nona, tuan ada di dalam ruangannya"
Mirah mengantar Riyu menuju ke ruang Mahesa, tanpa kata, tanpa senyum manisnya, Riyu menatap kosong pada setiap lantai yang ia pijak hingga ia berada tepat di depan Mahesa yang menatapnya dalam.
"Bagaimana keadaan Sam?" tanya Riyu, diiringi jatuhnya cairan bening melewati pipinya.
"Dia masih belum sadarkan diri" jawab Mahesa dengan wajah yang datar.
"Aku..."
"Riyu apa kau datang untuk memohon padaku supaya tidak menuntut kakekmu? Jangan harap aku akan mundur meskipun dia adalah orang nomor satu di kota Y ini! Aku akan tetap membalas perbuatannya!" Ucap Mahesa dengan nada tinggi.
"Ini semua tidak ada hubungannya dengan kakek Darma, dia tidak bersalah" Riyu menatap kosong.
"Jelas menurutmu dia tidak bersalah karena kau adalah cucunya dan pasti akan membelanya!"
"Tolong jangan terpengaruh dengan ocehan yang membuat seseorang menjadi kambing hitam permainan para pecundang tuan Mahesa! Pelaku sebenarnya adalah..." Riyu terdiam tidak berani meneruskan kata-katanya, sedang Mahesa menatap Riyu menunggu kejelasan.
__ADS_1
"Aku... Sam terluka karena aku" ucap Riyu lirih.
"Apa maksudmu?!"
"Papa. Aku diculik oleh sekelompok gangster, aku disekap disebuah gedung yang jauh dari sini. Sam terluka karena menyelamatkan aku"
"Kau hanya ingin menutupi kesalahan tuan Darma kan? Jika bukan dia lantas kenapa Tuan Darma datang dan memukul Sam."
"Kakek kira Sam yang telah menyembunyikan aku! Apa yang dilakukan kakek hanya sebatas kekhawatiran pada cucunya. Tapi dia sama sekali tidak berniat melukai Sam pa!"
"Cukup Riyu!"
"Aku mohon padamu tuan Mahesa. Pikirkan baik-baik, jangan sampai kau memenjarakan orang yang tidak bersalah" ucap Riyu lalu beranjak pergi dari ruangan Mahesa.
Riyu berhenti sejenak sebelum masuk kedalam mobilnya, ia mengatur nafasnya yang sesak karena memikirkan banyak hal.
*****
Didepan pintu kamar inap rumah sakit berdirilah dua orang penjaga anak buah Mahesa "Nona Riyu" Sapa salah satu penjaga lalu menghalangi jalannya.
"Em... Aku ingin menjenguk Sam"
"Tapi maaf nona, apa kau sudah ijin dengan tuan Mahesa"
"Aku ingin menjenguk cintaku! Apa kau berfikir aku akan mencelakainya!" Riyu menatap tajam, membuat penjaga tak mampu membantah ucapannya.
Penjaga itu bergeser dan membiarkan Riyu masuk menjenguk Sam. Tut... Tut... Tut... Mesin deteksi detak jantung mengisi kamar yang sepi, di atas ranjang terpampang tubuh yang terbaring lemah. Tanpa gerakan, tanpa suara, dadanya naik turun mengikuti alunan suara mesin.
Perlahan Riyu mendekat dan menggenggam tangan Sam yang dingin, "Sam... Apa kau mendengarku?" Riyu mencium tangan Sam pelan dan menahannya di pipinya.
Airmata yang hangat meluncur ke lengan Sam, namun tidak ada gerakan seperti biasa Sam yang selalu menghapus air matanya.
"Aku takut. Aku takut Sam. Sam ayo bangun dan bawa aku pergi, kita pergi bersama menjauh dari para iblis itu Sam bangun... Meskipun aku lupa ingatan aku ingin kau yang ada di sampingku Sam!" ucap Riyu terisak.
Tiba-tiba, Riyu merasakan nyeri yang teramat sangat di kepala bagian kanan. Riyu beranjak dari samping Sam dan melangkah keluar sambil memegangi kepalanya, kali ini Riyu benar-benar tidak bisa menahan sakit.
"Nona apa kau baik-baik saja?" Tanya penjaga.
Tapi Riyu tidak mampu menggerakkan bibirnya, kedua tangannya memegangi kepalanya dengan kuat.
__ADS_1