Mencintai Kakak Ipar

Mencintai Kakak Ipar
Perangkap Lila


__ADS_3

Pagi itu hujan deras melanda kota Y, Lila yang sedang berada di tengah perjalanan menuju kantor Mangsur, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


 


Jalanan terlihat penuh, ramai dengan mobil yang buru-buru untuk sampai di tempat kerja masing-masing namun, semua terjebak macet di jalan itu.


Beberapa kali ia mengetukkan jarinya pada kemudi, sudah beberapa menit mobil masih belum beranjak juga dari antrean jalan yang panjang. Kemudian matanya tertuju pada sebuah cafe yang terletak di seberang jalan, ia melihat mobil yang tidak asing lagi di matanya.


"Itu kan mobil Noval." ucap Lila sambil menajamkan penglihatan menembus rintikan hujan. Lila membelokkan mobilnya. Ia memutuskan untuk pergi ke cafe dimana mobil Noval terparkir di sana.


Lila berlari kecil menerobos hujan untuk masuk ke pintu cafe, "Sial, bajuku jadi basah!" gerutunya sambil menggosok lengan.


Usai masuk kedalam cafe itu, Lila mencari-cari Noval di ruangan cafe yang tidak terlalu ramai, tepat di pojok depan jendela akhirnya ia melihat Noval yang sedang sibuk menatap layar laptopnya.


"Hai." Sapa Lila pada Noval sambil duduk di sofa seberang meja.


"Hei, Lila? Kebetulan sekali" balas Noval menatap.


"Ya, aku terjebak macet. Aku datang kemari supaya tidak bosan menunggu hujan reda"


"Kita senasib, kau mau pesan apa biar aku yang traktir" Noval melambai memanggil pelayan.


Lila memesan secangkir cafe latte favoritnya, "Sepertinya kau sangat sibuk, serius sekali?" ucap Lila memandang Noval.


"Aku sedang membaca email yang di kirim oleh anak buah mamaku"


"Haha apa kamu tidak memiliki anak buah sendiri, sampai kamu memakai anak buah nyonya Mahesa untuk bekerja padamu?"


"Hemh, jangan meremehkan aku cantik. Aku tidak segan membuatmu merintih lagi jika kau berani meledekku lagi!"


"Dasar kau ini! Lalu ada urusan apa antara kamu dengan anak buah nyonya Mahesa?"


"Dia sedang melakukan penyelidikan terhadap Riyu" ucap Noval dengan mimik wajah yang serius.


"Riyu?" Lila mengerutkan keningnya.


"Ya! Kau tau keluarga Galuh Saputra yang tragis itu? Mama sangat yakin bahwa Riyu adalah putri Galuh yang di cari-cari selama ini! Ga masuk akal" ucap Noval.


Lila tersentak. Ia terdiam, ternyata kecurigaannya selama ini benar, bahwa Riyu istri Noval memang teman masa kecilnya yang paling dia benci.


"Kenapa?" tanya Noval yang heran melihat Lila tiba-tiba mematung.


"A... Aku... Ya aku baik-baik saja, em... Lalu bagaimana kelanjutan penyelidikkan itu?" Lila mencoba mengorek informasi dari Noval.


"Masih belum ada hasil, kami masih perlu menemukan bukti yang lebih akurat lagi" ucap Noval lalu terdiam sesaat memandangi gelagat Lila yang terlihat cemas.


"Kau mengenal keluarga Galuh kan? Yang aku tau, keluarga kalian sangat akrab!" Noval menatap tajam.


"Ya. Ya, dulu papa memang sangat akrab dengan om Galuh" jawab Lila gugup.


Noval memandang Lila dengan tatapan seperti rubah yang melihat makanan lezat, Noval beranjak dari kursinya lalu berpindah ke sisi Lila sambil merangkul pinggang Lila.


"Tuan Mangsur terlibat atas kematiannya kan?" bisik Noval lalu meniup telinga Lila dengan lembut.


"Aku tidak tau!"


"Ayolah sayang. Tidak perlu berpura-pura di hadapanku, aku tau semuanya." Noval menatap Lila, nafsunya mulai bangkit menderu darahnya. Noval mencari kesempatan ini untuk mendapatkannya lagi. Ia tau, Lila mulai terintimidasi oleh ucapannya. "Kau tau apa akibatnya jika kenyataan ini sampai ke publik? Mangsur akan hancur dan... "


"Apa maumu!" sahut Lila memotong kata-kata Noval.


