
Malam sudah begitu larut tapi Siti masih tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia duduk sambil menatap hampa kamarnya. Ia teringat kalau masih ada satu pesan terakhir dari Parso sebelum meninggal yang belum dia lakukan hingga sekarang.
Siti melangkah mendekati lemari pakaiannya, tangan dan matanya mencari-cari ke setiap sudut lemari itu. Akhirnya ia menemukan sebuah kotak perhiasan, kotak yang di tinggalkan oleh Galuh untuk putrinya ketika Parso menyelamatkan Riyu.
"Sekarang Riyu sudah dewasa, sudah saatnya aku memberikan ini kepadanya" ucap Siti lirih, jarinya mengelus kotak perhiasan berukir emas itu.
*****
Setiap kali Riyu memejamkan matanya bayangan Noval langsung hadir dengan tatapan yang mengerikan. Riyu duduk memeluk lututnya, selang tak berapa lama ia mendengar suara langkah kaki mendekati pintu kamarnya.
"Riyu. Apa kamu sudah tidur?" Ucap Siti berbisik dari balik pintu.
"Bude? Aku belum tidur. Silahkan masuk." Riyu menggeser badannya mempersilahkan Siti masuk.
"Kamu tidak bisa tidur?"
"Emm... " Riyu mengangguk canggung.
"Wajar, kamu sudah terbiasa tidur di kamar luas dan ber-AC. Makanya kamu tidak bisa nyenyak tidur di sini kan?"
"Tidak. Justru aku lebih nyaman tidur di sini, oh iya. Ada apa bude menemuiku, ini sudah larut seharusnya bude beristirahat" ucap Riyu tersenyum lembut.
"Aku ingin memberitahu satu hal penting padamu"
Riyu menatap Siti serius, "Hal penting apa?"
Siti memberikan kotak perhiasan itu pada Riyu. "Apa ini bude?" Tanya Riyu memandangi kotak perhiasan yang cantik.
"Riyu, kau sudah dewasa sekarang dan sudah seharusnya aku memberikan ini padamu" Riyu memandang Siti tidak mengerti.
"Ini adalah kotak perhiasan dari ayahmu, tuan Galuh. Saat itu pakdemu yang menemukan mobil kalian di pinggir lembah, sebelum meninggal tuan Galuh meminta Parso untuk menyelamatkan mu dan merawatmu. Dia memberikan kotak perhiasan ini"
"Ayah... " Riyu memeluk erat kotak perhiasan itu. Sitipun melanjutkan ceritanya.
"Di dalam kotak ini terdapat 2 batu berlian, tuan Galuh berpesan agar kami menggunakan berlian itu untuk mencukupi kebutuhanmu, awalnya kami akan menjual berlian satunya untuk membantu biaya kuliahmu, tapi saat itu kami terpaksa menjualnya lagi untuk melunasi biaya operasimu. Tapi masih ada satu perhiasan di kotak ini, sebelum meninggal, pakdemu berpesan supaya aku menyerahkan perhiasan ini kepadamu saat kamu beranjak dewasa"
Riyu membuka kotak itu, ia melihat ada satu liontin yang indah. Liontin itu berbentuk kotak dan memiliki ukiran kecil di setiap sudutnya, berlian ungu ditengah, perpaduan emas dan perak membuat liontin itu terlihat sangat unik dan langka.
Riyu membuka liontin itu, ada foto kecil dirinya dan orang tuanya di sana. Ia semakin tidak bisa menahan air matanya.
"Terimakasih bude" ucap Riyu dengan suara serak.
"Ya, tapi berhentilah menangis jika tidak besok matamu akan terlihat sembab. Nanti tuan Sam kira, aku menyakitimu"
Riyu tertawa kecil, ia mengangguk lalu menghapus air matanya.
"Sini. Biar bude bantu memakaikan liontin itu" Siti memasangkan liontin ke leher Riyu. Hatinya merasa bersalah, meskipun suaminya telah pergi tapi dia sadar bahwa semua itu adalah takdir, Riyu juga korban, dia tidak tau apa-apa dan tidak bersalah.
Saat Siti mengaitkan liontin itu, ia melihat luka lebam di leher Riyu. Siti termenung memandangi luka itu.
"Bude apa sudah di kaitkan?" tanya Riyu.
