Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Kesepakatan


__ADS_3

Malam harinya, Sam sedang menikmati suasana di halaman samping rumah utama. Pandangannya lurus ke depan menatap air kolam yang bergelombang lembut.


"Sam" sapa Riyu. "Apa kau marah? Aku dan Noval hanya... "


"Riyu, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Nita yang tiba-tiba muncul di belakang, melirik ke punggung Riyu dan juga Sam yang ada di sana, Riyu tersentak kaget lalu menggigit bibirnya.


"Aku... Aku cuma, lagi mau ngobrol dengan Sam, Mah"


"Sudah malam, masuklah. Suamimu sudah menunggu di kamar"


Rasanya ingin sekali membantah, Nita seperti sengaja tidak memberi kesempatan untuk Riyu menjelaskan pada Sam, tapi rasanya tidak enak sekali karena ada Mahesa di rumah. Riyu menoleh ke arah Sam sebentar, mereka saling bertatapan. Tak lama setelah itu, Riyu berlalu.


"Hubungan mereka sangat manis. Benar kan Sam?" ucap Nita menyeringai lalu pergi.


Cih... Sam tersenyum getir.


****


Sudah beberapa hari ini, aura dingin menyelimuti antara Sam dan Riyu. Meskipun mencoba menyapa dan tersenyum padanya, tetap saja, tidak bisa mencairkan suasana hati Sam. Riyu tau, Sam pasti cemburu karena melihat dirinya dan Noval kemarin. Hanya saja, Riyu belum memiliki kesempatan untuk menjelaskan pada Sam.


Pagi itu saat sarapan, seluruh anggota keluarga sudah bersiap di kursinya masing-masing. Sesekali Riyu memandang Sam yang masih saja tidak mau menatapnya. Senyum puas tersirat di bibir wanita yang duduk tepat di samping kursi Mahesa, matanya melihat ke arah Riyu, lalu beralih ke arah Sam. Rasanya puas sekali karena telah berhasil membakar kedua perasaan yang saling mencintai itu.


Begitu juga dengan Noval, ia melirik Riyu lalu kemudian melirik Sam, yang diam sibuk dengan ponselnya sambil sarapan. "Riyu, bagaimana, setelah kau mengganti desain kamarmu apa kau merasa nyaman sekarang?" tanya Mahesa mencairkan suasana yang hening.


"Em... Cukup nyaman pa" jawab Riyu singkat.


"Riyu memang pandai memilih, kami jadi bisa tidur dengan nyenyak" Noval menimpali, sengaja, ingin melihat reaksi Sam yang mulai terlihat gusar mendengar ucapannya.


Kondisi sedang tidak berpihak pada Riyu sekarang, pertanyaan papa malah membuat Riyu semakin tidak enak hati. Ditambah lagi Noval, sengaja dia membuat panas suasana.


"Aku slesai!" ucap Sam langsung bergegas pergi, meninggalkan sisa sarapan yang baru di makan setengah.


"Sam, kau tidak menghabiskan sarapanmu?" tanya Mahesa. Tapi Sam tidak menjawab apapun dan terus berjalan keluar menuju mobilnya.


"Ada apa dengannya? Kemarin dia bersikap manis padaku dan sekarang sudah dingin lagi seperti es batu" Mahesa menoleh ke arah Sam yang mulai jauh dari pandangannya.


"Mungkin dia... "


"Diam kau!" sahut Riyu yang langsung memotong ucapan Noval sambil menepuk lengan Noval dengan kencang. Noval mengaduh menggosok lengannya yang terasa pedas, tapi ia meringis tertawa melihat Riyu yang kesal. Tatapan tidak suka tersirat pada Nita, melihat Riyu dan Noval yang semakin mesra, membuat Nita harus melakukan tindakan selanjutnya. Mencegah, atau menghabisinya bila perlu.


"Ada apa ini? Apa kau bertengkar lagi dengan adikmu, Noval?!" tanya Mahesa menatap tajam.


"Tidak" kedua bahu terangkat bersamaan dengan jawaban Noval. Kembali ia menyantap makanannya tersenyum. Tersenyum karena melihat Riyu kesal tentunya.


Mahesa masih menatap Noval, ia merasakan banyak sekali perubahan yang terjadi pada putra tirinya itu. Sejak tinggal bersama Tuan Darma, Noval jadi berkurang pergi kebar dan bermain wanita. Bahkan kerjanya di kantor juga sudah terlihat meningkat dan lebih serius bekerja. "Terimakasih tuan Darma, sepertinya kau mendidik Noval dengan baik" gumam Mahesa dalam batinnya.


