Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Gubuk Bela Diri


__ADS_3

Anan kemudian ia langsung melompat ke atas tubuh Casandra yang bersandar di jok mobil. Casandra sangat terkejut dengan apa yang Anan lakukan, ia terpaku, ruang sempit membuatnya sulit bergerak ataupun melawan.


"Sekarang apa yang akan kau masih mau meneruskan niatmu" ucap Anan menyeringai.


Casandra menggeleng panik. "Sekarang kau diam dan berikan ponselmu" ucap Anan berbisik lembut.


"Selain mengancam kau juga merampokku?!" protesnya.


"Turuti saja perintahku Nona, atau... " Anan semakin menindih Casandra dan mendekatkan wajahnya, hingga nafas mereka beradu satu sama lain.


Merasa bodyguardnya semakin gila, Casandra pasrah menyodorkan ponselnya pada Anan. Anan langsung mengambilnya lalu beranjak dari atas Casandra, ia mencabut kunci lalu membuka pintu yang ada disamping Casandra.


"Baiklah Nona, kita sudah sampai ditempat pelampiasan" ucap Anan menoleh tersenyum penuh kemenangan.


Casandra tertegun dengan detak jantung yang masih berdegup kencang, ia menyusul turun dari mobil dan melihat ke arah Rumah kecil dengan bener bertuliskan "Gubuk Beladiri". Casandra menatap Anan bingung.


"Kenapa? Apa kau kecewa karena tidak akan mendapatkan ****** di tempat ini?"


Seketika wajah bingung itu berubah merona. Lagi-lagi aku dikerjai pria menyebalkan ini!.


"Ikut denganku atau kau mau berdiri terus disini?"


"Tunggu. Aku ikut denganmu" ucap Casandra bergegas menyusul langkah Anan.


Masuk ke halaman depan, rumah itu tidak terlalu besar jika dilihat dari pinggir jalan. Bangunan yang terbuat dari bahan kayu namun terlihat kokoh, harus melepaskan sepatu ketika masuk kedalam.


Casandra melihat lihat seluruh sela ketika melewati lorong pintu masuk, berbeda dengan Anan karena sepertinya Anan sudah sangat hafal dengan seluk beluk ruangan disana.


tepat di ujung lorong itu masih ada pintu kayu yang tertutup. Casandra diam mengamati Anan yang sudah seperti masuk ke dalam rumahnya sendiri.


Glegerrr....


Pintu kayu terbuka lebar, saat itu juga mata Casandra disambut oleh barisan puluhan orang yang sedang berlatih gerakan beladiri dengan kompak bertenaga.


"Waaaoowww" bisik Casandra kagum. Anan tersenyum melirik Casandra. Mereka berjalan beriringan mengitari orang-orang yang sedang berlatih. Suara mereka yang penuh semangat dan tenaga menggelegar di lapangan belakang rumah kayu.


"Tempat pelampiasan yang bagus kan?" bisik Anan pada Casandra yang bahagia melihat latihan itu.


"Anan. Darimana kau bisa tau tempat ini? Bahkan aku baru kali ini melihatnya" tanya Casandra dengan mata yang berbinar.


"Nanti akan aku jelaskan, sekarang aku akan memperkenalkan kamu dengan seseorang"

__ADS_1


Casandra mengikuti Anan tepat di balik punggungnya sambil terus berbinar menatap orang-orang. Aiihh mereka hebat sekali, aku bahkan masih belum apa-apa dibandingkan mereka.


"Aduh." Casandra menubruk punggung Anan. "Hey, kenapa kau suka sekali berhenti mendadak!" protes Casandra. Tidak ada jawaban dari Anan, Casandra melongok dari dari balik punggungnya.


Ada kakek tua di hadapannya, wajahnya teduh dengan senyum yang tenang. Kemudian Anan membungkuk dengan hormat.


"Siapa gadis itu?" tanya sang kakek.


"Dia... Sandra" jawab Anan.


Casandra melangkah berdiri sejajar dengan Anan. "Ayo beri hormat Nona" bisik Anan.


"Apa? Biasanya orang yang hormat padaku, aku belum pernah melakukan hormat pada orang lain" jawab Casandra.


Cih, kau ini memang.


"Aku senang kau berkunjung lagi ke gubuk ini, lama kau tidak datang"


"Maafkan saya Kakek" jawab Anan tidak enak hati. Setelah membuka kios Anan memang sangat sibuk membantu kakaknya.