Melihat Lila yang mulai tidak berdaya, Noval mengeluarkan senyum seringainya.


"Aku mau kau melayaniku selama aku membutuhkanmu"


"Noval! Waktu itu aku menyerahkan diriku karena aku ingin Sam menjadi milikku dan kau bisa mengurus Riyu! Tapi aku tidak bisa melakukannya lagi denganmu!"


"Oh ya? Memangnya kenapa kalau kita selalu melakukannya? Bukankah kau juga sangat menyukai permainanku nona, aku akan tutup mulut selagi kau bisa melayaniku dengan baik, bagaimana?"


Lila terdiam. "Sial... Orang ini benar-benar picik, dia memanfaatkan kesempatan ini untuk mengancam ku. Tapi... Dia juga tidak buruk, mungkin untuk sementara ini aku akan menuruti kemauannya sambil mengorek informasi tentang Riyu" gumam Lila dalam hati.


"Okey... Aku akan penuhi permintaanmu." jawab Lila.


Noval langsung menciumnya di dalam kafe, hanya ada beberapa orang saja disana. Tempat pojok tertutup oleh sandaran sofa yang lumayan tinggi membuat mereka leluasa.


*****


Sam mengadakan rapat di kantor bersama pak Mahesa, mereka sedang merencanakan produk baru yang akan segera diluncurkan oleh perusahaannya.


Di sana ada pak Mangsur yang akan mulai terlibat dalam kerjasama yang di pimpin oleh Sam, usai rapat mereka bertiga memutuskan untuk makan siang bersama.


Mereka memilih restoran mewah yang tidak jauh dari kantor Mahesa, di tengah-tengah makan siangnya. Lila datang bersama Noval, setelah menyapa Lila duduk di kursi kosong yang di sebelah Sam sedangkan Noval duduk di sebelah Mangsur.

__ADS_1


"Lila, Noval? Bagaimana bisa kalian bersama?" ucap Mangsur memandang heran.


"Kami bertemu di kantor tadi, lalu memutuskan menyusul ke sini. Karena Noval juga akan menyusul kalian, jadi sekalian aja aku numpang di mobil Noval" jawab Lila.


"Sam lebih baik kau lebih perhatian lagi pada tunanganmu" ucap pak Mahesa tersenyum.


Sam tidak menjawab, ekspresinya tetap tidak berubah masih sama dengan waktu di rapat tadi.


"Noval! Kenapa kau baru datang? Tadi ada rapat di kantor" ucap Mahesa menoleh ke arah Noval.


"Maaf pa, tadi gara-gara hujan aku terjebak macet di jalan. Jadi aku memutuskan untuk melanjutkan bekerja saat mampir di cafe"


"Sudahlah Mahesa, jangan terlalu tegang begitu. Lain kali kita harus sering-sering makan bersama seperti ini supaya lebih dekat dengan kedua keluarga" ucap Mangsur.


"Kau benar, aku juga akan menjajak istri dan menantuku" sahut Mahesa.


Mereka menikmati makan siangnya sambil berbincang ringan, namun dalam perbincangan itu Sam memilih diam dan tidak banyak bicara.


*****


Hari beranjak sore, kedua keluarga itu berpisah di loby. Hari ini adalah hari yang paling menyebalkan dihidup Sam, dia terpaksa mengajak Lila ke villanya karena Mangsur dan Mahesa yang mengusulkan.


Dalam perjalanan itu tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir Sam, dia lebih memilih untuk mengotak-atik laptopnya daripada harus meladeni ocehan Lila yang tidak berguna.


"Kita sampai bos" ucap Aji.


Sam langsung turun dari mobilnya... "Sam tunggu aku!" ucap Lila melangkah cepat menyusul Sam.


"Bi, siapkan kamar tamu untuknya" ucap Sam pada seorang pelayan.


"Kamar tamu? aku ga mau, aku mau tidur bersamamu Sam!" protes Lila


"Sebagai wanita dari keluarga terhormat apa pantas kau meminta tidur bersama?" ucap Sam menatap Lila dingin.


Lila terdiam memandang Sam kesal.


"Pria ini begitu angkuh, Lihat saja Malam ini aku tidak akan melepaskanmu!"


