Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Apa istimewanya!


__ADS_3

Dari tatapan kedua saudara itu, ada sesuatu yang membuat hati Casandra tidak nyaman. Apa yang ... Aduh, kenapa jadi begini si! gelisah menyeka keningnya dengan telapak tangan.


"Sudah ga mungkin aku bisa menemukan topinya lagi kak. Apa ga bisa diganti dengan topi baru? Akan aku carikan yang lebih bagus dan cocok untuknya" Casandra benar-benar bingung tidak mengerti, masalah topi bisa jadi bertele-tele seperti ini.


Sanya terdiam menatap Casandra, "Ayolah kak, aku sudah membantumu kan? Kali ini kau bantu aku untuk mendapatkan topiku kembali. Bujuk adikmu, topi itu sangat berharga untukku" Casandra mulai gusar.


"Kenapa sangat berharga? Apa karena berlian yang terpasang di topi nona itu? Saya yakin Anan akan menjaganya dan tidak mungkin lancang menjualnya" ucap Sanya lembut.


"Bukan tentang berliannya kak!" Casandra menjatuhkan diri ke atas bangku. "Topi itu hadiah ulang tahun dari Ayah dan Ibu, mereka mendesainnya sendiri sesuai ukuran kepalaku. Dan... Ya, berliannya juga berharga karena langka. Kak, bujuk adikmu untuk mengembalikannya padaku" Casandra mulai bergetar.


"Akan aku bujuk Anan supaya mengembalikannya" Sanya mengusap punggung Casandra lembut.


"Maafkan atas perlakuan adikku ya, dia memang sangat keras kepala."


Kelihatan jelas kalau dia keras kepala!. Gumamnya, tanpa sadar kalau dia sendiri juga keras kepala, hadew.


"Oh iya, sejak kapan tuan Sam memiliki bodyguard wanita?"


"Bo... Bodyguard wanita?" Casandra tidak mengerti dengan apa yang Sanya katakan.


"Iya. Kau bodyguard tuan Sam kan? Aku benar-benar salut dan kagum padamu. Kau tau? Kau sangat hebat saat menghajar anak buah Igun haha" Sanya sangat senang.


Casandra tertawa getir, ternyata Sanya mengenalinya hanya sebagai bodyguard Tuan Sam, bukan anak Sam. Tapi tidak apa, mungkin lebih baik jika Sanya tidak tau. Pikir Casandra.


"Nona, meskipun lusuh, tapi Anan selalu memakai topi itu sepanjang hari. Bahkan saat tidur juga aku melihatnya memakai topi itu haha" ucap Sanya dengan ekspresi yang langsung berubah drastis.


Casandra menatap Sanya seksama. "Apa topi itu, spesial untuknya? Atau jangan-jangan dari pacarnya?" Casandra terkejut sendiri dengan tebakannya.


"Bukan Nona. Anan tidak memiliki pacar, meskipun sebenarnya aku ingin melihat dia punya kekasih." ucap Sanya tersenyum lembut, masih dengan mengompres tangan Casandra. "Topi itu adalah hadiah terakhir dari ibu kami" Sanya tertunduk, ia selalu tidak bisa menahan perasaannya saat berbicara tentang ibunya.


Apa... Pekik Casandra. Ia merasa tertampar dengan pengakuan Sanya.


"Haha. Maaf Nona" Sanya menyeka air bening di sudut matanya. "Aku dan Anan bukan saudara kandung, kami bertemu dan besar disebuah panti asuhan. Kami memiliki ibu yang baik dan penuh kasih sayang. Ibu Suti" Sanya tersenyum lembut.

__ADS_1


Casandra mendengarkan Sanya dengan jantung yang berdegup kencang. Satu katapun ia tidak berani berbicara karena rasa bersalah.


"Ibu Suti meninggal tepat diulang tahun Anan yang ke 19. Dia menghadiahkan Anan sebuah topi dengan sisa tabungannya." Sanya terdiam mencoba untuk mengatur nada bicaranya.


"Setelah ibu Suti meninggal kami para anak asuhnya berjuang sendiri-sendiri untuk mencukupi hidup masing-masing. Anan memilih ikut denganku dan kami mendirikan kedai kecil ini."


"Aku... Aku harus pergi" Casandra menarik tangannya bergegas menjauh dari Sanya.


"Tapi Nona, tanganmu?"