"Tidak apa-apa. Apa gadis ini kekasihmu? Sepertinya dia gadis yang lincah"


Prang... Cangkir pecah berserakan. "Kakek, apa yang kau... " protes Casandra, baru saja dia bertamu sudah disambut dengan sebuah serangan.


Belum Casandra menyelesaikan ucapannya, kakek itu bertepuk tangan, beranjak dari tempat duduknya mendekati Casandra.


"Anan, kau pintar sekali memilih kekasih" ucap sang kakek.


"Aku bukan kekasihnya Kek" Casandra keberatan. Tapi melihat ekspresi tua di hadapannya, ia merasa tidak enak hati. "Aku... Teman Anan" ucap Casandra lagi.


Kakek tersenyum. "Selamat datang di gubukku." sambutnya menepuk pundak Casandra. "Anan, kau harus mengajaknya berkeliling. Siapa tau ada sesuatu untuk dia tendang"


Seperti tau saja kondisi emosional Casandra, memang kebetulan dia ingin sekali menendang untuk meluapkan emosinya. Kakek itu kembali berjalan menuju ruangannya.


"Apa ada yang bisa aku tendang sekarang?" tanya Casandra berbinar.


"Nona, kau lihat tiang besi yang ada di depan sana? Kau bisa menendangnya sepuasmu" ucap Anan tersenyum lebar, lalu kembali ke ekspresi datarnya sebelum berpaling.


"Baiklah, jujur aku ingin menendang wajahmu!" gerutu Casandra pelan.


"Apa kau bilang?" Anan terhenti langsung menoleh.

__ADS_1


"Aahhh haha. Tidak, ini tempat yang sangat luar biasa'kan?"


Cih..


Mereka melanjutkan perjalanannya ke halaman belakang. Banyak sekali peralatan yang ada di sana, meskipun masih sederhana tapi lengkap dan tidak kalah dengan gaya latihan modern.


"Bagaimana kau bisa tau tempat ini? Dan... Siapa kakek itu?" tanya Casandra terengah masih dengan latihan.


"Dia adalah kakek angkatku, guru tertua di gubuk beladiri ini. Sejak remaja aku sering datang kemari, bahkan sempat tinggal di sini selama beberapa tahun"


Oh, pantas kau sangat hebat menguasai gerakan beladiri. Gumam Casandra terdiam menatap Anan yang sedang memperbaiki salah satu alat latihan.


Saat itu anan sedang bertelanjang dada, tubuhnya yang sempurna diiringi dengan keringat membuatnya terlihat seperti laki-laki diiklan alat fitness. Casandra sampai lupa berkedip.


"Apa yang kau perhatikan Nona?" ucap Anan. Padahal dia sibuk, tapi bisa tau kalau Casandra sedang memperhatikannya.


"Ti... Tidak, aku hanya memperhatikan apa kau sudah benar memasang alat itu!"


Anan menyeringai tipis. Selang beberapa menit kemudian, datang beberapa anak remaja membawakan dua cangkir teh, juga beberapa cemilan.


"Silahkan Kak, kau pasti lelah setelah latihan" ucap salah satu remaja itu.


"Terimakasih" jawab Casandra tersenyum ramah.


Hari mulai sore, Anan dan Casandra berpamitan pada kakek juga anak-anak yang ada disana. Pengalaman yang cukup menyenangkan. Tempat latihan baru, pertemanan baru. Rasa kesalnya seakan berkurang.


"Apa anak-anak itu tinggal disana?" tanya Casandra sambil memainkan ponselnya.


"Iya" jawab Anan singkat.


"Hah? Apa orang tua mereka tidak mencari atau protes?!" menatap seksama.


Anan tersenyum, menoleh ke arah Casandra sejenak lalu kembali fokus kedepan.


"Mereka sama sepertiku Nona, yatim piatu" hawab Anan dengan wajah teduh.


Casandra terdiam. Tangannya yang tadi sibuk memainkan ponselnya kini terdiam. Jadi mereka tidak mempunyai orang tua? Ucap Casandra dalam hati.


Masih ingat seperti apa wajah anak-anak dan para remaja yang ada disana, mereka ramah, selalu tertawa. Tinggal bersama tanpa orang tua.


Tapi mereka juga pasti sedih kan? gumam Casandra. Pandangannya menerawang jauh ke sisi jendela, membayangkan seperti apa rasanya jadi mereka. Tapi bagaimana mereka masih bisa tertawa riang? Casandra termenung sepanjang perjalanan.

__ADS_1


__ADS_2