Lila memandang Sam yang sedang menaiki tangga menuju kamar utama, sedangkan ia yang masih berdiri di ruang tengah melihat sebuah lemari kaca yang tersimpan berbagai macam wine di sana.


Lila mendekati lemari kaca itu, matanya terlihat bergerak mencari sebotol wine. Saat itu juga ia mengambil sebotol AurumRed Gold yang terletak di botol barisan pertama.


"Sam malam ini kau harus menjadi milikku" ucap Lila tersenyum sinis, lalu bersiap membersihkan diri.


"Selamat Nona Riyu, Anda kami terima sebagai Asisten direktur di perusahaan Darma union. Silahkan datang ke kantor besok pukul 8 pagi"


Riyu mengerutkan keningnya, Ia mengabaikan email itu karena Riyu pikir, email itu palsu atau cuma orang iseng. Karena selama ini dia tidak pernah mendaftar kerja di perusahaan manapun. Riyu segera menutup layar laptopnya, tapi saat ia hendak turun, ponselnya berdering...


Tidak ada nama dalam panggilan itu, dengan ragu Riyu menjawab.


"Halo" jawab Riyu lirih.


"Apa kau sudah menerima email dari perusahan ku?" jawab seorang pria dari seberang sana.


"Si... Siapa ini? Dan apa maksud dari email itu"


"Aku Darma Galuh, apa kau ingat? Kita bertemu di pesta pertemuan malam itu"


"Ooohhh Kakek Galuh??" jawab Riyu tertawa riang.


"Jadi besok kau datanglah ke kantorku, kita bicara disana, aku akan mengirim seseorang untuk menjemputmu besok"


"Emm... Tidak perlu kek, aku harus meminta ijin dulu pada Nyonya dan Tuan Mahesa semoga mereka mengijinkan aku bekerja. Jika mereka setuju, aku akan datang sendiri ke sana"


"Baiklah kalau begitu"


Panggilan itu berakhir.


Riyu langsung bergegas turun menghampiri Nita dan Mahesa yang ada di ruang tamu, Riyu memberanikan diri berbicara dengan mereka meskipun gugup dan jantung yang berdegup kencang.


"Papa, Mama... Bolehkah Riyu mulai bekerja besok?"


Seketika itu juga Mahesa dan istrinya menatap Riyu,


"Bekerja? Untuk apa kau bekerja, apa Noval tidak memberimu cukup uang?" tanya Mahesa lalu membuka kacamata minus nya.


"Tidak... Bukan begitu pa, uang di card sangat cukup untuk Riyu. Hanya saja... Terkadang Riyu merasa bosan jika sepanjang hari hanya di rumah saja, maka dari itu Riyu ingin bekerja"


"Kamu mau bekerja dimana?" ucap Mahesa ragu, karena dia tau selama ini Riyu tidak menyelesaikan kuliahnya.


"Di sebuah perusahaan pa, Riyu di terima untuk menjadi asisten" ucap Riyu mantap.

__ADS_1


Nita menyipitkan matanya lalu berkata "Kau...? Menjadi asisten di sebuah perusahaan? Coba tepuk pipimu mungkin kau sedang bermimpi Riyu, bahkan kualitas pendidikanmu saja tidak layak menjadi karyawan perusahaan Mahesa!"


Mahesa terdiam sejenak, namun ia juga penasaran perusahaan mana yang mau menerima Riyu menjadi asistennya.


"Perusahaan apa Riyu?" tanya Mahesa menatap tajam.


"Perusahaan Darma union" jawab Riyu.


"Apa?!" ucap Nita dan Mahesa serentak.


Riyu menatap mereka, Riyu tidak mengerti kenapa nyonya dan tuan Mahesa sangat terkejut mendengar nama perusahaan Darma Union.


"Riyu apa kau bercanda!" ucap Nita tiba-tiba.


"Tidak ma, Riyu serius. Kakek Darma sendiri yang memintaku ke sana untuk interview"


"Darma Union adalah perusahaan terbesar di kota ini, bagaimana bisa Riyu mendapatkan kesempatan seperti ini. Ada apa sebenarnya" bisik Mahesa dalam hati.


"Baiklah, aku akan mengijinkanmu bekerja di sana"


"Terimakasih pa" jawab Riyu senang. "Kalau begitu aku akan mengabari kakek Darma dulu" ucap Riyu lagi, ia bergegas menuju kamarnya untuk menelpon Darma.