"Oh. Sudah." suara Siti bergetar.
Riyu berjalan ke arah cermin lalu memandangi liontin yang telah terpasang di lehernya.
"Kau terlihat cantik" ucap Siti tersenyum. "Riyu, apa kau bahagia setelah menikah? Apa Noval berbuat kasar padamu?"
Riyu terdiam memandang Siti dari cermin yang ada di depannya. "Em... Ya, aku bahagia." jawab Riyu lalu menggenggam tangan Siti. "Bude tidak usah khawatir, Riyu baik-baik saja" ucapnya sambil melempar senyum.
Tapi perasaan Siti malah semakin merasakan sakit saat Riyu berbicara menyembunyikan semua darinya.
"Bude. Aku sudah lama sekali tidak bersama bude, malam ini aku pengen tidur sama bude?"
"Apa tidak salah? Dasar bayi besar!"
"Aku tidak peduli, malam ini aku mau tidur denganmu. Karena besok kita sudah berpisah lagi" Riyu memeluk Siti dengan erat.
"Baiklah, dasar gadis manja. Sekarang ayo kita tidur, jangan sampai besok kita bangun kesiangan"
__ADS_1
Suasana kamar kembali senyap. Siti memandang Riyu yang sudah tertidur lelap, perlahan tangannya membelai kepalanya dengan lembut. Hatinya kini tersentuh oleh kehangatan yang telah lama hilang dari dirinya.
*****
Noval melangkah tegas menemui kerumunan orang berpakaian hitam, salah satu dari mereka telah menyiapkan kursi kecil untuk duduk.
"Kerja yang bagus, aku suka tempat ini" ucap Noval.
"Lalu apa rencanamu berikutnya bos?"
"Hemh. Aku mau, kalian culik wanita yang ada di foto ini, bawa dia kemari" kata Noval sambil menyodorkan selembar foto.
"Apa tidak salah? Bukankannya dia istrimu?! Untuk apa kau menculiknya!"
"Untuk membuktikan bahwa cinta itu hanyalah sampah, aku penasaran seberapa besar dia mencintai Sam sampai-sampai Dia melupakan statusnya"
Semua orang terdiam saling pandang, mendengarkan Noval yang sedang memberi tau instruksi rencananya dengan serius, Noval menyalakan rokoknya setelah itu, dia melempar koper kecil berwarna hitam yang berisi uang.
"Ambilah, aku akan memberikan kalian bonus jika rencana ini berhasil. Tunggu kabar selanjutnya dariku" ucap Noval melangkah pergi.
Noval, Orang yang berdiri tegak dalam topangan Keluarga Mahesa, arogan, berambisi tinggi. Ia akan melakukan segala cara demi memuaskan ambisinya.
Meskipun di hatinya tidak ada nama Riyu, namun dia benci sekali terhadap gadis itu. Alasannya Riyu adalah penghalang kebebasan bagi dirinya, menyakiti Riyu juga ia lakukan untuk membalas dendam terhadap Sam.
**Sorenya di kediaman Keluarga Mahesa**
"Aku pulang" Sapa Riyu saat memasuki rumahnya.
Mirah yang kala itu menyambutnya, merasakan aura Riyu yang berbeda. Wajahnya terlihat lebih segar, senyumnya terlihat lebih riang. "Non Riyu, syukurlah non sudah pulang" ucap Mirah ramah menjangkau tas di tangan Riyu.
Riyu berjalan ke ruang keluarga, Ada Nita dan Mahesa yang sedang sibuk dengan laptop dan ponselnya masing-masing.
"Kau sudah kembali Riyu?" Sapa Mahesa menoleh ke arah Riyu lalu kembali ke layar laptopnya lagi.
"Sudah pah" jawab Riyu singkat.
Riyu langsung mengunci pintu kamarnya, Senyuman terpampang lebar di bibirnya, kenangan bersama Sam kemarin muncul di setiap pejaman matanya. Cara Sam berbisik, menyentuh dan menciumnya, jadi enggan untuk membuka mata.
Namun perlahan, Riyu merasakan belaian lembut menyentuh pipinya. Dia membuka mata perlahan, tapi pria di depannya tersenyum dengan seringai yang sulit di jelaskan.