*****


"Apa ini?!" tatapan mematikan di lontarkan kepada karyawan di depannya. "Apa kau sudah bosan bekerja di perusahaanku?!" Sam langsung melempar berkas di tangannya hingga mengenai wajah karyawan yang mulai gemetar.


"Tidak Tuan, maafkan saya. Saya lalai dalam mengerjakan pekerjaan. Saya akan memperbaikinya Tuan" ucap pria yang mulai berkeringat dingin, gemetar berdiri di hadapan Sam yang marah.


"Aji, beri dia pesangon dan antarkan dia ke pintu keluar. Perusahaan ini hanya menerima karyawan yang serius dalam melaksanakan tugasnya" Sam beranjak dari tempat duduknya.


"Tidak Tuan. Saya mohon beri saya kesempatan sekali lagi untuk memperbaikinya. Saya mohon Tuan Sam, jangan pecat saya" karyawan itu berlutut memeluk kaki Sam yang akan melangkah pergi.


"Lepaskan!" ucap Sam menggoyangkan kakinya.


"Tuan saya mohon beri saya kesempatan" ucapnya masih memeluk kaki Sam.


Aji yang berdiri di sana menatap seksama, ia tau karyawan ini cuma salah mengetik satu huruf. Kesalahan yang tidak terlalu fatal sebenarnya. Padahal selama ini, karyawan yang sedang memohon di kaki Sam adalah karyawan yang rajin.


Sam mendorong karyawan itu dan menyuruhnya keluar dari ruangannya. "Bos, aku tau suasana hatimu sedang buruk. Tapi aku harap, kau jangan melampiaskan kepada karyawan itu" ucap Aji mencoba untuk menjadi penengah.

__ADS_1


"Kenapa? Hatimu melemah karena melihatnya bersujud di kakiku?!" Sam masih pada emosional yang tinggi.


"Bukan. Dia hanya salah menulis satu huruf dan kau ingin memecatnya? Bukankah itu berlebihan?"


Sam terdiam, ia langsung membanting tubuhnya ke atas sofa lalu mengatur nafasnya. "Aku tau setiap latar belakang karyawan yang bekerja di sini bos, termasuk karyawan tadi" Aji mendekati Sam sambil menyodorkan botol air minum.


"Dia sedang melalui hidup yang sulit, mungkin mempengaruhi konsentrasi bekerjanya" Aji menerima kembali botol air yang sudah diminum Sam, lalu iapun duduk berhadapan dengan Sam.


"Itu bukan urusanku! Seharusnya dia bisa profesional, masalah pribadi jangan di bawa ke kantor kan?!" ucap Sam yang masih belum mereda.


"Ya, memang. Seperti yang kau lakukan sekarang bukan?"


"Apa maksudmu!" Sam mencengkram kerah Aji.


"Kau sedang ada masalah pribadi, tapi melampiaskannya di kantor, Bos" ucap Aji tenang. Sam menghempaskan Aji. "Ya memang masalah asmaramu sangat rumit dan berat, tapi kau bisa memperjuangkan kembali untuk terus mengejar Nona Riyu bukan? Sedangkan karyawan itu, dia sedang memperjuangkan nyawa putrinya sekarang"


Sekarang Sam menatap lekat pada asisten konyolnya itu. "Apa kau pikir itu urusanku? Sejak kapan kau suka mencampuri urusan pribadi karyawan?!"


Ch, dasar bodoh, sudahlah langsung pada intinya saja. Gunam Aji menyeka wajahnya dengan tangan. "Bos, coba bayangkan jika kau memecatnya, maka dia tidak bisa lagi menyelamatkan putrinya. Mau kemana lagi dia mendapatkan kerja? Meskipun dapat juga pasti harus menunggu lama untuk mendapatkan gaji yang sesuai" Aji menatap wajah Sam yang mulai sadar dari emosinya.


"Aku tau kau orang yang tega, tapi lakukan itu pada orang yang tepat Bos. Aku hanya tidak ingin kau berdosa pada orang yang tidak bersalah"


Sam terdiam, ucapan Aji ada benarnya juga. Sam bersandar pada sofa, ia memejamkan matanya dan mengatur nafasnya. "Baiklah, kau keluar sana. Sampaikan, aku tidak jadi memecatnya" ucap Sam dengan nada yang mulai reda.