Casandra terhenti, tapi tidak berani berbalik menatap Sanya. "Terimakasih. Tanganku sudah tidak sakit. Katakan pada pria itu, aku akan berusaha mencari topinya dengan begitu aku akan mendapatkan topiku"


Casandra melangkah cepat menuju mobilnya, meninggalkan Sanya yang masih tertegun menatapnya dari depan pintu.


"Jalan Om!."


Casandra mengalihkan perhatian keluar jendela mobil, tapi kata-kata Sanya terus terngiang di telinganya. Dia sendiri tidak rela jika barang pemberian orang tercintanya hilang begitu saja. Lalu bagaimana dengan pria kue itu, dia juga pasti akan sedih dan kecewa.


"Putar arah. Antar aku ketempat dimana aku membuang topi tadi" ucap Casandra setelah lama hening.


"Aku bilang putar arah!" ucap Casandra dengan nada tinggi.


Doni merasa ada sesuatu yang tidak beres pada Casandra. Sebelumnya ia tidak pernah terlihat gusar dan emosi seperti ini ini, kecuali saat terkena masalah yang serius. "Baik Nona" jawab Doni menuruti perintah.


*****


Alamat pengiriman kue yang terakhir, hari ini Anan sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia memutuskan untuk tidak pulang ke kedai, Anan membelokkan sepeda motornya ke perbatasan kota menikmati pemandangan senja. Topi Casandra tergenggam erat ditangannya.


"Kenapa kak Sanya sangat membelamu. Tapi aku tidak peduli, kau sudah menghina kasih sayang ibuku" gumam Anan. Matanya menatap tajam pada topi Casandra.


Tidak lama Anan termenung disana. Ia bergegas pulang ke kedai karena harus membantu Sanya beres-beres.


"Anan. Kau sudah kembali" ucap Sanya tersenyum lembut.

__ADS_1


"Maaf kak. Aku datang terlambat"


"Tidak apa-apa" Sanya melirik topi Casandra yang masih Anan pakai.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Anan tidak mengerti dengan sikap kakaknya.


"Apa topi itu ga kekecilan Anan? Haha. Oh iya, tadi Nona Sandra bilang, dia akan berusaha menemukan topimu"


"Semoga saja" ucap Anan enggan lebih memilih konsen beres-beres daripada mendengarkan tentang Casandra.


"Anan. Maafkan kakak karena sudah marah-marah sama kamu. Kakak cuma mau kamu bersikap pada orang yang telah menolong kita"


Anan berbalik menatap Sanya dingin. "Menolong?!. Gadis sombong itu bersikap kasar dan angkuh kau bilang menolong?" protesnya.


"Kau ingat dengan wanita hebat yang menolongku dari cengkeraman Igun? Dialah orangnya. Nona Sandra yang menolongku. Dia bodyguard wanita Tuan Sam, Anan!"


Anan terdiam, agak terkejut dengan ucapan Sanya. Kenapa wanita menyebalkan itu harus jadi pahlawan untuk kakaknya, kenapa sih bukan orang lain saja!


"Lain kali bersikaplah baik padanya. Kakak tau kau tersinggung, tapi setidaknya Nona Sandra akan berusaha menemukan topimu" Sanya membelai pipi Anan yang terdiam tidak bisa berbicara apa-apa.


*****


Mobil Doni sudah terhenti ketempat dimana Casandra membuang topi tadi, seketika beberapa mobil berwarna hitam juga terparkir melingkar untuk melindungi Casandra yang sedang turun ke jalan untuk mencari. Sedangkan jalan disana langsung macet, berhenti menunggu sampai penjaga dari Ranu Manunggal membuka kembali jalan itu.


"Hey kau! Bantu aku mencari topi jelek yang tergeletak disana, disana atau disana! Cepat!." perintah Casandra pada orang-orang keamanan itu.


Trotoar jalan, tengah jalan, bahkan tempat yang jaraknya jauh dari titik lokasi sudah disisir. Tapi mereka tetap tidak visa menemukan topinya.


Casandra mencengkram kepalanya, kesal, lelah. "Sial. Kenapa aku harus buang-buang waktu untuk ini!" umpatnya.


"Kita pulang"


"Baik Nona" Doni melajukan mobilnya, begitu juga dengan mobil yang lain, langsung beranjak dari tempatnya mengiringi di belakang mobil Doni.

__ADS_1


Sudah berusaha mencari tapi tetap tidak ketemu, mau bagaimana lagi, ntahlah, Casandra pasrah. Tapi dia juga harus tetap mendapatkan topinya, bagaimanapun caranya.


__ADS_2