"Kau terlihat sangat bahagia sayang. Boleh aku mendengar kan petualanganmu selama kau pergi?" ucap Noval.
"Noval... " Riyu terpekik. Bayangannya saja sudah membuat Riyu gemetar, kini ia kembali masuk kedalam cengkraman pria kejam itu lagi.
"Kenapa kamu terkejut? Ayo ceritakan kisahmu bersama adik iparmu itu!" Tangan Noval yang awalnya membelai Riyu dengan lembut, kini telah beralih mencengkram leher Riyu dengan kuat.
" Uhuk... Uhuk..." Riyu kesulitan bernapas, ia berusaha melepas tangan Noval dari lehernya.
"Kenapa? Sesak nafas? Nikmat kan?Jangan kira aku tidak tau apa yang kamu lakukan selama di luar!"
Wajah Riyu mulai memerah, ia mencoba mencari celah untuk bernafas. Noval menghempaskannya. Riyu tersungkur di lantai sambil batuk dan menahan sakit di lehernya. Ia gemetar, menyeret tubuhnya ke belakang untuk menjauh dari Noval.
"Tidak berguna!" Noval menatap Riyu tajam sambil menyibakkan jasnya, setelah itu diapun beranjak pergi.
Riyu yang ketakutan meringkuk di samping tempat tidurnya, sambil mengatur nafas yang hampir saja lenyap dari tubuhnya.
"Noval. Baru saja pulang kamu sudah mau pergi lagi?" Tanya Nita menatap wajah Noval yang terlihat kesal.
"Iya mah aku harus pergi, ada urusan mendadak" jawab Noval singkat langsung beranjak dari hadapan Nita.
"Kenapa dia terlihat sangat kesal? Pasti ini gara-gara Riyu lagi!" ucap Nita.
"Kenapa dengan Riyu?" Mahesa menghentikan ketikan jarinya.
"Ya dia pasti udah bikin Noval kesal"
"Sudahlah, selagi itu tidak berpengaruh dengan nama baik kita, lebih baik kau jangan terlalu ikut campur" ucap Mahesa dengan mimik wajah yang serius.
__ADS_1
Nita memutar matanya sambil membuang nafas kesal, Tapi benar juga apa yang di ucapkan Mahesa. Setidaknya Noval bisa jadi lebih dewasa lagi untuk menghadapi masalah rumah tangganya.
***Perusahaan Sam di kota S***
Kantor biasa ramai dengan ketukan langkah kaki di setiap lantainya, suara ketikan jari jemari di setiap ruangannya, hari itu tiba-tiba dibuat panik oleh para karyawan yang berhamburan keluar.
Sekelompok pria bersenjata menerobos masuk ke dalam perusahaan Sam tanpa permisi.
Para staf keamanan di sana juga sulit menghentikan mereka, saat salah satu dari gerombolan pria menunjukkan lencananya yang berlambang Darma union.
Braakkk....!!! Pintu ruangan Sam di dobrak paksa.
Sam yang sedang berdiri di depan jendela ruangannya, memandang mereka dengan tatapan santai tanpa gentar sedikitpun.
"Bisakah kalian datang lebih sopan lain kali? Kalian benar-benar membuat karyawan ku ketakutan" ucap Sam memasukkan tangannya ke dalam saku.
"Maaf atas kelancangan kami, Tuan Sam, kami di utus untuk membawamu kepada tuan Darma" ucap pria berbadan tinggi besar itu tanpa ekspresi sama sekali.
"Oke, baiklah. Dengan syarat, tuanmu harus bersiap mengganti pintu yang telah kau jebol" ucap Sam melangkah santai melewati pria itu.
Sebelum keluar dari ruangan Sam, si pria kekar melirik ke arah pintu yang jebol lalu mengangkat kedua bahunya. Orang-orang itu mengiringi Sam turun ke lobby.
"Perlu bantuan bos?" Ucap Aji menatap tajam pada pemimpin orang aneh yang berdiri di belakang Sam.
"Tenang saja, kau urus kantor, aku pergi dulu." ucap Sam menepuk pundak Aji lalu masuk ke dalam mobil khusus yang telah disiapkan untuk menjemputnya.
"Melihat wajah bos Sam sepertinya dia baik-baik saja, tapi siapa mereka sebenarnya?" gumam Aji dalam hati.