Meskipun Aji adalah anak buah Sam, tapi terkadang dia juga sudah seperti saudara baginya, yang saling mengingatkan, bergurau, tapi bisa sangat jadi serius saat menghadapi sesuatu. Aji tersenyum, ia bergegas menemui karyawan tadi. Sedangkan Sam kembali ke meja kerjanya.


*****


Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangan Sam. Belum sempat mempersilahkan masuk, dia sudah langsung berdiri di hadapannya.


"Mau apa kau datang kemari?" ucap Sam dengan nada dingin.


"Untuk melihat ekspresi konyolmu saat cemburu tentunya" Noval langsung duduk di kursi yang bersebrangan dengan Sam.


"Pergilah! Jangan ganggu aku!"


Namun matanya terhenti pada satu pigura besar yang tertempel di dinding ruangan itu. Pigura berukir emas yang memajang foto sosok wanita penuh kasih di senyum dan tatapannya. Ya... Foto Ranu, ibu kandung Sam. Foto Ranu yang satu-satunya tersisa, karena di kediaman Mahesa, seluruh foto Ranu sudah di singkirkan oleh Nita. Noval terdiam sesaat, terus menatap mata lembut itu.


"Kenapa? Apa kau merasa bersalah dengan wanita yang ada di foto itu?" Sam menatap tajam. Membuyarkan lamunan Noval yang sedang berada di masa lalu.


"Aku tidak ingin membahasnya" ucap Noval menyembunyikan getar di hatinya.


"Jika tidak ada yang ingin kau bahas enyahlah!"


"Haha slow down Sam! Aku ingin membuat kesepakatan dengan mu"


Sam merenyitkan alisnya, Noval membuat kesepakatan pasti dengan taruhan yang tidak main-main. "Bagaimana?"


"Kesepakatan apa?" Sam menatap seksama.


"Setelah aku pikir-pikir... " Noval beranjak dari tempat duduknya, ia berdiri menghadap foto Ranu sekarang. "Aku baru sadar, kalau aku mencintai Riyu"


Mendengar ucapan Noval Sam langsung mencengkram kerah Noval "Apa kau bilang?! Berhentilah mempermainkannya atau aku akan menghabisimu!" Sam benar-benar tidak terima.


"Aku tidak mempermainkannya Sam, aku mencintai Riyu sejak lama" tatapan Noval terlihat sangat serius. Sam mengendurkan cengkeramannya. Jantungnya berdegup kencang, memikirkan, jika Noval benar mencintai Riyu, maka dia akan semakin tidak merelakan Riyu untuk pergi dari sisinya.


"Untuk itu aku ingin membuat kesepakatan denganmu"


"Apa kesepakatan mu?" wajah Sam terlihat pias, ia menunggu jawaban Noval yang buruk pastinya.


"Aku akan merelakan Riyu untuk mu"


"Apa?!" Sam memastikan ia tidak salah dengar.

__ADS_1


"Apa kau tuli?! Aku bilang aku akan merelakan Riyu untuk bersamamu! Bodoh!" suara Noval memenuhi langit-langit ruangan.


Sam langsung mencekik Noval, mendorongnya hingga membentur tembok yang di atasnya terpajang foto Ranu.


"Tadi kau bilang mencintainya, sekarang kau bilang akan melepasnya. Apa kau ingin mempermainkan aku?! Dasar kau keparat!" wajah Sam merah padam.


"Aku tidak mempermainkan mu brengsek! Justru Aku melepaskannya karena aku mencintainya!" teriak Noval. Noval langsung meninju Sam, hingga cekikan di lehernya terlepas. Kini mereka berdua terduduk di lantai.


Satu nyeri karena cekikikan, yang satu nyeri karena pukulan. Nafas dari masing-masing terengah, Sam terdiam mematung karena dia masih kurang yakin dengan perkataan Noval.


"Kenapa kau malah keberatan jika aku melepaskan Riyu? Sekarang jadi aku yang ragu, jangan-jangan kau, sebenarnya tidak mencintai Riyu!" ucap Noval bersandar di tembok.


"Diam kau, aku hanya memastikan apa kau serius dengan ucapanmu!"


"Aku serius, bodoh!" Noval mengatur nafasnya yang sesak. Cekikan Sam sangat kuat, hingga terasa berat untuk bicara.