"Pa... Apa ini serius? Kakek tua itu pasti memiliki rencana yang tidak baik!" ucap Nita setelah Riyu berlalu.


"Kita lihat saja nanti ma, bagaimanapun ini adalah suatu kesempatan yang bagus. Kita akan tunggu apa tujuan dari tuan Darma"


Ruangan itu kembali senyap, hanya ada suara televisi yang menyiarkan berita politik di sana.


Setelah menelpon Darma, dengan semangat Riyu menyiapkan pakaian untuk di kenakan besok pagi, tapi tiba-tiba tanpa sengaja Riyu menjatuhkan vas yang ada di meja riasnya.


Riyu bergegas membereskan pecahan keramik vas dengan perasaan yang tidak enak, sontak pikirannya tertuju pada Sam.


"Aawww..." jerit lirih Riyu, seketika darah segar keluar dari jarinya.


"Ada apa ini... Apa yang terjadi padamu Sam" gumam Riyu menahan perasaan yang tidak enak.


Di waktu yang bersamaan, Lila telah bersiap untuk meluncurkan aksinya, sengaja dia menggunakan gaun tidur yang tipis dan sedikit terbuka.


"Sam... Aku menyiapkanmu wine AurumRed Gold favoritmu, mari aku temani minum" ucap Lila yang nylonong masuk ke dalam ruangan kerja Sam di villa.


"Aku sibuk" ucap Sam tanpa mengalihkan pandangannya.


"Ayolah Sam... Kau sudah sibuk sepanjang hari, apa kau tidak ingin rilex sebentar saja? Setelah itu aku berjanji tidak akan mengganggumu" ucap Lila memeluk Sam dari belakang kursinya.


"Baiklah, tapi singkirkan dulu tanganmu dari tubuhku" ucap Sam dengan nada dingin.


Lila menuangkan wine ke gelas lalu memberikan kepada Sam, dengan sekali tegukan gelas itu langsung kosong.


Sam merasakan saraf yang tegang karena pekerjaan mulai terasa rilex saat mencium aroma wine yang segar, ia kembali menuang dan minum beberapa gelas sampai merasa sosok Riyu yang hadir di angannya.


"Hemh... Dia mulai mabuk" Lila tersenyum puas.


"Sam... Kau sudah hampir menghabiskan wine ini, sudah cukup, aku akan mengantarmu untuk istirahat" Lila mengambil gelas di genggaman Sam.


"Riyu... Kau ada di sini?" ucap Sam yang mabuk.


"Sial... kenapa dia memanggilku Riyu!"Lila kesal. "Sudah Sam, ayo akan aku antar ke kamarmu" Lila memapah Sam menuju kamarnya.


"Riyu... Aku masih memiliki perhitungan denganmu, sebagai hukumannya... Kau harus menciumku"


Lila terdiam, ia merasa semakin kesal. Meskipun mabuk Sam masih saja ingat pada Riyu. Tiba-tiba Sam mencium Lila sambil mendorongnya ke atas ranjang.


"Untuk malam ini aku maafkan karena kau telah mengira aku sebagai Riyu, tapi demi mendapatkanmu aku rela. Sam... Malam ini aku adalah milikmu" ucap Lila dengan nada yang lembut.


Seketika itu juga Sam mengehentikan aktifitasnya lalu menatap tajam ke wajah Lila.


"Ada apa Sam? Kenapa kau berhenti? Tenang saja, kau tidak akan menyesal" Lila mengangkat sedikit badannya lalu akan mencium Sam.


Sam yang tersadar dari halusinasinya mendorong Lila.


"Sam ada apa?" tanya Lila tidak mengerti.


"Pergi dari sini"


"Tapi Sam..."


"Pergi!!" Sam membentak Lila dengan keras.


Lila kaget, ia erdiam ketakutan. Baru kali ini Lila melihat Sam begitu marah dan menakutkan.


Lila menaikkan lagi gaun tidurnya lalu bergegas keluar dari kamar Sam sambil menangis.

__ADS_1


Sam terduduk di atas ranjangnya, dia menyeka wajahnya dengan kedua tangan. Hampir saja... Jika Sam tidak segera sadar dari halusinasi karena mabuk, dia pasti akan masuk kedalam perangkap Lila.


__ADS_2