Selama hampir satu jam akhirnya Sam sampai, tapi sebelum memasuki Kediaman harus melewati beberapa gerbang dan pemeriksaan.
Pria yang membawanya tadi turun dari mobilnya, ia pun membukakan pintu untuk Sam. Sam di giring masuk ke sebuah ruang tamu yang banyak barang dan hiasan klasik mahal di ruangan itu. Sam duduk di depan pria tua yang telah menunggunya sejak tadi.
"Ada apa Kakek Darma Galuh mengundangku ke istana ini?" ucap Sam santai sedikit tersenyum.
Darma melempar foto ke atas meja tepat di depan Sam.
"Apa benar itu kau bersama Riyu? Kau coba-coba mempermainkan cucuku!" ucap Darma menatap tajam.
Sam melirik ke foto itu lalu menjawab singkat "Ya benar!" ucap Sam sambil menopang kaki ke kaki yang satunya.
Bodyguard yang berada di belakang tempat duduk Darma bersiap menodongkan senjata karena mendengar jawaban Sam. Tapi... Darma mengangkat tangannya, mencegah bodyguard itu menyerang Sam.
"Tapi aku tidak mempermainkan cucumu! Aku mencintainya" ucap Sam mengangkat kedua pundaknya.
"Apa kau gila! Kamu mencintai wanita yang menjadi kakak iparmu!" Darma tidak mengerti pemikiran anak muda yang ada di hadapannya.
"Tuan Darma, aku hanya terlambat selangkah dari kakak tiri ku. Dia berhasil menikahi Riyu karena perjodohan, sedangkan aku dengan Riyu memang sudah di pertemukan sebelum dia lahir ke dunia!"
"Apa maksudmu!" Darma menatap Sam seksama.
"Aku sudah bertemu Riyu sejak Riyu berada di perut Tante Diana, menantumu! Selanjutnya aku bertemu dengan Riyu saat dia di kejar oleh kepala gangster dan berhasil menyelamatkannya, terakhir... Aku bertemu dia tergeletak di jalanan, hingga sekarang aku masih bertemu dengannya! Jodoh kan?!" Sam tersenyum tipis.
Darma terdiam. Tapi dia masih belum yakin dengan apa yang di ucapkan anak muda ini.
"Kakek... Saat aku dipertemukan dengan gadis kecilku yang aku cari selama bertahun-tahun, tapi malah diambil kakak tiriku. Saat Noval menciumnya dipernikahan itu, hampir saja aku tidak bisa menahan amarahku. Selain merenggut nyawa ibuku, dia juga telah merebut cintaku. Katakan Tuan Darma, Seberapa besar kesalahanku!?" Sam berubah menjadi dingin dan tajam.
"Ingat tuan Darma, jika bukan karena aku. Sampai saat ini juga kau tidak akan pernah menemukan cucumu"
Darma hanya terdiam menatap Sam dalam, "Anak ini kelihatannya sangat mencintai Riyu, tapi dalam posisinya sekarang dia tetap salah di mata hukum" gumam Darma dalam hati.
"Aku sudah memberikan kejelasan ku, jika tidak ada urusan lagi, aku undur diri" Sam berdiri memberi hormat lalu melangkah pergi.
"Jika Riyu tidak bahagia dengan pernikahannya, bawa dia bersamamu!" ucap Darma tiba-tiba.
Sam menghentikan langkahnya lalu berbalik, "Akan aku lakukan!" jawab Sam menatap dingin lalu kembali melangkah pergi.
Darma menatap pekat punggung Sam yang semakin jauh dari pandangannnya, ia tau riwayat keluarga Mahesa, meskipun hubungan mereka tidak dekat tapi rumor kematian Ranu memang sempat menggemparkan Dunia bisnis kota Y.
__ADS_1
"Tuan, kau serius dengan kata-kata mu barusan?" Tanya orang asisten Darma.
"Kapan aku tidak serius! Saat aku bertemu Riyu di pesta pertemuan itu, aku tau bagaimana suaminya mengabaikan cucuku. Aku percaya dengan keseriusan anak muda itu, selama ada dia, aku yakin Riyu akan baik-baik saja" ucap Darma sembil menyandarkan punggungnya ke sofa.