"Kenapa?" Sam mencoba memastikannya lagi.


"Sudah aku bilang. Aku mencintainya, karena itu aku merelakannya untuk pergi ke sisimu!" Noval gemas langsung menendang kaki Sam.


"Sam, meskipun Riyu lupa ingatan. Aku tidak pernah melihatku ada di matanya. Meskipun dia selalu memanggilku dengan sebutan suamiku, atau tersenyum hangat padaku. Aku tidak pernah ada di hatinya" Noval memandang lurus ke masa lalunya, ia tertawa ringan lalu melanjutkan kata-katanya,


"Bahkan sampai dia pulihpun seluruh hati dan pikirannya hanya ada kau, si brengsek menyebalkan!" Noval kembali memancal kaki Sam.


"Aku... Aku tidak bisa memaksanya, dan. Riyu akan lebih aman jika bersamamu" Noval tertunduk. Lalu menyandarkan kepalanya ke tembok, matanya terpejam mengingat Riyu yang menangis karena kesalahannya.


Sam terdiam, entah dia harus berkata apa. Berterimakasih kah? Tapi rasanya berat sekali mengucapkan terimakasih pada pria iblis di hadapannya itu. Noval bangun, kembali merapikan kemejanya.


"Tapi, masih ada 2 kesepakatan yang harus kau turuti" Noval menatap tajam.


Sam pun langsung bangun, dan berdiri tegap di hadapan Noval. "Apa kesepakatan mu?"


"Kita bertarung. Siapa yang menang, dia akan mendapatkan Riyu" ucap Noval tersenyum tipis. Sam hanya tertawa mendengarnya, karena dia tau kemampuan Noval bertarung cukup lemah.


"Lalu yang kedua?" tanya Sam masih tertawa.


"Jika kau menyakiti Riyu, aku akan mengambilnya lagi darimu" kali ini wajah Noval sepertinya tidak main-main.


Tanpa ada aba-aba, tidak ada angin dan hujan, tiba-tiba Sam langsung menyergap Noval. Memeluk Noval dengan sangat erat, erat sekali hingga nafas terasa sesak.


"Terimakasih laki-laki keparat! Aku tidak tau apa yang rusak di otakmu, tapi aku benar-benar berterimakasih padamu sekarang. Dan aku berjanji akan memenuhi kesepakatan mu yang konyol itu!" ucap Sam masih memeluk Noval kencang.


"Brengsek kau, lepaskan aku!" ucap Noval terpekik.


"Tidak sebelum kau berkata, iya sama-sama Tuan Sam. Ayo cepat katakan jika tidak aku akan membunuhmu dengan pelukanku!"


"Kurang ajar!"


"Ayo cepat katakan!"


"Okeee. okee. Sama-sama Tuan Sam!" suara Noval mulai berat kehabisan nafas.


Seketika Sam langsung melepaskan pelukan mautnya, Noval langsung batuk menepuk dadanya. "Kau... Aku tidak tau kenapa Riyu suka sekali di pelukanmu yang mengerikan itu!. Dasar kau menjijikkan!" umpat Noval terengah.


"Apa? Apa tadi aku memelukmu? Maaf, aku sengaja, Noval" Sam mengangkat kedua tangannya.


"Aku tunggu di pinggir danau kita akan bertarung setelah selesai bekerja nanti! Huh!" Noval mendengus kesal, merapikan kembali kemejanya.


"Baiklah, aku akan datang. Apa aku boleh menelukmu sekali lagi?" ucap Sam mendekati Noval.


"Berhenti! Aku lebih baik kau hajar dari pada kau peluk. Menggelikan!" Noval langsung beranjak pergi dari ruangan Sam.


Aji langsung bergegas masuk saat melihat Noval yang baru saja keluar dari ruangan Sam. "Bos!" ucapnya cemas, apalagi melihat lebam di wajah Sam. Tapi melihat ekspresinya, sepertinya Bosnya sedang bahagia sekarang.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, haha" ucap Sam pada Aji yang menatapnya bingung.


Aji merenyitkan alisnya. Ia bergegas mengambil kotak obat yang ada di ruangan Sam, lalu membantunya mengoleskan obat luka lebam di wajahnya. Meskipun tidak tau apa yang terjadi, tapi lebih baik Aji tidak banyak bertanya sebelum Sam sendiri yang menceritakannya.


__ADS_2